Saka, My Cool Husband

Saka, My Cool Husband
Episode 5


__ADS_3

Safina Pov


" Nanti malam kita diundang ke rumah Pak Saka. Ada acara pengajian. Jangan lupa pakai baju yang sopan. " Kata Mbak Sarah yang baru saja masuk ke ruang devisi kami.


" Berarti pakai jilbab donk Mbak? " Tanya Laras teman satu devisiku.


" Iya. " Jawab Mbak Sarah.


" Semua karyawan atau beberapa aja Sar? " Sekarang giliran Mas Antonio yang bertanya.


" Kayanya semua. Yaudah lanjut kerja ". Ucap Mbak Sarah.


Kok aku deg-degan ya dengarnya. Itu artinya, nanti malam aku akan mengunjungi rumah suamiku, rumahku juga. Hah tidak, apa yang aku pikirkan. Memang Pak Saka menganggapku istrinya? Menikah denganku saja pasti dia terpaksa.


Aku tidak bisa fokus bekerja sampai beberapa kali Mbak Sarah menegorku karena kebanyakan melamun. Bahkan sampai selesai jam kantor aku terus saja memikirkan bagaimana nanti malam.


Tidak terasa sudah menunjukan waktu 19.30 WIB. Aku bergegas ke rumah Pak Saka dengan menaiki motor kesayangkanku. Kenapa kesayanganku? Karena ini satu-satunya motorku.


Aku memasuki sebuah gerbang besar. Apakah ini rumah? Bukan, ini lebih cocok disebut istana. Mewah sekali. Kuparkirkan motorku di halaman rumah Pak Saka yang luasnya seperti lapangan bola ini. Sudah banyak karyawan yang datang dan sepertinya tidak hanya karyawan, mungkin ada banyak teman bisnis Pak Saka juga yang datang.


" Akhirnya datang juga nih anak. " Laras menyambutku dengan kata keluhannya itu.

__ADS_1


" Sorry, macet. " Aku nyengir seperti tidak punya salah.


" Ayo masuk. " Ajak laras menggandeng tanganku.


" Kita kelihatan lebih cantik nggak sih pakai jilbab gini. " Kata Sarah yang berjalan di sisiku. Aku tersenyum menanggapi.


Dengan khidmat kami semua yang ada di sini duduk mengaji bersama mendoakan almarhumah mamanya Pak Saka, mama mertuaku. Setelah mengaji ada Pak Ustadz yang menyampaikan ceramahnya tentang amal yang tidak akan pernah putus pahalanya meskipun seseorang itu sudah meninggal. Amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan orang tuanya. Aku jadi ingat kedua orang tuaku yang sudah meninggal. Ayah Ibu, aku tidak akan pernah berhenti mendoakan kalian.


Selesai ceramah dari Ustadz, kami dipersilahkan menikmati hidangan yang sudah disediakan. Memang kebetulan aku lapar kan? dan Laras juga mengajakku mengambil makanan. Kesempatan, sepulang dari sini aku tidak perlu repot-repot cari makan malam.


" Rumah Pak Saka gede ya. Duh seneng deh yang bakal jadi istrinya. Tinggal di rumah semegah ini. " Kata Laras sambil mengambil lauk makan. Aku merasa tersindir. Andai kamu tahu ras, temanmu ini istri Pak Saka. Tapi tidur di rumah ini saja belum pernah.


" Saf, kenapa diam.. Kamu ngebanyangin yaaa.... Duh... " Ledek Laras. Heh ngebayangin apa memangnya aku.


Aku terkejut tiba-tiba ada yang menabrakku dari samping. Cetarrrr... Diiringi dengan suara piring pecah. Ya itu piring yang aku pegang.


" Ya Ampun... " Kudengar orang yang menabrakku berbicara. Kulihat dia, seorang wanita memakai kerudung merah tapi dengan baju yang ketat.


" Punya mata nggak sih!!! " Apa-apaan, jelas-jelas dia yang menabrakku, kenapa dia yang marah.


" Mbak, yang nabrak kan mbak. Kok saya yang disalahin. " Aku protes tidak terima.

__ADS_1


" Berani kamu ya? Kamu tidak tahu siapa aku? " Dia berkata seolah-olah dia ratu.


" Memang tidak tahu dan tidak mau tahu. " Jawabku cuek.


Aku terkejut ketika dia mendorongku dan aww.. Seperti ada yang menusuk kakiku. Sepertinya sandalku terkena pecahan piring sampai tembus dan mengenai kakiku. Maklum, sandalku hanya sandal murah.


" Jaga sikap anda ya mbak. " Aku balas mendorong perempuan itu tapi tidak terlalu kasar. Aku memang tidak bisa berbuat kasar terhadap orang lain.


" Kau.... " Dia terlihat semakin marah.


" Sudah Saf.. Jangan diladenin. " Laras memegang lenganku.


" Ada apa ini. " Aku, Laras, perempuan gila ini dan semua orang yang menonton perdebatanku dengan perempuan gila ini sontak menengok. Pak Saka? Pak Saka berjalan ke arahku dengan tatapan yang... Tajam, sepertinya tatapan tajam itu sudah menjadi khasnya.


" Saka, lihatlah. Anak kecil ini membuat kekacauan. Dia memecahkan piring dan baru saja mendorongku. " Ucap perempuan gila itu. Heh.. Apa dia bilang? Anak kecil?


" Tidakk... Bukan begitu. Aku... " Belum sempat aku membela diri, sudah dipotong oleh Pak Saka.


" Tolong, jangan buat keributan di sini. Tidak bisakah kau kenal tempat? Di sini baru saja ada pengajian untuk mamaku, tolong jaga sikap. Jangan bertindak bodoh. " Deg. Dia berkata dengan sorot mata tajam menatapku. Ini ketiga kalinya dia mengataiku bodoh, tapi kenapa sekarang rasanya jauh lebih sakit?


Mataku sampai berkaca-kaca tapi aku tahan sebisa mungkin agar aku tidak menangis.

__ADS_1


" Maafkan teman saya Pak. Saya akan membawanya keluar. Permisi. " Laras memegang pundakku dan membawaku keluar. Aku menurut, karena aku benar-benar tidak sanggup berada di dalam. Melihat suamiku sendiri membela perempuan lain dan mempermalukanku di depan umum. Suami? Suami yang tidak menganggapku istri mungkin. Menyedihkan sekali.


__ADS_2