Sang Arkana : Para Pemburu Iblis

Sang Arkana : Para Pemburu Iblis
Bertahan


__ADS_3

Hari yang dijanjikan tiba, Yasa dan Bowo tak tahu kapan musuh akan menyerang. Namun, kemungkinan terbesarnya adalah saat gelap menjemput


Siang ini mereka berdua sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Yasa duduk bermeditasi sembari mulutnya tak henti-henti bergumam, sementara Bowo terlihat sedang memukuli karung goni berisi pasir.


Bowo menghantam gumpalan pasir yang menjadi samsaknya dengan kekuatan penuh. Suara pukulannya terdengar sangat nyaring.


Pada satu titik ia menatap tinju kanannya. "Nah, gini kan enak," gumamnya bermonolog sambil menggerakkan jari-jarinya. Berkat fisioterapi yang dilakukan oleh asosiasi, pemulihan tangan pria itu berjalan baik dan cepat. Kini ia siap bertempur dengan kekuatan penuhnya.


Setelah merasa cukup dengan latihannya, Bowo masuk ke dalam untuk beristirahat. Ia mempersiapkan stamina untuk apa pun yang terjadi nanti.


...****************...


Menjelang hari redup, Ratnakusuma pun mulai bergerak. Sebuah mobil tiba dan terparkir rapi di halaman depan.


Arkanta turun dari mobil bersama dengan Darmanta. Kedatangannya disambut oleh Santi.


"Tinggal Adit yang belum sampe," ucap Santi. "Kamu istirahat dulu, Ta. Nanti malem kita bakalan sibuk."


"Aku sudah dengar garis besar masalah dari adikku," ucap Arkanta.


Kini arah tatap Santi berpindah pada Darmanta. "Kamu mau langsung pulang, Ta?"


"Iya," jawab Manta. Pria itu berjalan pergi menuju Tantra.


Setelah ditinggal mati istrinya, Ayah Manta menikah lagi dengan seorang janda beranak satu. Arkanta merupakan kakak tiri Darmanta. Mereka sama sekali tak memiliki hubungan darah. Hanya saja secara kebetulan sifat dan watak mereka mirip.


"Oke, sekarang kita kumpul di ruang meeting," ucap Santi pada Arkanta. "Kita susun rencana. Waktu kita dikit."


...****************...


Di sisi lain Aditya Wirabuana sedang duduk menikmati pemandangan jalan dari dalam mobil. Ia sudah memasuki area Jogja dari arah Klaten. Sang Kapten ditemani oleh dua anggotanya yang merupakan seorang pria paruh baya dan seorang pemuda.


Bertepatan dengan redupnya hari, kabut-kabut tipis mengiringi perjalanan mereka hingga memaksa berhenti di pinggir jalan karena minimnya pandangan.


"Pak, Slamet," ucap Rizky, pemuda yang duduk di kursi belakang. Perasaan pemuda itu sungguh tak bagus.


"Ya, ini kabut mistis. Kita dibawa ke Alam Durjana," balas Pak Slamet yang duduk di kursi kemudi.


Aditya turun dari mobil dan menatap tajam ke arah depan. Ia mencium aroma yang sangat familiar dan sontak berlari ke samping sambil menatap ke arah mobil di belakangnya.


"KELUAR DARI MOBIL!" teriak Sang Kapten.


DUAARR!!!


Salah satu mobil operasional milik asosiasi hangus terbakar oleh api berwarna hitam. Beruntungnya dua bawahannya berhasil keluar tepat sebelum mobil meledak. Mereka keluar sesaat setelah Aditya turun dari mobil.

__ADS_1


"Wah, wah, wah, enggak jadi orang goreng deh," ucap suara pria yang cukup Adit kenali.


"Yudha Kiranata," gumamnya.


"Lama enggak ketemu, ya." Sosok Yudha muncul dari balik kabut. "Apa kabar, Dit?"


"Nyaris mati," jawab Adit. "Lu?"


"Agak kurang baik juga sih. Gimana, gimana, mau ngopi dulu, kah? Kita ngobrol-ngobrol kayak dulu."


"Boleh, sini gua buatin. Lu suka kopi panas, kan?" balas Adit. Ia mengeluarkan sebilah keris dari samping pakaiannya, lalu mengeluarkan keris itu dari sarangnya.


Ia menggenggam keris itu erat-erat, kemudian mengayunkannya ke udara. "Surya prabha," gumam Adit. cahaya terang memancar dari Kerisnya. Begitu sejumlah atma dengan skala yang besar sudah terkumpul di ujung keris, Adit kembali mengayungkan kerisnya dan mengarahkannya ke arah Yudha. Seketika itu sebuah gelombang panas melesat ke arah pria tersebut.


"Ardhraksha Pralaya." Yudha melesatkan tinjunya ke arah gelombang yang melesat padanya. Seketika itu gelombang api merah milik Adit ditelan oleh api hitam milik Yudha. "Keris Surya Kusuma, ya? Udah lama enggak liat pusaka itu."


Aditya merupakan rekan Yudha di masa lalu, tetapi berbeda atasan. Mereka memiliki kemampuan yang hampir serupa, yaitu memanipulasi atma menjadi energi api, atau disebut juga 'agni'.


"Apa tujuan lu?" tanya Adit.


"Cuma mau main-main aja." Yudha tersenyum. "Intinya lu enggak boleh ke mana-mana sih."


Adit memicing. Ia menoleh pada kedua bawahannya. "Kalian pergi dari sini, Ratnakusuma butuhkan bantuan kalian."


"Ya enggak apa-apalah cuma dua cecunguk," balas Yudha. "Tapi ya—semoga selamat sampai tujuan aja sih."


"Apa-apaan ini?!" ucap Rizky.


Terjadi gesekan konflik antara Aditya dan Yudha di tempat ini.


...****************...


Di sisi lain, ketika Bowo dan Yasa sedang duduk di ruang tengah menikmati transisi dari terang menuju gelap, mereka tiba-tiba merinding merasakan aura membunuh yang luar biasa mengerikan.


"Wo," lirih Yasa.


"Ya, mereka tiba," balas Bowo.


Bowo menatap tangannya yang gemetar. Rasanya aura mencekam ini hampir sama ketika ia berhadapan dengan Dursasana, tapi kali ini aura itu tak sekuat beberapa hari lalu di Surakarta.


Yasa berjalan ke arah depan dan membuka pintu dengan jari telunjuk yang menempel dengan jari tengah seperti pose membuat pistol. Ia arahkan tangannya untuk berjaga-jaga, siapa tahu ketika pintu terbuka ada musuh yang menunggu. Namun, ketika pintu terbuka, tak ada siapa pun di depan sana.


Bowo pun berjalan melewati Yasa dan berdiri menghadap gapura, sementara Yasa menghadap belakang, menjaga punggung rekannya.


"Jadi, kau orangnya, ya?" tanya suara yang muncul di antara Bowo dan Yasa. Sontak kedua orang itu merinding dan masing-masing menjauh saling menjaga jarak.

__ADS_1


Sesosok makhluk yang tingginya hampir sama dengan Yasa muncul tiba-tiba di tengah-tengah mereka. Ia memiliki mata merah menyala dan seringai yang mengintimidasi.



Melihat sosok itu, Bowo dan Yasa pun semakin menjaga jarak. Bowo mendekat ke gapura, sementara Yasa kembali ke arah pintu.


"Jangan begitu, kau membuat mereka takut, Bebasura," ucap suara gadis dari arah pohon trembesi.


"Kita bawa yang kecil hidup-hidup, berarti boleh bunuh yang besar, kan, Kerikala?" tanya Bebasura sambil terkekeh. Sosok itu mengeluarkan liur yang menetes setiap kali tawanya pecah.


"Terserah," jawab Kerikala. "Lagi pula, si botak itu yang sudah membunuh Gorimpa. Kalau tidak dibunuh, nanti Tuan Dursasana marah."


Bebasura dan Kerikala merupakan dua bawahan Dursasana seperti hanya Gorimpa. Bebasura memiliki penampilan menyeramkan dengan tubuh mungil seperti anak kecil, tetapi dengan mata merah menyala dan senyum yang mengintimidasi. Sementara Kerikala memiliki penampilan rambut panjang dan wajah riang. Namun, ekspresinya menampilkan kegembiraan yang jahat.



"Kalau begitu, kau urus yang kecil. Aku urus yang besar, Kerikala," ucap Bebasura. "Aku suka darah Arkana."


"Oke." Kerikala turun dari dahan pohon trembesi dan mendekat ke arah Yasa.


Yasa menggumamkan mantra perlindungan dan membidik gadis itu dengan tangannya. Ketika ia merapalkan mantra penghancur, sebuah gelombang melesat dari ujung jarinya ke arah Kerikala.


Kerikala menghindari serangan tersebut dan berlari cepat ke arah Yasa sambil tertawa riang. Mendengar tawanya membuat Yasa merinding. Ia menghujani makhluk itu dengan peluru-peluru yang berasal dari mantra-mantra yang ia udarakan. Namun, Kerikala dengan gesit dapat menghindarinya.


Pada satu titik, Yasa tersenyum. "Binggo."


Kerikala terdiam sejenak ketika kakinya mendarat setelah melompat ke sana dan ke sini untuk menghindari serangan Yasa. Iblis itu tak sengaja menginjak pasak jebakan yang ditanam oleh Yasa di halaman. Seketika itu ledakan astral terjadi dan membuat Kerikala terpental dengan tubuh berasap-asap.


"Gimana rasanya jadi iblis goreng, heh?" tanya Yasa meledek.


Kerikala bangkit kembali. "SAKIT TAU!" Ia terdengar marah dan menempelkan kedua telapak tangannya. "Mata langit angan," gumamnya lirih penuh tekanan. Muncul sebuah mata merah besar di belakang tubuhnya. "Dursasana membutuhkanmu hidup-hidup, tapi tak berkata bahwa kau harus dibawa utuh! Aku akan menghancurkan impianmu, manusia kecil!"


Yasa merasakan adanya bahaya dari mata merah besar yang muncul di belakang gadis itu, tapi ia tak sedikit pun gentar. Bocah itu merapalkan mantra perlindungan yang mengelilingi dirinya dengan cahaya biru.


"Jangan merasa bisa mengintimidasi ku, Iblis!" kata Yasa dengan tegas. "Aku sudah melawan banyak makhluk sepertimu."


Sementara itu, mata merah besar di belakang Kerikala tak berkedip menatap lawannya. Perlahan Yasa merasa warna-warna di sekelilingnya mulai memudar dan digantikan oleh cahaya merah.


Yasa berusaha melawan. Ia merapalkan mantra penghancur dan melepaskan gelombang atma yang kuat ke arah Kerikala. Gelombang itu bergerak menuju iblis tersebut dengan kecepatan tinggi.


"YASA!" teriak sosok pria yang berdiri menggantikan sosok Kerikala di posisinya. Serangan Yasa mengenainya hingga membuat pria itu tergeletak di tanah berlumuran darah.


Mata Yasa terbelalak menatap sosok yang sangat ia kenali. "Bos ...," lirih Yasa.


"Kau ingin memiliki keluarga, tapi ketika apa yang kau inginkan tercapai, kau malah menghancurkannya. Kau membunuh orang yang sudah menganggap mu seperti anaknya sendiri, Yasa Kanigara!" seru Kerikala dengan nada meremehkan. "Kau hanya manusia lemah, Yasa. Impianmu hancur, dan sekarang giliranmu!"

__ADS_1


Mata langit angan adalah salah satu teknik milik Kerikala yang mampu memperlihatkan impian manusia yang ditatapnya dan memberikan ilusi, lalu menghempaskan impian itu sekeras-kerasnya dengan sebuah realita terbalik yang pahit dan tajam. Kerikala adalah tipe iblis yang gemar menghancurkan impian lawannya tepat sebelum membunuhnya.


__ADS_2