Sang Arkana : Para Pemburu Iblis

Sang Arkana : Para Pemburu Iblis
Rumah Dalang


__ADS_3

Siang ini Tantra kedatangan cukup banyak tamu. Di antara tamu-tamu ini, rupanya ada Mirna yang merupakan teman Mayang di kampus. Gadis itu datang untuk refleksi sekaligus mengajak Mayang makan siang di luar membahas tentang kosan mereka.


Namun, Mahari sedang berbaik hati mengingat isi dompetnya yang sedang gendut berkat misi di jalur Wates beberapa hari lalu. Siang ini mereka semua ditraktir makan oleh Mahari di pendopo yang terletak di halaman belakang Tantra.


"Mas, temen ku ikutan enggak apa-apa nih?" tanya Mayang.


"Ikut aja," jawab Mahari.


"Santai, lagi gendut isi dompetnya. Paling besok kalo udah kempes balik lagi ke setelan pabrik. Pelit ampe ubun-ubun," celetuk Bowo.


Mungkin kalian bertanya-tanya seberapa besar halaman rumah ini? Oke, kita jabarkan secara rinci.


Di depan ada sebuah gapura bertuliskan huruf aksara jawa yang bermakna Tantra. Lalu jika berjalan ke arah kanan ada sebuah pohon Trembesi besar berukuran 30 meter yang memiliki cabang-cabang besar. Cabang itulah yang sering digunakan Darmanta untuk duduk sambil membaca buku.


Lalu di belakang ada sebuah pendopo besar yang mampu menampung sepuluh orang. Di samping pendopo ada kolam ikan yang tidak terlalu besar. Kolam itu diisi oleh ikan hias seperti ikan Koi.


Terakhir, jika terus berjalan hingga ke sisi kiri Tantra, terdapat lahan kosong yang hanya diisi oleh rerumputan sintetis. Biasanya di halaman sebelah kiri tersebut digunakan untuk berolahraga, atau kegiatan lainnya.


Mirna tersenyum ketika tiba di pendopo belakang. Suasana di tempat ini begitu rimbun dan syahdu. Ia duduk tepat di samping Mayang. Namun, belum ada percakapan yang menyenggol perihal kosan mereka. Malahan gadis itu terpana dengan Darmanta.


"Ehmm ...." Hitta berdehem seperti tak rela jika Darmanta dinikmati oleh gadis lain di luar lingkup Tantra. Toh, ia sedang melakukan sebuah misi rahasia sebagai mak comblang. Hitta mencoba untuk mendekatkan Manta dan Mayang.


Mayang dan Mirna kini menatap ke arah Hitta. Bukan hanya mereka berdua, tetapi juga Bowo, Manta, Yasa, dan Mahari. Semua tatapan itu seolah sedang menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut Hitta.


"Eeeee ...." Hitta tampak sedang berpikir. "Cerita horor yuk sambil makan, kayaknya seru."


"Oke, lu duluan," balas Bowo sembari menyeruput es teh dengan sedotan.


Hitta memikirkan sebuah cerita horor sambil memandang ke arah wajah Wibowo. "Jadi ... gua punya temen yang suka sama cewek, terus dia belum nembak, tapi udah ditolak. Serem enggak?"


Bowo tersedak mendengar sepenggal kisah yang keluar dari mulut Hitta. Mungkin cerita itu hanya seram untuk dirinya sendiri.


"Apanya yang horor?" Yasa menghela napas berat. "Daripada horor, itu sih lebih ke arah miris."


"Aku ada cerita horor," ucap Mayang.


Satu kalimat dari Mayang membuat kedua bola mata Manta menatap gadis itu. Sebelumnya Manta hanya sibuk menatap kolam di samping pendopo, tapi begitu Mayang menyinggung topik horor, pria itu langsung menatap ke arah Mayang yang berada di depannya berjarak beberapa meter.


"Lebih ke mimpi sih, tapi kayak nyata rasanya," lanjut gadis itu.


Mahari dan Manta sudah tau arah perjalanan cerita itu, tetapi mereka butuh detailnya dan kini diam menyimak.


"Pesinden merah?" tanya Mirna.


Mayang sontak menatap ke arah temannya tersebut dengan mata memicing. "Loh, kok?"


"Hampir satu bulan ini gue mimpi kayak lu, May, tapi ...."


"Tapi apa?" tanya Mayang.


Mirna menggeleng pelan, rasanya ia enggan bercerita, tetapi di satu sisi ia merasa pengalamannya perlu diceritakan.


"Hal yang gue kira mimpi itu, ternyata bukan mimpi," jelas Mirna. "Makanya selama beberapa hari ini gue ngungsi tinggal di rumah Pakde yang ada di Solo. Gue enggak berani cerita ke lu karena takut bikin lu ngerasain takut yang sama kayak gue dan akhirnya kepikiran terus, May."


Mayang dan Mirna saling berdiam diri, hingga suara berat Manta memecah keheningan yang singgah itu.


"Apa yang pesinden merah itu lakukan?" tanya Manta.

__ADS_1


"Dia selalu ganggu hampir setiap malam pake tembang Jawa. Setiap kidungnya muncul, rasanya kayak kita tuh kebawa ke dunia lain gitu," jawab Mirna. Kini Mirna menatap Mayang. "May, nanti malem gue tidur di kamar lu, ya."


"Baru aja gua mau minta temenin," balas Mayang.


"May, kalo ada apa-apa jangan lupa kabarin, oke?" timpal Manta.


Semua mata menatap Manta. Pertama kali dalam sejarah bumi, pria dingin itu berbicara dengan nada peduli kepada orang lain, terutama seorang gadis. Mayang pun mengangguk pelan dengan wajah malu sebagai jawaban.


Melihat tingkah dua orang itu membuat Mirna tersenyum dan mundur dari perburuan hati Darmanta. Menurutnya, persahabatan lebih penting ketimbang perasaan asmara. Apa lagi hanya sebatas asmara sesaat yang hanya singgah sejenak sampai nanti pergi lagi entah ke mana.


Setelah makan siang, Mirna pamit pergi. Sementara Mayang masih harus kembali bekerja sampai sore nanti. Hari ini pun Hitta tak bisa mengantarnya, jadi gadis itu meminta tolong pada Manta untuk mengantar Mayang pulang. Manta tak keberatan. Ia memang bertujuan ingin mengantar Mayangsari lagi, sebab ia memiliki tugas rahasia dari Mahari.


...****************...


Sore ini agak berbeda. Pasalnya rumah kosong yang berada di sebelah kosan Maya itu sedang membuka pagarnya lebar-lebar. Beranda rumah itu dipenuhi oleh orang-orang dari segala kalangan dan usia.


Manta memarkirkan motor di pos, lalu menatap Mayang. Mayang seolah tahu arti tatap Darmanta dan menggeleng tak tahu. Pada akhirnya, mereka berdua ditelan rasa penasaran dan memutuskan pergi ke sana untuk melihat ada apa gerangan.


"Ing tengah dawuh malam, abot ireng nyeluk semrawut kaya wayang. Saka dalam jurang bumi, iblis nyawiji karo mata anget lan senyum godha. Padha sing dalang ing urip, nglamuneni rasa kaget lan godhaning manungsa."


(Di malam kelam, kegelapan menyelimuti seperti bayangan dalam wayang. Dari dalam jurang bumi, iblis melonjak dengan mata berapi dan senyum menggoda. Mereka dalang kehidupan, mengilhami ketakutan dan godaan manusia)


Terlihat seorang dalang yang sedang memainkan wayang di beranda rumah tersebut. Ia merupakan Suratno, salah satu dalang ternama di Jogja.


Dalam permainannya, pria paruh baya itu terus menerus memandang ke arah Mayang yang baru saja tiba bersama Darmanta.


Ditatap seperti itu membuat Mayang risih dan ingin pergi. Namun, niatnya urung ketika menemukan sosok Mirna sedang duduk di sebelah kiri Pakde Suratno.


Pada akhirnya, kumandang qira'at sebelum maghrib dari toa masjid menyudahi pertunjukan singkat itu. Perlahan warga pun pergi membubarkan diri. Menyisakan Manta dan Mayang berdua bersama pemilik rumah.


Pecah sudah lamunan Mayang. "Loh, Mirna mana?"


Pria itu mengerutkan kening. "Mirna?"


"Iya, tadi ada Mirna di sini," jawab Mayang.


"Ehmm ... kalian belum pulang?" tanya si pemilik rumah dengan senyum ramah menyapa. Ia menghampiri kawla muda yang masih berdiri di beranda rumahnya.


Mayang menoleh menatap sekitar, tapi tak ia temukan Mirna di mana pun.


"Cari siapa?" tanya Pakde Suratno sembari ikut celingak-celinguk.


"E-enggak kok, Pakde."


"Tadi ada teman kamu kah di sini?" Pertanyaan pria itu seolah membuat Mayang tertekan. Ia meneguk ludah, sebelum menjawab pertanyaan tersebut.


"Permainan yang bagus," ucap Manta memuji. "Boleh saya belajar dari Pak Suratno? Sudah lama saya mengikuti bapak dan merasa terinspirasi."


"Terimakasih pujiannya," balas Suratno. "Ngomong-ngomong kamu kenal saya?"


Manta tersenyum seolah menjadi orang yang berbeda. "Memangnya ada yang enggak kenal sama dalang sehebat bapak?"


Suratno terkekeh. "Bisa saja kamu. Boleh. Kapan-kapan main saja ke rumah. Kalau saya ada di sini, berarti saya sedang senggang."


"Baik, Pak. Kalo gitu saya pamit dulu." Manta meraih tangan Mayang dan menggandengnya. "Makan malem yuk, terus pulang."


"A-ayo." Wajah Mayang memerah karena malu. Senyum tipis terukir di wajahnya. Gadis itu melirik tangannya yang sedang bergandengan dengan Manta.

__ADS_1


Begitu Darmanta memutar arah membelakangi Suratno, ekspresinya sontak berubah menjadi sangat serius seolah tak memiliki transisi.


'Rumah ini terlalu kentara seolah sedang menantang. Entah Suratno atau siapa pun di baliknya, ini kurang bagus'. Pikir Manta.


...****************...


Kini Manta dan Mayang makan berdua di warung soto. Sengaja Manta ajak gadis itu makan malam di luar agar ia memiliki waktu lebih lama untuk berbincang.


"Kalo ada apa-apa, jangan lupa berkabar," ucap Manta.


Mayang tersenyum. "Iya, kalo ada apa-apa nanti aku kabarin. Tapi misalnya enggak ada apa-apa juga, boleh ngabarin enggak, Ta?"


Manta mengangguk sebagai jawaban. Pria itu khawatir, lantaran di rumah milik dalang tadi memiliki aura negatif yang sangat kuat. Masalah utamanya adalah, Manta tak bisa mengambil tindakan karena belum ada sesuatu yang menjadi titik awal pergerakannya. Belum ada pemicu untuk menyerang.


Selesai makan malam, Manta pun mengantar Mayang kembali ke kosannya. Ketika melewati rumah itu lagi, bulu kuduknya sempat merinding. Darmanta memang pemburu hantu, tapi bukan artinya tak bisa merinding. Rasa ngeri bukanlah sesuatu yang bisa dikontrol dengan mudah meskipun sudah terbiasa.


"Makasih ya, Ta. Kamu hati-hati pulangnya. Nanti sampe Tantra kabarin."


"Oke, kamu juga hati-hati. Jangan lupa kabarin kalo terjadi apa-apa," balas Darmanta.


"Jangan terlalu khawatir gitu dong, Ta. Aku kan bukan pacar kamu."


"Apa aku enggak boleh khawatir sama orang yang bukan pacar?" tanya Manta dengan suara khas datarnya.


Mayang tersenyum. "Boleh kok, boleh banget."


"Ya udah, aku pulang dulu." Darmanta menarik gas pergi dari tempat itu.


Seperginya Manta, Mayang masuk ke dalam kos dan naik ke lantai dua. Namun, begitu sampai di atas, dua kamar paling ujung yang merupakan kamarnya dan juga kamar Mirna terlihat gelap. Wajar jika kamar Mayang gelap, ia baru pulang saat ini, tapi bagaimana dengan Mirna?


Gadis itu meneguk ludah. Ia memberanikan diri melangkah mumpung belum terlalu malam. Mayang mengetuk pintu kamar Mirna.


"Na."


Tok ... tok ... tok


Sebuah tangan menepuk pundaknya, membuat Mayang terkejut setengah mati hingga melompat kecil menjauhi arah pundaknya.


Mirna tertawa melihat tingkah Mayang yang ketakutan. Rupanya ia baru saja kembali sama seperti Mayang.


"Eh, elu, Na. Gua kira siapa. Kaget tau!"


"Lagian lu ngapain berdiri di depan kamar gue?"


"Gua mastiin aja ...."


Pintu kamar Mirna tiba-tiba saja terbuka. Sontak Mayang terbelalak dan menoleh ke arah kamar tersebut. Mayang memicing heran, lantaran saat ini Mirna sedang menatapnya dari dalam kamar dengan wajah bangun tidur. Refleks Mayang kembali menoleh ke samping, tetapi tak ada siapa-siapa di tempat Mirna tadi berdiri.


"Gua ketiduran dari siang," ucap Mirna. Ia menyalakan lampu kamarnya, lalu keluar kamar dan bersandar di balkon menemani Mayang yang masih diam membisu. "Lu kenapa, May?"


"Eh." Mayang tampak bingung. Baru saja ada sosok Mirna di sebelahnya, lalu dari dalam kamar ada Mirna lain yang muncul, kemudian Mirna yang berada di sebelahnya menghilang. "Lu ... Mirna beneran, kan?"


Mendengar pertanyaan Mayang membuat Mirna merapat ke arahnya. "Ih, lu kok nanya gitu sih? Abis liat apaan lu?"


"Udah, lupain deh. Lu udah makan belum? Nih gua bawain soto. Mandi di kamar gua aja sekalian nginep, ya."


"Oke," balas Mirna.

__ADS_1


__ADS_2