
Safina melewati beberapa pengawal yang berjaga di depan kamar Saka. Mereka memberi hormat ketika Safina melintas. Meskipun statusnya istri Saka, tapi Safina tetap berperilaku sopan kepada mereka. Tersenyum ramah dan menganggukan kepala.
Dia masuk dan berjalan ke arah meja rias, semalam dia menaruh tasnya di dekat meja rias. Karena tidak melihat sekitar, Safina tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang memerhatikannya.
Setelah mengambil tasnya, Safina terkejut, ketika membalikkan badan, dia melihat Saka sedang duduk di sofa dengan posisi kaki yang satunya dilipat.
Safina segera menguasai keterkejutannya, seolah tidak mempedulikan keberadaan Saka. Dia melanjutkan langkahnya menuju ke pintu. Sebelum dia meraih pintu, tangannya sudah ditarik oleh Saka. Saka menarik paksa Safina, lalu melepaskannya ketika sudah berada di dekat sofa.
" Kau berani mengacuhkanku Fina.. " Saka berkata pelan namun ada penekanan dalam kata-katanya.
Safina memandang ke arah lain, tidak menjawab perkataan Saka.
" Fina... " Sekali lagi Saka memanggil.
Saka memegang tangan Safina tapi langsung ditepis Safina dengan kasar. Saka mulai terpancing emosi, matanya menatap tajam Safina.
" Kau... " Menunjuk Safina dengan jari telunjuknya.
" Apa.. Kau mau marah? " Safina berkata dengan emosi yang menggebu sampai air matanya menetes pelan. " Kau selalu saja melototiku begitu. " Lanjut Safina.
Saka tidak menjawab, dia memang kesal Safina mengacuhkannya. Tapi dia berusaha menahan kekesalannya.
" Fina.. " Panggil Saka pelan.
" Kau bersikap manis kepada perempuan lain. Tapi dengan istri sendiri suka sekali melotot melotot begitu. " Safina bersedekap dada membalas tatapan tajam Saka.
Kekesalan Saka memudar ketika melihat ekspresi Safina yang menirukan gayanya ketika marah. Mungkin kalau Saka yang menatap tajam seperti itu akan terlihat menakutkan. Berbeda dengan Safina, dia malah terlihat lucu di mata Saka.
Saka menarik sudut bibirnya membentuk senyuman kecil. " Aku berbuat manis kepada siapa? Bukankah aku hanya manis kepadamu? Kau sudah merasakan kemanisanku bukan? " Kata Saka sambil tersenyum nakal.
Semburat merah muncul di pipi Safina. Dia malu mendengar ucapan Saka. Mengalihkan pandangannya ke samping untuk menghindari tatapan Saka. Saka maju selangkah lebih dekat, meraih pinggang Safina lalu menariknya mendekat.
__ADS_1
Menurunkan kepalanya mendekat ke wajah Safina. " Kau benar-benar menggemaskan. " Bisik Saka tepat di samping telinga Safina.
" Sadar Safina.. Sadar.. Jangan terbuai jangan.. Suamimu ini perayu handal. " Ucap Safina dalam hati.
" Lepaskan. " Kata Safina berusaha mendorong tubuh Saka, tapi sia-sia, tenaganya tak sebanding dengan Saka.
" Kalau aku tidak mau bagaimana? " Ucap Saka sambil satu tangannya yang lain mengelus lembut pipi Safina. Dia suka sekali menggoda istrinya. " Kalau kau tidak mau dipegang begini, aku mau pegang siapa lagi? Kau kan istriku. " Lanjut Saka.
Safina membuang muka, " Kau pegang saja Nona Agnes. Kau suka pegang dia kan? Berjalan saja pakai gandengan tangan. Mau nyebrang??? " Kesal Safina.
Saka menyerngit mendengar ucapan Safina. Sekarang dia tahu, Safina marah karena tadi melihat dia menggandeng Agnes.
" Sayang... " Panggil Saka lembut.
" Jangan memanggilku sayang sayang. " Ucap Safina kesal.
" Sayang.. Kau salah paham.. " Saka tetap memanggil sayang.
" Tidak ada yang salah paham. " Safina berkata dengan kesal.
" Aku mengatakan yang sebenarnya karena aku tidak mau dia terus berharap padaku. Bagaimanapun juga dia adalah temanku, kami berteman sudah cukup lama. Kebaikannya kepadaku dan kepada mamaku tidak terhitung lagi. " Saka menarik nafas pelan. Safina masih mendengarkan Saka.
" Meskipun aku tidak mencintainya, tapi aku tidak mau menyakitinya terus menerus. Aku harap dengan dia tahu aku sudah beristri, dia akan berhenti mencintaiku. Dia benar-benar terkejut saat mendengar kau adalah istriku, dia bahkan menangis di depanku, tidak peduli kalau banyak orang yang melihatnya tadi. Kalau dia orang lain yang tidak aku kenal, aku akan meninggalkannya saja, aku tidak peduli mau dia menangis sampai jungkir balik sekalipun. Tapi dia adalah Agnes, teman baikku. " Saka menjelaskan dengan suara yang sangat lembut dan tenang, membuat Safina setia mendengarkan penjelasan Saka.
" Aku mengantarnya sampai ke kamar. Agar dia bisa menenangkan diri. Aku menggandengnya agar dia mau kuantar ke kamar. " Saka menatap lekat wajah istrinya.
" Kau mengantarnya ke kamar? Kau.... " Ucap Safina terpotong.
" Hanya sampai depan sayang. Sampai pintu.. Kau bisa tanya Josep, dia ada di sana. Selama aku dengan Agnes, aku tidak pernah berdua. Selalu ada Josep dan anak buahku yang lain. " Saka menjelaskan.
Safina menyandarkan kepalanya di dada Saka, " Maaf sayang.. Aku sudah salah paham. Tadi aku benar-benar cemburu. " Ucap Safina pelan.
__ADS_1
Saka melepas pelukannya di pinggang, tangannya naik ke atas, satu tangganya memeluk punggung Safina dan satu tangannya lagi mengusap lembut kepala Safina.
Safina melingkarkan tangannya di perut Saka.
" Maaf juga mengacuhkanmu. " Kata Safina lagi.
" Aku yang minta maaf. Mulai sekarang, tidak ada yang ditutup-tutupi lagi. Biar semua orang tahu kalau Safina Putri adalah istri Saka Nugraha. " Ucap Saka semakin mempererat pelukannya. Safina mengangguk dalam pelukan Saka.
Saka melonggarkan pelukannya, agar bisa melihat wajah istrinya. " Sayang... " Panggil Saka.
" Tadi katanya mau merasakan kemanisanku, jadi tidak? " Ucap Saka tersenyum menggoda.
Safina melotot kaget lalu mencubit perut suaminya sampai Saka mengaduh. Sebenarnya cubitan Safina tidak terasa sama sekali, hanya Saka saja yang pura-pura mengaduh. " Ini namanya kdrt sayang? " Ucap Saka lalu memberi ciuman di seluruh wajah Safina, pipi kanan, pipi kiri, dahi, dagu, hidung, mata, dan terakhir bibir. Yang terakhir inilah Saka tidak langsung melepaskan ciumannya.
Setelah lama berlabuh pada bibir mungil istrinya, Saka melepaskannya dan menyatukan dahi mereka, dengan nafas yang masih terengah-engah.
" Sayang.. Aku mau keluar. Teman-temanku sudah menunggu. " Ucap Safina.
" Selalu saja ingin kabur. " Saka hendak mencium lagi tapi langsung ditahan oleh Safina.
" Nanti malam aku akan tidur disini. Tapi izinkan aku keluar. Aku mau jalan-jalan sama teman-temanku. " Safina memasang wajah melasnya.
" Yasudah. Kali ini kau menang. Lain kali tidak akan kubiarkan kau kabur walau hanya selangkah. " Memberi kecupan singkat di bibir istrinya.
" Sekalian saja kau borgol tanganku dengan tanganmu. " Kesal Safina.
" Sepertinya itu ide yang bagus. " Ucapan Saka membuat Safina melototkan matanya.
" Sudah ah. Aku mau keluar. Daa sayang.... " Melambaikan tangan kepada Saka lalu berjalan ke pintu.
Sebelum Safina membuka pintu, dia menyempatkan untuk menoleh ke Saka. Mengecup telapak tangannya lalu meniupnya ke arah Saka seperti gerakan cium jauh. Setelah itu dia buru-buru membuka pintu dan keluar. Saka tergelak dengan tingkah istrinya yang kelewat menggemaskan itu. Dia tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Bagaimana aku tidak semakin mencintainya. Dia menggemaskan seperti itu.. " Ucap Saka.
....