
Safina Pov
Setelah sarapan, kami semua berkumpul di pantai dekat hotel kami menginap. Kami akan bermain bola dan game. Biasanya aku paling suka game-game begini, tapi kali ini aku benar-benar malas. Rasanya badanku capek semua. Tadi malam Saka tidak henti-hentinya mengerjaiku dan baru membiarkan aku tidur nyenyak jam 1 pagi.
Tapi aku suka sikap manis dia tadi malam, dia meminta pelayan hotel membawakan kami makanan, untuk merayuku dia dengan sabar menyuapiku makan, padahal aku cuma pura-pura merajuk. Haha. Tentu itu semua tidak gratis, setelah dia menyuapiku makan, dia meminta bayaran.... Ya begitulah. Apalagi kalau bukan melakukan hal yang akan membuatnya senang, dasar suami mesum.
Tidak berhenti sampai di situ, tadi pagi dia hampir membuatku tidak keluar kamar lagi. Dengan jurus pura-pura sedih dan tidak mau makan sarapan, akhirnya aku bisa berdiri di sini, di dekat pantai yang indah bersama teman-temanku.
Aku memakai celana warna coklat sepanjang mata kaki, kaos putih kebesaran dengan lengan pendek yang kugulung sampai ke pundak. Rambut kugulung sepenuhnya dan kututupi dengan topi berwarna coklat muda. Aku terlihat sedikit tomboi pasti. Saka bilang, dia seperti menikahi anak SMA. Haha.. Usiaku sudah 22 tahun Saka sayang?
Sekarang giliran timku yang tanding bola. Aku, Mbak Sarah, Laras, Mas Antonio, Pak Bagas, Lili, dan dua orang lainnya aku tidak tahu siapa namanya. Kami satu tim. Aku lumayan jago bermain bola, karena dulu sewaktu SMA aku mengikuti eschool bola. Apalagi Mas Antonio, dia memang hobi sekali bermain bola.
Keringat bercucuran di dahi dan leherku, permainan bola ini benar-benar menguras tenaga, tapi aku senang. Akhirnya, setelah 15 menit bertanding, timku menang dengan skor tiga kosong. Saking senangnya, Mbak Sarah sampai memelukku kegirangan, aku sampai terkejut, tapi aku membalas pelukannya. Lalu aku beralih kepada Laras dan Mas Antonio, mereka juga sedang berpelukan sambil melompat-lompat, ah mereka ini.. Manis sekali..
Mas Anton melepas pelukannya dari Laras, berlari ke arahku lalu merangkul pundakku.
" Nggak nyangka kamu jago juga main bola Saf. Lain kali kalau aku main bola, harus ajak kamu nih. " Mengacak rambutku gemas. Aku tersenyum bangga.
Mas Antonio melepas rangkulannya lalu menghampiri Laras. Aku juga mau menghampiri Laras, tapi langkahku terhenti saat aku menyadari sesuatu. Aku melihat ke samping. Saka? Sejak kapan dia berdiri di sana. Nyaliku menciut karena Saka menatap tajam ke arahku. Mataku beralih ke seseorang yang berdiri di samping Saka.
Deg. Perempuan itu? Agnes? Kenapa dia ada di sini?
" Safina.... Ayo kita ambil hadiah. " Itu suara Laras yang memanggilku.
__ADS_1
" I.. iya... " Aku memilih mengikuti Laras dan yang lainnya untuk mengambil hadiah kami.
Mungkin karena perlombaam tim, jadi hadiahnya besar, tidak tahu isinya. " Foto yuk foto. " Teriak Laras antusias. " Harus donk. " Teriak Pak Bagas.
Kami berjejer untuk foto bersama. Hadiah kami taruh di depan kami. Dari ujung kanan, ada Pak Bagas, Mbak Sarah, Laras, Mas Antonio, aku, Lili, Mike, dan Joshua berdiri paling kiri. Oh ya, dua anggota timku yang lain adalah Mike dan Joshua. Kami sempat berkenalan barusan. Masa teman satu tim tidak saling kenal.
Kedua tangan Mas Antonio merangkul pundakku dan Laras karena dia berdiri di tengah-tengah antara aku dan Laras. Tangan kiriku juga merangkul pinggang Lili, karena Lili lebih tinggi dariku, aku akan susah kalau merangkul pundaknya.
Cekrek cekrek.. Berulang kali kami berpose, dari mulai ekspresi senyum, tertawa, dan pose paling jelek.
" Apa kalian tidak ingin aku ikut berfoto? " Kami dikejutkan dengan suara tegas milik Saka yang sudah berdiri di samping kami.
" Oh Pak Saka. Mari Pak. Kami akan sangat senang. " Ucap Pak Bagas mempersilahkan.
" Mari Pak.. " Mbak Sarah memberi ruang di sebelahnya mempersilahkan Pak Saka berfoto di samping dirinya.
" Wah keren ya Pak Saka.. " Kudengar bisik-bisik dari karyawan yang melihat kami berfoto.
" Sudah siap..... Pose.... " Suara fotografer mengintruksi kami untuk berpose.
Mungkin Mas Antonio tidak enak, meskipun dia bersebelahan dengan Saka, dia tidak merangkul pundak Saka. Hanya pundak mereka saja yang menempel.
" Satu, dua .... " Suara Fotografer mulai menghitung.
__ADS_1
Tepat dihitungan ketiga, aku terkejut karena Saka memeluk pingganggku erat dengan tangan kirinya. Cekrek.. cekrek.. tangan kiri Saka berpindah ke pundakku lalu menarikku lebih menempel padanya. Sehingga terlihat aku yang bersandar di lengan kiri Saka. Cekrek.. Fotografer terus mengambil foto kami.
Berulang kali kami berpose sampai aku melupakan posisiku yang semakin dekat dengan Saka. Aku terbawa suasana. Kepalaku masih menghadap ke fotografer, tapi kedua tanganku bergantung di leher Saka sehingga membuat Saka menunduk, dia menahan agar tidak jatuh lalu satu tangannya memegang pingganggku. Cekrekkk.......
Selesai berfoto kami tertawa bahagia, berlarian menghampiri sang fotografer untuk melihat hasil foto kami.
" Wah keren.. Safina, kamu terlihat mesra sekali dengan Pak Saka. " Itu suara Laras.
" Iya.. Kalian seperti sepasang kekasih. " Imbuh Lili.
Aku hanya tersenyum canggung. Kualihkan pandanganku ke arah Saka, aku melihat dia berjalan menjauh dari pantai dengan tangannya yang ditarik Agnes. Kenapa Agnes menarik Saka sampai segitunya, Saka juga tidak menolak. Huh, sebal.
" Tidak ada cocok-cocoknya. Dasar ganjen. " Aku melirik seseorang yang berbicara tepat di sampingku, Oh..Mbak Sarah, pasti yang dimaksud adalah aku dan Saka.
" Kita ke hotel yuk. Aku capek banget. " Laras mengajakku ke hotel.
" Tidak mau melihat kelompok lain tanding bola? " Tanyaku.
Laras menggeleng. " Tidak. " Jawabnya.
" Yaudah. Ayok. " Aku dan Laras melangkahkan kaki menuju ke hotel.
" Laras, aku ikut. " Lili mengejar kami.
__ADS_1
Aku, Laras, dan Lili kembali ke hotel. Sedangkan yang lainnya masih di pantai melanjutkan permainan.
....