
Safina Pov
Nyamannya kasurku ini. Maaf ya kemarin malam aku meninggalkanmu. Malam ini aku kembali tidur di kasur minimalis tapi terasa sangat nyaman bagiku. Memang tadi sepulang dari kantor aku memutuskan untuk pulang ke kontrakanku. Memang mau pulang kemana lagi? Inilah tempat tinggalku. Aku tidak punya keberanian dan tidak ada niatan pulang ke rumah suamiku. Saka si suami menyebalkan. Ngomong-ngomong, sekarang dia sedang apa ya? Huh, ngapain juga aku mikirin suami yang tidak peduli pada istrinya. Mending aku tidur, besok kan haruh kerja lagi.
Author Pov
Meskipun Saka mengganggu pikirannya, tapi semalam Safina bisa tidur nyenyak tanpa terganggu bayang-bayang Saka. Sekarang dia kembali disibukkan dengan pekerjaan kantor yang melelahkan, tapi inilah hidupnya.
" Heh kampung, Kamu dipanggil Pak Bagas. Disuruh ke ruangannya. " Sarah baru saja mendapat telephone dari Pak Bagas, Manajer marketing perusahaan.
" Aku mbak? Emang ada apa? " Tanya Safina karena tumben-tumbennya dia dipanggil Pak Bagas.
" Mana ku tahu, Sana cepat. Mau dipecat kali. " Ledek Sarah.
" Yang bisa mecat bos mbak. " Ketus Safina merasa kesal dengan Seniornya itu. Safina beranjak dari duduknya menuju ke ruangan Pak Bagas .
Sesampainya di ruangan Pak Bagas, Safina mengetuk pintu. " Permisi Pak. " Pelan dia membuka pintu ruangan Pak Bagas.
" Masuk. " Safina melangkah pelan setelah mendapat izin masuk.
" Bapak manggil saya? " Tanya Safina sopan.
" Iya. Kamu disuruh ke ruang Pak Saka. " Kata Pak Bagas. Safina bingung kenapa Saka menyuruh Pak Bagas, kenapa tidak langsung dirinya saja yang menyuruh. Safina ingat, Saka kan bos, mana mau repot-repot memanggil karyawan kecil seperti dirinya.
" Baik Pak. Saya permisi. " Safina melangkah keluar ruangan.
Kakinya menuju lift untuk membawanya ke lantai atas, dimana ruangan Saka berada.
Ting... Pintu lift terbuka. Ini pertama kalinya dia menginjakan kaki di lantai dua puluh. Mewah sekali.
Safina menghampiri sekretaris Saka yang duduk di mejanya.
" Apa Pak Saka ada di dalam? " Tanya Safina.
Sekretasris itu mengangguk. " Mbak Safina ya? Sudah ditunggu. Masuk saja. "
__ADS_1
Safina mengucapkan terima kasih lalu berjalan ke arah pintu ruangan Saka.
Safina berdiri mematung di depan pintu itu. Ada keraguan untuk masuk. Belum sempat dia mengetuk pintu, pintu terbuka dari dalam. Ternyata Pak Josep yang membukakan pintu.
" Silahkan masuk Nona. " Tidak pernah ketinggalan sikap sopan Pak Josep.
Safina menoleh ke belakang melihat Pak Josep, heran kenapa Pak Josep tidak ikut masuk, mungkin ada perlu atau tugas dari Saka. Begitu pikir Safina.
Baru saja Safina kembali melihat ke depan, dia terkejut karena Saka sudah berdiri di depannya. Safina menunduk takut karena Saka menatapnya tajam. Apa salahnya? Kenapa Saka terlihat marah.
" Bagus.. Semalaman tidak pulang. Istri macam apa kau. " Safina semakin menunduk. Suara Saka memang pelan, tepi terdengar menakutkan.
" Kenapa di depan Saka aku merasa jadi sepenakut ini sih. " Ucap Safina dalam hati.
Safina jadi ingat, kemarin dia tidak pulang karena Saka makan siang dengan perempuan lain kan? Saka juga mencueki dirinya kemarin. Kalau Saka marah, Safina juga berhak marah.
Safina mendongak hendak mengeluarkan protesnya, tapi sebelum dia mengeluarkan sepatah kata, bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Saka. Safina melotot kaget. Dia belum sadar apa yang terjadi. Ketika kesadarannya mulai terkumpul, Safina memukul dada Saka dengan keras. Tapi itu tidak berpengaruh bagi Saka, dengan sekuat tenaga Safina mendorong tubuh Saka agar menjauh.
Berhasil. Safina menarik napas dalam-dalam setelah berhasil lepas dari Saka.
Safina semakin takut melihat kilatan kemarahan dari mata Saka. " Maaf. " Kata itu yang keluar dari bibir mungilnya. Sedangkan Saka, mendengar kata maaf dari Safina, emosi yang tadi membuncah kini luntur seketika mendengar kata maaf yang keluar dari mulut Safina. Sudut mata Safina terlihat berair, apa dia ketakutan? Hati Saka langsung luluh melihat itu.
Tiba-tiba saja Safina memeluk Saka Melingkarkan tangannya di perut Laki-laki itu. Saka yang terkejut tidak langsung membalas pelukan istrinya. " Maaf. Jangan pukul aku. " Hatinya semakin teriris mendengar ucapan istrinya. Jadi Safina mengira Saka akan memukulnya? Mana mungkin dia tega memukul istri kecilnya. Direngkuhnya tubuh mungil Safina. Dia memeluk erat tubuh kecil istrinya yang terlihat lemah.
" Jangan menangis. " Mengusap lembut punggung istrinya. " Aku yang minta maaf. sudah membuatmu takut. " Saka semakin mempererat pelukannya.
" Semalam kenapa tidak pulang hm? " Tanya Saka masih memeluk istrinya.
" Hiks.. Aku tidak berani.. Hiks hiks. " Jawab Safina sambil sesenggukan menangis.
" Kenapa? Itu rumahku. Rumahmu juga. " Satu kecupan Saka berikan di kening istrinya.
" Kemarin kamu makan siang kan dengan pacarmu? Sampai-sampai kamu tidak peduli denganku. " Kata Safina dengan suaranya yang dibuat pelan.
Saka melepaskan pelukannya, menangkup wajah mungil istrinya. Ditatapnya kedua mata indah itu. " Dia bukan pacarku. Kami memang makan siang, tapi juga membahas pekerjaan. Dia hanya rekan bisnis. " Jelas Saka dengan suara lembut.
__ADS_1
" Tapi kalian terlihat akrab. Malam itu.. Kamu juga membelanya. " Safina memandang ke arah lain, karena merasa malu. Kenapa nada bicaranya seperti perempuan manja.
Saka tersenyum gemas. Rupanya istrinya sedang cemburu. Dia tidak pernah sebahagia ini dicemburui seseorang. " Sayang? Maaf, malam itu memang aku salah paham. Aku dekat dengannya karena dia teman baikku sejak SMP. " Safina tersipu malu dipanggil sayang oleh Saka. Berkali-kali dia berusaha mengalihkan tatapan matanya karena dia benar-benar malu sekarang.
" Aku akan menyuruh Josep memindahkan barang-barangmu ke rumah. " Ucap Saka kembali memeluk Safina.
" Tapi aku sudah membayar lunas kontrakanku selama tiga bulan. Sayang kalau tidak ditinggali. " Safina mencoba protes.
" Tidak ada lagi kontrakan-kontrakan. Sekarang dan seterusnya kau akan tinggal bersamaku. " Semakin mempererat pelukannya.
" Tapi...... " Belum sempat melanjutkan sudah dipotong oleh Saka.
" Aku bilang pindah ya pindah. " Ucap saka Tegas.
Safina memilih mengalah. Tidak ada gunanya melawan Saka. Ujung-ujungnya pasti kalah. Dasar bos.
" Saka.... " Panggil Safina yang masih dalam dekapan Saka.
" Hmm.. " Saka senang, Safina tidak lagi memanggilnya dengan sebutan Pak.
" Aku lapar... " Lirih Safina.
Saka baru sadar sekarang sudah lewat jam makan siang. Pasti Safina sudah lapar. Segera dia melepas pelukannya. Lalu menuntun Safina duduk di sofa ruangan miliknya.
" Saka? Aku lapar. Kenapa malah menyuruhku duduk. " Safina mulai kesal.
" Iya sayang aku tau. " Jawab Saka santai.
Safina berdiri, " aku mau ke kantin. " Tapi Saka langsung menyuruhnya duduk lagi.
" Sabar sayang. Sebentar lagi Josep akan datang membawakan makanan untuk kita. Tunggu sebentar lagi. " Saka duduk di samping Safina mengelus kepala gadis itu dengan lembut. Hati Safina berdesir. Saka yang dingin jadi lembut begini.
Bersambung....
Tunggu keromantisan dan keuwuan mereka berdua ya.... Selamat membaca..
__ADS_1