Sang Arkana : Para Pemburu Iblis

Sang Arkana : Para Pemburu Iblis
Hutan Kematian


__ADS_3

Yasa berjalan seorang diri di dalam hutan. Di antara rimbun pepohonan tercium aroma busuk yang sangat kental hingga membuat bocah itu ingin muntah. Dari setiap sudut, ia pun merasa diperhatikan. Pada satu titik, Yasa menutup mata sambil menghela napas.


"Amurwabumi, raksa kula. Damarwulan, ameng kurmati. Wisnumurti, kang anugrahi. Aji amukti, amukti kula," gumam Yasa.


Setelah ia merapalkan mantra perlindungan, muncul cahaya kebiruan yang melapisi tubuhnya. Belum selesai sampai di situ.


"Roh alit, atma agung. Mata hati tansah terang. Anglir mendem, kersaning Gusti." Yasa merapalkan mantra lainnya sambil membuka matanya kembali secara perlahan. Kini ia mampu melihat makhluk-makhluk yang menyembunyikan kehadiran mereka.


Saat ini ada puluhan makhluk berwujud menyeramkan di sekitar Yasa, mereka semua bervariasi dari yang kecil hingga besar. Namun satu hal yang pasti, keberadaan mereka memancarkan aura membunuh yang kuat seolah ingin memangsa manusia yang memasuki teritorinya. Yasa tak takut. Ia tatap mereka semua bergantian.


"Maju kalian semua," ucapnya menantang.


Seketika itu juga pasukan makhluk tak kasat mata penghuni hutan pun melesat menyerang Yasa. Namun, tubuh mereka terpental ketika berada beberapa inci dari bocah itu. Tak sedikit yang levelnya rendahan pun hangus terbakar menjadi kepulan asap hitam akibat menabrak atma yang membentengi tubuh bocah itu. Ia menempelkan jari telunjuk dan tengahnya, lalu menunjuk satu per satu roh jahat yang mengepungnya.


"Wujud roh jahat, titiang tapalangin olih cahya. Kekuatan alam, ngulurangin adharma. Pateh ngalahin, titiang nenten mengkewuh Ida Sang Hyang Widhi. Mugi dados titiang, panglimbak ring sami adharma!"


Yasa membantai roh jahat di sekitarnya dengan mantra bertipe serangan. Bocah itu meluluhlantakkan puluhan pasukan setan hanya dengan dirinya seorang.


...****************...


Di sisi lain, Mahari sedang duduk manis di kursi kemudi mobil sambil menatap sekitar. Bulu kuduknya merinding akibat hawa dingin yang mendadak menyelimuti. Kabut tipis pun mulai menghiasi area tempatnya menunggu, mempersempit jarak pandangnya.


"Yasa lama banget perasaan," ucapnya sambil mengusap tengkuk. Di tengah penantiannya, Mahari memicing ketika menatap lurus ke arah depan. "Apaan tuh?"


Dari kejauhan terlihat siluet makhluk bertubuh besar yang mendekat ke mobilnya. Mahari meneguk ludah, lalu keluar dari mobil. Pria itu membawa senter dan berjalan masuk ke dalam hutan melalui jalan setapak yang Yasa lalui sebelumnya.


"Yasa, aku datang untuk menolong mu!" seru Mahari. "Ka-katakan kau sedang berada di mana?!"


...****************...


Kembali pada pertempuran di dalam hutan. Kini bocah itu terlihat kelelahan dengan napas terengah-engah akibat banyaknya mantra-mantra yang ia rapalkan. Tenggorokannya pun serasa kering terbakar.


"Cih! Enggak ada abisnya."


Sementara Yasa sudah kelelahan, jumlah roh jahat di tempat ini semakin bertambah. Ibarat kata, mati satu tumbuh seribu.


Pada satu titik, sebuah bayangan melesat ke arahnya, membuat benteng atma milik Yasa retak. Setelah membuat rusak perisai lawannya, makhluk hitam itu mundur sejenak sambil memberikan seringai. Sepertinya ia adalah salah satu roh jahat berlevel tinggi di tempat ini. Kini makhluk itu terlihat sedang mengumpulkan energi lewat mulutnya, lalu ia lepaskan ke arah Yasa. "HAAA!" Sebuah bola hitam melesat cepat ke arah Yasa.


"Sial!" Bocah itu melompat ke samping, lalu dengan cepat ia mengarahkan dua jarinya ke arah makhluk hitam itu sembari merapalkan mantra.


Duaaar!


Sebatang pohon berlubang akibat serangan spiritual yang dilepaskan oleh Yasa. Sayangnya makhluk hitam itu berhasil menghindari mantra penghancur tersebut.


'Kena cuma bonus. Sekarang aku harus bersembunyi dan beristirahat sejenak mengumpulkan stamina.' Batin Yasa.


Ia menyembunyikan hawa kehadirannya dengan sebuah mantra khusus. Untuk sementara waktu para roh jahat itu tak akan mampu mengendus aroma Yasa.


Yasa bersembunyi di antara pepohonan. Ia duduk mengatur napas sambil menatap sekitar. Bocah itu tak bisa santai, ia tidak sama sekali menurunkan kewaspadaannya.


Saat sedang bersembunyi, sebuah teriakan yang keras membuatnya menutup telinga. Teriakan itu terdengar seperti hewan buas yang meraung. Tubuh Yasa mendadak gemetar ketakutan karena suara tersebut.


Angin kencang membuat Yasa berpegangan pada batang pohon tempatnya bersandar. Ia terbelalak ketika mendongak lantaran menangkap sosok makhluk primordial berupa garuda raksasa dengan bola matanya.


"Jangan sampai bertemu dengan yang satu itu," gumamnya bermonolog.

__ADS_1


Saat sedang mengeluh, tiba-tiba saja bulu kuduknya kembali berdiri. Yasa menoleh ke samping, matanya memicing ketika mendapati makhluk hitam yang merepotkan tersebut tengah menemukannya.


"Kau pikir dirimu itu pemangsa?" tanya makhluk itu. Ia kembali menyeringai. "Kau kehilangan dua huruf terdepan. Saat ini dirimu hanyalah mangsa."


Yasa masih gemetar akibat teriakan roh garuda yang sempat melintasinya.


Makhluk itu terkekeh. "Takut?" Tanpa aba-aba sulur-sulur hitam melesat cepat ke arah Yasa.


Bocah itu merapalkan mantra keberanian. Setelah rasa takutnya mendadak sirna, Yasa bergerak kembali. Ia melompat dan berguling ke kanan, lalu berlari menghindari sulur-sulur yang mengejarnya.


Sambil berlari Yasa tak berhenti bergumam. Ia memasang kembali perisai astral dan menyerang makhluk-makhluk keroco yang berusaha menerjangnya dari depan.


Hingga pada satu titik, salah satu sulur hitam yang mengejar mampu menangkap kakinya. Yasa terjatuh dan dengan cepat melapisi dirinya dengan perlindungan ganda.


Makhluk hitam itu tertawa girang. Sulur-sulurnya membentuk tangan-tangan berkuku tajam yang tak henti-hentinya mencabik-cabik perisai atma milik Yasa.


"Sial, sial, sial," tutur Yasa yang masih berusaha bertahan. "Hanya sampai di sini kah?" Ia mulai lemas dan pasrah.


"Menunduk!" seru Mahari yang tiba-tiba muncul dan melompat harimau ke arah Yasa. Rokok di mulutnya jatuh, tetapi ia pungut lagi dan menempelkannya di bibir.


Dari belakang pria itu, sesosok singa berekor lima ular kobra melompat menerjang lurus ke depan dan mengenai makhluk hitam yang sedang bersenang-senang dengan Yasa.


"Makhluk apa itu, Bos?!" tanya Yasa yang heran.


Wajah Mahari tampak ketakutan. "Kita pergi." Ia mengendong Yasa di pundak, lalu berlari secepat yang ia bisa untuk keluar dari hutan itu.


Sejenak Yasa menatap ke belakang. Makhluk hitam yang hampir membunuhnya kini sirna menjadi kepulan asap hitam. Ia tewas dibunuh makhluk yang lebih beringas.


Setelah membunuh makhluk hitam yang merepotkan Yasa, singa berekor kobra yang mengerikan itu menyorot ke arah mereka.


"Siapa yang kuat, dialah Rajanya," ucap Mahari. "Beberapa roh jahat juga serakah dengan tahta. Selain kita, mungkin mereka juga saling berselisih memperebutkan teritori."


Langkah pria itu tiba-tiba terhenti. Tepat di hadapannya ada seekor siluman kera berbulu kemerahan yang berlumuran darah. Darah itu bukanlah lukanya, melainkan tanda kematian lawannya. Di kaki makhluk itu berserakan banyak ampas roh jahat yang perlahan memudar menjadi kepulan asap hitam. Sepertinya sempat terjadi pembantaian sepihak di tempat ini.


"Bos, gimana nih?" tanya Yasa yang masih berada di punggung Mahari. Ia lumayan dibuat ngeri oleh makhluk di hadapannya.


Mahari menghela napas, ia mencabut rokok di mulutnya, lalu membuangnya ke tanah dan memadamkan apinya dengan telapak sepatu. Sorot matanya berubah menjadi tajam.


"Perhatikan ini baik-baik, Yasa. Jangan berkedip karena aku hanya akan menunjukkannya sekali saja."


"Bos ...." Baru kali ini Yasa merasakan keseriusan dari seorang Mahari. Bocah itu sangat antusias dengan kekuatan sejati pria yang ia panggil dengan sebutan bos tersebut.


Mahari memasukkan tangan kanannya ke dalam kantong celana tanpa mengalihkan pandangan dari siluman itu. Mereka masih beradu pandang seolah saling membaca gerakan.


"Makhluk ini bernama Wanara. Mereka liar, cepat, dan berbahaya," ucap Mahari.


Wanara itu bergerak satu langkah ke depan. Sebelum ia menyerang, refleks Mahari segera melepaskan sebuah serangan cepat.


"Debu berapi mematikan!" Pria itu melempar sebuah bubuk ke wajah siluman kera di hadapannya.


Seketika itu juga wanara tersebut menutup matanya sambil terbatuk-batuk.


"Benda itu hanya bisa menahan pergerakannya sebentar. Kita harus terus bergerak untuk menghemat kekuatan," tutur Mahari. "Musuh kita banyak."


Sebelum wanara itu bereaksi, Mahari kembali berlari menggendong Yasa.

__ADS_1


'Bos hebat. Dia benar-benar memikirkan rencana yang matang untuk pertempuran jangka panjang.' Batin Yasa. Wajah anak itu terpukau dengan kecerdikan Mahari.


"Benda apa itu, Bos?" tanya Yasa penasaran.


"Bubuk cabe bekas makan siang tadi," jawab Mahari.


Suasana mendadak hening. Wajah Yasa yang antusias seketika berubah menjadi datar tanpa ekspresi. Rupanya ekspetasinya pada Mahari terlalu tinggi. Sejenak ia menoleh ke belakang. Air matanya menetes ketika melihat wanara berbulu merah itu berteriak dan memandang gusar ke arah mereka. Siluman kera itu berlari kencang mengejar.


"Mampuslah kita," tutur Yasa.


Namun, kecepatan Mahari tak bisa diremehkan. Dalam urusan kabur, ia lebih baik dari siapa pun. Dalam urusan lari dari kenyataan, ia selalu berada di depan orang lain.


Langkah kaki Mahari berhasil menerjang lebatnya hutan dan kembali ke jalan raya. Ia terus berlari cepat ke arah mobilnya yang terparkir di tepi jalan, lalu masuk dan menutup kembali pintunya. Terakhir, ia kunci rapat-rapat setiap pintu yang ada sambil menghela napas lega.


"Kita selamat."


"Biji mata lu kendor!" teriak Yasa. Ia kembali merapalkan mantra dengan sisa-sisa kekuatannya. Bocah itu menyelimuti mobil Mahari dengan tujuh lapis atma. Jika saja Yasa terlambat, mungkin mereka berdua beserta mobil Mahari sudah hancur.


Dari dalam hutan, banyak roh jahat mengejar keluar dan langsung menerjang mobil yang menjadi tempat berlindung mereka seolah tak membiarkan Mahari dan Yasa berdua kabur begitu saja. Satu per satu perisai yang Yasa buat pun hancur.


"Bos! Gimana ini?!" teriak Yasa panik.


"Tenang," balas Mahari dengan suara santai. Pria itu terlihat seperti menyimpan kartu AS dalam kondisi krusial seperti ini.


Benar saja, satu per satu makhluk itu pun sirna menjadi kepulan asap hitam akibat berusaha menghancurkan perisai atma buatan Yasa.


"Ini adalah permainan waktu antara ketahanan perisai mu dan jumlah roh jahat," tutur Mahari.


Melihat jumlah makhluk yang menyerang mobil kian menipis. Mahari tersenyum tipis. Hanya saja senyum itu tak berlangsung lama. Sebab makhluk besar yang dilihatnya sebelum melarikan diri ke dalam hutan pun datang kembali. Raksasa itu memiliki taring yang panjang dan juga membawa gada besar yang menyeramkan. Setiap langkahnya melahirkan dentuman dan getaran yang kuat seperti gempa kecil.


'Apa mungkin wanara itu berhenti mengejar akibat tekanan yang ditimbulkan makhluk besar ini?' Pikir Yasa saat tak menemukan kehadiran wanara yang sebelumnya mengejar.


Satu per satu roh jahat yang mengeroyok mobil Mahari pun menjauh. Sepertinya mereka takut dan segan dengan kehadiran si besar yang satu itu.


"Kayaknya perisai pelindung ku enggak bisa nahan yang satu ini," ucap Yasa meneguk ludah.


Jarak antara raksasa itu dan mobil milik Mahari sudah dekat. Kini jelas terlihat napasnya yang mengeluarkan kabut tipis. Makhluk tersebut tiba-tiba mengangkat gada besarnya dengan satu tangan seolah hendak menyerang.


"Jadi geprek kita, Bos," tutur Yasa pasrah. Ia menutup mata ketika raksasa itu melesatkan gadanya menukik tajam dari atas ke bawah tepat ke arah mereka.


Di tengah kegelapan yang Yasa rasakan, tiba-tiba terdengar suara langkah di atas mobil Mahari. Lebih tepatnya seperti ada yang berlari dari bagian belakang mobil ke bemper depan melalui atas.


"Jangan takut, Yasa. Semua sudah masuk ke dalam rencana," tutur Mahari diiringi kekehan.


Yasa kembali membuka mata ketika mendengar omong kosong Mahari. Matanya membulat utuh ketika gada besar itu tertahan oleh pukulan seorang pria botak berjaket Varsity hitam kemerahan dengan simbol naga di punggungnya.


"BOWO!" seru Yasa. Bocah itu ikut tersenyum. Jika ada Wibowo di sini, mungkin masih ada harapan untuk hidup lebih lama pikirnya.


"Bowo bukan petarung gerilya. Si botak itu lebih suka pertempuran frontal. Sengaja ku pancing para bedebah ini dan Rajanya ke jalan raya biar dia leluasa bertempur dan menghabisi mereka sekaligus," ucap Mahari. "Sekarang kita selesaikan dengan pertarungan jangka pendek."


Mata Yasa berbinar. "Maaf sempat meragukan mu tadi, Bos!"


Mahari tertawa. "Santai."


Pria gondrong dengan poni belah tengah itu mengelap keringat di keningnya dengan tangan.

__ADS_1


__ADS_2