Sang Arkana : Para Pemburu Iblis

Sang Arkana : Para Pemburu Iblis
Sanggar Matahari


__ADS_3

Di tengah cahaya redup lilin-lilin yang tersusun rapi di sepanjang sisi sanggar seni tua ini, sekelompok anak-anak terlihat bersemangat melakukan tarian tradisional. Meskipun malam ini tak ada sinar bulan akibat tertutup awan mendung diiringi hujan gerimis yang turun dengan pelan. Mereka masih membara dan berlatih hingga larut malam.


Seorang gadis berdiri di depan teman-temannya. Dengan gerakan yang lembut, gadis itu memulai sebuah gerakan tarian dan teman-temannya segera mengikuti setiap langkah demi langkah langkah.


Namun, semakin malam mereka berlatih, suasana terasa semakin seram dan mencekam lengkap dengan suasana hujan yang semakin deras. Padahal mereka tinggal di sanggar itu dan sudah terbiasa berlatih hingga larut malam. Hanya saja, malam ini terasa asing. Meskipun mereka mencoba untuk tetap fokus pada tarian, tetapi ada rasa cemas yang mengganggu.


Gadis yang memimpin mereka merasa bahwa ada kehadiran yang ganjil di belakangnya saat sedang berputar dalam gerakan tarinya. Sejenak ia berhenti dan berbalik, tetapi tak ada apa pun yang terlihat aneh. Suasana tegang semakin memuncak, tetapi mereka memutuskan untuk melanjutkan latihan, masih berpikir bahwa mungkin semua perasaan itu hanya imajinasi mereka belaka.


Namun, ketika tarian mencapai puncaknya, sesuatu yang mengerikan terjadi. Gadis itu tiba-tiba terangkat dari lantai dan terlempar ke udara. Teman-temannya berteriak ketakutan melihat gadis itu terlempar hingga jatuh ke lantai dengan keras tak berdaya. Darah mengalir dari kepala gadis itu akibat benturan dengan lantai.


"Tenang! Tenang!" seru seorang pria dewasa yang merupakan kepala asrama yang menjaga sanggar tua tersebut.


Saat ia hendak membantu si gadis yang tergeletak di lantai, tiba-tiba pintu sanggar yang semula tertutup rapat tiba-tiba terbuka dengan sendirinya, membuat lantai bagian depan ruangan basah akibat badai yang menerobos dari balik pintu.


Di tengah ketegangan itu, lampu tiba-tiba padam, membuat anak-anak menjerit histeris karena takut. Namun, suasana gelap itu tak berlangsung lama. Dalam sekejap lampu menyala kembali. Hanya saja, bukannya merasa lebih baik, mereka malah berpikir justru gelap jauh lebih baik daripada apa yang mereka lihat saat ini.


Ruangan sanggar yang harusnya hanya diisi oleh para anggota tari, kini dipenuhi banyak orang-orang aneh berwajah pucat.  Di tengah ketegangan itu, si gadis yang seharusnya tergeletak di lantai, kini sudah dalam posisi berdiri dengan pandangan mata yang kosong. Terdengar suara gamelan di tengah hujan badai. Gadis itu perlahan mulai menari pelan mengikuti alunan gamelan, tetapi gerakannya terlihat kaku dan tidak manusiawi.


Kepala asrama berjalan ke arah gadis itu, berusaha menolong gadis yang saat ini sedang kerasukan tersebut. Namun, salah satu orang berwajah pucat meraih pria itu dengan tangan yang dingin, seolah sedang menghalanginya. Ketika pria itu hendak melepaskan diri, tiba-tiba ia terpental ke dinding dan tak sadarkan diri.


Gamelan yang sebelumnya mengalun merdu, kini berubah tempo menjadi lagu yang mengganggu dan terdengar menakutkan, seolah menyiratkan kehadiran lain yang mendominasi sanggar. Suara sang penari yang kerasukan itu menyanyikan kata-kata aneh yang membuat suasana semakin mencekam.


Pintu sanggar tiba-tiba tertutup, menyisakan jeritan anak-anak yang terjebak di dalam sana. Hanya saja, gemuruh petir membuat teriakan anak-anak itu terdengar sia-sia.


...****************...


Siang ini Bowo sedang melatih tangan kirinya dengan menimba sumur yang berada di belakang Ratnakusuma. Keringatnya membuat tubuh pria itu terlihat berkilau.


"Wo, di panggil mbak Santi," ucap Anik yang datang dari pintu belakang.


Bowo menghentikan aktivitasnya. "Oke, bentar lagi aku ke sana."


Setelah menyampaikan pesan, Anik pergi lagi ke dalam gedung. Sementara Bowo membasuh keringatnya dengan air sumur dan berjalan pergi menenteng handuk. Ia hendak membersihkan diri dahulu sebelum menghadap Santi, mengingat sehabis berlari dari Tantra, ia langsung menimba sumur hanya untuk sekadar melatih tangan kirinya.


Hampir setengah jam berlalu, pintu ruangan Santi terbuka. Langkah pelan Bowo membawa pria itu menghadap pada sang ketua. "Bowo hadir," ucap pria itu.


Mendengar ucapannya, membuat Santi tersenyum. "Kaku banget kamu kayak robot."


"Maklum, mbak. Sejak tau posisi mbak Santi, saya jadi canggung."


"Santai aja lagi. Anggap sebelum tau aja," balas Santi. "Oh, iya. Malem ini kamu ada acara?"


"Saya inget-inget dulu." Bowo tak pernah punya acara malam. Hanya saja saat ini ia sedang berpura-pura memikirkan sesuatu yang tak ada di kepalanya. "Kayaknya kosong deh, kenapa mbak? Mau ngajak jalan berondong?" tanya Bowo sambil menyelipkan sedikit candaan.


"Iya, tau aja kamu. Kita jalan ya nanti malem," balas Santi.


"Eh, beneran? Ke mana?"


"Udah, kamu ikut aja. Kita berangkat siang ini biar nanti malem bisa langsung sat set sat set."


Bowo memicingkan mata. "Sat set sat set?"


"Udah enggak usah banyak tanya. Abis ini temenin mbak pulang sebentar ngambil baju."


"Buat apa baju?" tanya Bowo.

__ADS_1


"Ya buat dipake. Jaga-jaga aja, kalo nanti basah biar ada gantinya. Kita nginep semalem soalnya. Nanti abis dari tempat mbak, kita ke Tantra ambil baju kamu."


Bowo mendadak tegang. "Ki-kita berdua aja, mbak?"


"Iya, ngapain rame-rame, aneh nanti," jawab Santi.


Bowo meneguk ludah. "O-oke deh mbak."


"Sepuluh menit lagi kita berangkat," ucap Santi.


Bowo keluar dari ruangan santi. Otaknya agak tak waras dan mulai menerawang jauh. Terbesit senyum aneh di bibirnya.


Sepuluh menit berlalu, Santi keluar dari ruangannya dan mendapati Bowo yang sedang duduk di depan ruangannya.


"Yuk, Wo." Ia dan Bowo berjalan menuju parkiran.


Wanita itu mengendarai mobil dan pergi menuju rumahnya. Kira-kira lima belas menit perjalanan, mobil itu berhenti di sebuah halaman rumah minimalis, tetapi tergolong cozy. Santi dan Bowo turun, lalu berjalan masuk.


"Tunggu sini, Wo." Santi menyuruh Bowo untuk menunggu di ruang tamu. "Kalo mau minum ambil di dapur, maaf enggak ada apa-apa nih."


"Enggak apa-apa kok, mbak," ucap Bowo. Ia menatap Santi yang berjalan pergi dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Tak lama berselang, Santi muncul kembali ke ruang tamu dengan sebuah duffle bag berwarna hitam. Ia melihat gelagat Bowo yang agak aneh. "Kamu kenapa, Wo?"


"Mbak tinggal sama siapa di sini?" tanya Bowo.


"Sendiri, kenapa?"


"Emang ... belum nikah?"


"Enggak di sini aja, mbak?" tanya Bowo.


Santi memicing. "Di sini aja?"


"Iya, ngapain jauh-jauh? Saya agak grogi, mbak."


"Bukannya udah biasa sama Mahari? Kok grogi?" tanya Santi.


Wajah Bowo mendadak datar. "Mahari? Saya masih normal, mbak."


Santi hanya menggeleng melihat tingkah Bowo diiringi senyum tipis. "Kalian sering berburu bareng, kan? Mahari pasti ngerengek-rengek minta ditemenin, kan?"


Bowo terdiam. Rupanya pikirannya saja yang jauh terbang. Santi tak memintanya melakukan hal yang aneh-aneh. Ia hanya meminta Bowo untuk ikut bermalam bersamanya untuk berburu setan.


"Subuh tadi ada klien dateng, dia kenalan mbak dari daerah Gunung Kidul. Jadi dia itu penjaga asrama sanggar yang kebetulan juga asrama buat anak-anak yang hidup sebatang kara. Daripada hidup enggak jelas karena enggak punya apa-apa dan siapa-siapa, mereka yang tinggal di sanggar itu dikasih tempat tinggal, pendidikan, dan makanan yang layak. Mereka juga diajarin berbagai jenis seni kayak tari, wayang, teater, musik dan kesenian lain yang sifatnya tradisional buat modal mereka. Mbak kenal sama pemilik tempat itu, dia bilang kreatifitas itu adalah modal gratis yang bisa dibayar mahal."


Bowo menghela napas. "Oke deh kalo gitu. Ngomong-ngomong kita langsung aja, mbak. Aku udah bawa baju salinan kok buat pulang. Cukuplah satu setel doang."


"Ya udah kalo udah siap. Yuk kita cus." Santi berjalan keluar diikuti Bowo. Setelah memastikan semua pintu terkunci, mereka berjalan kembali ke mobil dan segera melaju menuju sanggar tua di daerah Gunung Kidul.


...****************...


Transisi dari bangunan-bangunan modern menjadi pohon-pohon tinggi menjulang memang hal yang menyenangkan. Di tengah penat, terkadang melihat warna hijau memang memiliki dampak positif tersendiri.


Mobil milik Santi terus melaju berliku-liku mengikuti alur jalan hingga pada satu titik berbelok dan tiba di sebuah lokasi asri dengan nuansa alam yang menyejukkan. Santi dan Bowo turun dan berjalan menuju sebuah bangunan tua yang merupakan sebuah asrama.

__ADS_1


Bangunan itu terlihat tradisional dengan dinding-dindingnya yang sudah memudar seiring berjalannya waktu. Terdapat jendela besar yang terbuat dari kayu tua, tetapi masih terlihat bagus karena dirawat.


Seorang pria sudah menunggu di depan pintu. Ia keluar begitu mendengar suara mobil di halamannya. Bowo dan Santi berjalan ke arahnya.


"Monggo, silakan masuk." Dengan tutur yang sopan, ia mempersilakan kedua tamunya untuk masuk ke dalam.


Mereka sudah dijamu dengan beberapa makanan tradisional khas Gunung Kidul seperti keripik belalang dan juga teh manis.


"Ini namanya mas Pairan, Wo. Dia kepala asrama di sanggar ini," ucap Santi memperkenalkan pria yang menjamu mereka.


"Saya Bowo, mas. Salam kenal," ucap Bowo.


"Pairan. Salam kenal, mas Bowo."


Usia mereka tak terlalu jauh secara tampang. Pairan lebih tua sekitar tiga tahun dari Bowo. Pria itu menceritakan kejadian ngeri yang menimpa sanggar semalam.


Selesai berbincang, Santi dan Bowo izin untuk melakukan investigasi lebih lanjut untuk mencari sesuatu yang bisa dikorek untuk mengambil langkah. Mereka mulai dari bangunan asrama. Santi dan Bowo berjalan menelusuri bangunan tua itu.


Di dalam asrama, terdapat lantai kayu yang berderit ketika diinjak. Kamar-kamar tidur di tempat itu cukup luas dan dihiasi dengan furnitur sederhana yang juga terlihat kuno. Suasana di dalam asrama ini terasa sepi mengingat semua anak-anak sedang diungsikan dahulu ke tempat lain yang lebih aman.


Di belakang asrama, ada sanggar tua di tengah pepohonan yang rimbun. Bangunan sanggar itu terbuat dari kayu yang lebih baru daripada asrama, tetapi tak mengurangi nuansa tradisionalnya. Di sekeliling sanggar terdapat taman dengan tanaman hias dan batu-batu besar yang disusun secara artistik.


"Sanggar Matahari," ucap Bowo saat menatap ukiran yang tertulis di atas pintu bagian depan.


"Cahaya adalah kuasa yang memunculkan rahasia seni. Seperti matahari yang menerangi dunia, seni juga memancarkan kejujuran dan keindahan yang tersembunyi di dalam diri kita," sahut Santi. "Itu makna dari nama sanggar ini."


Bowo dan Santi membuka pintu dan masuk ke dalamnya. Ruangan dalam sanggar seni tradisional ini luas dan terbuka, dengan atap tinggi yang menjadi celah untuk cahaya masuk. Di dalamnya terdapat pelataran yang digunakan sebagai tempat latihan dan pementasan kecil untuk warga lokal.


Di sekeliling dinding sanggar, terdapat lukisan-lukisan tradisional dan ukiran kayu yang menggambarkan budaya lokal. Peralatan seni tradisional seperti gamelan dan alat musik tradisional lainnya ditempatkan di sudut ruangan, menambah nuansa autentik di dalam sanggar tersebut.


Tempat ini terlihat bagus, tetapi memiliki daya mistis tersendiri ketika malam menjemput. Hanya saja selama ini aura di tempat ini positif. Entah apa yang membuatnya mengalami serangan roh jahat malam tadi. Saat ini pun tak ada yang bisa ditemukan oleh kedua orang dari asosiasi tersebut.


"Istirahat dulu deh, Wo. Nanti abis maghrib siapa tahu baru muncul sesuatu," ucap Santi.


"Oke, mbak."


Pairan yang juga sedari tadi mengikuti kedua orang itu menunjukkan kamar yang malam nanti bisa digunakan untuk Santi dan Bowo menginap.


"Nanti kamarnya dua apa satu, mas?" tanya Bowo.


"Dua, mas. Kan orangnya dua," jawab Pairan.


"Oh," balas Bowo.


"Kamu mau banget sekamar sama mbak, Wo?" tanya Santi dengan wajah meledek.


"Gi-gimana ya. Takutnya mbak santi takut kalo sendirian gitu," jawab Bowo.


Santi terkekeh. "Dasar bocah. Bukan mbak yang takut kali, tapi kamu."


"Saya mana pernah takut sih, mbak? Jangan samain saya sama mas Mahari deh."


Mendengar nama Mahari membuat mata Pairan berkedut. Ia berusaha menyembunyikan ekspresinya. "Saya tinggal dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa, kamar saya ada di pojok sebelum kamar mandi."


"Oh, oke, mas Pairan. Matur nuwun," ucap Bowo. Setelah itu Santi dan Bowo beristirahat di kamar mereka masing-masing.

__ADS_1


Well, semua terlihat baik-baik saja. Sampai akhirnya gelap kembali merajai bumi. Begitu tak ada lagi cahaya matahari yang tersisa, Bowo dan Santi sontak merinding bersamaan. Hawa di tempat yang asri ini berubah total menjadi mencekam dan penuh tekanan.


__ADS_2