
'Pamor' adalah istilah yang merujuk pada suatu pola atau hiasan yang terdapat pada senjata tradisional Jawa, seperti keris. Sementara 'Ksatria' bermakna prajurit.
Pamor Ksatria Yogyakarta bisa diartikan sebagai ukiran senjata ksatria yang melindungi Yogyakarta. Senjata yang dimaksud di sini adalah para Arkana yang menjadi cahaya dalam menumpas kegelapan. Itulah slogan yang terpampang di gapura markas besar asosiasi pemburu iblis ranting Jogja, Ratnakusuma.
Saat ini Bowo sudah memasuki gapura Ratnakusuma dan memarkirkan motornya. Ia tertegun melihat bagian depan bangunan yang dihiasi dengan ukiran batik pada kayu-kayunya, mencerminkan motif kekayaan budaya Jawa. Tempat ini juga memiliki halaman luas dengan taman yang rapi dan pepohonan yang rindang. Di bagian depan halaman, sebelum pintu masuk, terdapat kolam dengan patung-patung yang menggambarkan tokoh-tokoh legendaris dari sejarah Yogyakarta.
Wibowo terlihat seperti orang kikuk yang ragu, tetapi karena sudah terlanjur sampai di sini, ia pun memberanikan diri untuk melangkah masuk ke dalam markas besar asosiasi pemburu se-Jawa Barat itu. Setelah melewati kolam, Bowo membuka pintu besar yang terbuat dari kayu, sejenak ia terdiam memandang keindahan Ratnakusuma. Ini pertama kalinya ia mengunjungi markas asosiasi. Bagian dalam bangunan ini memiliki arsitektur yang megah dan menggabungkan elemen-elemen tradisional Jawa dengan sentuhan modern yang halus.
Lobi utama dihiasi dengan ornamen ukiran yang indah dan patung-patung kecil yang menggambarkan cerita-cerita epik dari mitologi Jawa. Di dalam bangunan ini, terdapat ruangan-ruangan yang digunakan untuk pertemuan, pameran seni tradisional, dan acara budaya lainnya.
Selain menjadi markas pusat para Arkana di daerah Jawa Tengah, bangunan Ratnakusuma juga sering digunakan sebagai tempat untuk pentas seni tradisional seperti wayang kulit, tari-tarian Jawa, dan musik gamelan untuk orang biasa. Ratnakusuma menjadi tempat di mana budaya Yogyakarta terus hidup dan berkembang, menjadi tempat bagi masyarakat dan pengunjung untuk merasakan keajaiban seni dan kekayaan budaya Jawa yang telah diturunkan dari generasi ke generasi.
"Udah sarapan, Wo?" tanya Santi yang rupanya sudah menunggu di lobi.
Bowo menoleh ke arahnya. "Nanti paling, mbak. Pulang dari sini."
"Santai aja, makan dulu yuk."
Bowo berjalan mengikuti Santi ke sebuah kantin yang cukup besar. Di sana ada beberapa penjual yang menyajikan berbagai jenis makanan.
"Pesen aja, Wo. Nanti bilang sama yang jual, Santi yang bayar," ucap Santi.
"Duh, jadi enak nih," balas Bowo.
"Lama-lama kayak Mahari kamu, Wo. Udah sana, toh kalo mbak main ke Tantra juga sering dikasih sarapan."
Bowo terkekeh. Ia berjalan ke salah satu penjual dan membeli nasi gudeg. Setelah itu ia kembali ke meja tempat Santi menunggu.
"Makasih loh, mbak," ucap Bowo.
"Sama-sama. Eh, Wo, kamu udah bilang Mahari soal ini, kan?"
__ADS_1
"U-udah kok, Emang kenapa mbak?"
"Kayaknya Mahari ngelarang kalian buat gabung ke asosiasi deh. Bener enggak?"
"Iya sih, tapi itu dulu. Sekarang udah beda. Lagian juga dia siapa ngatur-ngatur kita?"
Santi menggeleng. "Biarpun aneh begitu dia kan atasan kamu, Wo."
"Intinya enggak ada masalah kok kalo aku gabung. Toh, tempat ini bukan tempat ngumpulnya orang-orang jahat, kan?"
"Ya udah, kalo emang mau gabung ke asosiasi tunggu di sini sebentar sambil makan, ya. Mbak mau ambil formulir dulu." Santi berjalan pergi meninggalkan Bowo seorang diri di meja.
Bowo duduk sendirian di meja yang cukup sepi di sudut kantin. Ia melihat sekeliling, mengamati beberapa orang yang juga sedang makan di sana.
"A!" Bowo sontak berdiri dan menunjuk ke arah seorang pria yang wajahnya ia kenali dengan tangan kirinya.
Pria itu juga menatap Bowo sambil memicing. Namun, ia hanya diam dan mengamati pria botak yang sedang menunjuk ke arahnya.
"Kemarin dia yang nolongin aku, mbak."
Bima tiba-tiba berdiri. Ia menghampiri Bowo dan Santi yang sedang duduk bersama. Pria itu menatap tangan kanan Bowo.
"Seharusnya tangan mu belum sembuh," ucap Bima.
Bowo memang pria bangor. Ia melepaskan gips di tangannya pagi tadi karena merasa kesulitan beraktivitas. Kini si botak itu menggerakkan jari-jari tangan kanannya di depan Bima seolah sudah sembuh total.
"Tenang, udah sembuh kok, Mas," ucap Bowo tersenyum. Ia meletakkan tangan kanannya di atas meja.
Bima tiba-tiba mengangkat kakinya tinggi-tinggi dan dengan cepat melesatkannya hendak menghantam tangan Bowo yang berada di atas meja.
Apa yang dilakukan Bima membuat semua orang yang ada di kantin berkeringat. Santi pun tak menduganya dan refleks bangkit untuk menghentikan pria itu, tetapi tak sempat.
__ADS_1
Kaki itu mengambang tepat beberapa senti di atas tangan kanan Bowo yang gemetar. Bima menatap wajah takut Bowo.
"Terlalu percaya diri bisa menahan tendangan ku atau terlalu sakit untuk digerakkan?" tanya Bima.
Wibowo tertunduk. Ia hanya mampu diam tanpa jawaban. Lagi pula ia tahu bahwa pria yang sedang mengujinya itu tak butuh jawaban untuk sebuah pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya.
"Memaksakan diri dalam pertempuran itu harus, tapi memaksakan diri di saat pemulihan itu bodoh. Seandainya Dursasana muncul lagi tiga hari dari sekarang, apa kau siap menghadapinya dengan kondisimu saat ini? Tindakan gegabah mu hanya akan memperlambat pemulihan mu sendiri," tutur Bima.
Bima menurunkan kakinya kembali dan menunduk sebagai permintaan maaf pada Santi karena tindakannya. Santi hanya mampu menghela napas karena paham sifat dan tingkah laku Bima.
"Bim, anak ini mau gabung sama kita. Jangan ditakut-takutin," ucap Santi.
Bima mengerutkan kening. "Standar asosiasi semakin hari semakin menurun," ucap Bima. Kini ia duduk di samping Santi, menghadap ke arah Bowo. "Mana tangan terkuat mu?"
Bowo melirik ke arah tangan kanannya yang masih jauh dari kata sembuh. Melihat arah pandang Bowo, Bima menempelkan siku tangan kirinya di atas meja. "Maju sini." Ia menantang Bowo adu panco.
Bowo menatap Santi, dan Santi hanya tersenyum padanya. "Anggap ini ujian masuk. Kalo menang, kamu bakalan gabung di bawah Kapten Bima Harimukti," tutur Santi.
"Jadi, mana tangan terkuat mu?" tanya Bima lagi dengan sorot mata yang tajam.
Bowo memberikan tangan kirinya. "Tangan terkuat ku sedang beristirahat. Sampai dia pulih, tangan kiri ini yang akan berjuang."
"Salah." Bima masih menatapnya tajam. "Tidak ada yang terkuat antara tangan kanan dan kiri, sebab mereka berdua memang yang terkuat."
Begitu tangan mereka bersentuhan, tekanan yang besar dirasakan Wibowo seolah ada batu besar di pundaknya. 'Apa-apaan ini orang?'
"Wo, Bima itu Ambidextrous. Dari dulu dia ngebiasain kedua tangannya sampe enggak ada dominasi di antara salah satunya dan punya kekuatan yang relatif seimbang," ucap Santi. "Kira-kira gimana nih nasib kamu?"
Bowo tak membalas perkataan Santi. Pandangannya hanya terfokus pada tangannya sendiri dan Bima yang akan segera melakukan adu panco.
Melihat ekspersi wajah Bowo yang serius, Santi menempelkan telapak tangannya pada kedua tangan pria itu seperti seorang wasit, lalu mengangkatnya. "Mulai!"
__ADS_1