
Saka meraba sisi kasurnya, kosong, dimana Safina? Setelah mengerjap beberapa kali akhirnya dia membuka matanya, melihat sekeliling kamar tapi tidak menemukan Safina. Tiba-tiba muncul Safina dari pintu kamar mandi menggunakan baju kimono.
" Sayang, kamu sudah bangun? " Tanya Safina mendekat ke arah kasur.
Safina mengambil ponsel yang tergeletak di atas nakas. Semua pergerakan Safina tidak lepas dari pandangan Saka.
" Laras.. " Panggil Safina ketika ponselnya terhubung dengan seseorang.
" Bisakah kamu mengantar tasku ke kamar xx lantai x? " Tutur Safina.
" Emm.. Itu... Aku menginap di kamar temanku. Tadi malam aku tidak sengaja bertemu dia. " Jelas Safina, sepertinya Laras bertanya kenapa Safina tidak tidur di kamar bersamanya. " Perempuan.. Temanku perempuan kok. " Lanjut Safina.
" Oke aku tutup. " Safina meletakan kembali ponselnya.
" Aaaaa.. " Safina teriak karena tiba-tiba saja Saka menariknya. Sekarang, posisi Safina berada di atas Saka dengan Saka yang memeluknya erat.
" Sayang? Apa yang kau lakukan? " Safina berusaha lepas dari pelukan Saka.
" Aku masih mengantuk. " Jawab Saka memejamkan matanya.
" Yasudah tidur saja. Kenapa menarikku begini. " Safina masih berusaha.
Saka menjatuhkan Safina berbaring di sampingnya lalu memeluk erat Safina dari samping. " Sayang? Sebentar lagi pasti Laras datang. " Kata Safina mencoba merayu suaminya.
" Sejak tadi malam kau berusaha kabur dariku. Kenapa? Kau tidak mau ada di sisiku? " Saka terlihat kesal.
" Bukan begitu. Buktinya, semalam aku tidak kabur kan? Kau bahkan mengangguku sepanjang malam. " Kilah Safina.
" Tapi kau suka kan? " Berusaha meraih bibir istrinya.
" Iyaa iyaaaa.. Suka.. Puas kau. " Mencoba menjauhkan wajah Saka menggunakan tangannya.
Ting.. Terdengar notifikasi pesan yang masuk ke ponsel Safina. Meskipun tidak terlalu keras, tapi Safina mendengarnya.
" Sebentar sayang. Ada pesan. Sepertinya dari Laras. " Safina berusaha lepas dari pelukan Saka. Tapi Saka seolah tidak peduli.
" Sayang? " Dengan tatapan memohonnya, akhirnya Saka melepaskan Safina.
Laras
__ADS_1
Safina, aku sudah sampai di lantai x. Tapi di sini banyak sekali penjaga. Sepertinya mereka anak buah Pak Saka.
Benar dugaan Safina, itu pesan dari Laras.
" Bagaimana cara menemui Laras ya? Pasti Laras akan dicegah anak buah Saka. Kalau keluar juga pasti dia curiga kenapa keluar dari kamar Saka. " Pikir Safina
" Ah, aku tahu. " Safina punya ide.
Safina
Kamar temanku ada di sebelah kamar Pak Saka. Kamu kasihkan saja tasku ke Pak Josep.
Laras
Kenapa dikasih ke Pak Josep? Aneh kamu.
Safina
Aku mau keluar takut bertemu anak buah Pak Saka. Bagaiamana kalau mereka tahu aku karyawan Pak Saka. Pasti mereka curiga kenapa aku tidur di kamar sebelah Pak Saka.
Laras
Memang kau tidak takut Pak Josep curiga?
Safina
Tenang saja. Semenjak pulang dari Paris. Aku kenal baik dengan Pak Josep. Dia sudah menganggapku seperti adiknya.
Safina tertawa membaca alasannya. Adik? Adik Pak Josep. Haha. Mungkin akn lucu jika itu jadi kenyataan.
Semua ekspresi yang ditunjukan Safina sejak tadi tidak lepas dari mata Saka. Kakinya digerakkan untuk meraih kaki Safina dan menggeseknya pelan. Safina sedikit menjauhkan kakinya. Tapi Saka tidak berhenti, dia semakin menjulurkan kakinya agar menggapai kaki Safina. Safina mendelik sebal dengan kelakuan Saka. Ada saja kelakuannya.
Laras
Sudah aku berikan ke Pak Josep. Aku turun dulu ya. Mau ke kamar. Matahari belum sepenuhnya muncul tapi kau sudah merepotkan. Untung sayang.
Safina semakin tertawa membaca pesan Laras.
Safina
__ADS_1
Terima kasih Laras yang cantik,
sayang laras dehh.
" Kau gila ya? Dari tadi tertawa tidak jelas. " Ledek Saka mulai bangun dari posisi berbaringnya menuju ke kamar mandi.
" Aku tertawa karena chat dengan Laras. Bukan gila." Kesal Safina.
Saka terkekeh kecil tapi tidak menanggapi lagi ucapan Safina.
" Sayang? " Sebelum Saka masuk kamar mandi, Safina memanggilnya.
" Kenapa? Kau mau ikut aku ke kamar mandi? " Saka tersenyum menggoda.
" Aku akan senang. " Lanjut Saka hendak mengahampiri Safina.
" Jauhkan pikiran mesummu itu. " Safina mencebik sebal. " Aku cuma mau minta tolong. Bisakah ambilkan tasku yang ada di Pak Josep? Pak Josep ada di luar pintu sekarang. " Kata Safina.
" Ambil sendiri memang tidak bisa? " Ucap Saka.
" Ck. " Safina berdiri, melangkahkan kakinya menuju ke pintu. Tapi sebelum dia sampai ke pintu, Saka sudah menahannya.
" Kau mau menggoda Josep dan pengawal lainnya hah? Sembunyi di sana. " Menunjuk ke arah kasur. " Aku tidak mau mereka melihatmu berpenampilan seperti ini. " Lanjut Saka, karena memang sekarang Safina hanya memakai kimono.
" Tadi yang menyuruhku mengambil sendiri siapa. Dasar. " Gerutu Safina membalikan badannya kembali ke kasur.
Tidak berapa lama Saka kembali lalu menyerahkan tas kepada Safina.
" Terima kasih sayang. " Ucap Safina sambil menerima tas.
" Simpan ucapan terima kasihmu. " Safina menyerngit heran. " Berterima kasihlah dengan perbuatan yang akan membuatku senang. " Lanjut Saka sambil tersenyum nakal.
Safina terlihat bingung, " Maksudnya? " Tanya Safina. Bukannya menjawab, Saka malah mendekat ke arah Safina.
" Aaaa.. " Safina terkejut karena Saka dengan seenaknya mengangkat dia seperti karung beras, lalu membawanya masuk ke kamar mandi.
Saka, ada-ada saja. Haha .
....
__ADS_1
..
Kira-kira bagaimana kalau Agnes tiba-tiba datang menyusul mereka ke Bali ya....?