
"Terangi aku dari kegelapan, Bengisuro." Cahaya tipis menyelimuti sekujur tubuh Manta.
Yasa menatap Darmanta dan merapalkan mantra perlindungan untuknya. Tentu saja ia pun melakukan hal yang sama pada Wibowo dan Mahari yang berada di belakang. Jika bukan karena perlindungan dari mantra bocah itu, hawa panas dari tekanan yang diberikan Buto Geni pasti sudah memanggang mereka semua.
Jarak antara Buto Geni dan ketiga Arkana tersebut sudah dekat. Manta pun berlari ke arah kiri dan Bowo ke kanan. Mereka memang seperti air dan api, tetapi pergerakan mereka selaras karena banyaknya pertempuran yang sudah mereka lalui bersama. Tanpa komunikasi sekalipun, level chemistry mereka sudah berada di level yang berbeda.
"Kilau sambara." Manta langsung menebas kaki kiri Buto Geni dengan Bengisura yang menyala putih.
Di sisi kanan, Bowo yang sudah berapi-api pun melesatkan pukulannya sambil meluapkan seluruh amarahnya yang tertahan.
"Pacaran dahana!" seru Bowo. Atma yang berada di tinjunya meledak menjadi api biru yang ******* api merah milik Buto Geni.
Berkat dua serangan tersebut, Buto Geni hilang keseimbangan dan kembali berlutut. Satu betisnya putus dan satunya lagi hancur. Kini di hadapannya, Yasa sudah bersiap dengan jari telunjuk dan jari tengah yang menempel menunjuk ke arahnya.
"Lara kerta Yama ...," lirih bocah itu. Sebuah gelombang hitam besar, mengecil di ujung jarinya dan melesat cepat ke arah Buto Geni.
Buto Geni terbelalak. Segala gerakan di sekitarnya terlihat sangat lambat saat ini. Ketika ia menyadari apa yang sedang terjadi, ada sebuah lubang besar di tubuh makhluk itu. Darah hitam mengucur deras menggenangi aspal jalan.
Cahaya di mata Yasa padam. Bocah itu tumbang tak sadarkan diri setelah merapalkan salah satu mantra pencabut nyawa. Meskipun ba'itnya hanya terdiri dari tiga kata, tetapi mantra tersebut memerlukan energi yang sangat banyak ketika dilafalkan oleh perapalnya.
Namun, sebelum bocah itu terjatuh utuh, Mahari berhasil meraih dan menopangnya. Ia mengusap kepala Yasa dengan satu tangannya yang lain.
"Kerja bagus," ucap Mahari sembari menyematkan senyum bangga.
"MAS HARI!" teriak Bowo.
Mahari terkekeh melihat ekspresi wajah si botak itu. Dalam tayangan lambat, Bowo seperti sedang meneriakkan sesuatu, tetapi anehnya Mahari tak dapat mendengar apa pun. Di sisi lain, wajah Darmanta pun tak kalah panik dari Bowo. Pria tampan itu terlihat berlari dalam tayangan lambat ke arah Mahari dan Yasa.
Tiba-tiba bias cahaya kemerahan yang menyilaukan membuat mata Mahari memicing dan merubah arah tatap pada Buto Geni. Sontak matanya langsung terbelalak saat itu juga.
Iblis itu sedang membuat bola api raksasa dengan mulutnya, meskipun separuh tubuhnya sudah berubah menjadi kepulan asap hitam. Sebelum mati, setidaknya ia ingin membawa beberapa Arkana tersebut bersamanya.
Mahari mengangkat satu tangannya ke atas dengan ekspresi datar. Namun, belum sempat ia melakukan apa-apa. Pedang Bengisura melesat dan menancap ke perut Buto Geni.
Bowo berlari kencang dan melakukan satu, dua langkah di paha Buto Geni. Ia melompat lalu meraih gagang pedang milik Manta, kemudian berpijak pada perut raksasa tersebut dan melakukan pukulan uppercutĀ pada rahang lawannya hingga membuat kepala Buto Geni mendongak.
__ADS_1
Ketika Bowo terjatuh akibat efek gravitasi, tiba-tiba satu kaki Manta menjadikan bahunya sebagai tumpuan untuk melompat. Darmanta mencabut pedangnya sesaat sebelum ia menjadikan Bowo sebagai pijakannya. Dengan tangkas ia menyabet leher Buto Geni menyamping sehingga kepala makhluk itu terputus dari tubuhnya.
Bola api besar yang dibuat oleh makhluk tersebut ikut menjadi kepulan asap hitam sebelum sempat dilepaskan. Bowo dan Manta menyelamatkan Mahari dan Yasa dari kematian.
Tak seperti Bowo yang memang kuat secara fisik. Saat Darmanta mendarat, kakinya salah posisi sehingga membuatnya keseleo. Ia hendak berdiri, tapi kesulitan. Wibowo yang menyadarinya, merangkul Manta untuk berdiri dan berjalan ke arah Mahari.
"Kalo enggak ada gua, lu bakalan ngerangkak ke mobil," ucap Bowo. "Kita impas, sialan."
Manta melirik ke arah pria botak itu, lalu tersenyum tanpa kata.
Mereka berdua sebenarnya sempat kepikiran tentang Mahari yang tadi mengangkat satu tangannya. Ketika dua orang itu sudah berhadapan dengan Mahari, Bowo pun bertanya.
"Tadi ngangkat tangan mau ngapain, Mas Mahari?"
Mahari tersenyum. "Jurus rahasia, tapi berkat kalian berdua jadi enggak perlu dikeluarin."
"Jurus menyerah?" celetuk Darmanta.
Mahari tak memberikan jawaban atau pun klarifikasi, tapi jelas terbaca dari wajahnya bahwa kata-kata Manta sepertinya ada benarnya. Melihat ekspresi Mahari, Bowo terbahak-bahak.
"Ya udah, sekarang kita pulang yuk. Enggak lama lagi jalanan di sini bakalan rame orang lalu-lalang," ucap Mahari.
Mereka semua pun masuk ke dalam mobil dan pulang menuju Tantra. Hanya saja saat di tengah perjalanan pulang, Bowo merasa gelisah. Pada satu titik ia menggerutu.
"Motor gua ketinggalan!"
...****************...
Malam pun berlalu dan mentari terbit membuka lembaran baru. Semalam Mahari kembali ke tempat pertempuran melawan Buto Geni, beruntung motor milik Bowo masih berada di tempat yang sama.
Pagi ini Mahari membuat sarapan untuk ketiga bawahannya yang memang tinggal serumah dengannya. Yasa wajar, karena sejak kecil ia diasuh oleh Mahari. Namun, untuk Manta dan Bowo beda urusan.
Kedua pemuda itu masih berkuliah dan butuh tempat tinggal yang murah. Berkat Tantra, mereka mendapatkan dua pekerjaan sampingan dan juga tempat tinggal gratis.
Pagi ini mereka berempat berkumpul. Bowo memicing menatap lima porsi nasi goreng telur dadar di meja makan. "Ini satu lagi buat siapa, Mas? Hitta? Ayang?"
__ADS_1
"Bukan. Nanti orang asosiasi mau ke sini," jawab Mahari.
"Oh, mbak Santi?"
"Iya, paling juga dia utusannya."
Bel di pintu tiba-tiba berbunyi. Mahari pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke depan untuk menyambut tamunya. Tak lama berselang, Mahari kembali ke meja makan bersama seorang wanita dengan postur tubuh yang tegap dan atletis. Tingginya sekitar 165 senti, dengan lekuk tubuh yang ramping. Rambutnya hitam pekat, panjang, dan digulung rapi dalam sebuah kunciran.
"Wah, ikut gabung makan enggak apa-apa nih?" ucap wanita itu ramah.
"Monggo, mbak Santi," balas Bowo si pecinta wanita.
Sari Darmasanti merupakan anggota asosiasi pemburu. Wanita itulah yang biasanya melempar misi dari asosiasi untuk Tantra seumpama tak ada anggota yang standby di markas besar. Selain itu, alasan mengapa wanita itu ada di sini pun sudah jelas. Jika ia yang melemparkan kertas tugas, artinya juga ia yang memberikan imbalan. Setiap tugas yang diberikan asosiasi mendapatkan imbalan uang tergantung level yang tertera.
Biasanya misi level C hanya mendapat 100-300 ribu rupiah, lalu rata-rata misi di level B ada di angka 300-500 ribu rupiah, di level A mencapai 500-1 juta rupiah, dan di level S tergantung tingkat kesulitannya.
Selesai sarapan Santi memberikan dua buah amplop. Mahari tersenyum girang dan mengambil amplop tersebut. Namun, ia mengerutkan kening ketika merasakan sebuah kejanggalan.
"Kok yang ini tebel? Apa hadiah di level B naik harga?" tanya Mahari.
Santi menggeleng. "Semua normal," jawabnya. "Cuma ada sedikit perubahan aja. Yang kemarin asosiasi kasih label C, ternyata setelah diusut itu punya tingkat kesulitan S."
Semua terbelalak mendengar ucapan Santi. Wajar saja jika saat ini Yasa kehilangan suaranya untuk sementara waktu, Wibowo pegal linu di seluruh tubuhnya, dan Manta harus pincang satu kakinya.
"Sudah ku duga," ucap Mahari dengan wajah serius."Enggak mungkin level C kayak begitu."
"Siapa yang beresin jalur Wates semalem, Har?" tanya Santi.
"Kita semua berangkat," jawab Mahari.
Santi tersenyum. "Untungnya kamu ikut, kalo enggak ada kamu mungkin mereka bertiga bisa kehilangan nyawanya. Mungkin ini yang dinamakan rencana Tuhan."
"Iya, untung aku ikut. Lain kali asosiasi harus lebih jeli, karena kesalahan begini bukan kesalahan kecil. Salah-salah ngirim orang bisa fatal akibatnya. Untung bukan iblis kelas atas yang muncul."
Mendengar ocehan Mahari, ketiga bawahannya memasang wajah datar. Pria itu tampak segar tanpa lecet sedikit pun.
__ADS_1
"Enggak kebalik tuh?" celetuk Bowo.