Saka, My Cool Husband

Saka, My Cool Husband
Episode 32


__ADS_3

Maaf ya.. Jika ada kesalahan dalam penulisan atau kata-kata yang sulit dipahami.


Selamat membaca...


.


.


.


..........Saka, My Cool Husband........


Kedua insan yang sedang berdua di ruangan itu menoleh ketika pintu terbuka, menampakkan seorang perempuan cantik bertubuh tinggi. Perempuan itu memakai pakaian yang rapih, dengan kemeja berlengan pendek yang dimasukkan ke dalam rok span pendek. Sepatu tingginya menambah semakin anggun langkah kaki perempuan itu.


" Apa kau tidak bisa mengetuk pintu? " Ucap Saka kepada Agnes yang tiba-tiba saja masuk. Masih dalam posisi memangku tubuh Safina.


Tanpa disuruh, Agnes mendudukkan tubuhnya di kursi yang ada di depan meja Saka. " Maaf, apa anda bisa menyingkir dari sini? Kami mau membahas pekerjaan. " Ucapan Agnes ditujukan untuk Safina.


" Bukankah minggu lalu kita sudah membahasnya? " Tanya Saka.


" Kita harus selalu membahasnya. Agar proyek kita berjalan lancar. " Jawab Agnes tesenyum kepada Saka. Hal itu membuat Safina muak.


" Semua sudah jelas. Tidak ada yang perlu dibahas lagi. " Ucap Saka tanpa memandang ke arah Agnes.


" Nona Agnes. Apa anda tidak mendengar ucapan suamiku? " Safina melirik ke arah perempuan itu. Selalu saja mengganggu.


" Aku tidak ada urusan denganmu. " Membalas lirikan tajam Safina.


Saka mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang. " Josep, datang ke ruanganku. " Ucapnya.


Tidak lama muncul Josep, asisten Saka.


" Permisi Tuan. Anda memanggil saya? " Tanya Josep sopan.

__ADS_1


" Kau bawa Agnes ke ruang meeting. Jelaskan pada dia tentang proyek kita dengannya. Sepertinya dia mulai pelupa, butuh diingatkan berulang kali. " Ucap Saka tegas.


" Baik Tuan. " Mengangguk sopan. " Mari Non Agnes. " Mengajak Agnes keluar dari ruangan itu.


" Huh. Awas saja kau. " Agnes berdiri dari duduknya. Menghentakan kaki dengan kesal.


Setelah Agnes keluar dari ruangan Saka, Saka kembali melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi. Safina masih setia duduk di pangkuan suaminya.


Namun tiba-tiba Safina berdiri. Membuat Saka menyerngit heran. " Kenapa? "


Pertanyaan Saka tidak dijawab oleh Safina. Dia malah berjalan ke sofa dan merebahkan tubuhnya di sana.


" Aku mengantuk. Mau tidur. " Ucap Safina.


Saka menggelengkan kepalanya. Ada-ada saja kelakuannya. Tapi sedetik kemudian dia menatap istrinya. " Apa dia sakit? Wajahnya terlihat pucat. " Ucap Saka dalam hati.


Saka mengecek kembali laptopnya. Sepertinya sudah selesai, tidak ada yang perlu dicek lagi. Dengan segera dia mematikan laptop itu dan menutupnya.


Saka


Panggilkan dokter ke ruanganku.


Tapi ingat, dokternya harus perempuan.


Saka tidak mau istrinya diperiksa oleh dokter laki-laki. Makanya dia menyuruh Josep untuk memanggil dokter perempuan.


Tiga puluh menit berlalu Josep datang dengan membawa seorang dokter yang usianya sekitar tiga puluhan. Saka menyambut dokter itu. Safina yang merasa ada orang yang datang, membuka matanya. Dia nampak kebingungan, kenapa Saka memanggil dokter? Siapa yang sakit.


" Dokter. Sepertinya istri saya sedang tidak enak badan. " Ucap Saka.


" Oh ya? Baik. Saya periksa dulu ya? " Mulai memeriksa tubuh Safina. Perempuan itu hanya diam saja, tetapi matanya menatap heran ke arah dokter itu dan suaminya. Sedangkan Josep, dia sudah keluar setelah mengantar dokter itu masuk.


Dokter itu tersenyum setelah selesai memeriksa Safina. " Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ibu jangan terlalu capek. " Ucap Dokter itu.

__ADS_1


" Memang saya tidak sakit dok. Kenapa harus diperiksa. " Ucap Safina keheranan.


" Kau terlihat pucat. Makanya aku memanggil dokter. " Jelas Saka.


" Istri anda baik-baik saja Pak. Mungkin karena janin yang ada dalam perutnya. Sehingga membuat istri anda mudah lelah. " Jelas dokter itu.


Saka dan Safina sama-sama terkejut.


" Janin? " Ucap mereka bersamaan.


" Iya. Tapi saya belum bisa memastikan usia kandungan istri anda. Berdasarkan ciri-ciri dan diagnosa saya, istri anda sedang hamil. Untuk hasil lebih akuratnya, anda bisa membawa istri anda ke rumah sakit untuk di USG. " Jelas dokter itu.


" Kalau begitu saya permisi Pak. Bu. " Ucap dokter itu.


" Terima kasih dokter. " Saka mengantarnya sampai ke pintu.


Setelah mengantar dokter, Saka menghampiri Safina yang sudah bangun dengan posisi duduk di sofa. Saka berjongkok di depan istrinya. Memandang lekat wajah istrinya.


" Sayang..... " Panggil Saka.


" Saka? Apa dokter tadi bilang aku hamil? " Saka mengangguk. Tersenyum lembut menatap istrinya.


" Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Aku... Aku benar-benar bahagia sayang. " Saka mengelus lembut perut istrinya yang masih rata.


" Sayang.. Ayo kita ke rumah sakit. Aku mau mengecek. " Ajak Safina.


" Iya sayang. Tentu, aku akan menemanimu. " Memberi ciuman cukup lama di kening istrinya.


Saka merangkul pundak Safina dengan mesra. Membawa istrinya itu ke rumah sakit untuk mengecek kandungannya.


Mereka benar-benar bahagia.


.....

__ADS_1


__ADS_2