Sang Arkana : Para Pemburu Iblis

Sang Arkana : Para Pemburu Iblis
Hari Yang Sendu


__ADS_3

Hari berganti, waktu pun enggan menunggu. Siang ini Bowo sedang duduk di taman Ratnakusuma sambil melatih tangan kirinya dengan mengangkat barbel kecil. Saat ia sedang melamun, tak sengaja matanya menangkap kehadiran Anik yang berjalan dari gapura menuju pintu utama.


"Anik," panggil Bowo.


Anik menoleh ke arah pria itu, lalu mendekat. "Ya? Kenapa?"


"Abis dari mana?"


"Abis ngambil laptop, sekalian ke percetakan tadi," jawab Anik.


"Lagi sibuk?" tanya Bowo.


"Enggak sih, cuma lagi ngurusin berkas aja, tapi baru aja selesai," jawab gadis itu. "Kenapa?"


"Aku mau ngobrol sebentar boleh? Ada sesuatu yang mau aku tanyain."


"Santai kok, tanyain aja." Anik duduk di bangku yang sama dengan Bowo.


"Kenal Mahari Sagara?" tanya Bowo. "Dia mantan anggota asosiasi."


Anik tampak sedang berpikir. "Enggak kenal sih."


Bowo memaksakan diri untuk tersenyum. "Oh, ya udah enggak apa-apa."


"Tapi tau kok. Cuma enggak kenal secara langsung aja. Soalnya aku baru tiga tahunan di sini, sementara dia udah sekitar sepuluh tahun lalu keluar," sambung Anik. "Nama Mahari Sagara udah melegenda di sini."


"Apa yang kamu tau tentang dia?" tanya Bowo.


Anik menggembungkan pipinya sambil berpikir kembali. "Enggak banyak sih. Soalnya cuma denger sekilas-sekilas aja, bukan yang jadi topik obrolan utama. Intinya dia nanganin kasus besar dan dicap sebagai pahlawan, tapi ditendang dari asosiasi karena beberapa masalah. Itu aja sih paling."


"Kalo tragedi jathilan berdarah? Pernah denger itu?" bisik Bowo.


"Anik," ucap suara tenor seorang pria.


Sontak Bowo dan Anik menoleh pada pria berjubah biru gelap yang sedang bersandar di pohon, tak jauh dari posisi mereka berbincang.


Anik langsung berdiri. "Aku pergi dulu, Wo. Masih ada urusan." Gadis itu melangkah pergi meninggalkan Bowo dan sejuta tanda tanya padanya.


Kini Bowo hanya mampu diam sambil menatap pria berjubah biru yang muncul tiba-tiba tanpa disadari kehadirannya itu. Rasanya kehadiran pria tersebut membuat Anik takut dan memilih pergi.


"Lu cari apa di sini?" tanyanya pada Bowo.


"Enggak cari apa-apa," jawab Bowo.


Bowo terbelalak ketika sebuah mata pisau hampir merobek lehernya. Pria itu melesat cepat tanpa bisa diikuti pergerakannya. Saat ini ia bisa saja membunuh Bowo kapan pun ia mau.


"Kenapa nanya soal Mahari dan tragedi jathilan berdarah?" tanyanya lagi.


"Arjuna," panggil suara berat pria dari arah belakang Bowo.


Pria berjubah yang bernama Arjuna Sadajiwa itu menatap ke arah Bima Harimurti yang baru saja tiba di Ratnakusuma.


"Orang itu bawahanku," sambung Bima.

__ADS_1


Arjuna melepaskan Bowo dan melangkah mundur menjaga jarak. "Baiknya sih lu ajarin tata krama di sini, Bim. Tragedi jathilan berdarah bukan sesuatu yang bisa dikorek seenak jidat."


"Sebelum gabung di sini, pemuda itu bawahan Komandan Mahari," ucap Bima.


Mata Arjuna berkedut ketika mendengar nama Mahari keluar dari mulut Bima dan sontak menatap ke arah Bowo sambil menunjuknya. "Orang ini? Bawahan Mahari?"


Totalnya sudah dua orang yang bertingkah seperti itu, dan keduanya berpangkat Kapten. Pertama Aditya Wirabuana dan yang kedua Arjuna Sadajiwa. Bowo semakin penasaran tentang masa lalu Mahari. Sebenarnya orang seperti apa Mahari itu? Dan lagi ... baru saja Bima menyebutnya Komandan? Seorang pengecut yang hanya bisa lari dan bersembunyi? Banyak pertanyaan dan pikiran yang mengganggu Bowo, tetapi saat ini ia tak berani tanyakan.


"Bima! Arjuna!" teriak Santi dari jendela samping. "Kita meeting ya, banyak yang mau kita bahas mumpung kalian udah balik!"


Dipanggil seperti itu membuat kedua pria itu menoleh ke arah Santi. Bima kembali melanjutkan langkahnya, sementara sosok Arjuna sudah tak berada di tempatnya berdiri. Entah kapan orang itu pergi, Bowo pun tak menyadarinya. Hawa kehadirannya sangat tipis.


...****************...


Di ruangan meeting yang cukup megah ini, Santi dan kedua kapten yang baru saja tiba di markas langsung duduk bersama.


"Gimana perjalanan kalian?" tanya Santi.


"Intensitas gangguan roh jahat menggila di perkotaan, sementara di daerah pedalaman tidak terlalu mencolok," ungkap Bima. "Pola ini terlihat seperti mereka sedang cari perhatian."


"Berita lebih cepet nyebar di kota ketimbang pedalaman," sambung Arjuna. "Sebenernya apa tujuannya?"


"Aktivitas ghaib ini emang ulah seseorang. Bisa dibilang bukan bencana alam, tapi bencana buatan," timpal Santi. "Tujuan mereka adalah menyebar kekuatan tempur kita yang sedikit."


"Untuk?" tanya Bima mengerutkan kening.


"Kebangkitan sebelas rudra," jawab Santi. "Mereka mengincar Kanigara terakhir yang bisa merapalkan mantra kebangkitan."


Santi menghela napas. "Nah, makanya itu aku minta kalian balik kanan. Mahari ilang."


Mendengar ucapan Santi, kedua kapten ini saling bertatapan seolah tak percaya.


"Jun, aku mau kamu cari informasi di mana Mahari."


Arjuna bangkit dari duduknya. "Segera."


"Bim, kamu tolong pantau Tantra dua hari ini. Seumpama ada sesuatu yang mencurigakan, langsung lapor."


"Oke." Bima pun bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruangan bersama Arjuna.


...****************...


Di tempat yang berbeda, Yasa sedang berkeliling jalan siang ini. Ia mengunjungi satu tempat makan ke tempat makan lain, berharap menemukan Mahari di jam makan siangnya.


Namun, jangankan menemukannya, semua orang yang ada di sana pun tak pernah melihat Mahari hampir seminggu ini.


Yasa menghela napas berat, lalu berjalan pulang ke Tantra. Ia duduk di kursi teras seperti yang biasa Mahari lakukan setiap pria itu sedang merasa suntuk. Bedanya, tak ada secangkir kopi atau teh yang menemani Yasa.


"Di mana itu orang?" gumam Yasa bermonolog.


Di tengah badai dalam diri Yasa yang semakin bergemuruh, sosok Bowo berjalan dari arah gapura dan berujung di kursi sebelah Yasa.


"Tumben lu jam segini udah pulang? Diusir lu sama asosiasi gara-gara muka lu mirip tuyul gede?" tanya Yasa.

__ADS_1


"Sekarang sampe besok gua enggak akan ke mana-mana. Seenggaknya, gua enggak akan biarin lu sendirian," balas Bowo. "Berabe kalo jin tomang kecil modelan lu keculik."


"Yah elah, santai. Sendirian pun gua bisa bertahan."


"Yas, lu inget enggak sih?" tanya Bowo dengan suara lirih.


"Inget apa?" tanya Yasa balik


"Biasanya Mahari selalu ngumpet di belakang kita. Mungkin aja sekarang dia cuma lagi ngumpet lagi. Musuh kita kuat." jawab Bowo.


Yasa tertawa tipis. "Bisa jadi sih, nginget dia orang yang cuma gede mulut."


"Tapi ya, meskipun dia begitu. Ternyata di asosiasi dia cukup dihormatin. Dulunya Mahari itu mantan Komandan," ucap Bowo.


"Komandan, ya? Dari dulu gua percaya kalo sebetulnya dia itu sakti sih." Yasa tersenyum. "Meskipun ya—ngeliat sikapnya mungkin banyak yang enggak akan percaya juga."


"Emang lu pernah liat?" tanya Bowo.


Yasa menggeleng. "Enggak sih. Cuma beberapa tahun ini kepikiran aja kalo dia berhasil selamat dari tragedi jathilan berdarah, berarti dia punya kekuatan yang hebat."


"Salah satu kekuatan terhebat manusia itu adalah keberuntungan, Yas," celetuk Bowo diiringi kekehan.


Yasa ikut terkekeh. "Ya, biasa jadi. Mungkin Mahari adalah orang yang tingkat kehokiannya tinggi."


"Buat sekarang kita enggak bisa ngandelin siapa-siapa. Kita harus jadi lebih kuat demi diri kita sendiri," ucap Bowo.


"Ya, bener lu, tak."


...****************...


Waktu kembali berlari, menenggelamkan matahari ke dasar kegelapan. Di dalam hutan yang gelap, seorang pria tampan dengan sorot mata tajam dan dingin berdiri, bersandar pada sebuah pohon tua raksasa. Malam itu, angin berbisik dengan riuh, dan cabang-cabang pohon di sekitarnya terlihat seperti tangan-tangan yang mencoba meraih pria itu ke dalam kegelapan yang lebih pekat.


Tiba-tiba, dering ponsel memecah keheningan hutan yang mengerikan tersebut. Meskipun suasana di hutan itu menegangkan, ia mengangkat ponselnya dengan wajah datar seolah biasa saja.


"Akhirnya bisa ditelpon!" ucap suara Santi dari balik panggilan. Wanita itu terdengar begitu tegang seakan ada sesuatu yang mendesak. "Posisi di mana, Ta?"


Arkanta Dananjaya namanya, Komandan tertinggi di Ratnakusuma. Ia masih terdiam sambil menatap kilatan-kilatan cahaya di dalam hutan.


"Alas Roban," jawab Arkanta dengan singkat dan datar.


Dalam panggilan tersebut, Santi memberitahunya bahwa markas pusat sedang mengalami masalah yang sangat serius dan meminta Sang Komandan untuk segera menyelesaikan perburuan iblisnya di hutan Alas Roban dengan cepat, lalu kembali sebelum matahari terbenam besok.


Kilatan-kilatan cahaya di antara cabang-cabang pohon seketika itu berhenti, menciptakan suasana gelap yang mencekam di sekitar Arkanta.


Di tengah ketegangan itu, seorang pria tampan dengan wajah yang sama datarnya muncul dari balik kegelapan. Tubuhnya berlumuran darah. Di tangan kirinya, ia menenteng tiga kepala iblis. Sementara di tangan kanannya, sebuah pedang berkilau dengan ukiran aksara jawa bertuliskan Iro Yudho Wicaksono mengacung tegak gagah berani.


"Aku sudah selesai," ucap Darmanta dengan suara dingin yang menusuk.


Arkanta tetap tenang, meskipun suasana hutan Alas Roban kini terasa begitu menakutkan. Ia menatap Darmanta dengan tegas.


"Istirahat. Besok kita pulang," balas Arkanta dengan suara beratnya.


Mereka berdua pun berjalan pergi dan menghilang di tengah kegelapan malam.

__ADS_1


__ADS_2