Saka, My Cool Husband

Saka, My Cool Husband
Episode 31


__ADS_3

Dua bulan sudah usia pernikahan Saka dan Safina. Rasa cinta mereka semakin besar. Pertengkaran kecil masih sering mereka lakukan, sebentar saling diam kemudian baikan lagi. Tetapi itulah wujud keromantisan mereka.


Tentang Agnes? Jangan tanya. Perempuan itu tidak pernah berhenti mengganggu Safina. Tidak jarang dia datang ke kantor Saka dengan alasan pekerjaan, padahal ingin merayu Saka. Maka yang dilakukan Saka adalah mengajak serta Safina ketika sedang membahas pekerjaan dengan Agnes.


Pagi itu, Saka terkejut karena tiba-tiba saja Safina masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu. Baru jam sembilan, tapi Safina sudah datang ke ruangannya. Perempuan itu menghampiri Saka yang masih duduk di kursi kerjanya.


Saka semakin heran ketika Safina memeluk lehernya dari belakang. " Kenapa akhir-akhir ini dia sering aneh. Tiba-tiba marah tidak jelas. Sedetik kemudian bersikap manja. Ada apa dengannya. " Gumam Saka dalam hati.


" Sayang... Aku rindu. " Ucap Safina manja. Masih memeluk leher Saka.


Saka mengelus tangan Safina. " Kita setiap hari bertemu, kenapa masih rindu. " Ucap Saka.


Safina melepaskan pelukannya. " Kau tidak rindu padaku? " Kesal Safina.


Saka menarik tangan Safina dan mendudukan tubuh perempuan itu di pangkuannya. Safina masih menampakkan muka kesal.


" Aku merindukanmu.. Setiap saat setiap detik. Sekarang kau temani aku bekerja. Biar rinduku ini terobati. " Ucap Saka. Masih dengan posisi memangku tubuh Safina, Saka mengulurkan tangannya ke arah maja dan meraih laptop. Tubuh Safina terkukung tangan Saka yang menjulur ke depan.

__ADS_1


" Sayang... " Panggil Safina pelan.


" Hmm.. " Sahut Saka masih fokus mengetik.


" Apa aku boleh cuti? " Tanya Safina memainkan kerah jas suaminya.


" Kenapa? Kenapa mendadak mengambil cuti? Memangnya kau mau kemana. " Tanya Saka menatap curiga istrinya.


" Tidak mau kemana-mana. Hanya akhir-akhir ini aku merasa tubuhku cepat lelah. Sekarang saja aku ingin tidur. " Ucap Safina lalu menyandarkan kepalanya di pundak Saka.


" Apa kau sakit? " Mengelus lembut rambut Safina. " Ayo kita ke dokter. " Ajak Saka.


Saka tersenyum, membelai punggung istrinya dengan lembut. " Mulai sekarang, kau tidak usah bekerja saja ya? Aku tidak mau kau lelah. Aku masih sanggup, sangat sanggup membiayai hidupmu. " Ucap Saka.


" Kau mau jauh-jauh dariku ya? " Memukul pelan dada suaminya.


" Bukan begitu... Kau tidak usah bekerja. Tapi kau bisa ikut aku ke kantor. " Jelas Saka.

__ADS_1


" Nanti aku dimana? Kalau sudah tidak bekerja, aku kan tidak punya ruangan.. Tidak mungkin di ruangan kerjaku kan? " Ucap Safina.


" Kau bisa di sini, menemaniku. " Jawab Saka.


" Yasudah. Berarti mulai sekarang, aku dipecat ya? " Saka tersenyum mendengar ucapan Safina.


" Iya. Kau dipecat sayang.. " Memeluk tubuh Safina dengan gemas.


" Berarti kau harus memberiku pesangon. " Ucap Safina dalam pelukan Saka.


" Aku akan memberimu pesangon besar. Kau mau apa? Seluruh hartaku? Semuanya akan kuberikan untukmu. " Ucap saka lalu mendaratkan ciuman di pipi istrinya.


Safina menggeleng. " Tidak. Aku cuma mau nanti pulang dari kantor, kau mengajakku makan sate. " Ucap Safina.


" Sate? " Safina mengangguk. " Iya. Nanti kau boleh makan sate sepuasmu. " Lanjut Saka.


Saka kembali meraih laptopnya. Dia melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai. Safina masih betah duduk di atas pangkuan Saka. Menyandarkan kepalanya di pundak Saka. Sesekali memberi ciuman singkat di pipi Saka. Tentu saja Saka menerima itu dengan senang, dia semakin semangat bekerja.

__ADS_1


.....


__ADS_2