
Bowo meneguk ludah. Meskipun terlihat payah, Dursasana tetaplah Dursasana, iblis yang satu ini berbahaya.
"Hey, mau balas dendam soal bawahan mu, kan?" tanya Mahari pada Dursasana. "Aku beri kesempatan kali ini."
"Kau meremehkan ku?" tanya Dursasana tak senang.
"Ternyata iblis juga bisa munafik, ya? Jadi gimana?"
Dursasana kini menghadap ke arah tiga pemuda Tantra.
"Wo, Ta, Yas, Dursasana udah kelelahan, dia juga terluka. Kondisi kalian seimbang. Gimana? Berani?"
Bowo menguatkan tekadnya dan bangkit, perlahan tubuhnya berhenti gemetar. Manta pun bangkit dengan Bengisura di tangannya. Sementara Yasa berjalan dengan tertatih hingga berada sejajar dengan dua rekannya, bocah itu berdiri di tengah dengan bahu terluka, tetapi pendarahannya sudah berhenti berkat mantra penyembuhan. Kini mereka bertiga memandang tajam ke arah Dursasana.
"Masih bisa mukul?" tanya Manta pada Bowo.
Bowo merapatkan kepalan tangannya dan memasang kuda-kuda bertempur. "Emangnya lu masih bisa ngangkat pedang lu?"
Manta tersenyum. Ia memegang Bengisura dengan dua tangan, lalu mengangkatnya ke samping kepala dengan posisi kaki melebar. Ujung pedangnya mengacung ke arah Dursasana.
"Amurwabumi, raksa kula. Damarwulan, ameng kurmati. Wisnumurti, kang anugrahi. Aji amukti, amukti kula." Yasa merapalkan mantra perlindungan. Kini mereka bertiga diselimuti energi berwarna biru.
Dursasana mengambil langkah pertamanya. Ia meluncur ke arah mereka dengan kecepatan tinggi. Badai angin dan aura kegelapan mengitari tubuhnya.
"Dia datang!" seru Yasa dengan jari telunjuk dan tengah yang menempel di depan hidung.
Manta dengan Bengisura di tangannya ikut melesat bagai kilat ke arah Dursasana, menghasilkan percikan cahaya yang memotong udara. Pedang itu mengarah langsung ke arah Dursasana, dan berbenturan dengan sang iblis kehancuran tersebut, melahirkan ledakan cahaya yang menelan kegelapan.
Tubuh Dursasana terlempar beberapa meter. Namun, ia bangkit kembali dengan kemarahan yang semakin membara.
Bowo sudah mempersiapkan diri, ia berlari ke arah Dursasana dengan kencang. Pria botak itu bergerak seperti kilat sambil mengumpulkan atma dalam kepalan tangannya, menerjang aura angin milik Dursasana yang tajam. Saat iblis itu sudah masuk jarak serangnya, Bowo melepaskan pukulan kuatnya menghantam Dursasana. Suara dentingan tulang terdengar nyaring diiringi gelombang angin yang pecah.
Dursasana memuntahkan darah hitam dari mulutnya. Namun, ujung matanya bergerak cepat melirik Bowo dan mengarahkan tinjunya, membalas Bowo.
Bowo menangkis pukulan Dursasana, tetapi ia terpental karena menahan tekanan sihir iblis itu. Bukan menjadi serangan serius, berkat Yasa.
Bocah itu masih menjadi pusat kekuatan pertahanan mereka bertiga, memantulkan serangan-serangan Dursasana dengan mantra perlindungannya dan memastikan bahwa kedua rekannya dapat bertarung dengan leluasa.
Pada satu titik, Yasa mengarahkan dua jari terkuatnya, menunjuk ke arah Dursasana.
""Purnama tumpuk, nganyutang ring adharma. Cahya suci, nunasang adharma. Pateh dados titiang, ngalahin roh jahat. Kanti kekuatan antuk atmane, titiang ngusir ring sami." Sebuah gelombang energi melesat ke arah Dursasana.
Dursasana membuka mulutnya lebar, "haaa!" Ia menembakkan gelombang angin dari mulutnya, menghancurkan mantra garjita ketiga milik Yasa.
"Aku akui kalian memang pantas dibunuh," tutur Dursasana. Ia menempelkan kedua telapak tangannya. "Nirwana dosa."
Ia menelan segala bayangan di sekitarnya dan menciptakan area yang sangat pekat kegelapannya. Manta, Yasa, dan Bowo seolah terjebak dalam dimensi yang berbeda. Saking gelapnya, mereka tak saling tahu posisi satu sama lain.
Mahari juga ikut terjebak dalam nirwana dosa, tetapi ia masih santai duduk, memejamkan matanya dengan sedikit dengkuran. Pada saru titik, mimpi jatuh dari sepeda menyadarkannya.
"Wassem!" pekiknya terkejut. Ia menatap sekitar, tetapi tak menemukan apa pun. "Nirwana dosa, ya? Menarik. Sekarang apa yang akan kalian lakukan? Di sini, energi atma terkunci. Dengan kata lain, kalian tidak mampu mengandalkan atma di dalam nirwana dosa. Jurus ini adalah penjara terburuk bagi para Arkana."
__ADS_1
Yasa tetap fokus pada mantra perlindungannya, berusaha keras untuk mempertahankan diri dari serangan Dursasana yang bisa datang dari mana saja.
Bocah itu masih mampu menggunakan mantra, sebab tidak semua mantra mengandalkan atma. Ada tiga jenis mantra. Mantra biru yang berpusat pada atma, mantra hitam yang melambangkan sihir atau ilmu hitam, dan mantra putih yang mengandalkan energi ruh perapalnya.
Namun, tekanan dari nirwana dosa semakin kuat menembus perisai spiritualnya . Semakin lama berada di sini, Yasa merasa semakin lelah, seolah kegelapan ini menyerap energinya.
Sementara itu, Manta mencoba menemukan celah dalam pertahanan nirwana dosa. Ia mengayunkan Bengisura asal, berusaha untuk menghancurkan dimensi yang dibuat Dursasana. Namun, setiap ayunan yang dilakukan Manta tampaknya tak berguna.
Di sisi lain, Bowo berhadapan langsung dengan Dursasana. Ia hendak mendekat untuk menyerang Namun, setiap langkah yang diambilnya menuju iblis itu membuatnya semakin terperangkap dalam nirwana dosa yang gelap. Ia mampu merasakan kehadiran Dursasana, tapi tak mampu melihatnya.
"Merangkak lah, mungkin aku bisa sedikit mengampuni mu," ucap Dursasana.
Bowo masih berusaha melawan. Meskipun tak mampu menggunakan atma, ia masih memasang kuda-kuda, siap bertempur mengandalkan kekuatan fisiknya saja.
"Aku tidak akan merendahkan posisiku di hadapanmu meskipun harus mati," balas Bowo.
Pada akhirnya, Dursasana yang marah mengeluarkan jurus pamungkasnya.
"Kelamyastra."
Dalam sekejap, cambuk-cambuk kegelapan muncul di punggung Dursasana. Dengan gerakan tajam, cambuk-cambuk itu melesat cepat ke arah Bowo.
Bowo merasakan ada bahaya yang datang dari arah depan. Ia berusaha menghindari serangan Dursasana, tetapi satu sulur cambuk kelamyastra mengenai kakinya hingga berdarah. Rupanya cambuk itu tajam seperti sebuah pedang yang memiliki gerak fleksibel.
"Cih!" Bowo berdecak kesal. "Kegelapan ini menyebalkan, sial!"
Pria botak itu berlari tak tentu arah ketika merasakan ada perubahan angin di sekitarnya karena gesekan sesuatu. Ia pun sadar bahwa sesuatu itu adalah serangan yang akan datang.
"Apa kau mendengar ku?" tanya Manta bermonolog.
Pria tampan itu merasakan ada perubahan aura di sekitarnya.
"Ya, aku selalu mendengar mu, Darmanta Kusuma," ucap suara serak dari arah depan Manta.
Manta membuka mata, ditatapnya sesosok pria berkain kafan putih yang duduk di singgasana depan pohon beringin besar. Ia seperti pocong, tetapi terlihat lebih aneh karena kafan yang ia kenakan terlihat rombeng, menampilkan sulur-sulur karena robekan-robekan tersebut. Rambut berantakannya pun terlihat, dengan tali pocong yang ia kenakan seperti kupluk tak terpakai.
"Ini pertemuan kedua kita, Darmanta. Langsung saja ke intinya. Apa lagi yang kau inginkan?" tanya sosok itu.
"Pinjamkan aku lebih banyak kekuatanmu, Bengisuro. ***** kegelapan nirwana dosa ini dengan cahayamu," jawab Manta.
Bengisura terkekeh. "Jujur saja, bahkan aku sekali pun tak bisa melahap kegelapan milik Dursasana dengan cahayaku."
Wajah Manta terlihat kecewa. Ia tak berdaya saat ini dan ingin melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Yasa dan Bowo.
"Tapi ada satu cara yang mungkin bisa berhasil," sambung Bengisura.
"Apa?" tanya Manta.
"Harganya mahal." Bengisura menyeringai, membuat Manta merinding. Ia menunjuk Manta. "Jiwamu."
"Ambil." Manta tersenyum. "Berapa pun harganya, akan ku bayar demi hidup keluargaku."
__ADS_1
Sosok Bengisura sudah tak berada di singgasananya. Ia tiba-tiba berada di belakang Manta. "Kau yakin?"
"Ya, aku yakin," jawab Manta tegas.
Bengisura menyeringai diiringi kekehan. Ia menggenggam tangan Manta dari belakang. Seketika itu juga, Manta keluar dari alam bawah sadarnya dan perlahan membuka matanya. Kini bola mata pria itu berwarna hitam pekat tanpa cahaya. Ia menggenggam pedangnya dengan satu tangan lurus ke depan, mata pedang Bengisura mengarah ke bawah.
"YASA! BOWO! KALIAN DENGARKAN INI BAIK-BAIK!" teriak Manta. "Aku akan menghabisi nirwana dosa! Siapa pun yang sedang berhadapan dengan Dursasana, bertahanlah! Setelah nirwana dosa hancur, kalahkan iblis itu!"
Setelah berteriak memberikan peringatan pada kedua rekannya, Manta kembali menyeringai masih dengan gestur yang sama. "Makanta sama," gumamnya. Seketika itu kegelapan nirwana dosa terhisap oleh pedang Bengisura yang berwarna hitam. Namun, kehelapan itu seolah tak bisa habis meskipun terus dilahap oleh Bengisura.
...****************...
Bowo tersenyum mendengar teriakan Manta. Semangatnya kembali naik. "Dursasana, aku akan menghabisi mu dengan satu pukulan!" ucap Bowo memprovokasi Dursasana agar tak bergerak mengincar Manta. "Kau dengar aku, pengecut? Jangan kabur!"
Cambuk-cambuk kegelapan Dursasana mengiris lapisan terluar kulit Bowo, tetapi pria itu tak goyah. Ia merendahkan posisi tubuhnya dengan kaki lebar dan tangan kanan terkepal di samping pinggang.
"Serap energi tubuhku menjadi sihir yang kuat, Nagapati," ucap Bowo. "Kita tidak bisa memakan atma di tempat ini."
Tanda lahir berbentuk naga kecil di kening Bowo tiba-tiba bergerak, melebarkan sayapnya, lalu melata dengan cepat ke lengan kanannya. Kini lengan itu dililit oleh tato naga dari ujung siku hingga pergelangan tangan. Tato tersebut mengeluarkan asap panas yang membuat Bowo harus menahan panas. Rasanya seperti disiram air mendidih.
"Apa kau pikir kau bisa mengalahkan ku dengan sihir?! HAHAHA." Dursasana tertawa melihat usaha Bowo. "Aku ini iblis!"
Bowo hanya diam tak membalas ledekan Dursasana. Dalam mata terpejam, ia terus memusatkan fokus sambil menahan sakit. Makin lama kepulan asap itu makin banyak. Jurus yang satu ini membutuhkan pengorbanan, mengingat dampaknya sangat besar. Namun, Bowo tetap bertahan karena percaya pada Manta.
Dursasana melebarkan kakinya dengan kedua tangan yang membentang lebar. Sulur-sulur cambuknya serempak bergerak ke belakang tubuhnya, berkumpul menjadi sebuah bor. Dursasana menggerakkan tangannya hingga kedua telapak tangannya saling bersentuhan. "Semburat kalasura!" Cambuk yang berkumpul menjadi bor kegelapan itu melesat cepat ke arah Bowo.
Sekali saja Bowo terkena serangan itu, sudah pasti ia kan mati karena sulur-sulur kelamyastra akan menembus tubuhnya.
Namun, tiba-tiba nirwana dosa menghilang, membuat Dursasana terbelalak. Kegelapannya dilahap habis oleh pedang hitam milik Manta.
Bowo menyeringai. Ia melesatkan pukulan dari jarak jauh mengarah pada Dursasana. "NAGADAHANA!" Sebuah gelombang api yang sama kuatnya dengan lebur saketi milik Sugriwa melesat cepat membakar cambuk-cambuk kelamyastra dan terus melaju hingga menghantam Dursasana. Ledakan yang cukup besar terjadi, tetapi tak sampai keluar Tantra, mengingat tempat ini sudah diisolasi ke alam lain agar tak ada yang bisa masuk dan keluar dengan mudah.
Bowo terjatuh sambil memegangi lengan kanannya yang kini memiliki tato akibat panas yang ia terima dari Nagapati. Ia sudah mengerahkan segalanya pada serangan terakhirnya. Namun, dari kejauhan, Dursasana yang terbakar api masih sanggup berdiri dan berjalan ke arahnya sambil tertatih. Aura membunuhnya masih terasa sangat kental.
"Dasar gila!" pekik Bowo yang tak percaya bahwa jurus terkuatnya tak mampu mengakhiri Dursasana.
"anane sing ora lali, kekuatan kang ampirana, yen kasedya ke bali. Iblis digludhugi, saklawase keinginan malah, tertutup ing pamrih, kasampurna kasil, lan aman dalan."
Yasa melempar sebuah kalung ke arah Dursasana, lalu ia kembali merapalkan mantra. Langkah Dursasana terhenti, rasanya ia seperti terhisap ke dalam kalung berbentuk tasbih yang baru saja dilempar oleh Yasa.
"Neng ing nglumpuk kala, angel-angel langit kedhaton, nyegel kala jahat, wong kang kutha mau maton. Ing panggonane samya, nglempar badan sing bali," gumam Yasa.
"Kau ingin menyegelku, sialan?!" bentak Dursasana sambil memberontak. "Bocah seperti mu, hah?!"
Mantra penyegelan telah dirapalkan. Hanya ada dua pilihan yang tersedia ketika menyegel iblis sekelas Dursasana, yaitu berhasil atau mati.
Yasa terus merapatkan jari-jarinya seperti gestur berdoa. Di saat Dursasana memberontak berusaha melepaskan diri dari mantra Yasa, bocah itu merasakan dampak yang sangat gila. Perlahan keluar darah dari mata dan telinganya. Rasanya seperti bola matanya ingin pecah karena menahan tekanan dari iblis sekelas Dursasana.
Mahari mulai terlihat panik, ia hendak berdiri untuk menolong Yasa, tetapi sebuah lesatan kegelapan menghantam Dursasana hingga iblis itu mengeluarkan darah hitam seperti ditebas. Sontak Dursasana menoleh ke arah Manta yang sedang menyeringai.
"Sialan kau, Bengisuro!" teriak Dursasana.
__ADS_1
Sosok Manta tiba-tiba terkapar di tanah setelah melepaskan serangan kegelapan pada Dursasana untuk membantu Yasa melemahkan iblis tersebut. Serangan itu pun efektif melemahkan Dursasana. Dalam sekejap, iblis itu tak mampu bertahan dan terhisap masuk ke dalam kalung Yasa. Begitu Dursasana berhasil tersegel, Yasa pun ikut terkapar di rerumputan halaman Tantra. Ketiga pemuda itu kelelahan dan pingsan.