Sang Arkana : Para Pemburu Iblis

Sang Arkana : Para Pemburu Iblis
Pahlawan


__ADS_3

Slamet dan Rizky sudah hampir kehabisan napas menghadapi setan-setan yang berdatangan. Sesekali mereka melirik ke arah Kapten mereka yang sedang berhadapan dengan pengkhianat Ratnakusuma. Pertempuran antara Adit dan Yudha semakin memanas.


"Lama enggak ketemu, api lu agak dingin," ucap Aditya memprovokasi.


Yudha membalas ucapan Adit dengan senyum tipis. "Yaaa—kita liat aja." Tiba-tiba, tubuhnya diliputi oleh aura hitam yang membara.


Adit kembali memasang kuda-kuda, lalu maju terlebih dahulu sebelum Yudha menyerang. Meskipun sudah melapisi dirinya dengan atma, tetapi hawa panas dari aura kegelapan milik Yudha masih terasa menyengat.


Yudha menggenggam kalung tengkorak yang ia kenakan. "Rajah nyala kelam," gumamnya lirih. Api hitam menyelimuti tangan Yudha. Ia menatap datar pada Adit lalu memukulnya dari jauh, melepaskan bola api hitam ke arah Aditya.


Adit memukul bola api hitam itu dengan tinju berlapis atma api merahnya hingga membuat serangan Yudha melebur bersama angin malam. Namun, begitu bola api itu sirna, sosok Yudha sudah berada tepat di hadapannya.


Pria itu melepaskan pukulan cepat ke wajah Adit, tetapi Adit menangkap kepalan tangan yang hampir menghantam wajah tampannya tersebut. Dengan cepat Yudha melesatkan lutut kirinya untuk menghantam perut Adit, tapi Adit menahan lutut Yudha dengan satu tangannya yang menganggur. Belum cukup sampai di situ, tangan kiri Yudha melepaskan pukulan yang berhasil mengenai wajah Aditya, membuat sang kapten mundur beberapa langkah.


"Kurang panas?" tanya Yudha menatap lebam hangus di pipi Adit.


Adit memegangi luka di wajahnya sembari pandangannya menyorot tajam pada Yudha. "Lumayan."


Pertempuran panas ini terus berlanjut lebih panas lagi.


...****************...


Ratnakusuma.


Arkanta masih berjalan ke arah Dursasana menggenggam pedang Mahesageni. Di belakangnya ada Bima dan Santi yang mengikuti.


Dursasana memandang ke arah mereka dengan senyum sombong sambil merendahkan posisi tubuhnya, bersiap untuk menerjang siapa pun yang berani keluar dari gapura.


"Temani aku sampai akhir, Mahesageni," tutur Arkanta. Seketika itu pedang miliknya bermandikan api biru. Pria bertatapan dingin itu mengambil langkah pertamanya, berlari cepat ke arah Dursasana. Api biru di pedangnya berkobar dibelai angin.


Darah Dursasana mendidih melihat semangat manusia yang berlari ke arahnya. "Jangan cepat mati, ya." Iblis itu menghilang dari pandangan mereka bertiga, menyisakan retakan tanah pada tempatnya berpijak.


"Arkanta, awas!" seru Santi.


Dalam sekejap, kepalan tinju Dursasana sudah berada tepat di hadapan wajah Arkanta begitu pria tersebut melewati sejengkal gapura Ratnakusuma.


Namun, Dursasana terbelalak ketika pukulannya tak mengenai apa pun. Arkanta menghentikan langkahnya tepat sebelum keluar gapura, ia memiliki akselerasi yang tajam dan gerakan yang halus seperti ilusi sehingga sering mengecoh lawannya.


Arkanta yakin Dursasana pasti maju. Ketika iblis itu sudah tak mampu mengelak karena kehilangan pijakan, Arkanta melanjutkan langkahnya yang tertahan, menerjang ke depan dengan pedang yang ia ayunkan ke leher Dursasana.


Kini giliran Arkanta yang terbelalak ketika ayunan pedangnya gagal membunuh Dursasana. Iblis itu mendorong kepalanya ke depan dan menggigit pedang Mahesageni dengan giginya yang taring semua.


Arkanta tak mampu menarik kembali pedangnya. Di sisi lain Dursasana yang sudah berpijak lagi di tanah hendak menghajarnya dengan tinjunya.


Namun, lagi-lagi pukulan itu gagal mengenai sasaran. Arkanta mundur, melepaskan pedang Mahesaheni yang tertinggal di mulut Dursasana.


Bima datang. Ia melompat tinggi ke udara dan mengejutkan Dursasana dari atas dengan pukulan berkekuatan penuh. Pukulan itu menghantam telak Dursasana hingga kepalanya mencium tanah.


"Bajingan!" umpat Dursasana mendongak menatap penuh amarah pada Bima.


"Aku sudah pernah bilang, begitulah seharusnya kalian para iblis melihat manusia," ucap Bima.


Dursasana memutar tubuhnya dan bangkit sambil membuat pusaran angin. Pisau-pisau angin melesat secara acak membombardir area depan Ratnakusuma.

__ADS_1


Arkanta berguling mengambil pedangnya kembali dan bertukar posisi dengan Bima. Kini ia berdiri di depan kedua rekannya dan melindungi mereka berdua dari serangan Dursasana.


Pada satu titik, Dursasana berhenti berputar dan melebarkan kakinya, ia menempelkan telapak tangan ke tanah sambil menggumamkan sesuatu dengan bahasa yang tak dimengerti. Sebuah sigil pentagram terbalik muncul di tanah, berpusat pada telapak tangan iblis itu. Dalam sekejap Dursasana menghilang dari pandangan ketiga lawannya. Meninggalkan suasana yang mendadak sunyi. Di tengah kesunyian itu rasanya tenang, tetapi riuh, seperti Arkanta sedang diintai oleh kematian.


"Mati."


Arkanta merinding ketika mendengar bisikan Dursasana dari arah kiri. Ia sontak mengayunkan pedang Mahesageni ke sisi kirinya, tetapi ternyata tak ada siapa pun di sana. Sebaliknya, di sisi kanan Arkanta, Dursasana sudah siap menghantamnya dengan telapak tangan. Iblis itu menipunya dengan memanipulasi angin untuk menghantarkan suaranya ke sisi kiri Arkanta.


"Dahana bhumi wira," gumam Arkanta sembari menancapkan Mahesageni ke tanah dengan gerakan cepat. Seketika itu sebuah pilar api biru muncul dengan Arkanta yang menjadi pusat pondasi, membakar Dursasana yang hampir menyerangnya.


Dursasana menjerit akibat terbakar api biru dari Mahesageni, tetapi ia masih sanggup bergerak dan tetap berusaha menyerang Arkanta. Iblis itu menendang Arkanta menerobos dinding pilar api birunya hingga mengenai lengan kiri Sang Komandan. Arkanta terpental hingga membentur dinding Ratnakusuma.


"Arkanta!" seru Santi.


Pria tampan itu bangkit kembali, berdiri dibantu pedangnya. "Aku tidak apa-apa." Tangan kirinya menjuntai ke bawah seperti mainan yang terlihat lemas. "Cuma patah sedikt."


Santi berkeringat melihat pria terkuat di Ratnakusuma tersebut mendapatkan luka yang cukup serius. Tentu saja dengan satu tangan, kekuatan tempur Arkanta berkurang drastis. Di sisi lain, saat ini Santi tak mampu membantu banyak, sebab keris Kinatah menghilang entah ke mana tepat sebelum ia berangkat.


Namun, sepertinya Dursasana juga mendapatkan luka yang cukup serius. Wadahnya hampir hancur karena nekat menerobos pilar api biru Mahesageni. Api biru milik pedang itu bukan main-main. Mahesageni mampu membunuh iblis kelas atas.


"Setidaknya Dursasana juga melemah berkat Komandan," tutur Bima. "Sekarang giliranku yang maju."


Dursasana menempelkan telapak tangannya. "Nirwana dosa," gumamnya. Kali ini ia berniat serius untuk menghabisi ketiga manusia di depannya.


Mendadak aura membunuhnya kembali terpancar hingga membuat Arkanta, Bima, dan Santi merinding.


Dursasana yang tersudut akhirnya mengeluarkan salah satu jurus andalannya. Dari berbagai sudut, bayangan di sekitarnya membentuk gelombang kegelapan yang mengelilingi mereka semua. Iblis berwujud anak laki-laki itu tertawa dengan jahat, seolah menikmati ketakutan yang terpancar dari wajah lawannya.


Mereka bertiga terjebak dalam pusaran kegelapan. Rasanya, gelombang kegelapan ini semakin mencekik, membuat ketiga manusia itu kesulitan untuk bernapas. Arkanta merasa tak berdaya, kekuatannya seolah terhisap habis oleh kegelapan Dursasana. Api biru yang menyelimuti Mahesageni pun mendadak padam.


Santi berusaha memperkuat auranya untuk mengusir kegelapan Dursasana, tetapi kemampuannya seolah terhisap oleh kegelapan Nirwana Dosa.


Dursasana berjalan ke arah mereka sambil tertawa. "Berusahalah, manusia! Itu kekuatan kalian, kan? Berusaha."


Tawanya tiba-tiba pecah menjadi diam ketika kegelapan Nirwana Dosa tiba-tiba lenyap tanpa sisa. Dursasana sontak menatap ke arah atap Ratnakusuma. Di sana ada seorang pria yang sedang duduk menatapnya.


Pria itu memandang tajam pada Dursasana. Rambutnya panjang dan diikat rapi dalam sanggul tinggi yang melambangkan kebijaksanaan. Helai demi helainya berayun-ayun ditiup angin malam.


Di sisi lain Santi tersenyum. "Pantas saja keris Kinatah pergi, rupanya pemilik aslinya sudah datang."


"Apa yang kau lakukan di sini, Wirocana?!" tanya Dursasana.


"Kau bilang manusia itu rendah, kan? Tapi kenapa harus serius melawan makhluk serendah manusia, Dursasana?" tanya Wirocana balik dengan suara yang menenangkan.


...****************...


Tantra.


"Sambutlah empat jendral perang ku, tetra pralaya," ucap Darto menatap ke arah Bowo. "Merekalah yang akan membunuh mu."


Bowo dan Yasa meneguk ludah. Dari auranya saja mereka paham bahwa keempat makhluk itu memiliki kekuatan yang mengerikan ketimbang makhluk lain yang mengerubungi Tantra.


"Raksasa," ucap Darto melirik ke arah iblis berukuran besar dengan tubuh yang dilapisi dengan baju besi hitam.

__ADS_1


Makhluk tersebut maju satu langkah sambil menatap ke arah bowo.


"Bunuh dia," lanjut Darto.


Mendengar perintah tuannya, Raksasa langsung melesat maju ke arah Bowo.


Pria botak tersebut terbelalak ketika makhluk sebesar itu mampu bergerak sangat cepat ke arahnya sambil menyeret gada besar.


Bowo pun bergerak, ia berusaha melawan meskipun tubuhnya gemetar. Pria botak itu seperti dihadapkan satu lawan satu dengan Buto Geni. Hanya saja makhluk yang satu ini lebih kecil ukurannya dari Buto Geni, tetapi kecepatannya tak masuk akal. Makhluk tersebut mengayunkan gadanya menyamping.


'Sial, enggak bisa menghindar kalo nyamping gitu'. Pikir Bowo.


Bowo mengumpulkan atma di tangannya dalam waktu singkat, lalu memukul gada tersebut dengan tinjunya.


Darto melirik ke arah Manta yang tiba-tiba berguling menjauh darinya, lalu bangkit dan berlari ke arah Bowo. Ia ikut membantu Bowo menahan gada itu dengan Bengisura.


Hanya saja, secepat peluru Bowo dan Manta terpental ke arah Yasa, menabrak bocah itu hingga membentur jendela depan sampai pecah dan hancur. Mereka bertiga berhamburan di lantai ruang tamu.


Darto berjalan ke arah mereka dengan santai. Ia menyeret pedangnya hingga mengeluarkan suara yang membuat ketiga orang itu semakin dilanda ngeri. Pada satu titik, Darto menunjuk ke arah Yasa.


"Kalau kau memilih ikut dengan damai, mungkin aku bisa melepaskan kedua teman-temanmu," ucap Darto.


Yasa bangkit dengan goyah. Terbesit pikiran untuk menyerah karena rasa takut kehilangan lagi. Ia takut Bowo dan Manta mati konyol hanya untuk dirinya yang tak berguna. Namun, di saat ia hendak berkata-kata, Bowo menepuk pundaknya.


"Yasa enggak akan ke mana-mana," jawab Bowo tegas sambil bangkit dan berjalan ke depan Yasa, melindunginya.


"Ini adalah rumah Yasa, dan tidak ada yang boleh membawanya pergi," sambung Manta yang berdiri di samping Bowo.


Darto menghela napas, lalu menatap ke arah Bowo dan Manta. "Negoisasi berakhir. Mereka berdua haru—"


Sebuah batu menghantam kepala Darto. Pria itu mengusap darah yang mengalir di keningnya dengan punggung tangan. Perlahan ia menoleh ke arah gapura.


"Jurus tempongan anjing," ucap Mahari.


"Kau tahu apa yang baru saja kau perbuat?" tanya Darto yang berpindah tatap dari darah di sarung tangan hitamnya ke arah pria gondrong dengan poni belah tengah yang berjalan semakin dalam ke arahnya.


"Yaaa—baru aja nyelametin nyawa murid-murid sendiri sih," jawab Mahari. "Lagi juga, masih punya nyali? Inget aku, kan? Itu loh, situ kan kabur dari rooftop hotel waktu di Surakarta?"


Darto memicing. "Jadi kau yang waktu itu datang bersama Arkanta?"


Mahari tertawa. "Yoi."


"Harusnya kau bersyukur, waktu itu aku lari dari Arkanta. Sekarang pria itu tidak di sini, seharusnya kau khawatir."


"Justru harusnya waktu itu Arkanta yang khawatir seandainya enggak ada orang hebat ini." Mahari menunjuk dirinya sendiri.


"La-ri, bos Ma-hari," gumam Yasa terbata-bata.


"Mahari?" tanya Darto. Ia mengacungkan pedangnya ke arah Mahari sambil tangan kirinya memegang buku hitam. "Jadi kau orangnya? Mahari Sagara, Sang Raja Arwah."


Mahari tersenyum padanya. "Sebaiknya kau pergi sekarang, mumpung aku masih bersikap seperti orang bodoh."


"Malam ini. Aku, Darto Sagara, akan merebut gelar Raja Arwah itu darimu. Keluarkan pasukanmu, Raja!"

__ADS_1


__ADS_2