
Saka Pov
Aku membuka pintu kamarku. Apa Safina masih di dalam? Mengingat, setelah Josep mengabari Safina sudah di kamarku, aku tidak langsung ke kamar. Aku menemui beberapa tamu pentingku dulu. Sekarang sudah jam dua belas malam, rumahku sudah sepi. Aku harap dia masih di dalam. Kututup pintu kembali. Aku melangkah ke dalam, ranjang kosong, tidak ada tanda-tanda suara dari kamar mandi. Lalu kemana dia?
Aku menghela nafas ketika melihat seorang perempuan terbaring di sofa. Jilbabnya bahkan sampai terlepas. Kudekati dia. Kakinya, kenapa telapak kakinya berdarah. Dia terluka? Kuusap luka di telapak kakinya. Aku merasa ada pergerakan di kakinya, mataku beralih pada wajahnya yang tiba-tiba terbangun. Mungkin dia merasakan perih di lukanya setelah kuusuap tadi. Maafkan aku istriku.
" Pak Saka? " Dia langsung bangun dan duduk. Sempat-sempatnya dia merapikan rambutya. Imut sekali. Aku segera mengambil obat yang ada di laci meja sebelah ranjangku. Matanya tidak lepas mengikutiku sampai kini aku sudah duduk di sampingnya. Kuangkat kakinya dan kutaruh di pangkuanku.
" Pak Saka mau apa? " Dia sedikit menarik kakinya, tapi aku tahan.
" Diamlah. " Ucapku pelan.
Aku mulai mengobati lukanya dan kututup dengan perban. Dia hanya diam saja selama aku mengobati lukanya, padahal wajahnya meringis menahan sakit, tapi dia tidak berbicara sepatah katapun.
" Terima kasih Pak atas bantuannya. " Ucapnya tanpa memandangku.
Kutatap wajahnya lekat-lekat, " Ini sudah tugas suami. " Ucapku tersenyum.
Dia terlihat salah tingkah. Tapi kemudian wajah malunya berubah sedih. Ada apa dengannya?
" Suami yang tidak menganggap istrinya. " Ucapnya lirih tapi masih bisa kudengar.
Dia menarik kakinya turun dari pangkuanku, berusaha berdiri. Baru satu langkah dia berjalan, aku langsung menahan tangannya. Dia langsung menengok dan melototiku. Ini pertama kalinya dia berani melototiku. Istriku benar-benar lucu. Menggemaskan sekali. Dengan satu kali tarikan dia langsung jatuh dan duduk di pangkuanku. Sekarang, bukan hanya matanya yang melotot, wajahnya juga garang sekali menatapku. Aku semakin gemas.
" Apa? " Kataku membalas tatapan matanya.
__ADS_1
" Ck. " Dia berdecak dan mengalihkan pandangannya dariku. Berani sekali dia berdecak seperti itu. Tidak ada seorang pun yang berani berdecak di depanku, tapi sekarang.. Bocah ini berani?
" Kau berani berdecak di depan atasanmu? " Ucapku dengan nada yang kubuat marah.
Dia gelapan dan menundukan wajahnya dalam-dalam. " Ma.. Maaf Pak. Saya sudah lancang. "
Kuraih pingganggnya dengan tangan kananku agar dia semakin mendekat. Kali ini aku berhasil memancing kemarahannya. Dia terlihat kesal meskipun tidak berani menatapku.
" Pak. Jaga sikap anda. " Tidak sedikit menggerakan tubuhnya untuk memberontak. Tidak akan mungkin terlepas, tenagamu tidak sebanding denganku sayang.
Lama-lama dia diam. Mungkin dia lelah makanya berhenti berontak. Aku menang.
" Lepasin saya Pak. Saya mau pulang. " Ucapnya tanpa memandang ke arahku.
" Pak. Sekali lagi saya bilang saya mau pulang. " Ucapnya sekali lagi. Kali ini dia memandang ke arahku. Kulihat matanya sudah berkaca-kaca. Hei sayang, apa aku menakutimu?
" Ck. Tidak usah bercanda deh Pak. Saya ngantuk pengen pu.. " Dia menghentikan ucapannya karena terkejut aku mengangkatnya.
" Pak. Apa yang Bapak lakukan. Turunin saya Pak. " Dia terlihat ketakutan dan meminta diturunkan. Huh, tidak akan.
" Pak. Bapak mau apa sih. " Tanyanya lagi.
" Apalagi? Membawa istriku ke ranjang lah. " Ucapku santai sambil berjalan menuju ke ranjang. Sempat kulihat wajahnya yang menegang. Apa yang kau pikirkan haha gadis bodoh.
Pelan-pelan aku menurunkannya di kasur. Dia hendak bangun tapi dengan cepat aku berbaring di sebelahnya dan memeluknya dengan erat.
__ADS_1
" Lepasin Pak. Bapak Apa apaan sih. " Teriaknya berusaha lepas dariku.
" Katanya tadi ngantuk. Sudah cepat tidur. " Kataku semakin mempererat pelukanku.
" Bapak mau saya laporin ke polisi? Ini namanya pelecehan Pak. " Cih. Apa dia bilang? Pelecehan?
" Mana ada suami meluk istri di bilang melecehkan. Duh istriku ini lucunya.. " Aku gemas dengan tingkahnya. Tiba-tiba dia diam dan menatapku dalam-dalam. Kubalas tatapannya. Sampai aku menyadari ada yang menetes dari sudut matanya. Dia menangis?
Kulepas pelukanku ku tangkup kedua pipinya yang agak cabi. " Kenapa menangis hm? " Tanyaku mengelus pipinya.
" Saya mau pulang pak. " Lirihnya.
" Mau pulang kemana? Ini rumahmu. Rumah suamimu. " Kataku dengan memberi penekanan pada kata suami.
" Suami? Memangnya saya punya suami? " Dia berkata sambil tersenyum getir. Apa dia semarah itu sampai tidak menganggapku suami.
" Dengar baik-baik Fina. Aku ini suamimu, sah di mata agama dan hukum. Ingat itu. " Ucapku dengan nada tegas.
" Lalu kenapa anda memperlakukanku seperti..... " Dia menghentikan ucapannya.
" Seperti apa? " Tanyaku. Tapi dia diam saja. Aku tahu aku sudah keterlaluan padanya.
Kupeluk dia dan kebenamkan wajahnya di dadaku. Kuusap kepalanya dengan lembut dan kekecup kepalanya dalam waktu yang lama. " Fina.. Maafkan aku. Aku tahu aku sudah keterlaluan. Aku memang bodoh. " Kataku dengan lembut sambil kuusap lembut kepalanya berharap dia tenang. Aku tidak menyangka, aku mengatai diriku sendiri bodoh. Sepertinya Fina benar-benar sudah memberi pengaruh besar terhadapku. Ini pertama kalinya aku bersikap lembut kepada perempuan selain Mamaku.
" Mari kita jalani pernikahan ini. Kita bisa sama-sama belajar saling mencintai. "
__ADS_1
Tidak kudengar jawaban dari Fina. Terdengar deru nafasnya yang teratur. Rupanya Fina tertidur. Kubenarkan posisi tidurnya dan kutarik selimut untuk menutupi tubuhku dan Fina. Kuselipkan tanganku di kepalanya, lenganku kujadikan bantal untuknya. Aku ikut tidur sambil memeluk istriku yang manis. Fina, sepertinya aku mulai mencintaimu..