Sang Arkana : Para Pemburu Iblis

Sang Arkana : Para Pemburu Iblis
Pecah


__ADS_3

Kehadiran Yudha Kiranata di Tantra membuat Darmanta merasakan tekanan yang mengerikan dari pria itu. Ia pun segera berlari menuju kamarnya untuk mengambil Bengisura. Namun, begitu ia tiba di kamar, langkahnya terhenti saat melihat seorang pria berkulit putih dengan rambut gondrong urakan berdiri membelakanginya. Pria itu mengenakan kaos hitam lengan panjang yang digulung hingga bawah siku. Ia hanya berdiri memandang ke arah pedang Bengisura yang terpajang di dinding.


"Jadi ini Bengisura? Pedang yang sudah membunuh Rara?"


"Siapa kau?" tanya Manta. Ia sama sekali tak peduli dengan pertanyaan pria di hadapannya.


Pria itu menoleh. Sama seperti Manta, ia memiliki tatapan yang dingin. "Ya, mungkin itu karma untuk Rara karena sudah mengganggu pertarungan antara kau dan Suratno."


Manta melebarkan kuda-kudanya, ia berniat untuk maju dengan tangan kosong. Namun, ketika ia berkedip sekali, sosok pria itu menghilang, menyisakan seekor anjing hitam besar di tempatnya berdiri tadi. Anjing hitam itu memiliki mata biru dengan pandangan yang terlihat sangat dingin.


"Belum saatnya kita saling bunuh," ucap anjing itu berbicara. "Selanjutnya, saat kita bertemu lagi, persiapkan dirimu untuk mati." Ia berjalan ke arah jendela kamar yang terbuka dan melompat keluar.


Dengan cepat, Manta langsung mengambil Bengisura, lalu berlari ke jendela kamar. Ia celingak-celinguk keluar mencari keberadaan anjing hitam itu, tetapi sosoknya sudah tak terlihat dari radar matanya. Tanpa berusaha mengejar, Manta menutup jendela, lalu berlari keluar kamar menuju ruang tamu.


Begitu ia tiba, suasana sudah berubah. Tak ada lagi sosok Yudha di depan pintu. Menyisakan Bowo dan Yasa yang sedang menatap ke arah Mahari.


"Apa maksud perkataanmu tadi, Bos?" tanya Yasa.


"Malam itu adalah malam paling mengerikan yang pernah ada," ucap Mahari. "Jathilan berdarah juga disebut sebagai pesta bunuh diri. Terjadi kesurupan masal persis seperti kemarin di Surakarta, tetapi yang membedakan antara kejadian kemarin malam dan Jathilan berdarah adalah ... setan-setan yang merasuki manusia pada tragedi jathilan berdarah langsung melakukan aksi bunuh diri masal."


Yasa masih diam seolah menunggu jawaban yang lebih detail dari Mahari. Mahari menghela napas panjang, sepertinya memang apa yang ia tutupi tidak lagi dapat disembunyikan. Mahari duduk di sofa dengan sorot mata yang tajam menatap ke lantai.


"Kebetulan acara jathilan diadakan di dekat kediaman keluarga Kanigara. Melihat suasana yang sudah tak kondusif, para Kanigara berkumpul, merapalkan mantra perlindungan dan hendak menyegel semua roh jahat yang meneror acara jathilan itu. Hanya saja ... seluruh anggota keluarga Kanigara mengalami gangguan. Mereka semua serempak kerasukan."


Sekilas, Bowo menatap wajah Yasa, lalu kembali memandang Mahari. "Kanigara kerasukan?"


"Meskipun keluarga Kanigara memiliki perlindungan atma yang kuat berkat mantra-mantra mereka, tetapi beberapa iblis memiliki level yang berbeda. Malam itu, Sebelas Rudra datang. Mereka merasuki sebelas orang terkuat di keluarga Kanigara dan ....." Mahari menghentikan ucapannya.


"Dan apa?" tanya Yasa.


"Para Kanigara yang kerasukan itu membantu proses ritual kuno yang melibatkan tumbal manusia dan melakukan eksekusi pada orang-orang di lokasi jathilan," lanjut Mahari. "Sebelas Rudra bukan lawan yang mudah, malam itu tidak ada jalan lain selain membunuh wadah mereka. Jadi aku dan orang itu melakukan pencegahan dengan membunuh sebelas wadah tersebut karena tidak ingin timbul korban yang lebih banyak lagi. Namun, pada akhirnya hanya kami berdua yang berdiri di lautan mayat malam itu."

__ADS_1


"Kemana Kanigara yang lain?" tanya Yasa.


"Mereka dipengaruhi oleh para iblis dan akhirnya ikut melawan."


"Kau juga membunuh mereka?" tanya Yasa lagi.


Mahari memejamkan mata. "Maaf ...," gumamnya lirih.


BRAAK!!!


Yasa memukul pintu. "Termasuk ayahku?"


Mahari tersenyum sendu, lalu menunduk. "Ya, dia salah satu yang terkuat."


"Kenapa selama ini enggak pernah ada cerita?" tanya Yasa. "Kenapa harus ada trigger dari orang jahat dulu, terus baru buka mulut tentang kebenaran malam itu?!"


"Karena aku takut kau marah," ucap Mahari.


"Waktu itu kau masih terlalu kecil, jadi kau tidak ada di lokasi jathilan," jawab Mahari.


"Apa merawat ku selama ini adalah caramu membersihkan dosa dari rasa bersalah mu, Mahari?" tanya Yasa.


Mahari hanya tersenyum tanpa jawaban. Ia paham, bahwa saat ini apa pun yang keluar dari mulutnya hanya akan menjadi alibi di telinga Yasa.


Yasa menghela napas. "Banyak hal yang bikin kecewa, tapi ini yang paling sakit, Mahari. Sama kayak Bowo, aku harus pergi. Kayaknya mulai sekarang, tinggal satu atap bareng pembunuh keluarga ku sendiri rasanya agak menyakitkan."


Mahari berdiri dari duduknya. "Rumah ini adalah salah satu peninggalan ayahmu. Selama ini aku hanya memanfaatkan mu untuk bisa tinggal di sini. Aku ingin memberitahu semuanya ketika usiamu sudah cukup matang, tetapi rasanya memang mustahil, ya ... jadi tetaplah di sini. Jika ada yang harus pergi, maka akulah orangnya."


Mahari berjalan menuju ruangan pribadinya, tetapi ia menghentikan langkahnya sejenak tepat di depan pintu sembari menoleh kembali ke arah Bowo. Pria itu menyematkan sebuah senyuman.


"Wo, kalo emang mau gabung sama asosiasi coba aja cari Santi, nanti dibantu sama dia, tapi gua harap lu tinggal di sini. Karena bebas biaya dan udah hampir dua tahun juga kan lu di sini. Yang paling utama kan ... udah enggak ada gua lagi, jadi lu lebih nyaman ada di sini harusnya." Pria itu melanjutkan langkah menuju ruang kerja sekaligus kamarnya.

__ADS_1


Begitu Mahari menghilang dari pandangan semuanya, Yasa pun berjalan pergi menuju kamarnya. Bowo menghela napas, ia juga berjalan kembali ke kamarnya, mengingat sebetulnya ia belum memiliki tempat tinggal baru. Sementara itu,  Manta masih  terduduk di sofa menenteng Bengisura. Pria tampan itu tak tahu apa yang sedang Tantra hadapi saat ini. Ia hanya mampu bersandar di sofa sambil memejamkan matanya.


...****************...


Kegelapan malam perlahan digantikan oleh cahaya matahari, menghadirkan harapan baru dalam semesta. Namun, tak ada lagi harapan untuk masalah keruh yang menempel pada Tantra. Manta membuka pintu ruangan Mahari setelah tak menemukan sarapannya di atas meja.


Biasanya pria humoris itu yang memasak untuk sarapan mereka berempat. Namun, kini tak ada lagi aroma lezat masakan Mahari yang membangunkan tidur, meninggalkan sebongkah rindu di dada Darmanta. Padahal belum juga satu hari Mahari pergi, tetapi tahu bahwa pria itu mungkin tak akan kembali lagi membuat semuanya berbeda.


"Ngapain lu?" tanya Bowo yang baru saja keluar dari kamar mandi. Di pundaknya ada handuk kecil yang digunakan untuk menyeka rambut tipisnya.


"Mahari udah pergi," ucap Manta.


"Biarin aja, emang dia yang mau pergi sendiri," balas Bowo. Pria itu masuk ke kamarnya, tetapi tak berlangsung lama ia keluar kembali sudah dengan celana panjang dan kaos polos putih dibalut jaket varsity hitam.


"Lu mau ngapain?" Giliran Manta yang bertanya.


"Ketemuan sama mbak Santi. Gua mau gabung ke asosiasi buat cari tambahan duit," ucap Bowo. "Lagi pula, di sana banyak sumber informasi ketimbang cuma di sini. Mau ikut lu?"


Manta menggeleng. Sepertinya ia tak tertarik menjadi bagian dari asosiasi. Pria dingin itu lebih suka bergerak sendiri tanpa aturan.


"Ta, satu minggu lagi musuh bakal dateng ke sini. Mereka mau Yasa," ucap Bowo. "Salah satu alasan gua mau gabung ke asosiasi adalah biar kita dapet kekuatan tempur. Ngelawan Dursasana kemarin bikin gua kurang percaya diri. Seandainya tadi malem mereka dateng tanpa damai, mungkin kita udah enggak ada."


"Pasti ada alasan lain kenapa mereka enggak nyerang padahal ada kesempatan." Manta masih terlihat tenang. "Selain Yudha Kiranata, semalem di kamar gua juga ada Karna Rawasura."


Mata Bowo berkedut mendengar pernyataan Manta. Ia sama sekali tak tahu bahwa ada dua orang buronan di sini tadi malam. Aroma mereka benar-benar tak terendus.


"Kenapa lu baru bilang?" tanya Bowo.


"Karena semua berjalan damai, terkadang ada hal-hal yang kayaknya enggak perlu dijelasin," jawab Manta. "Gua berpikir, Mahari pun ...."


"Dalam waktu deket, jangan sebut nama itu dulu, Ta. Gua betul-betul enggak mau denger." Bowo berjalan keluar rumah.

__ADS_1


Manta hanya mampu diam dan berjalan ke pintu menatap Bowo di atas motornya. Setelah sepuluh menit memanaskan mesin motor, pria botak itu pergi menuju markas asosiasi.


__ADS_2