Sang Arkana : Para Pemburu Iblis

Sang Arkana : Para Pemburu Iblis
Sang Raja Arwah


__ADS_3

Manta, Bowo, dan Yasa saling bertatapan. "Raja arwah?" tanya Yasa heran.


Bowo sama herannya dengan Yasa, tetapi yang paling membuatnya heran adalah kalimat tentang hotel Surakarta. "Hotel Surakarta? Jadi yang waktu itu ...."


Mahari menggaruk kepalanya. "Iya ke hotel beneran sih waktu itu, bukan buat liburan, tapi ngejar ini orang."


"Kenapa enggak bilang?" tanya Bowo lagi.


"Udah bilang waktu itu, tapi dibilang boong," jawab Mahari.


"Sekarang bukan waktu yang tepat untuk bercanda, saat ini kau dalam bahaya besar, Mahari. Kau tidak melihat sekelilingmu?" ucap Darto.


Mahari menatap sekelilingnya. Tantra sudah dikepung ratusan makhluk halus. "Banyak ya, rame."


"Ini pertarungan antar dua Sagara. Aku akan merebut gelar mu."


"Berisik, ambil aja kalo mau," balas Mahari. "Lagi juga bangga banget lahir dari keluarga Sagara."


"Memangnya kau pikir, kau bisa sejauh ini berkat apa? Kau terlahir sebagai seorang Sagara."


"Oke, ngomongin tentang sejarah keluarga Sagara emang menarik. Salah satu dari sepuluh keluarga agung, jembatan penghubung dunia manusia sama roh, apa lagi? Keren dah pokoknya, tapi itu kan dulu," sanggah Mahari. "Enggak usah bangga sama pencapaian masa lalu. Toh bukan kau sendiri, kan pelaku di masa itu?"


"Omong kosong. Kita bisa sekuat ini berkat sejarah," balas Darto. "Tunjukkan pasukan mu sekarang, Mahari. Kita lihat siapa di antara kita Sagara yang lebih kuat."


"Oke, kita liat siapa pemenangnya, orang yang membanggakan masa lalu, atau orang yang terus menatap masa depan." Mahari menghela napas. "Jujur, ketimbang bangga punya marga Sagara, aku lebih bangga lahir sebagai Mahari.


Tak ada yang menyadarinya, sebuah buku hitam persis sama dengan buku milik Darto kini berada di tangan kanan Mahari. Buku itu memiliki tulisan 'Penjara Jiwa' berwarna merah. Namun, perbedaan yang paling mencolok adalah buku milik Mahari jauh lebih tipis daripada buku Darto.


"Buku mu hanya setipis itu? Konyol sekali," ucap Darto. "Dengan penjara jiwa setipis itu, kau ibarat hanya Raja tanpa pasukan."


Mahari tertawa. "Denger ini baik-baik." Perlahan tawanya hilang, meninggalkan senyum tipis di wajahnya. "Ada dua cara bertarung menggunakan penjara jiwa. Pertama dengan kuantitas, kedua dengan kualitas. Memang, penjara jiwa yang tebal menandakan level penggunanya, tapi bukan artinya yang tipis jauh lebih lemah. Ibarat bukumu memiliki seribu lembar, dan setiap satu lembarnya berisi makhluk bernilai satu, maka satu lembar buku ku itu bernilai seribu. Kekuatan tempurku jauh di atasmu."


"Buktikan," balas Darto.


Mahari menutup mata sambil menggenggam erat tangannya hingga telapaknya berdarah, lalu meneteskan darahnya pada empat lembar kertas bukunya.


"Makhuta dara," gumam Mahari sambil perlahan membuka matanya kembali. Kini mata kanan pria itu berwarna hitam dengan iris biru.


Darto, Yasa, Manta, dan Bowo sontak merinding ketika dari bayangan Mahari muncul empat makhluk yang berdiri di belakang pria itu. Empat makhluk ini memiliki aura yang sangat mengerikan dan membuat mereka semua ingin muntah.


Bowo bertahan dari tekanan spiritual makhluk-makhluk yang Mahari keluarkan. Pada satu titik, ia menatap seekor wanara berbulu putih yang terlihat tak asing. Seandainya tak ada makhluk itu, mungkin Dursasana sudah membunuhnya dan juga Bima kala itu.


"Subali," gumam Mahari.


Sama seperti Bowo yang heran, Yasa pun menatap sosok wanara berbulu merah yang ia temui di hutan saat menghadapi pasukan Buto Geni. "Wanara itu?!"


"Sugriwa," tutur Mahari.


Angin malam ini begitu kencang, kini arah tatap Yasa berpindah ke udara. Bocah itu terbelalak menatap garuda raksasa yang terbang di atas Tantra. Garuda itu juga pernah muncul di hutan Buto Geni.


"Jatayu," ucap Mahari.

__ADS_1


Terakhir seekor singa yang memiliki buntut sembilan ekor kobra. Di antara keempat makhluk yang Mahari keluarkan, yang satu ini memiliki aura yang paling negatif dan terasa menakutkan.


"Hiranyaksa," lanjut Mahari. Pria itu merasakan ketakutan pada tiga bawahannya, Mahari pun tersenyum pada mereka. "Enggak usah takut. Percaya deh, kalian semua berhutang banyak sama mereka."


Jatayu selalu menjaga Tantra dari langit, ia pun pernah menjadi mata Mahari di hutan saat menghadapi pasukan Buto Geni. Berkat roh garuda itu, Mahari mampu menemukan Yasa.


Sugriwa diperintahkan menghabisi kerajaan Buto Geni. Ia menghabisi pasukan setan di hutan itu sehingga jumlah yang Yasa hadapi jauh berkurang.


Hiranyaksa diberi mandat untuk memantau Yasa kala itu dan diperbolehkan membantu ketika ada makhluk yang lebih kuat dan mengancam nyawa Yasa.


Dan terakhir Subali. Karena kecepatannya, ia ditugaskan untuk mengikuti Dursasana saat di Surakarta. Hawa membunuh Dursasana sangat kental dan mudah diikuti. Namun, Subali tak langsung turun tangan, Mahari ingin Bowo berusaha melawan iblis sekelas Dursasana sebagai pelajaran berharga.


"Apa pun yang aku lakukan, adalah caraku membuat kalian lebih kuat tanpa merasa digurui," ungkap Mahari.


"Lelucon apa ini?" tanya Darto menatap keempat pasukan Mahari. "Hanya badut-badut ini pasukan Sang Raja?"


"Mereka berempat sudah berlebihan. Sebenarnya cukup salah satu di antara mereka saja untuk menghabisi pasukanmu. Sekarang, siapa yang akan kau pilih untuk menghancurkan pasukan mu sendiri?" tanya Mahari.


Darto tertawa. "Melawan empat jendral ku juga makhluk seperti itu tidak ada apa-apanya."


Mahari tersenyum. Ia menatap Sugriwa. "Oi, maju. Tunjukkin gimana kekuatan iblis terlemah milik Mahari Sagara."


Sugriwa hanya diam dan menatap marah ke arah Mahari. "Lawan saja sendiri."


"Tunjukan pada orang itu, bahwa iblis yang memiliki predikat paling lemah seperti mu sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan dunia," lanjut Mahari. "Tunjukan, bahwa kau memang layak ditakuti, Sugriwa. Tunjukan jika memang kau wanara yang kuat, lebih kuat dari saudaramu, Subali."


Sugriwa menyeringai. "Oke, akan ku habisi mereka semua dengan cepat."


"Kau boleh membunuh semuanya, kecuali pemegang bukunya. Dia itu jatahku," ucap Mahari pada Sugriwa.


"Sepakat," balas Sugriwa. Wanara itu menoleh, menatap ke arah pasukan Darto yang menyebar di sekelilingnya.


Darto menunjuk ke arah Sugriwa. "Bunuh kera itu."


Dalam sekejap sebagian besar makhluk milik Darto menerjang, tak termasuk empat jenderalnya. Mereka semua mengoyak Sugriwa dengan beringas.


Darto memandang kecewa. "Sayang sekali—"


Belum juga usai ucapannya. Sebuah ledakan meluluhlantakkan gerombolan setan yang sedang mengeroyok Sugriwa. Dari dalam kobaran api, Sugriwa berjalan keluar dengan mata merah menyala.


"Sayang dua kali juga boleh," ledek Mahari sambil terkekeh.


Sugriwa menarik napas dalam-dalam, ditahannya sejenak, lalu ia hempaskan menjadi sebuah teriakan yang keras. Seketika itu juga, makhluk-makhluk milik Darto yang belum bergerak terbakar satu per satu.


"Sembrani dahana," teriak Sugriwa.


Sembrani adalah kapal layar tradisional dari Jawa. Nama jurus ini menggambarkan teriakan Sugriwa sebagai sembrani yang membawa kehancuran api.


Kini hanya tersisa Tetra Pralaya yang berdiri di belakang Darto. Keempat makhluk itu berdiri tegap gagah perkasa tak gentar dengan teror Sugriwa.


"Aku ambil, ya," bisik Sugriwa.

__ADS_1


Darto terbelalak ketika sosok wanara itu sudah berada di hadapannya memberikan hadiah berupa dua kepala. Satu kepala makhluk besar dan satu kepala setan bertopeng.


"Raksasa! Buta Kala!" Darto terkejut melihat dua kepala Jenderalnya.


Sosok berjubah hitam dengan mahkota api menarik Darto menjauh dari Sugriwa, sementara satu sosok berkulit merah dengan mata menyala dan berambut api hitam menyerang Sugriwa.


Sugriwa melompat mundur, menjaga jarak dari yang satu itu.


"BUNUH DIA, ASURA!" seru Darto.


Makhluk menyeramkan berambut api hitam itu bernama Asura. Berbeda dengan dua Jenderal yang terbunuh, dua sisanya memiliki kemampuan yang mumpuni dan mengerikan.


Asura merapalkan sebait mantra dengan bahasa yang tak dimengerti. Seketika itu sosok Sugriwa terbakar api hitam.


Darto tertawa melihat wanara itu terbakar api hitam milik Asura.


Wajah Mahari berubah, ia tampak panik. "A-a-a—"


"Dua makhluk yang tersisa milikku jauh lebih kuat dari yang lain. Kera merah itu pasti musnah!" seru Darto.


"Amaterasu?!" tanya Mahari. Pria itu terlalu banyak menonton anime Naruto. "Oh, nooo! Api hitam yang tidak bisa padam!"


"Bicara apa si bodoh ini?"


Darto dan Mahari refkels menatap ke arah Sugriwa yang sedang berbicara. Raut wajah Darto berubah, mulutnya mengangap lebar menyaksikan Sugriwa sedang memakan api hitam yang membakarnya.


"Sekarang giliranku," tutur Sugriwa yang sudah terlihat kenyang. Ia melebarkan lututnya dengan posisi tubuh rendah. Tangan kanannya terkepal di samping pinggang. Hawa panas memancar darinya hingga membuat suhu di area Tantra naik drastis.


Asura masih sibuk merapalkan mantra yang membakar Sugriwa, tetapi kera itu seperti tak mengalami luka atau pun terlihat kesakitan meskipun terbakar api hitam.


Pada satu titik, Sugriwa melepaskan energi yang ia kumpulkan dengan tinju jarak jauh ke arah Asura.


"Lebur saketi!"


Gelombang api melesat dari tinju itu hingga meledak ketika mengenai lawannya. Api besar berbentuk pilar berkobar tinggi hingga membuat awan di atas langit lenyap. Sosok Asura berubah menjadi kepulan asap hitam.


Di tengah pembantaian sepihak itu, Manta menatap sekeliling. "Dia hilang."


"Siapa?" tanya Bowo.


"Bebasura," jawab Yasa yang juga menyadari hilangnya sosok Bebasura yang sedari tadi duduk memulihkan diri seperti mereka. "Makhluk itu ikut terbakar atau kabur?"


Hawa membunuh yang kental tiba-tiba datang menyelimuti, membuat mereka serempak merinding bersamaan.


"Pertanyaan bagus." Lirih suara di belakang mereka membuat ketiga orang itu serempak menoleh.


Bebasura sudah berada di sana, siap membunuh Bowo dengan cakarnya.


"Ku bunuh kau!" Ia melesatkan tusukan ke arah punggung kiri Bowo, mengincar jantung pria itu dari belakang.


Bebasura bergerak tanpa disadari, menjadikan pertarungan antara dua Sagara itu sebagai pengalihan.

__ADS_1


__ADS_2