
Pagi ini sebelum berangkat ke kantor, sepasang suami istri itu menikmati sarapan mereka dengan tenang.
" Makan pelan-pelan. " Ucap Saka karena melihat Safina makan terburu-buru.
" Aku takut terlambat. " Dilihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. " Sudah jam setengah delapan. Aku takut macet. " Keluhnya.
Saka masih tenang menikmati sarapannya.
" Suruh siapa bangun telat. " Ucapnya.
Safina mendelik sebal. " Aku bangun telat juga gara-gara siapa. " Langsung melahap rotinya dengan potongan besar. Dia benar-benar kesal.
Saka tersenyum tipis tidak menjawab ucapan Safina. Dia sadar, semalam sudah mengganggu tidur Safina. " Ck, masih bisa-bisanya senyum. Tidak sadar kesalahan. " Gerutu Safina.
Tiba-tiba ide cemerlang muncul dalam pikiran Safina, dia tersenyum senang lalu memandang Saka dengan tatapan berpikir.
Saka menyerngitkan matanya.
" Apa? " Tanya Saka melihat ekspresi Safina seperti ingin mengatakan sesuatu.
" Sayang.. Kamu peka sekali. " Menampilkan ekspresi semanis mungkin.
Saka berdecih, " Pasti ada maunya. " Ucap Saka.
" Sayang.. Kamu tahu kan? Jakarta kalau pagi begini suka macet. Jam delapan aku harus sampai kantor, aku takut kena macet di jalan. " Ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari Saka.
__ADS_1
" Kau mau izin telat? Wah.. Kau memanfaatkan jabatan suamimu yang bos ini ya? " Meletakan jari telunjuknya ke kening Safina lalu sedikit mendorongnya pelan.
Meraih telunjuk Saka yang menempel di dahinya lalu menurunkannya. " Bukan Sayang.. Kalau aku naik mobil, pasti akan lama. Tahu kan? Macetnya bagaimana. Jadi... Emm aku... Mau bawa motor saja. Boleh kan sayang? " Safina memandang harap kepada Saka.
Saka terlihat berpikir. " Baiklah. " Ucap saka. Wajah Safina berbinar.
" Terima kasih sayang.. " Safina berdiri dari duduknya lalu memeluk Saka erat.
" Yasudah. Aku berangkat dulu ya.. Da suamiku sayang. " Ucap Safina hendak pergi.
Tapi Safina kebingungan karena Saka mengikutinya sampai ke garasi tempat motornya disimpan.
" Pak. Tolong ambilkan motor saya ya? " Ucap Safina kepada penjaga yang sedang berada di sekitar garasi mobil dan motor.
" Baik Nona. " Jawab penjaga itu hendak melangkah masuk ke ruangan seperti pos yang ada di depan garasi. Namun langkahnya terhenti karena Saka memanggil.
Si penjaga hanya mematuhi perintah tuannya tanpa bertanya. Setelah penjaga itu mengambil kunci motor Saka lalu mengeluarkan motor Saka dari garasi.
Safina menyerngit heran. Kenapa Saka meminta penjaga mengeluarkan motor milik Saka. Motornya juga besar, Safina tidak akan bisa mengendarainya.
" Sayang.. Aku naik motorku saja. " Ucap Safina.
" Kita akan naik motor ini. " Jawab Saka.
" Sayang? Jangan bercanda. Aku sudah buru-buru. " Safina mulai kesal.
__ADS_1
" Ambilkan jaket untukku dan Nona. " Ucap Saka kepada penjaga tanpa mempedulikan ucapan Safina.
" Baik Tuan. " Pergi ke dalam rumah untuk mengambilkan jaket.
Tidak berapa lama penjaga itu kembali lagi dengan membawa dua jaket untuk Saka dan Safina. Saka menerima jaket itu dan menyerahkan salah satunya kepada Safina.
Selesai memakai jaket dan helem, Saka memasangkan helm ke kepala Safina, tidak lupa menguncinya, lalu dia menaiki motor besarnya.
" Naik. " Ucap Saka sudah duduk di motor.
Safina masih kebingungan. " Katanya tidak mau telat. " Ucap Saka sekali lagi.
Safina menaikkan sebelah kakinya lalu mendudukan dirinya di jok belakang. Dia masih tidak menyangka Saka akan mengajaknya naik motor.
" Pegangan. " Ucap Saka. Dengan ragu-ragu Safina melingkarkan tangannya di perut Saka.
Saka menyalakan mesin motor tak lama motor melaju meninggalkan halaman rumah mereka. Safina benar-benar dibuat terkejut, seorang Saka ternyata mahir bermotor. Dia dengan lihainya menyelip kendaraan yang lain.
" Sayang... Aku tidak menyangka kamu jago naik motornya. " Safina menaruh dagunya di pundak Saka.
Saya tersenyum tipis. " Masih banyak pesonaku yang lain. Kamu akan segera melihatnya. " Sedikit memeringkan kepalanya ke Safina tapi matanya masih menatap ke depan.
Safina memukul pelan punggung Saka dari belakang. " Dasar kepedan. " Safina kembali melingkarkan tangannya di perut Saka.
Saka melirik sebentar tangan Safina yang semakin erat memeluknya, tersenyum tipis, kemudian menambahkan laju kecepatan.
__ADS_1
Pagi yang indah..........