Sang Arkana : Para Pemburu Iblis

Sang Arkana : Para Pemburu Iblis
Keluarga


__ADS_3

Tiga hari berlalu sejak pertempuran melawan Nidrajahat. Manta, Bowo, dan Yasa yang pingsan serempak setelah pertempuran karena kelelahan, tak mampu menemukan Mahari. Setelah pertempuran itu entah pergi ke mana pria itu.


Malam ini Manta duduk di sebuah angkringan yang berada tak jauh dari Tantra. Ia ditemani gorengan dan juga kopi hitam.


"Sorry lama, Ta," ucap Mayang yang muncul dengan kaos putih dibalut cardigan hitam, selaras dengan Manta yang mengenakan kaos putih dipadu dengan kemeja hitam. Gadis itu duduk di sebelah Manta.


"Enggak lama kok," balas Manta.


"Ngomong-ngomong tumben ngajak ketemu, kenapa?" tanya Mayang.


"Ada yang mau aku omongin."


Mayang meneguk ludah, ia berharap ada sesuatu yang besar setelah malam ini berlalu. Menjadi pacar Manta misalnya.


"A-apa tuh?" tanya gadis itu kikuk.


"Minggu depan Tantra buka. Kamu masih mau balik lagi?"


"Mau dong, beberapa hari ini aku cuma libur, kan? Bukan dipecat?"


Manta tersenyum. "Cuma libur kok, tapi rasanya udah lama."


Mayang berwajah merah. "Iya, enggak ketemu kamu rasanya satu hari tuh kayak lama, Ta. Rasanya kayak di penjara dalam jeruji waktu."


Manta hanya diam menimpali ucapan Mayang. Lahirlah suasana akward di antara mereka. Mayang berpikir untuk mengembalikan suasana.


"Eh, Ta. Berarti Mas Mahari udah balik dong?" tanya Mayang.


"Iya, tapi pergi lagi," jawab Manta singkat.


"Ke mana?"


Manta mengangkat bahu. "Entah, itu juga yang lagi aku cari tau."


Mayang memicingkan mata. "Aneh, ya?"


"Ya, begitulah." Manta tersenyum. "Sebetulnya Tantra punya konflik tersendiri sih, sebuah konflik yang rumit. Mungkin Mas Mahari lagi butuh waktu sendiri, jadi dia pergi. Di satu sisi, aku, Bowo, dan Yasa merasa bersalah atas apa yang terjadi."


Mayang menatap wajah Manta yang sedang memandang ke bawah, terlihat sendu. "Kalian kan keluarga, wajar kalo ada konflik. Malah, kalo kalian enggak ada konfliknya, berarti hubungan kalian tuh biasa aja, Ta."


Manta menatap Mayang. "Gitu, ya?"


Mayang mengangguk. "Eh, Ta, jalan-jalan yuk. Sekalian kita cari Mahari gitu. Siapa tau ketemu di jalan," ucap Mayang bermodus.


"Boleh, jalan ke mana?"


"Mana aja deh asal bareng kamu." Gadis itu terkekeh. "Intinya jalan aja random, siapa tau kita nemuin Mas Mahari."


Manta beranjak dari duduknya, lalu membayar makanannya. Kemudian ia dan Mayang berjalan ke motor yang Mayang pinjam dari Hitta.


"Eh, kamu udah makan belum?" tanya Manta.

__ADS_1


"Udah kok, makanya bingung kalo ketemuan tapi udah sama-sama makan hehe."


Mereka pun naik dan berboncengan. "Aku ambil helm dulu," ucap Manta.


"Oke!" balas Mayang.


Mereka berdua pergi ke Tantra untuk mengambil helm, kemudian mengitari Jogja malam tanpa arah dan tujuan. Hanya berkeliling bermandikan cahaya bulan.


...****************...


Yasa duduk di hamparan rumput pinggiran Selokan Mataram. Ia menatap kalung yang ia gunakan untuk mengurung Dursasana. Meskipun bisa dibilang menang, tetapi di sisi lain bocah itu merasa kalah. Sebab ia kehilangan Mahari lagi.


Suara gemericik air dan nyanyian jangkrik menjadi instrumen yang terdengar menenangkan. Ia pikir jika berada di sana, mungkin suasana hatinya akan ikut tenang. Namun, kenyataannya tidak begitu. Segala harmonisasi ini justru membuatnya semakin kesepian.


Ia belum sempat mengucapkan maaf pada Mahari, dan sekarang pria itu sudah menghilang lagi tanpa meninggalkan jejak dan aroma untuk dikejar.


"Lebih gampang rapalin mantra penghancur iblis daripada bilang maaf, miris," gumamnya bermonolog.


Kini ia merebahkan dirinya di rerumputan dan menatap bulan yang tampak kesepian tanpa ditemani satu pun bintang.


"Kadang aku iri sama bulan, yang tetap bersinar meskipun sendirian di hamparan kegelapan."


Ia pejamkan matanya sejenak, lalu tanpa sadar terlelap.


...****************...


Di sisi lain Bowo baru saja selesai konsul dengan fisioterapi di Ratnakusuma. Ia jalan ke depan ditemani Anik.


"Oke, hati-hati, Nik," balas Bowo.


Anik mengambil motornya di parkiran, lalu pergi meninggalkan Bowo yang akan pulang berjalan kaki.


"Woy, botak!"


Bowo menatap ke arah gerbang. Di sana ada Hitta yang sedang duduk di motor. Bow pun berjalan menghampiri Hitta.


"Lu ngapain di sini, Hit?"


"Kebetulan lewat aja, terus keinget pernah liat lu di sini. Pas lagi nengok ke dalem gapura, eh pala lu bersinar. Ya udah sekalian mampir, mau bareng enggak lu?"


"Boleh dah." Bowo naik di jok belakang, sementara Hitta yang membawa motor.


"Gimana tangan lu?" tanya Hitta yang matanya fokus berkendara.


"Bentar lagi juga sembuh kok. Kemarin sempet ada kendala, tapi bukan hal besar," jawab Bowo.


"Oh." Keadaan hening sejenak di atas motor. "Cewek tadi siapa, Tak?"


"Oh, itu si Anik, kenapa?"


"Pacar lu?" tanya Hitta.

__ADS_1


"Bukan," jawab Bowo.


Hitta terkekeh. "Udah gua duga sih. Enggak cocok sama lu."


"Sialan," balas Bowo. "Di mata lu mah gua enggak pantes sama siapa-siapa!"


"Emang." Hitta tersenyum. "Cuma ada satu cewek yang cocok sama lu ...," lirih gadis itu.


"Hah? Lu ngomong apa, Hit?"


"Emang!" balas Hitta.


"Bukan! Yang abis emang. Kayaknya ada sambungannya."


"Hah?" Hitta pura-pura tak mendengar, ala-ala orang mengobrol di motor. Meskipun kenyataannya ia dengar.


"Hah?" balas Bowo.


"Hah?" sambung Hitta lagi.


Mereka berdua pun tertawa bersama sambil hah hoh hah hoh sepanjang jalan.


...****************...


Pada satu titik, Manta, Yasa, dan Bowo tiba bersamaan di Tantra. Mereka saling celingak-celinguk, lalu menatap rumah utama yang gelap.


"Lu pada baru pulang juga?" tanya Bowo.


Manta mengangguk sebagai jawaban. "Tapi tadi gua udah sempet nyalain lampu."


"Terus kenapa mati?" tanya Yasa.


Mereka sama-sama memicing, lalu saling memberi kode untuk melangkah maju. Yasa sudah dengan pose jari telunjuk dan tengah yang menempel, bersiap untuk menghantam roh jahat yang bisa saja sewaktu-waktu datang menyerang.


"Wo, buka pintunya," ucap Yasa.


Bowo pun membuka pintu, lalu melompat ke samping. Sementara Yasa bersiap menyerang.


"Selamat dataaang!"


Mereka bertiga terdiam menatap ke dalam rumah yang tiba-tiba terang. Mahari sudah menunggu dengan sedikit kejutan berupa kue.


"Selamat ulang tahun, Yasa Kanigara," ucapnya diikuti senyum.


Yasa sontak menangis. Seumur hidup, rasanya baru kali ini ia menangis tanpa tahu penyebabnya. Entah sedih, marah, senang, atau pun haru.


Mahari langsung memeluk anak itu dan membelai kepalanya. "Semoga tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya."


Manta dan Bowo saling bertatapan, kemudian ikut merangkul mereka berdua dan berpelukan bersama. Di malam yang dingin ini, suasana mendadak hangat. Ya, memang begitulah fungsi keluarga, saling menghangatkan.


Keluarga bukanlah sesuatu yang hanya terikat oleh ikatan darah, tetapi keluarga adalah tempat kita merasa pulang ketika lelah berjalan, mereka adalah rumah. Sebab keluarga adalah orang-orang yang selalu ada dan menjadi proses krusial dalam pendewasaan.

__ADS_1


__ADS_2