
Keesokan harinya, Bowo dan Santi balik kanan menuju Jogja. Wanita itu mengantar Bowo terlebih dahulu dan mampir sejenak di Tantra. Begitu memasuki gapura, mereka berdua menangkap kehadiran Yasa yang sedang sibuk di halaman kanan, dekat pohon trembesi.
"Kamu ngapain, Yas?" tanya Santi.
"Masang mantra jebakan sama memperkuat dinding astral Tantra, mbak," jawab Yasa,
Kini arah tatap wanita itu berpindah ke arah Bowo. "Yang kemarin kamu bilang itu beneran, Wo?"
"Iya, mbak. Makanya saya minta bantuan langsung ke asosiasi," jawab Bowo.
"Kapan estimasi mereka nyerang?"
"Lusa," jawab Bowo.
Santi tampak sedang memikirkan sesuatu. "Kekuatan Ratnakusuma sekarang lagi kurang bagus. Selain kehilangan banyak anggota, sekarang para Kapten lagi berpencar ke luar kota."
"Enggak apa-apa, mbak," celetuk Yasa. "Ini pertempuran Tantra. Meskipun enggak ada bantuan, semuanya tetep bakal baik-baik aja kok."
"Pasti." Santi tersenyum. "Mahari mana? Ada di dalem?"
Bowo langsung menyambar. "Dia lagi ada urus—"
"Mahari udah enggak ada urusan lagi di sini, dia udah pergi," celetuk Yasa.
Santi mengerutkan kening. "Gimana?"
"Yasa." Bowo menatap bocah frontal itu dengan pasrah. Padahal ia tak ingin Santi tau masalah internal Tantra.
"Biarin aja dia tau. Toh, emang Mahari udah enggak tinggal di sini lagi," sahut Yasa.
"Kalo gitu ini baru bahaya," timpal Santi. "Kalo enggak ada dia, kalian dalam masalah besar."
Yasa tertawa mendengar ocehan Santi. "Ada-ada aja."
Santi semakin heran. "Kalian kenapa?" Ia berpindah tatap dari Yasa ke arah Bowo. "Ada apa sih?"
Bowo menggaruk kepala bagian belakangnya. "Ada masalah internal. Mulanya waktu di Surakarta kemarin, terus kedua waktu Yudha ke sini."
"Yudha?" tanya Santi. "Yudha Kiranata?"
"Iya, dia ceritain tentang kejadian asli di malam itu, waktu Mahari ngebantai keluarga Kanigara," jawab Bowo.
__ADS_1
Santi meneguk ludah, ia menatap ke arah Yasa yang baru saja selesai menanam mantra di tanah. Bocah itu berjalan ke dalam, meninggalkan Bowo dan Santi di teras.
"Yasa." Santi melangkah mengejar anak itu. "Yasa, tunggu!"
"Apa?" tanya Yasa yang saat ini sedang duduk di sofa ruang tamu.
"Kenapa kamu enggak nahan dia waktu pergi? Kamu biarin aja gitu?"
"Ya, biarin aja. Orang dia yang mau pergi sendiri kok. Toh, ini bukan rumah dia," balas Yasa.
"Hah? Terus rumah siapa dia bilang?" tanya Santi.
"Tantra ini rumah peninggalan ayah."
"Ayah siapa?" tanya Santi.
"Ayah ku, mbak," jawab Yasa.
"Mbak kenal ayah kamu dan Mahari. Ini rumah Mahari dari jaman dulu."
"Ya udah lah ya, intinya dia udah enggak di sini," ucap Yasa.
"Dia itu udah nganggep kamu sebagai anaknya sendiri, Yas," ucap Santi. "Dari kecil kamu dirawat dia sampe sebesar ini."
Wanita itu bangkit dan berjalan cepat ke arah Yasa. Ia menampar pipi anak itu. Tentu saja Yasa dan Bowo sontak terkejut dengan apa yang dilakukan Santi. Namun, yang paling mengejutkan adalah air mata yang jatuh di pipi Santi. Sekarang wanita itu sedang menangis.
"Mbak ...." Bowo tak tahu harus berbuat apa dalam kondisi seperti ini.
"Kamu tau enggak, neraka macam apa yang udah dijalani Mahari selama ini?!" tanya Santi pada Yasa dengan nada marah. "Tau enggak?!"
Yasa terdiam. Ia tak berani menatap mata wanita itu.
"Malam itu Mahari dilema. Di satu sisi ia memiliki misi khusus, dan di sisi lain istrinya sedang berjuang untuk melahirkan anak mereka. Suami mana yang tega memilih pekerjaannya ketimbang hadir saat istrinya melahirkan selain Mahari?"
"Jangan pikir saya bakalan iba denger semua cerita itu, mbak San. Gara-gara Mahari, saya enggak pernah ngerasain kasih sayang orang tua saya sendiri. Karena dia udah ngerebut semuanya dari hidup saya waktu saya belum bisa mempertahankan segalanya." balas Yasa.
"Maafin gua, Har, tapi anak ini udah kelewatan." Santi memejamkan matanya menahan getir. Pada satu titik, ia kembali membuka matanya dan menunjuk ke arah Yasa dengan sorot mata yang tajam. "Satu pertanyaan buat kamu, Yas. Jawab kalo emang kamu merasa tau segalanya tentang apa yang sebenarnya terjadi malam itu."
Keadaan hening sejenak. Bahkan suara napas pun rasanya tak terdengar. Wanita itu masih menatap tajam pada Yasa.
"Siapa dalang di balik tragedi jathilan berdarah?" tanya Santi.
__ADS_1
Sejujurnya, Yasa hanya tau tentang kebenaran Mahari dan keluarganya, tetapi tentang awal mula tragedi itu terjadi, ia tak tahu. Alhasil, bocah itu hanya bisa diam membisu tanpa jawaban.
"Ada satu keluarga penyembah iblis yang berusaha membangkitkan Sebelas Rudra dengan ritual kuno berdarah."
"Membangkitkan?" tanya Bowo mengerutkan keningnya. "Tunggu. Mas Mahari bilang malam itu keluarga Kanigara kerasukan sebas rudra?"
"Kerasukan?" Kini Santi yang terkekeh mendengar ucapan Bowo. "Kerasukan apa?"
"Se-sebelas rudra," jawab Bowo ragu.
"Mereka mengadakan acara jathilan untuk memancing masa, dan pada akhirnya menumbalkan semua yang ada di lokasi demi tujuan mereka. Malam itu, keluarga jahanam itu melepaskan mantra untuk membangkitkan sebelas iblis berbahaya!" seru Santi. Ia masih menunjuk dan menatap marah pada Yasa. "Mahari berbohong tentang banyak hal karena dia orang yang baik. Dia enggak mau kamu membenci nama belakang yang ada di nama mu, Yasa! Karena nama keluarga penyembah iblis yang menjadi dalang di balik tragedi jathilan berdarah adalah Kanigara. Orang-orang yang membuat Mahari enggak bisa lihat detik-detik terakhir kehidupan istri dan anaknya adalah kalian, keluarga Kanigara!"
Kedua mata Bowo dan Yasa berkedut mendengar apa yang diucapkan oleh wanita itu. Yasa terkekeh gila, lalu menggeleng. "Enggak mungkin ... enggak mungkin!"
"Setelah kejadian tragedi jathilan berdarah, para petinggi asosiasi mengadakan rapat terbuka membahas nasib satu-satunya anggota keluarga Kanigara yang bertahan hidup," lanjut Santi. "Anak itu dijatuhkan hukuman mati. Asosiasi takut anak itu akan menjadi ancaman serius yang membawa bencana karena memiliki potensi balas dendam."
"Tapi saya masih hidup sampai sekarang!" balas Yasa yang masih tak mau mendengarkan.
"Ya, kamu masih hidup sampe sekarang, Yasa," sahut Santi. "Berterimakasih sama Mahari. Berkat pengorbanan dia, kamu bisa bernapas sampai sekarang. Dia ngerelain jabatannya dan rela dapet hukuman demi anak yang saat ini kurang ajar sama dia."
"Oi, tunggu ...," gumam Bowo. "Jangan-jangan waktu itu."
"Kenapa, Wo?" tanya Santi.
"Sebelum Mahari pergi, dia bilang ke Yasa kalo selama ini dia enggak pernah cerita karena Mahari takut Yasa marah," balas Bowo. "Jangan-jangan Mahari bukan takut Yasa marah sama dia, tapi Mahari takut Yasa marah sama dirinya sendiri."
Yasa diam membisu. Bocah itu merasa lemas, ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia masih tak mengerti mengapa selama ini Mahari selalu tersenyum, ia tak mengerti mengapa selama ini Mahari bisa tertawa, mengapa sampai saat ini Mahari masih berbohong dan menyembunyikan kebenaran meskipun ia dibenci oleh orang yang dianggapnya sebagai anak.
"Mahari enggak mau ada anak-anak yang ngerasain apa yang dia rasain dulu," lanjut Bowo. "Alasan kenapa Mahari enggak naro Yasa di Sanggar Matahari cuma satu. Karena dia dan Yasa bernasib sama. Malam itu, kalian kehilangan keluarga kalian."
"Ya, buat Mahari, cuma Yasa yang dia punya. Saat dunia bersikap buruk pada kalian, Mahari bisa berpikir bahwa dunia masih ada baiknya. Seenggaknya kalo seisi dunia ini musuhin kalian, kalian masih saling memiliki dan punya orang yang mendukung satu sama lain."
"Apa ayah juga termasuk salah satu pengkhianat?" tanya Yasa.
"Ya, dia pengkhianat." Santi mendekati Yasa. "Dia mengkhianati keluarganya sendiri demi kebenaran dan ngebeberin rahasia kelam keluarga Kanigara buat jadi pertimbangan dan bukti. Masalahnya waktu itu cuma ada dua orang yang percaya sama ayah mu. Cuma mbak dan Mahari."
Yasa menutup mata. Di satu sisi ia merasa lega, tapi di sisi lain hatinya terluka. Membayangkan saat ini Mahari merasa sendirian membuatnya menangis.
"Jangan nangis!" seru Santi. "Cari dia, mungkin dia enggak jauh dari sini."
"Kenapa mbak bilang gitu? Enggak mungkin dia masih ada di sekitar sini," balas Bowo.
__ADS_1
"Di saat dia tau bahwa musuh akan datang, Mahari enggak akan ninggalin kalian. Seperti itulah seorang Mahari Sagara."
Yasa mengusap air matanya dan berlari keluar rumah. Melihat Yasa yang berlari, Bowo pun memacu langkahnya keluar Tantra untuk mencari Mahari. Mereka berdua berpencar dan menyisir seluruh daerah di sekitar rumah mereka.