Saka, My Cool Husband

Saka, My Cool Husband
Episode 25


__ADS_3

Safina Pov


Aku berjalan gontai menuju ke kamar. Lembur jadi harus pulang sampai malam gini kan. Tempat yang pertama aku tuju adalah kasur, langsung saja aku jatuhkan tubuhku di sana, nyaman sekali. Setelah seharian bekerja akhirnya bisa rebahan.


Sudah hari ketiga setelah aku pulang dari Bali, aku belum bertemu Saka. Dia belum pulang, entah kapan manusia itu akan pulang. Sejak kemarin dia tidak menghubungiku, aku benar-benar merindukannya.


Aku bangun lalu duduk di pinggiran ranjang, melepas sepatu yang melekat di kaki, kemudian berjalan ke kamar mandi. Di kamar mandi aku tidak butuh waktu lama, secepat kilat aku membersihkan tubuhku lalu ke ruangan dimana aku menaruh baju-bajuku. Aku memilih setelan baju tidur warna biru muda. Memang, semenjak aku tinggal di sini, aku selalu memakai baju yang bagus dan mahal. Karena Saka menyediakan semua keperluanku. Suami yang baik.


Selesai berpakaian dan menyisir rambutku, aku turun ke bawah menuju dapur. Selama Saka tidak di rumah, aku suka makan di dapur. Alasannya karena aku tidak mau pelayan menyiapkan banyak makanan di meja sedangkan hanya aku yang makan. Jadi aku akan mengambil sendiri makanan ke dapur, lalu memakannya di sana dengan ditemani Bi Mira atau pelayan lainnya.


Bi Mira dengan sigap mengambil piring bekas makanku untuk dicuci, dia selalu saja menolak kalau aku ingin membantu. Katanya sudah tugasnya. Hidupku sekarang benar-benar berubah, aku yang terbiasa bekerja keras dan melakukan pekerjaan rumah sendiri, sekarang menjelma menjadi nona muda yang semua kebutuhannya sudah disiapkan pelayan. Aku tidak pernah menyangka semua ini terjadi padaku.


" Bi Mira, Safina ke kamar dulu ya. " Ucapku pamit ke Bi Mira. Bi Mira mengangguk tersenyum padaku.


Satu demi satu tanjakan tangga aku pijaki, berjalan menuju pintu kamarku yang tidak jauh dari tangga. Aku tidak langsung ke kasur, karena aku tidak suka langsung tidur setelah makan. Paling tidak aku harus duduk dulu. Kududukkan diriku di sofa, lalu kunyalakan televisi yang ada di kamar.


Hampir setengah jam aku menonton, mataku sedikitpun tidak mengantuk. Aku menoleh ke pintu ketika terdengar suara pintu akan dibuka.


Saka? Saka sudah pulang. Kulihat Saka masuk ke kamar dengan wajah yang terlihat lesu, mungkin dia kecapekan.


Kuhampiri dia, " Sayang, kamu sudah pulang. " Kataku ingin memeluknya. Aku benar-benar rindu dia.


Saka mengindari pelukanku, meskipun tidak menepis tapi dia langsung berjalan ke kamar mandi melewatiku. " Ada apa dengannya. " Pikirku.


Sambil menunggu Saka yang ada di kamar mandi, aku mengambilkan baju ganti untuk Saka lalu kutaruh di atas kasur. Sama sepertiku tadi, tidak butuh waktu lama Saka sudah selesai dengan kegiatan mandinya. Dia mengambil baju yang sudah kusiapakan lalu menuju ke ruangan yang ada di kamar untuk mengganti baju. Ruangan yang berisi baju-bajuku dan Saka. Aku menunggunya selesai berpakaian. Kembali aku duduk di sofa melanjutkan kegiatanku menonton televisi.


Saka sudah selesai mengganti baju, kumatikan televisi lalu mendekatinya.


" Kamu udah makan? Biar aku siapkan. " Ucapku padanya.

__ADS_1


" Tidak, aku sudah makan. " Jawab dia dan langsung menuju ke ranjang membaringkan tubuhnya di sana.


Ada apa sih. Kenapa sikapnya jadi dingin begitu. Oh ya aku lupa, memang dia kadang-kadang dinginnya suka kumat kan? Aku ikut membaringkan tubuhku di sampingnya.


Kumiringkan tubuhku menghadap ke dia. Wajahnya menghadap ke langit-langit kamar tapi matanya terpejam. " Sayang.. Kau kenapa? " Kupegang lengannya dengan lembut.


Tidak ada jawaban, apa iya secepat itu dia tidur. " Kamu capek ya? " Tanyaku masih memegang lengannya.


" Kau bisa diam tidak. " Ucapnya lalu memiringkan posisi tidurnya membelakangiku.


Sabar Safina.. Sabar... Dia memang kadang-kadang suka tiba-tiba aneh begini kan? Kuusap punggungnya dari belakang, bermaksud agar memberi ketenangan untuknya.


" Kau mau menggodaku? Aku sedang tidak berselera. Aku ingin cepat-cepat tidur. " Ucap Saka tanpa merubah posisi tidurnya.


Kulepaskan tanganku dari punggungnya. Huh, siapa juga yang mau menggoda, yang selama ini suka menggodaku kan dia. Bikin orang kesal saja. Aku akan tidur di kamar lain, di rumah ini banyak kamar kan? Aku tidak mau tidur dengan orang menyebalkan seperti dia. Kata-katanya benar-benar membuatku kesal. Seenaknya bilang aku mau menggoda.


Aku bangun kemudian turun dari ranjang. Berjalan pelan menuju ke pintu. Saat aku sudah menggapai gagang pintu, " Kenapa keluar? Mau kemana. " Ucap Saka membuat tanganku berhenti memutar gagang pintu.


Aku hendak memutar gagang pintu lagi, tapi terhenti karena suara suami menyebalkan itu.


" Aku tidak izinkan kau keluar kamar. "


Dia ini kenapa sih? Aku mendekatinya salah, mau menjauh salah. Dasar labil. Tidak cocok dengan usiamu itu Pak Saka. Oh aku tahu, biar kukerjai saja dia. Sejauh apa dia tahan jauh dariku. Tadi siapa yang tidak mau aku sentuh-sentuh.


" Aku mau tidur di kamar lain. " Ucapku tanpa memandang ke arahnya. " Suamiku tidak ingin aku tidur bersamanya. " Lanjutku lalu membuka pintu dan keluar dari kamar. Aku mendengar dia memanggil namaku, tapi biarlah.. Itu hukuman untuk suami menyebalkan seperti dia. Memang enak? Dikerjain.


Aku berjalan ke ruang keluarga yang masih satu lantai dengan kamarku. Kududukkan diriku di sofa dengan posisi punggungku bersandar dan kaki kuselonjorkan di bawah. Lampu kubiarkan tetap gelap. Dari pada makan hati dengan Saka, mending tidur di sini. Sebenarnya aku mau ke kamar tamu, tapi aku lupa kalau aku tidak punya kuncinya. Di sini juga boleh.


Kuangkat kakiku agar aku bisa berbaring dengan nyaman di sofa. Kupejamkan mataku menikmati sensasi rasa kantuk yang mulai menyerang mataku.

__ADS_1


Belum sempat aku tertidur, kurasakan tubuhku seperti melayang di udara. Kenapa ini. Buru-buru kubuka mataku, Saka? Saka yang mengangkatku. Membawaku kembali ke kamar dan menjatuhkan tubuhku dengan pelan ke kasur.


Aku langsung memposisikan diriku duduk. Lalu dengan santainya dia berbaring di sampingku, dan langsung menarik tanganku sehingga aku ikut berbaring di sampingnya. Dia hendak menciumku tapi langsung kutahan dengan sekuat tenaga.


" Kenapa? Bukannya tadi kau yang minta kan? " Katanya.


Kubalikkan badanku membelakanginya, rasakan pembalasanku. " Aku mau tidur. Jangan ganggu aku. " Ucapku cuek.


" Kemari.. " Saka menarik-narik pelan pundakku agar menghadap ke arahnya. Tapi aku berusaha agar bertahan pada posisiku.


" Karena kau tadi berani mengacuhkanku, aku akan memberimu hukuman tidak boleh menyentuhku selama.... Emm.. Selama satu bulan. " Ucapku sedikit menahan tawa.


" Apa? Tidak.. Tidak bisa. " Dia semakin menarik-narik pundakku. " Kemarilah. Aku tidak akan mengacuhkanmu lagi. Tadi aku benar-benar capek, Pekerjaan membuatku pusing. " Kata dia sekarang mengelus-elus pundakku. Memang tadi siapa yang mau menggoda sih. Aku kan cuma mau menenangkan.


Aku terkejut karena tiba-tiba dia sedikit menguatkan tarikan tangannya dan sekarang posisinya berada di atasku.


Kalah lagi...


" Kau tidak boleh lari dari tanggung jawabmu. " Ucapnya menatapku tajam. Aku bingung, tanggung jawab apa. Memang aku berbuat apa.


" Saka.. Aku mau tidur. Kau juga tadi bilang capek kan? Ayo tidur. " Sekuat tenaga aku berusaha mendorong dia.


" Sekarang sudah tidak capek. " Ucapnya sambil menampilkan senyum khas ketika menggodaku. " Kau sudah menganggu tidurku tadi. Sekarang jangan salahkan aku kalau kau tidak bisa tidur malam ini. "


.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2