
"Ing tengahing dawuh, angin dandani tansah. Bayangane edan ngguyu ati sing lungguh. Sinden Jawa nyanyi lagu sira, ngrungokake cerito bab kematian sing tiba."
Saat ini cahaya kilat merajai langit malam diiringi hujan deras. Mayang tertidur dengan gelisah. Hingga pada satu titik ia terbangun akibat mendengar gemuruh petir.
"Duh, badainya enggak berhenti-berhenti, dingin banget."
Samar-samar terdengar lirih suara sinden di telinganya. Suara itu terdengar dari arah kanan kamarnya.
"Kematian mlebu tanpa tanda, kaya bayangan sing mudhun gumuyu. Jroning jagad iki, urip ora langgeng, Sinden nyanyi pesen saka alam baka."
Mayang melepaskan diri dari selimut dan bangkit dari kasurnya. Ia bergeser ke arah kanan kamarnya. Ia tempelkan telinganya di dinding kamar dan ternyata benar bahwa asal suara kidung itu berasal dari kamar sebelah.
Tok ... tok ... tok
"Na, kamu belum tidur?" ucap Mayang sambil mengetuk dinding kamarnya. Namun, tak ada jawaban dari kamar sebelah. "Mirna?"
Tok ... tok ... tok
Hanya suara ketukan balik yang terdengar. Mayang pikir, mungkin Mirna sedang asik bernyanyi sehingga gadis itu tak membalas panggilannya dan hanya merespons dengan ketukan balik. Ia coba tidur kembali, tetapi suara sinden itu benar-benar mengganggunya. Terbesit sebuah pertanyaan di kepalanya mengingat selama ini Mirna tak pernah berkidung.
'Apa itu benar suara Mirna?'
Mayang pun berdiri lalu berjalan mengambil cardigan hitam yang tergantung di belakang pintu. Ia kenakan cardigan itu sambil membuka pintu dan melangkah keluar.
Tok ... tok ... tok
"Na, Mirna?"
Saat ini Mayang sudah berada di depan kamar Mirna yang berada di pojokan lantai dua, berdempetan dengan rumah Pakde Suratno yang berprofesi sebagai dalang wayang.
Petir menyambar langit dengan cahaya yang menyilaukan, membuat Mayang terkejut. Angin yang berbisik dengan suara serak menambah ketegangan di tempat ini. Mungkin karena sudah sepi, Mayang merasakan getaran ketakutan yang merambat di tubuhnya.
Saat Mayang mencoba untuk meredam rasa takutnya, listrik tiba-tiba padam. Dalam sekejap, kegelapan menyelimuti lorong lantai dua. Hanya cahaya samar dari kilat menyambar yang menjadi penerangannya. Jantungnya berdegup kencang, tapi ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanyalah akibat daripada badai.
Namun, dalam gelap, Mayang merasa ada sesuatu yang tidak beres. Suara langkah kaki halus, hampir tidak terdengar, mulai merayap di koridor. Gadis itu menahan napas, tangannya gemetar ketika mencoba menyalakan senter di ponselnya. Hingga sebuah suara merdu, seperti suara nyanyian lembut, mulai terdengar dari arah tangga yang berada di sisi pojok berlawanan dengannya.
"Mayaaangg..." bisikan itu terdengar seperti angin yang lirih memanggil namanya.
Tiba-tiba, cahaya kembali menyinari koridor ketika listrik pulih. Dari ujung arah yang berlawanan dengan Mayang, terlihat seorang wanita yang sedang berdiri mengenakan kebaya merah dengan senyum aneh di wajahnya. Suaranya yang begitu memikat kini terdengar lebih menakutkan lagi. Dengan cekatan wanita itu langsung melakukan tarian jawa masih menatap ke arah Mayang.
Mayang yang ketakutan pun berlari menuju kamarnya yang berada di sebelah kamar Mirna. Namun, semakin ia melangkah, lampu koridor kembali mati satu per satu. Dan saat lampu itu mati, jarak sang sinden itu pun semakin mendekat. Mayang mempercepat langkahnya seiring dengan suara gending gamelan yang terdengar makin cepat temponya.
__ADS_1
Braaak!
Gadis itu berhasil masuk ke dalam kamarnya dan langsung menutup pintu dengan keras. Setelah ia mengunci pintu, kakinya mendadak lemas dan terjatuh di lantai dengan gemetar. Napas Mayang kini tak beraturan lagi.
Di tengah rasa takutnya, lampu kembali padam, membuat gadis itu terkejut dan semakin ditelan kengerian. Namun, tak berselang lama lampu kembali hidup.
"Ing tengahing riuh, jagad gedhong-gedhang, sinden nyanyi rahasia sing nglilahi. Takdir ora bisa ditaleni, manungsa cuma tetamu, Saathane lunga, takdir sing ora tawa tawa."
Merinding! Bulu kuduk Mayang sontak berdiri. Lantaran suara sinden itu terdengar berada tepat di belakangnya. Mayang langsung menoleh dengan cepat. Wajah sinden yang sedang menyeringai membuatnya refleks berteriak histeris.
"AAAAAA!"
Mayang kini terduduk dengan napas terengah-engah dan keringat bercucuran. Ia tatap jam dinding yang masih menunjukkan pukul tiga dini hari.
Sepertinya mimpi buruk baru saja menghantuinya. Hanya saja semua yang terjadi tadi terlalu nyata untuk disebut mimpi. Mayang mengambil ponsel dan langsung menelpon Mirna saat ini juga.
Tiga kali ia mencoba, dan panggilan keempat membuahkan hasil. Mirna mengangkat panggilan tersebut.
"Kenapa, May?" tanya Mirna. Dari nadanya berbicara, ia seperti baru bangun tidur.
"Sorry ganggu malem-malem. Lu ada di kamar, Na?"
"Gue lagi nginep di rumah Pakde gue yang di Solo, May. Kenapa?" tanya Mirna balik.
"Kenapa emangnya? Abis mimpi buruk, ya?"
Deg!
Mayang mengerutkan kening. "Kok lu tau?"
"Besok gue balik kanan ke Jogja kok, nanti pas ketemu gue mau cerita, tapi enggak di kosan," jawab Mirna.
"O-oke."
"Ya udah, gue lanjut tidur dulu ya, May."
"Oke, oke. Sorry ganggu, Na."
"It's okay, Mayang. See you."
Mayang mematikan panggilan tersebut, lalu terdiam. Menelpon Mirna sepertinya malah memperkeruh suasana hatinya. Mengetahui Mirna sedang tak berada di kamar, dan juga pertanyaan soal mimpi buruk tadi ... sepertinya Mirna mengetahui sesuatu.
__ADS_1
Rasanya ingin terlelap dan berharap waktu cepat berlalu, tetapi rupanya sulit. Setiap Mayang memejamkan mata, ia teringat-ingat seringai sinden kebaya merah dalam mimpinya. Sampai pada akhirnya, Mayang terus terjaga sampai waktu subuh tiba.
...****************...
"Maaf terlambat," ucap Mayang pada Mahari yang sedang duduk di teras menikmati kopi hitam pertamanya pagi ini.
"Oke, pelanggan cewek juga lagi sepi jadi masih bisa toleransi lah," balas Mahari. Namun, pria itu menyadari ada gelagat yang tak beres dari gadis tersebut. "May, kamu bergadang semalem?"
"I-iya, Mas. Biasa ada kerjaan sampingan."
"Oh, kerjaan apa?" tanya Mahari.
"Ngedit video," jawab Maya berbohong.
"Oke, oke. Mumpung lagi sepi, kamu kalo mau istirahat pake aja ruangan refleksi cewek buat tidur, tapi tempat tidurnya gitu dah, kasur pijet," tutur Mahari diikuti kekehan kecil.
"Enggak usah, Mas. Masih kuat kok." Mayang berjalan masuk meninggalkan Mahari di beranda Tantra.
Mahari melirik ke arah salah satu pohon besar di halaman samping. Rupanya Darmanta sedang duduk di salah satu dahan sambil membaca buku. Sepertinya Manta pun sedang melirik ke arahnya.
"Gimana, Ta?" tanya Mahari.
"Ya, meskipun samar, tapi masih keendus busuknya," jawab Manta.
Mahari kembali menyeruput kopinya. "Tolong lu urus yang satu ini. Bisa?"
Manta hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Mahari. Pria tampan itu yang akan turun tangan mengurus sesuatu yang sudah berani berurusan dengan rekan kerjanya.
...****************...
Di sisi lain seorang pria dengan blangkon di kepala sedang duduk di ruangan kosong yang gelap sambil memainkan boneka wayang seolah sedang melakoni pertunjukan.
Tiba-tiba permainannya berhenti ketika salah satu sindennya mengeluarkan suara yang kurang merdu di telinga. Ia pun sontak menatap wanita tersebut dengan sorot mata penuh murka.
"Kowe ngrusak permainanku," ucap sang dalang lirih. Namun, terdengar penuh tekanan pada setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Seketika itu para pengrawit menghentikan permainannya. Suara gamelan pun mendadak berubah menjadi keheningan.
Wanita pesinden yang gagal berkidung merdu barusan menangis tersedu-sedu. "Ngapunten, Gusti."
"Kita coba saka awal. Sakali lagi kowe salah, tak pateni kowe."
__ADS_1
Sang dalang kembali memainkan wayangnya ditemani empat orang sinden di sisi kirinya. Suara gamelan dari para pengrawit pun mulai terdengar kembali mendramatisir adegan demi adegan yang ia lakoni. Di tangannya, wayang-wayang itu seperti hidup dan memainkan dirinya sendiri.