Sang Arkana : Para Pemburu Iblis

Sang Arkana : Para Pemburu Iblis
Kecewa


__ADS_3

Bowo masih separuh sadar, tetapi seluruh tubuhnya seperti mati rasa, tak bisa digerakkan. Pria itu hanya mampu menatap samar kaki Dursasana yang perlahan mendekat padanya. Pada satu titik, iblis itu berjongkok sambil memperlihatkan seringai dan kuku-kuku tajamnya.


"Selamat tidur, Wibowo Mahasura." Dursasana melesatkan kuku-kuku tajamnya, hendak mencabut jantung Bowo dari belakang.


Namun, tiba-tiba sebuah tinju menghantam Dursasana hingga membuatnya mencium tanah.


"Berengsek!" Seru iblis itu marah sambil mendongak.


"Begitulah seharusnya cara kalian memandang kami. Sadarilah posisimu, iblis durjana." Seorang pria kekar berpakaian lurik hijau dengan syal senada yang berkibar ditiup angin malam muncul dihadapan Dursasana, menyelamatkan Bowo.


Angin berputar dengan kecepatan tinggi, membentuk pusaran yang kuat di sekitar Dursasana yang marah. Iblis itu merentangkan tangannya, mengendalikan angin di sekelilingnya.


Bima Harimurti, Kapten pemburu iblis dari asosiasi berdiri dengan tegar di hadapan Dursasana. Bersiap untuk menghadapi iblis berlevel tinggi di hadapannya. Sejenak ia melirik ke arah Bowo.


"Istirahatlah, sekarang kau aman," ucapnya.


"A-was ...," lirih Bowo.


Dursasana dengan mata berkilat, melepaskan serangan angin ganas yang menghantam Bima dengan kecepatan kilat. Bima merespons dengan cepat, melapisi dirinya dengan atma yang tebal untuk melindungi dirinya dari serangan angin tajam itu. Serangan angin Dursasana tak sedikit pun menggoresnya.


Kemudian, Bima mengambil langkah maju sambil menghentakkan kakinya ke tanah. Menciptakan gelombang kejut yang mengguncang Dursasana. Iblis itu terdorong mundur beberapa langkah, kehilangan keseimbangan sejenak.


Bima kemudian merentangkan tangannya dan melapisi tinjunya dengan atma. Ia langsung melesat ke arah Dursasana dengan kecepatan tinggi. Dursasana mencoba menghindari serangan tersebut, tetapi pukulan Bima berhasil mengenai tubuhnya, menyebabkan luka yang cukup dalam hingga membuat iblis itu memuntahkan darah hitam dari mulutnya.


Dursasana tak terima begitu saja. Ia mengumpulkan energi angin sekali lagi dan menciptakan pusaran angin besar di sekitarnya. Angin itu berputar dengan kecepatan yang mengerikan. Pada satu titik ia menunjuk ke arah Bima. Pusaran angin itu pecah terpencar dan melesat bagai pisau ke arah sang kapten.


Bima hanya diam, tetapi angin milik Dursasana tak mampu memberikan dampak apa pun. Lapisan atma yang pria itu buat sangatlah kuat seperti perisai dari bumi yang sangat kokoh.


"Apa hanya itu kemampuanmu, iblis?" tanya Bima.


Dursasana yang terpojok justru menyeringai dan tertawa seolah sedang bersenang-senang.


"Maaf, maaf, tadi sempat terbawa suasana. Ayo, kita mulai lagi," ucap iblis itu. Ia menyeringai sambil menempelkan kedua telapak tangannya. "Nirwana Dosa."


Mendadak aura membunuhnya kembali terpancar hingga membuat Bima terbelalak dan merinding dibuatnya.


Dursasana yang tersudut semakin mengintensifkan kekuatannya. Dari berbagai sudut, bayangan di sekitarnya membentuk gelombang kegelapan yang terasa begitu mencekam. Iblis berwujud anak laki-laki itu tertawa dengan jahat, seolah menikmati ketakutan yang terpancar dari wajah Bima.


"Kenapa, Kapten? Takut?" ledeknya.


Bima yang kini merasa terpojok di dalam pusaran kegelapan Dursasana, mencoba untuk tetap tenang. Ia mengandalkan kekuatan yang ada dalam dirinya, mencoba untuk menciptakan cahaya dan kekuatan untuk mengusir kegelapan yang mengancamnya.


Namun, sihir kegelapan Dursasana terlalu kuat. Gelombang kegelapan semakin mencekik Bima, membuatnya kesulitan bernapas. Ia merasa kekuatannya terhisap habis oleh kegelapan ini.


Dursasana mendekat, masih tertawa dengan penuh kepuasan. "Lihatlah, kapten pemburu iblis. Kau yang mengaku sebagai pelindung manusia, sekarang tak berdaya di hadapanku. Kekuatanmu tak berarti di sini!"

__ADS_1


'Nirwana' merujuk pada keabadian atau ketenangan spiritual, sementara 'Dosa' mencerminkan kejahatan, konsep ketenangan dalam kegelapan. Nirwana Dosa adalah salah satu teknik milik Dursasana yang membuat lawannya terjerat dalam kegelapan dan terjatuh ke dalam jurang kengerian tanpa dasar. Semakin kental rasa takut lawannya, maka akan semakin kuat iblis itu karena menyerap ketakutannya.


Dursasana terdiam dalam kegelapan yang diciptakannya, yakin bahwa ia telah menang. Namun, tiba-tiba, sebuah kilatan petir memotong langit, menyambar langsung ke arah Dursasana.


Sosok anak kecil itu terguncang oleh petir yang menghantamnya, tubuhnya bergetar dan mati rasa sejenak.


"Apa lagi ini, sialan?!" serunya.


Di atas pohon yang tinggi, sesosok wanara berbulu putih muncul dengan tatapan tajamnya yang menyala. Kehadiran makhluk itu membuat Dursasana merasa tertekan.


"Hentikan semua kegilaan mu malam ini, Dursasana," ucap wanara itu.


Iblis berwujud anak laki-laki tersebut berdecak kesal ke arah wanara tersebut. "Subali," lirih Dursasana


Meskipun Subali hanya berdiri di sana, tetapi makhluk itu memberikan tekanan tersendiri pada Dursasana. Pada akhirnya iblis berwujud anak laki-laki itu menghela napas dan memutar arah.


"Oke, oke, aku pergi." Sebelum pergi, sejenak Dursasana menoleh ke arah Bima dan Bowo. "Kalian beruntung. Saat nanti kita berjumpa lagi, nyawa kalian tidak akan ku ampuni untuk yang kedua kalinya." Anak itu terus berjalan hingga menghilang dari pandangan dua orang Bima dan Bowo.


Bima menoleh ke atas pohon tempat wanara berbulu putih itu berdiri, tetapi Subali sudah tak berada di sana. "Aku merasa makhluk tadi tidak lebih kuat dari Dursasana, tapi kenapa Dursasana memilih mundur?"


Bowo bangkit. "Waktu istirahatnya udah cukup.' Ia berjalan tertatih ke arah motornya dengan tangan kanan yang terlihat lemas seperti tak memiliki tulang.


"Apa kau bisa pergi dengan kondisi begitu?"


"Makasih udah nolongin, tapi saya harus pergi sekarang. Ada hal penting yang Mahari harus tau," jawab Bowo.


Bowo terpaksa harus setuju, sebab tanpa Bima tangan kanannya tak bisa digunakan saat ini. Ia pun duduk manis di jok belakang.


...****************...


Aktivitas ghaib di Surakarta perlahan menurun. Asosiasi menurunkan ketiga Kapten ke kota ini untuk mempercepat pemulihan. Masing-masing Kapten membawa divisinya dan menyebar ke seluruh penjuru Surakarta untuk melakukan penanganan.


Semalaman suntuk para pemburu bekerja keras untuk membasmi dan menangani korban kesurupan masal terbesar di era ini. Dalang dan motif dari semua ini masih belum diketahui. Namun, mereka memiliki satu petunjuk dari korban yang berhasil selamat akibat ditolong oleh Kapten Bima.


"Saya enggak akan ngomong sebelum Mahari dateng," ucap Bowo di hadapan ketiga Kapten yang sedang menginterogasinya di basecamp. Tutur bicaranya berubah sopan akibat segan pada orang-orang berpangkat tinggi di asosiasi. "Intinya saya enggak mau ngejelasin dua kali, apa lagi tiga kali."


Sampai matahari terbit, Mahari belum juga menampilkan batang hidungnya. Padahal ketiga Kapten dan divisinya sudah menunggu. Ada juga Jiwatrisna dan para pemburu dari Solo, serta Manta dan Yasa.


Di tengah ketegangan itu, Mahari muncul dari balik garasi dan berjalan masuk ke ruang tamu di mana semua pemburu yang terlibat insiden semalam berkumpul.


"Wah, rame nih," ucap Mahari tersenyum ramah.


"Dari mana aja?" tanya Santi yang berada di antara orang-orang itu.


Wajah Mahari tampak serius. "Mengejar dalang di balik ini semua."

__ADS_1


Mendengar jawaban Mahari, semua terbelalak. Kecuali Santi.


"Lalu, bagaimana hasilnya?" tanya seorang pria bertudung hoodie dengan suara beratnya.


Mahari menatap ke arah pria tinggi sedang dengan postur atletis bertatapan tajam yang mengintimidasinya itu. Ia pun menggeleng. "Aku kehilangan jejak."


"Mahari, tau hotel di Jalan Gatot Subroto?" tanya Santi.


"Yang tinggi itu? Ya, tau," jawab Mahari. "Kenapa?"


"Gua akuin lu hebat kalo tau berapa harga sewa kamarnya."


"Superior double tiga ratus ribuan," jawab Mahari.


"Mahari." Santi tersenyum.


Mahari ikut tersenyum. "Lu mau ngajak gua ke hotel itu? Boleh."


Santi menggeleng. "Hotel itu baru diresmikan tiga hari lalu, sementara tiga hari lalu lu belum ke sini."


Senyum Mahari berubah hambar diikuti keringat-keringat sebesar biji jagung.


"Oh."


"Oi, Mahari!" teriak Bowo. "Jangan bilang lu malah asik-asikan sendiri pake duit kemaren misi level S?"


"E-enggak. Enak aja lu."


"Muka mu terlalu seger buat orang yang ngejar pelaku utama insiden kliwon kelabu semalem, Mas," timpal Manta.


Bowo memejamkan mata. Ada air mata yang menetes ke pipinya.


"Oke, oke, kapan-kapan kita cari cewek di sana, Wo," ucap Mahari berusaha menenangkan Bowo.


Bowo memukul dinding dengan tangan kirinya. "JANGAN BERCANDA!"


Semua mendadak hening ketika melihat si botak itu marah. Namun, sebenarnya daripada marah, ia lebih terlihat kecewa pada Mahari.


"Tangan terkuat gua patah demi ngejaga senyum lu! Gua mati-matian bertahan hidup buat bawa pulang informasi berharga ini buat lu! Kalo sampe lu malah asik-asikan sendiri, gua bunuh lu! Sekarang gua tanya, ke mana lu semalem?!"


Mahari tampak sedang berpikir. "I-iya gua ke hotel itu buat ngejar pelakunya."


Bowo menggeleng, ia kembali memejamkan mata sambil menghela napas panjang.


"Iblis itu bernama Dursasana," ucap Bowo. "Dia berwujud anak laki-laki sepantaran Yasa, tapi lebih tinggi. Dursasana bisa memanipulasi rasa takut manusia. Kemampuan khususnya bisa mengendalikan kegelapan dan angin. Yang lebih penting adalah, mereka berkomplot. Dursasana, Yudha Kiranata, Karna Rawasura, dan satu orang lagi yang menjadi dalang utama kejadian malam tadi. Berkat Mahari, kita hampir tau siapa orang itu."

__ADS_1


Setelah memberikan semua informasi dari pertarungan semalam, Bowo pergi ke lantai dua meninggalkan semua orang di ruang tamu dengan wajah kecewa. Ia sama sekali tak menatap ke arah Mahari.


__ADS_2