Saka, My Cool Husband

Saka, My Cool Husband
Episode 13


__ADS_3

" Mas Anton, Laras kemana? " Tanya Safina kepada Antonio karena sejak tadi dia tidak melihat Laras di ruang kerja padahal sudah jam sembilan.


" Dia sakit. " Jawab Antonio.


" Sakit? Kenapa Laras tidak mengabariku. "


" Aku juga baru tahu tadi pagi. Entalah, bocah pecicilan seperti dia ternyata bisa sakit juga. " Antonio mengedikan bahunya.


" Sepulang kerja aku harus menjenguknya. Kasihan sekali dia. "


" Kita bareng saja. Aku mau mengejek bocah itu. " Antonio tersenyum kecil.


Safina tersenyum mengiyakan, " Kalian memang pasangan yang serasi. " Puji Safina kepada Antonio. Safina tahu, meskipun mereka berdua tidak pacaran dan terlihat tidak begitu akrab, sebenarnya mereka berdua saling suka.


" Serasi apanya. " Gerutu Antonio.


Safina mengambil ponselnya lalu mengirim pesan kepada seseorang.


Safina


Aku akan pulang terlambat. Temanku sakit, aku mau menjenguknya.


Pesan terkirim kepada Suami Menyebalkan.

__ADS_1


Safina baru mendapat balasan sekitar lima belas menit kemudian.


Suami Menyebalkan


Ya.


Safina geram, Saka cuma membalas ya. Apa tidak ada kalimat lain? Tisak ada manis-manisnya. Tapi tidak lama terdengar notifikasi pesan masuk lagi.


Suami Menyebalkan


Jangan lupa makan siang. Pak Heri akan mengantarkan makan siang untukmu.


Safina tersenyum menerima pesan dari Saka. Oh ya, Pak Heri adalah sopir yang mengantar Safina berangkat tadi pagi. Mulai sekarang Pak Heri yang akan mengantar dia kemana-mana.


Safina


Suami Menyebalkan


Jangan menolak pemberian suami.


Safina


Iya iya.

__ADS_1


Tidak ada balasan lagi dari Saka. Safina kembali menaruh ponselnya di saku.


" Ck. Bekerja yang serius. Jangan sibuk main hp. Kaya ada yang mengirim pesan saja. " Tentu Sarah yang berbicara. Safina tersenyum sekilas meminta maaf lalu kembali bekerja.


Safina Pov


Sepulang kerja, aku dan Mas Antonio mampir ke apartemen Laras. Aku membonceng motor Mas Antonio. Sedangkan Pak Heri aku suruh mengikuti dari belakang. Sengaja aku tidak naik mobil karena takut Mas Antonio dan Laras curiga mobil siapa yang mengantarku. Aku takut Saka marah kalau orang kantor tahu aku adalah istrinya. Kemarin sewaktu menjemputku saja dia terlihat buru-buru dan tidak menjelaskan apapun kepada satpam tentangku.


" Cepat sembuh ras. Aku pulang dulu ya. " Aku pamit pulang kepada Laras. " Mas Anton, aku pulang. " Pamitku lagi kepada Mas Antonio.


" Yakin Saf? Nggak mau aku anterin? " Tanya Mas Antonio padaku.


" Nggak usah. Aku udah pesen taksi online. " Jawabku berbohong. Padahal aku pulang dengan Pak Heri. Mas Antonio tersenyum mengiyakan.


" Hati-hati Saf. Kabari kalau udah sampai. " Laras mengantarku sampai pintu.


" Udah sana masuk. Masih sakit juga. " Ucapku sebelum melangkah pergi dari apartemen Laras.


Di perjalanan pulang, aku meminta kepada Pak Heri berhenti di depan penjual batagor. Aku membeli tiga bungkus, untukku, Pak Heri, dan satunya untuk suamiku. Aku ingin dia mencoba makanan favoritku ini.


Anggap saja ini hadiah terima kasihku untuknya.


Saka benar-benar menepati perkataannya. Aku saja sampai terkejut, uang yang dikirim Saka ke rekeningku sangat banyak. Entahlah itu senilai dengan gajiku berapa tahun. Apalagi kartu yang tadi pagi diberikan Saka kepadaku, dengan kartu itu aku bisa membeli apapun yang aku mau. Rasanya hidupku berubah dalam sekejab. Dulu aku harus mati-matian berhemat agar gajiku cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari, bayar kontrakan, dan cicilan motor. Sekarang, tanpa bekerja pun aku bisa membeli apapun yang aku mau. Aku bersyukur. Terima kasih Tuhan sudah hadirkan Saka dalam hidupku.

__ADS_1


__ADS_2