Sang Arkana : Para Pemburu Iblis

Sang Arkana : Para Pemburu Iblis
Mandat Khusus


__ADS_3

Setiap hari senin Tantra libur, jadi tidak ada Hitta dan Mayang di tempat ini. Oleh sebab itu, rumah tua berbata merah ini terasa sepi. Hanya ada sosok Mahari saja yang sedang merebahkan diri di halaman sebelah kiri. Di hamparan rumput sintetis itu ia menatap awan-awan yang bergerak ke utara, entah sambil memikirkan apa.


"Buat kali ini gua ngalah dah," ucap Bowo.


Mahari menoleh ke arah pintu. Ditatapnya Bowo yang sedang berbicara dengan Manta. Di belakang mereka berdua, Yasa berjalan mengikuti sambil memainkan konsol permainan Nintendo DS. Mereka bertiga berlabuh di ayunan yang tergantung di pohon trembesi di sisi kanan halaman. Masing-masing mereka membawa gelas berisi teh hangat.


Yasa menghela napas panjang. "Ngapain ngalah coba? Kan emang lu kalah, Wo."


"Bocil enggak usah ikut-ikutan. Ini masalah asmara. Emang tau apa lu? Emang pernah jatuh cinta?"


"Jangan ngomongin cinta dah," balas Yasa. "Lu aja jomblo, botak. Buat sekarang gua belum mikirin hal-hal kayak gitu, tapi nanti kalo gua udah seusia lu mah gua punya mantan satu sama pacar satu."


Bowo terkekeh. "Eh bocah kerempeng, mantan itu enggak perlu direncanain! Mana ada orang yang mau putus sih?"


"Ada, banyak," jawab Yasa melawan.


Awalnya Bowo berbicara pada Manta. Hanya saja karena Manta tak merespons dan kebetulan Yasa selalu menimpali. Pada akhirnya Bowo dan Yasa saling memuji diri sendiri atau menjatuhkan lawan bicaranya. Begitulah keseharian mereka bertiga.


Melihat pegawainya yang sedang akur, Mahari bangun dan berjalan ke sisi kanan untuk membaur bersama mereka.


"Siapa yang meninggal? Rame amat," tanya Mahari random.


"Ini lagi siapa yang meninggal. Dateng-dateng langsung aneh," balas Bowo menggelengkan kepalanya.


"Cintanya Bowo," jawab Yasa.


"Kubur dah, ama orang-orangnya," timpal Mahari.


Yasa dan Mahari menertawakan Bowo. Sementara Manta hanya tersenyum menimpalinya. Pria tampan itu memiliki selera humor yang agak berbeda.


"Wah, ngomongin apa sih? Kayaknya seru banget."


Tanpa mereka sadari, Santi datang membawa bingkisan.


Mahari menoleh padanya. "Dalam rangka apa nih ngasih bingkisan?"


Wanita itu tersenyum. "Sedikit hadiah dari asosiasi."


Senyum sendu yang tak pernah dikeluarkan Mahari akhirnya muncul, meninggalkan tanda tanya besar dalam pikiran ketiga pegawainya.


"Langsung aja ke intinya deh?" tanya Mahari.


"Asosiasi itu punya tujuan buat memburu setan, tapi aktivitas gelap meningkat bukan hanya karena peran roh jahat," jawab Santi.


"Pengguna ilmu hitam ...," lirih Mahari.


"Ya, mereka tumbuh kayak jamur, tapi masalahnya mereka bukan tujuan utama asosiasi," lanjut Santi. "Jadi kita enggak bisa fokus ke sana."

__ADS_1


"Jadi intinya tujuan lu dateng ke sini itu sebenernya apa?" tanya Mahari. "Karena bukan tujuan utama asosiasi, lu mau nyuruh Tantra ngurusin dukun-dukun itu?"


"Beritanya udah cepet nyebar, Tantra yang beresin Ki Jaga Bayang. Kalian kerja sama bareng divisi baru kepolisian anti santet dan guna-guna, divisi Dharma," jawab Santi. "Gua tau, lu enggak mau berurusan sama pengguna ilmu hitam, tapi kali ini gua cuma bisa minta bantuan lu doang, Har." Santi memberikan dua lembar poster pada Mahari. Berbeda dengan lembaran misi yang lain, dua poster itu tak memiliki predikat.


"Misi khusus tanpa predikat. Mandat langsung dari asosiasi, ya?" gumam Mahari. Ia menyalakan sebatang rokok, lalu mengambil lembaran itu dan menatapnya baik-baik.


Di lembar pertama terlihat gambar seorang pria tampan dengan rambut gondrong seleher. Ia terlihat seperti anak kuliah baik-baik dan dari perawakannya juga, usia pria itu tak berbeda jauh dengan Manta dan Bowo. Melihat namanya saja sudah membuat Mahari paham mengapa orang itu berbahaya.


"Rawasura, ya? Menarik," ucap Mahari sambil membuang asap rokoknya. Kemudian ia membuka lembar berikutnya. Mendadak mata pria itu berkedut dan membulat utuh.


Bukan hanya Mahari. Santi pun mendadak getir. Terbesit senyum di wajahnya, tetapi tampak khawatir. "Pada akhirnya dia mulai bergerak," ucap Santi.


Mahari terdiam sejenak. Ia tiba-tiba beranjak pergi, berjalan menuju halaman belakang seorang diri. Pria itu duduk di pendopo sambil merokok menatap kolam ikan, ia berusaha menjernihkan kepalanya.


"Kenapa itu orang?" tanya Bowo. Ia mengambil lembaran kedua yang membuat Mahari dan Santi berwajah murung. "Siapa orang ini?"


"Namanya Yudha Kiranata," jawab Santi. "Dia sahabat dekat Mahari dulu." Sejenak wanita itu terdiam. "Waktu di asosiasi, kami bertiga adalah bawahan Kapten Kanigara."


Mendengar nama Kanigara membuat Yasa melupakan permainannya dan fokus pada wanita itu. "Kanigara?"


"Ya, cerita lama. Aku, Mahari, dan Yudha itu bawahan langsung Gusti Kanigara, ayahmu."


"Saya tau bahwa bos merupakan kenalan ayah, tapi siapa yang menduga kalo ternyata ...."


Santi tersenyum pada Yasa. "Hubungan Gusti dan Mahari persis kayak kamu dan pria itu sekarang. Sejak kecil Mahari hidup sebatang kara."


"Oke, Tantra yang bakal ngurus misi tanpa predikat ini," ucap Mahari. "Tapi kami butuh support dana, akses, dan informasi."


"Pasti. Kalian dapet benefit itu karena misi ini bukan sembarangan misi," balas Santi. "Dan ini sekadar spekulasi dari gua aja." Wanita itu menatap serius ke arah bola mata Mahari. "Kemungkinan dua orang ini saling terkoneksi. Enggak ada bukti, tapi firasat gua bilang mereka saling terhubung lewat sebuah wadah."


"Organisasi gelap?" tanya Mahari.


"Cuma firasat, tapi perlu diwaspadai. Seumpama jumlah mereka lebih dari dua, jangan sembarangan bergerak. Asosiasi juga butuh laporan."


"Enggak perlu. Tantra sendiri udah lebih dari cukup buat bungkus semuanya," timpal Mahari.


"Oke." Sinta menatap jam tangannya. "Udah waktunya gua pergi." Ia bangun dan hendak berjalan pergi, tetapi sekali lagi ia menoleh ke arah Mahari. "Mahari."


Mahari menatapnya tanpa kata. Tatapan pria itu seperti marah, tetapi terlihat tenang di luarnya. Sudah lama Sinta mengenal pria itu, ia satu-satunya yang mengerti gelagat Mahari.


"Jangan memaksakan diri," lanjut Sinta.


"Santai. Gua punya pasukan yang bisa diandalkan," jawab Mahari.


Sinta tersenyum, lalu pergi meninggalkan Tantra. Seperginya wanita itu, semua menatap ke arah Mahari.


"Lu dulu anggota asosiasi juga kayak mbak Santi, Mas?" tanya Bowo.

__ADS_1


Wajah Mahari berubah. Ia menggaruk kepala sambil terkekeh. "Yah elah ... dia bilang-bilang, ya?"


"Iya."


"Ya gitu deh, dulu suka bersih-bersih di sana," jawab Mahari.


Yasa memicing. "Bersih-bersih doang?"


Mahari mengangguk malu. "Iya, bersihin kotoran sama sampah-sampah."


...****************...


Stasiun Solo Balapan.


Suasana stasiun malam ini cukup ramai, mengingat sudah memasuki pekan liburan. Banyak mahasiswa yang ingin pulang ke kampung halamannya, dan ada pula yang baru pulang merantau dari kota lain.


Suara gending gamelan memeriahkan area stasiun.


Tiba-tiba seorang wanita yang sedang berjalan membawa tas bertingkah aneh dengan melakukan tarian adat di tengah keramaian. Ia menjadi pusat sorotan semua orang yang berada di stasiun.


Di sisi yang berbeda seorang pria melakukan hal yang serupa. Namun, ternyata bukan hanya dua orang itu saja. Dalam hitungan detik satu per satu orang di stasiun melakukan tarian senada.


Beberapa orang mengabadikan momen tersebut dengan kamera dan ponsel mereka. Awalnya semua mengira ini adalah sejenis flashmob atau prank. Sampai pada satu titik, mereka menyadari bahwa yang terjadi sebenarnya adalah kesurupan masal.


Suasana tiba-tiba mencekam dan riuh. Semua sibuk berlari. Ada yang berlari kabur, ada juga yang berusaha menolong korban kesurupan. Namun, karena jumlah korban yang semakin meningkat, area stasiun tak bisa kondusif.


Di tengah kekacauan yang terjadi, seorang pria dengan kemeja putih dan setelan jas hitam berjalan melewati kegaduhan. Setiap orang yang ia lewati mendadak langsung kesurupan. Tiap langkahnya seolah mengandung hawa mistis.


Dengan santai ia berjalan sambil membaca buku dengan tangannya yang berbalut sarung tangan hitam.


"Berhenti!" seorang Arkana yang kebetulan berada di tempat itu menyadari situasi dan segera melakukan pencegahan.


Pria yang terlihat seperti seorang bisnisman itu melirik sejenak pada orang yang menghadangnya, lalu hendak melangkah kembali mengabaikan orang tersebut.


"Tarik semua roh jahat yang kau bawa ke sini, atau aku akan ...."


"Apa?" tatapnya tajam sambil menutup buku bacaannya. "Akan membunuh ku?"


"Jika terpaksa begitu, maka tidak ada jalan lain."


Pria bangsawan itu menunjuk ke arah belakang Sang Arkana. "Hati-hati, yang satu itu berbahaya loh."


Sang Arkana menoleh. Matanya terbelalak menatap raksasa hitam yang berdiri di belakangnya. Ukurannya lebih besar dua kali lipat dari Buto Geni.


Sebuah gada besar menghantam Sang Arkana dari belakang hingga membuatnya terpental membentur tembok. Kepalanya mengeluarkan banyak darah akibat benturan keras dengan dinding stasiun.


"Nah, kan mati," ucap si pria berjas hitam. Ia kembali membuka bukunya dan meneruskan langkah. "Harusnya pura-pura enggak liat aja."

__ADS_1


__ADS_2