
Saka sudah bersiap untuk pergi ke Bandung. Setelah sarapan dia kembali lagi ke kamar untuk melihat istrinya. Saka tersenyum lembut melihat istrinya tak kunjung bangun,
" Hei, dasar pemalas. " Sambil mendudukan dirinya di samping ranjang.
" Sayang.. Apa kau akan tidur terus? " Mengusap bahu istrinya pelan.
" Hmm.. " Sahut Safina tanpa membuka matanya.
" Sudah jam delapan. " Safina langsung membuka matanya lebar-lebar, rasanya baru berapa jam dia tidur, kenapa sudah sesiang itu.
" Ehhhhh.. " Safina meregangkan ototnya, Seluruh badannya terasa remuk dan tak bertenaga.
Saka tersenyum gemas dan mengacak rambut istrinya yang memang sudah berantakan sejak bangun tidur. " Tidurlah sepuasmu. "
Safina bangun dan duduk menghadap suaminya, " Saka? Kau kan bosnya, terlambat satu hari saja tidak akan dipecat kan? " Tanya Safina dengan wajah memelas.
" Saka? " Ucap Saka sambil menyentil pelan kening Safina.
Mengusap keningnya, " Baiklah Pak Saka.... " Ucapan Safina terhenti.
" Semalam kau lupa ya? Aku menyuruhmu memanggilku apa. " Safina mengingat-ingat perkataan Saka, dan ya dia sudah ingat.
Sambil tersenyum malu, " Sa.. sayang... " Menutup mulutnya karena terasa aneh.
__ADS_1
" Panggil aku seperti itu. Paham? " Safina mengangguk mengiyakan.
" Aku akan mengurus izinmu, kau tidurlah. Hari ini kau tidak usah bekerja. " Meninggalkan kecupan lama di kening istrinya.
" Memang kau yang harus bertanggung jawab. Aku begini juga karena siapa. " Gerutu Safina setelah Saka selesai mencium keningnya.
" Iya iya. Sudah sana tidurlah. Sarapanmu akan diantar pelayan. " Mencubit gemas kedua pipi Safina sambil menggoyangkannya ke kanan dan ke kiri.
Saka bangkit dari duduknya karena ponselnya berdering. " Iya ada apa Agnes. " Sahut Saka kepada penelepon itu.
Safina menoleh singkat, " Cih. Baru saja bersikap manis. Sekarang sudah menyebut wanita lain. " Safina kembali membaringkan tubuhnya bersiap akan tidur lagi.
Sebelum keluar kamar, Saka menghampiri Safina tanpa menjauhkan ponsel dari telinganya.
Safina yang sudah akan menutup mata membelalak kaget karena gerakan mendadak Saka yang memberikan ciuman singkat di bibirnya.
Tiba-tiba Safina teringat Laras. Diambilnya ponsel yang tergeletak di nakas. Dia akan menelpon temannya itu.
" Halo Saf. Hei, kau kenapa menelpon bukannya kau sakit? " Begitu suara yang terdengar dari ujung sana. Safina bingung, siapa yang sakit? Bukannya yang sakit itu Laras sendiri kan?
" Siapa yang sakit? " Tanya Safina.
" His dasar. Kaulah. Hari ini kau izin kerja karena sakit kan? " Kesal Laras. Safina kemudian teringat, mungkin Saka menggunakan alasan sakit agar Safina tidak bekerja.
__ADS_1
" Oh iyaa.. Hehe. Aku lupa aku sakit. "
" Yasudah. Orang sakit kenapa menelpon? Kau ingin aku jenguk? Tenang saja. Aku dan Si Antonio nanti sore akan ke kontrakanmu. " Safina terkejut mendengar ucapan Laras. Pasalnya kontrakan itu sudah dikosongkan.
" Ti.. tidak usah Laras. " Jawab Safina gugup.
" Aku ada di rumah bibiku. Ya di rumah bibiku. " Lanjut Safina.
" Bibi yang mana? " Tanya Laras karena setahu dia Safina tinggal sendiri di Jakarta.
" Ada kok. Bibiku ada yang merantau. Baru satu bulan jadi kau tidak tahu. Emm.. Sudah dulu ya Laras. Aku mulai pusing lagi. " Sebenarnya Safina ingin bertanya tentang piknik besok ke Bali, tapi yasudahlah tidak jadi.
" Oke. Cepat sembuh ya Daaaa.. "
" Iyaaa. " Safina menutup telponnya.
Wajahnya mendasak kesal, " kenapa Saka menggunakan alasan sakit. Apa dia mendoakanku sakit? Dasar. " Gerutunya.
Mengingat Saka dia jadi teringat kalau sekarang Saka sedang bersama Agnes. Safina geram dengan perempuan itu. " Awas saja kalau dia tidak mengabariku, nanti malam aku akan mengacuhkannya " Kesal Safina.
Safina tidak jadi tidur lagi, dia memilih mandi lalu memakan sarapan yang diantarkan oleh pelayan.
Bersambung....
__ADS_1
Kurang greget ya ceritanya...??
Maaf, masih belajar..