Sang Arkana : Para Pemburu Iblis

Sang Arkana : Para Pemburu Iblis
Aroma Badai


__ADS_3

Setelah sarapan, Mahari dan Santi berjalan ke beranda rumah untuk berbincang. Saat mereka duduk di kursi teras, terlihat Hitta dan Mayang yang baru saja datang.


"Pagi, Mas," sapa Mayang dan Hitta.


"Pagi,pagi," balas Mahari. "Udah pada sarapan?"


"Udah kok," jawab Mayang.


"Ayo masuk, May. Cuma basa-basi aja dia mah, nawarin enggak," celetuk Hitta yang berjalan masuk ke Tantra diikuti Mayang.


Santi terkekeh sebab karena ucapan gadis itu, pagi ini ia bisa melihat wajah dongkol Mahari. "Enggak ada harga dirinya lu jadi bos," sambungnya.


Mahari menghela napas, lalu mendongak menatap langit pagi sambil tersenyum. "Gua enggak mau jadi pemimpin yang strict, San. Gua mau pegawai-pegawai gua tuh nganggap gua sebagai temen mereka, sebagai keluarga mereka. Gua enggak mau jadi tipikal pimpinan yang di mana kalo mereka lagi ngobrol terus gua dateng langsung canggung, jujur gua pengen dengerin mereka ngobrol bahkan ikut nimbrung. Gua enggak mau ada tembok yang bikin gua sama mereka itu punya banyak batasan. Toh, ada waktunya bercanda, ada juga waktunya serius."


"Seneng dengernya." Santi ikut tersenyum. "Enggak pernah berubah lu dari dulu, dan gua harap sampai kapan pun lu akan jadi Mahari yang gua kenal."


"Ya udah, cium dulu dong," ucap pria itu mendekatkan wajahnya pada Santi.


"Yang gini-gini baru harus dirubah!" Wanita itu mendorong kepala Mahari, lalu bangkit. "Gua pamit dulu."


"Yahh ... udah mau pergi?" Wajah Mahari tampak kecewa. "Bercanda doang."


Santi berjalan menjauhi Mahari, tapi selang lima langkah ia berhenti kembali sambil separuh menoleh. Tatapan wanita itu agak lain. Entah sedih, entah khawatir, yang jelas seperti orang yang sedang tidak baik-baik saja.


"Aktivitas gelap meningkat beberapa hari terakhir, banyak misi-misi rendah yang mendadak berubah levelnya kayak kasus kemarin. Gua harap ini bukan pertanda buruk, tapi entah kenapa perasaan gua enggak enak. Gua harap lu hati-hati," ucap Santi.


"Santai, enggak usah khawatir gitu. Selama ada Mahari di dunia, semua akan baik-baik aja," balas Mahari membanggakan dirinya.


"Sekarang tinggal kita berdua ....," lirih santi. "Meskipun lu menjijikan, tapi gua harap gua enggak kehilangan lu. Gua harap, lu jaga tim lu baik-baik. Jangan sampai mereka jadi kayak tim kita."


Mahari terdiam. Ia menyematkan senyum pilu. "Ya, gua akan jaga mereka supaya mereka enggak saling kehilangan kayak kita dulu."


"Gua pamit dulu, kalo ada kabar dari asosiasi nanti gua kabarin lagi." Santi berjalan pergi meninggalkan Tantra. Ia melewati gapura, lalu berbelok dan menghilang dari pandangan Mahari.


...****************...


Di sisi lain, Manta dan Mayang saling bertatapan. Hari ini merupakan hari pertama mereka bertemu. Seperti yang sudah diduga-duga oleh semua orang di rumah ini, gadis manis itu diam terpana oleh paras Darmanta.


"Ini yang namanya Darmanta, May," ucap Hitta memperkenalkan Manta.


"Manta," sambung Manta memperkenalkan diri dengan nada dingin.


"Mayangsari, panggil aja Ayang, salam kenal Manta," balas Mayang yang mendadak salah tingkah.


"Oi, oi, Ayang itu cuma panggilan spesial dari aku, kan?" tanya Bowo yang tak sengaja lewat dan menangkap momen di mana Darmanta dan Mayangsari berkenalan.


"E-enggak sih, Manta juga boleh," jawab Mayang dengan wajah memerah malu.


Hitta menahan tawa ketika melihat ekspresi wajah Bowo yang mendadak sendu, ia pun menepuk pundak pria itu. "Sabar, ya."


Wibowo kini memandang ke arah Manta penuh dengan percikan api. "Ambil semua, Ta, ambil," ucapnya.


Manta memicing. "Ambil apa?"


"Ambil semua yang gua punya," jawab Bowo.


"Kan lu enggak punya apa-apa. Emang apa yang bisa diambil dari lu?" balas Manta.


Kata-kata Manta membuat Hitta terbahak-bahak dan semakin menjadi-jadi. Darmanta itu orang yang kaku. Ia agak polos dan apa adanya. Terkadang sesuatu yang keluar dari mulutnya mengandung racun yang jujur.


"Heh, Manta!" panggil Hitta. "Kamu kalo ngomong suka PAS!" Gadis itu tertawa terbahak-bahak meledek Bowo.

__ADS_1


"Di sini panas, gua cari angin dulu di luar." Bowo pergi meninggalkan mereka bertiga di ruang tunggu tamu sambil menggerutu lirih.


Seperginya Bowo, Hitta mendekat ke arah Darmanta. Ia tersenyum pada pria tampan itu, lalu menepuk pundaknya.


"Eh, Ta. Gua titip Mayang, ya," ucap Hitta. "Hari ini gua izin pulang duluan, jadi enggak bisa nganter dia pulang."


"Oh, oke," balas Manta datar.


"Eh, enggak usah. Aku bisa pulang sendiri kok," sahut Mayang.


Hitta terkekeh tipis. "Udah, enggak apa-apa dianter sama Manta. Iya, kan, Ta?"


Manta mengangguk sebagai jawaban. "Hari ini enggak ada acara, jadi enggak apa-apa," katanya.


"Tapi Manta kakinya lagi sakit," balas Mayang.


Hitta memasang senyum meledek lalu pergi meninggalkan mereka berdua. Seperginya Hitta, suasana mendadak hening. Mungkin karena Manta pendiam, suasana pun menjadi canggung. Mayang memutuskan ke kamar mandi untuk mengakhiri perbincangan.


...****************...


Waktu bergulir, kini senja menjemput malam. Angin berembus riuh ditemani lirih-lirih gemuruh. Langit menggelap lebih cepat sore ini, sebab mentari sudah habis dikeroyok gerombolan awan hitam di langit. Terendus pekat aroma badai.


Mayang berdiri di depan pintu menatap langit senja yang kehilangan eloknya. Ia memeluk dirinya sendiri karena dinakali angin sore. Gadis itu tak membawa jaket hari ini.


"Dingin, May." Bowo memasangkan jaket varsity hitamnya pada Mayang.


"Eh, Bowo. Tumben enggak manggil, 'Yang' lagi?"


Bowo membuang tatap. "Percuma kalo ada dua orang yang manggil dengan panggilan begitu."


Mayang bukan gadis yang bodoh. Sedari awal, dari gelagatnya pun ia tahu bahwa Wibowo menyukainya. Hanya saja, gadis itu tak memiliki perasaan yang sama. Toh, kata Hitta Bowo itu mencintai sejuta wanita.


"Maaf, Wo ...." Ada rasa tak enak di dadanya.


Mayang hendak menjawab, tapi tiba-tiba Manta muncul dan berjalan melewati mereka berdua.


"Ayo." Manta pergi menuju motor bebek berwarna hitamnya.


Mayang menyematkan senyum perpisahan pada Bowo. "Aku pulang dianter Manta, Wo. Makasih ya tawarannya. Aku boleh pinjem dulu jaketnya? Besok aku pulangin."


"Oh, oke." Bowo berusaha tersenyum meskipun hatinya menangis. "Hati-hati di jalan."


Mayang berjalan pergi dan naik di jok belakang motor Manta. Setelah gadis itu naik, Darmanta pun melaju pelan menembus angin sore yang menusuk. Sementara Mayang duduk di belakang sambil menahan sendu, gadis itu masih mengenakan jaket varsity milik Bowo.


"Enggak usah dipikirin," ucap Manta. "Bowo itu orang yang kuat. Udah ribuan kali dia patah hati, dan faktanya dia masih hidup sampe sekarang. Lagi pula, belum ada cewek yang cocok buat dia."


Jarang-jarang Manta banyak bicara. Mumpung pria itu sudah terlanjur membuka mulut, tak ada salahnya melakukan sedikit perbincangan di perjalanan mengantar Mayang.


"Tadi pagi dia bilang kalo kamu ngerebut segalanya dari dia, Ta. Itu maksudnya apa?" tanya Mayang.


"Setiap cewek yang dia deketin itu selalu pergi. Enggak sedikit juga yang manfaatin Bowo buat deketin aku," jawab Manta.


"Kalian kenal dari kapan? Kayaknya udah lama, ya?"


"Kita tinggal di lingkungan yang sama. Meskipun sering ribut, tapi itu cuma di luar aja. Bahkan waktu aku keterima kuliah di Jogja, dia pun enggak mau kalah dan ngejar aku sampai ke sini. Padahal banyak yang bilang Bowo itu bodoh, tapi nyatanya dia bisa."


Mayang tersenyum mendengar cerita Manta. "Persahabatan cowok tuh menarik ya."


"Jadi jangan merasa bersalah soal patah hatinya Bowo," lanjut Manta.


"Oke, aku coba. Eh—tapi aku penasaran, Ta. Dari banyaknya cewek yang deketin kamu, ada enggak sih yang kamu suka?" tanyanya dengan wajah memerah. Ia berharap setidaknya jika Manta tak menyukainya, setidaknya pria itu tak menyukai gadis lain.

__ADS_1


"Mayoritas cewek yang suka sama aku itu adalah pelaku pembunuhan perasaan Bowo, dan 90% di antaranya adalah cewek-cewek jahat. Mereka yang pernah Bowo deketin itu selalu berkata hal buruk tentang Bowo di belakang. Dari sekian banyak orang yang suka sama aku, enggak ada yang aku suka karena mereka bukan orang baik. Semua yang nyakitin temenku itu adalah musuh."


Mayang terdiam dengan wajah murung.


"Tentunya kamu bukan salah satu musuh itu. Kamu orang baik."


"Aku enggak sebaik yang kamu kira, Ta," ucap Mayang murung, tetapi masih berusaha tersenyum. Ekspresinya sore ini persis seperti langit mendung di atasnya.


"Cuma orang baik yang merasa bersalah karena udah nyakitin perasaan orang lain. Nolak perasaan cowok itu hal yang wajar buat cewek, karena setiap hati punya selera yang berbeda perihal rasa. Jadi jangan merasa bersalah, Bowo cuma kurang beruntung."


Mayang tersenyum. "Oke, makasih, Ta."


Manta tak membalas dengan kata-kata. Kali ini pria tampan itu hanya tersenyum menimpali Mayang.


...****************...


Perjalanan pun berakhir ketika Mayang tiba di indekosnya. Namun, karena hujan turun membabi-buta, Manta menepikan motornya di pos ronda sebrang kos Mayang.


Tentu saja gadis itu ikut menemani Manta karena pria itu lupa membawa jas hujan. Di indekos Mayang, laki-laki tidak diperkenankan masuk ke dalam kos yang memang dikhususkan untuk perempuan. Jadi terpaksa mereka berdua berteduh di pos ronda yang lebih besar daripada teras kosan.


Ketika sedang saling diam ditemani instrumen hujan, mata pria itu berkedut dan sontak mendongak. Ia baru saja merasakan aura tak sedap di hadapannya. Lebih tepatnya di sebelah indekos Mayang yang merupakan rumah besar berlantai dua.


"Itu rumah siapa?" tanya Manta.


"Oh, itu orang baru. Aku enggak terlalu kenal karena orangnya jarang keluar dan interaksi sama warga sekitar. Kenapa, Ta?"


Manta menyorot tajam ke arah salah satu jendela di lantai dua. Pasalnya, seorang gadis berkebaya merah sedang memandangnya dari atas sana.


"Rumah itu sempet kosong lama?" tanya Manta.


"Iya, kok kamu tau?" tanya Mayang balik. Gadis itu memicing heran.


"Hawanya enggak enak," balas Manta. "Ada histori yang kamu tau tentang rumah itu? Atau pemilik sebelumnya?"


"Itu rumah udah kosong belasan tahun, Ta. Selama aku hampir tiga tahun di sini pun enggak ada kejadian aneh-aneh kok," ucap Mayang. "Tapi ...."


Darmanta membuang tatap dari rumah itu ke arah Mayang. "Tapi?"


"Banyak hal aneh yang terjadi malahan waktu orang baru ini pindah ke sini dan nempatin rumah itu," jawab Mayang.


"Kamu tau siapa orang yang nempatin rumah ini?" tanya Manta lagi.


"Enggak tau, Ta, tapi denger dari orang-orang sih ini rumah seorang Dalang wayang. Dia banyak jadwal panggung, jadi jarang di rumah. Tau sendirilah wayang itu gimana? Bukan bermaksud menjatuhkan salah satu kebudayaan nusantara sih, tapi biasanya beberapa pertunjukan wayang itu kental hubungannya sama mistis."


"Berapa orang penghuni rumah ini?" tanya Manta lagi.


"Setau ku sih cuma dua," jawab Maya. "Si Dalang sama istrinya yang sekarang lagi liatin kita dari atas tuh." Maya menunjuk ke arah wanita berkebaya merah itu. "Yang aku pernah liat cuma mereka berdua."


Manta menarik tangan Maya ke bawah sambil menatapnya dengan pandangan dingin yang membuat Mayang sedikit merasa tak nyaman.


"Ke-kenapa, Ta?"


"Kamu indigo?" tanya Manta.


Mahari lupa memberitahu Manta, Bowo, dan Yasa, bahwa Mayang juga memiliki mata yang mampu melihat sesuatu yang tak terlihat.


"Kok kamu tau?" tanya Mayang yang saat ini sedang dilanda bingung. "Kamu peramal, kah?"


"Wanita di lantai dua itu enggak pernah ada," jawab Manta. "Jangan sekali-kali nunjuk dia lagi karena beberapa makhluk itu seneng gangguin manusia yang bisa merasakan, apa lagi melihat mereka. Kalo ada apa-apa, tolong hubungin aku. Ngerti?"


"O-oke."

__ADS_1


Mereka kembali melirik ke arah lantai dua rumah itu, tetapi kini tak ada siapa-siapa di sana. Sosok itu sudah menghilang dari pandangan mereka berdua.


__ADS_2