Saka, My Cool Husband

Saka, My Cool Husband
Episode 24


__ADS_3

Safina, Lili, dan Laras berjalan menyusuri pantai yang ada di dekat hotel. Menikmati matahari yang mulai menyudut di ujung barat, membentuk keindahan berwarna jingga. Senja benar-benar menakjubkan.


" Sumpah indah banget. " Mata Lili menatap takjub pemandangan sore di Pantai Bali.


" Iya.. Jarang-jarang kita bisa menikmati pemandangan seindah ini. " Safina menambahkan sambil menatap sekilas kilau jingga, lalu memejamkan matanya.


" Nanti malam adalah malam terkahir kita disini. Rasanya masih betah deh. " Laras mendudukkan dirinya di atas pasir, diikuti Safina dan Lili.


" Harus kerja lagi. " Kata Lili.


" Harus sibuk lagi. " Imbuh Safina.


Ketenangan mereka terganggu karena suara ponsel Safina yang berdering. Safina mengambil ponsel dari saku celananya, " Saka? " Ucap Safina dalam hati.


" Aku angkat telpon dulu ya? " Safina berjalan agak menjauh dari kedua temannya.


" Ada apa. " Kata Safina menempelkan ponsel di telinganya.


" Tidak sopan. " Gerutu Saka di balik telepon.


Safina menghembuskan nafasnya pelan, " Hai sayang, ada apa? " Dengan nada yang dibuat semanis mungkin.


" Ck. Harus disuruh dulu biar bisa sopan? " Terdengar nada kesal dari ujung telpon.


" Iya iya maaf. Emang ada apa? Kok tiba-tiba telpon. Kangen ya? Kan baru aja ketemu. " Safina menutup mulutnya menahan tawa.


" Jangan kepedean. Aku cuma mau bilang. Aku sudah dalam perjalanan ke Jerman. Perusahaan yang ada di Jerman sedang ada masalah, aku harus kesana untuk mengecek. Aku tidak lama, hanya satu minggu. Jaga dirimu baik-baik. " Raut wajah Safina berubah sedih. Kenapa dadakan sekali.


" Yasudah. Kamu juga hati-hati. " Sahut Safina.


" Oke. Aku tutup. Aku cinta kamu. " Belum sempat Safina menjawab, sudah ditutup oleh Saka.


" Huh. Apa dia malu ya bilang cinta.. Haha.. Dasar. " Safina memasukan ponselnya ke saku celana. Lalu kembali menghampiri kedua temannya.


Mereka kembali asik bercanda sambil menikmati keindahan senja.


" Laras. Antonio itu pacar kamu ya? " Tiba-tiba saja Lili bertanya.

__ADS_1


Laras gelagapan, " Emm.. Bu..bukan.. Kami hanya teman. " Jawab Laras.


" TTM. Teman tapi mencintai... " Safina menutup mulutnya tertawa. Lili juga ikut tertawa.


" Apaan sih. Sok tau deh. " Laras terlihat malu-malu.


Di tengah perbincangan mereka, muncul suara seseorang.


" Heh. Cewek udik. " Mereka bertiga sontak menengok suara yang tiba-tiba muncul.


Agnes berdiri di samping ketiga perempuan itu duduk. Dengan angkuh dia menunjuk Safina.


" Aku mau berbicara denganmu. " Ucap Agnes.


" Saya Mbak? " Tanya Safina menunjuk dirinya sendiri.


" Iya siapa lagi? Cuma kamu yang pantas dipanggil cewek udik. " Jawab Agnes.


Lili berdiri menghadap ke Agnes. " Mbak, yang sopan ya kalau ngomong. " Lili benar-benar geram dengan perempuan di hadapannya ini.


" Saya ngga ada urusan dengan kamu. " Agnes menjawab cuek.


" Bicara saja. " Ucap Safina.


" Beraninya bersikap seperti itu.. Kau.. " Geram dengan Safina.


" Katanya tadi mau bicara. Kalau lama nanti saya tinggal nih... " Safina akan mengajak kedua temannya pergi.


" Aku cuma mau mengingatkan. Walaupun kamu sudah menjadi istri Saka, tapi aku tidak akan membiarkan itu terus menerus "


Ucapan Agnes membuat Lili dan Laras diam terkejut. Istri Saka? Saka Pak Saka? Bos mereka?


" Aku akan merebut Saka. Kamu tidak pantas untuknya. Dari dulu sampai kapanpun, Saka itu milikku. " Safina masih setia mendengarkan. " Aku beri kamu kesempatan untuk menjauhi Saka, sebelum aku membuat Saka meninggalkanmu dengan cara menyakitkan. " Lanjut Agnes.


Safina tidak habis pikir dengan wanita ini, kenapa nekat sekali berbicara seperti itu.


" Oh ya? Aku yakin Saka tidak akan pernah meninggalkanku. " Ucap Safina dengan bangga.

__ADS_1


" Percaya diri sekali. " Ledek Agnes.


" Tentu. Kita berdua bahkan sedang mengikuti program kehamilan. Saka ingin punya anak dariku. " Ucap Safina berbohong. Entah bohong atau tidak, suami istri memang pasti ingin memiliki anak bukan?


Agnes tersentak kaget. Dia semakin geram.


" Awas kau. " Menunjuk wajah Safina kemudian berlalu pergi dengan ekspresi penuh kekesalan.


" Huuuu Pergi sana pergi... " Ledek Safina.


Agnes sempat menoleh dan melayangkan tatapan tajam kepada Safina.


Safina menatap punggung Agnes yang semakin menjauh. Sebenarnya dia juga takut dengan ancaman Agnes. Dia takut Saka akan berpaling darinya.


" Safina...... " Safina menoleh ke arah Laras.


" Bisa kau jelaskan apa maksud semua ini? " Tanya Laras. Lili juga memandang Safina meminta penjelasan.


Safina mengehela nafas. " Baiklah... Aku... Aku dan Pak Saka sudah menikah. " Laras dan Lili kompak terkejut sampai mulut mereka menganga. Safina tersenyum geli melihat ekspresi kedua temannya.


Safina menceritakan semuanya kepada mereka. Tidak mungkin juga dia menutup-nutupi hubungannya dengan Saka terlalu lama, lagian Saka juga tidak keberatan jika seisi kantor tahu.


.


.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.......


__ADS_2