
Safina mengerjabkan matanya memastikan apa ada yang salah dengan penglihatannya. " Apa aku belum bangun dari mimpi? Ini mimpi kan? " Ucapnya dalam hati sambil menepuk pipinya sendiri. Setelah dirasa pipinya sakit, Safina sadar ini nyata. Pria tampan yang ada di depan wajahnya sekarang benar-benar nyata, jadi semalam bukan mimpi.
" Kenapa melihatku begitu? Aku tampan ya? " Safina kelabakan, bagaimana Saka tahu kalau dia memperhatikannya.
Saka membuka matanya menatap teduh gadis cantik dalam pelukannya. " Aa... aku mauuu bangun. " Ucap Safina terbata karena merasa gugup dengan posisi sedekat ini.
Bukannya membiarkan Safina bangun, Saka semakin mempererat pelukannya. " Aku senang. " Begitu kata yang keluar dari Saka.
" Se.. senang? Senang kenapa Pak? " Tanya Safina bingung.
" Kamu tidak memakai bahasa saya saya lagi. " Jawab Saka.
" Hah? Maksudnya? " Safina semakin bingung.
" Barusan kamu bilang aku.. Aku mau bangun, bukan saya mau bangun. Artinya kamu tidak seformal biasanya. " Jelas Saka tanpa menghilangkan senyum di wajah tampannya. Safina sempat terpesona dengan senyum Saka, tidak biasanya bos dinginnya itu tersenyum.
" Kamu benar Pak Saka kan? " Tanya Safina dengan polosnya.
" Lalu siapa lagi? Hantu? " Saka mulai kesal. Apa maksudnya kalau dia bukan Saka.
" Tumben sekali.. " Kata Safina sangat pelan tapi terdengar jelas di telinga Saka.
" Apanya yang tumben? " Tanya Saka.
" Bapak. " Jawab Safina.
__ADS_1
" Bapak siapa? Memang aku ini bapakmu? Aku ini suamimu, bodoh. " Satu sentilan pelan mendarat di kening Safina.
" Sakit Pak.. " Keluh Safina sambil mengusap keningnya yang baru saja disentil suami dinginnya itu.
Safina mencebikkan bibirnya kesal karena lagi-lagi Saka mengatainya bodoh. " Kalau tahu aku bodoh kenapa masih mau menikahiku. Cih. " Gerutu Safina, tapi hanya di dalam hati.
Cup. Satu kecupan singkat mendarat di bibir mungil Safina. Tentu membuat gadis itu melotot kaget. Lalu melirik Saka dengan tatapan kesal.
" Kenapa? Siapa suruh manyun gitu. Aku kira minta dicium. " Kata Saka dengan santainya. Safina semakin mencebikkan bibirnya kesal.
" Mau minta dicium lagi? " Dengan cepat Safina menutup bibirnya dengan tangan dan menjauh dari Saka.
Hahahahahaa.... Terdengar suara tawa keras dari mulut Saka. Dia benar-benar gemas dengan istrinya. Dari pada semakin dibuat kesal dengan Saka, Safina turun dari ranjang menuju ke kamar mandi.
Brakk.. Suara pintu kamar mandi ditutup dengan keras. Saka menarik sudut bibinya sedikit setelah berhenti tertawa. Dia benar-benar sudah dibuat gila oleh istri kecilnya.
From Agnes
Saka, Jangan lupa nanti kita ada meeting. Aku akan datang ke kantormu satu jam sebelum jam meeting mulai.
Kalau saja tidak ada kejadian tadi malam, Saka akan dengan senang hati teman baiknya ini datang ke kantor. Tapi semalam, dia sudah berani-berani memarahi istri tercintanya. Tapi mau bagaimana lagi, Saka tidak jika menolak. Agnes adalah rekan bisnisnya dan juga teman baiknya sejak duduk di bangku SMP.
Saka
Terserah.
__ADS_1
Agnes
Thanks. Mau aku bawain apa?
Saka
Tidak usah repot-repot.
Agnes
Yaudah. Jangan lupa sarapan.
Saka tidak lagi membalas chat Agnes. Temannya ini memang sering perhatian. Mengingatkan makan, istirahat, dan lainnya. Sampai pernah mamanya menyarankan dia agar menikah dengan Agnes, tapi Saka menolak karena Agnes selalu bersikap seenekanya sendiri terhadap orang lain. Dia tidak suka perempuan semacam itu.
Lamunannya terhenti ketika ada suara teriak dari kamar mandi.
" Pak. " Seru Safina memanggil Saka.
" Apa.. " Sahut Saka dari luar.
Muncul kepala mendongak dari kamar mandi. Saka terpesona dengan wajah cantik alami itu. " Aanu Pak. Em. Saya boleh minta tolong? Em. Mau pinjam baju. Sa.. saya tidak bawa baju ganti. " Ucap safina sedikit malu.
Saka tersenyum melihat istrinya itu. " Kamu ke ruangan itu saja. Di sana kamu pilih sendiri bajumu. " Tunjuk Saka pada pintu penghubung yang ada di kamar. Safina terlihat bingung. Dia menutup pintu kamar mandi sebentar untuk memakai pakaian tadi malam, karena tidak mungkin dia keluar tidak memakai baju.
Setelah memasuki ruangan yang ditunjuk Saka, Safina terkejut karena isi lemarinya banyak sekali baju perempuan dan aksesoris perempuan. Ini milik siapa? Apa punya Mama Lidya? Tidak mungkin. Atau jangan-jangan punya pacar Saka? Masa bodoh yang penting ada baju ganti. Safina memilih setelan kantoran karena dia harus pergi ke kantor setelah ini.
__ADS_1
Bersambung..