
Santi, Bima, dan Arkanta berjalan ke halaman depan, hendak menuju Tantra mengendarai mobil. Namun, langkah mereka semua terhenti tepat ketika menatap seorang anak laki-laki di depan gapura Ratnakusuma. Anak itu berdiri sambil menyeringai ke arah mereka, sontak semua yang melihatnya merinding.
"Aku memang tidak bisa masuk ke dalam sana, tapi tentu saja kalian pun tidak bisa keluar dari dalam sana. Siapa pun yang berani melangkah keluar, ku bunuh," ucap Dursasana.
"Dursasana," gumam Bima yang pernah berhadapan dengan salah satu iblis tingkat atas tersebut.
Arkanta berjalan melewati Bima dan Santi hingga berdiri di depan, ia mengeluarkan pedang pusaka miliknya dari dalam sarang. Pedang itu memiliki ukiran aksara jawa bertuliskan 'Kusuma Wira Sakti'.
Kusuma Wira Sakti merupakan bahasa Jawa kuno. Kusuma dapat diartikan sebagai 'bunga' atau 'mahkota,' Wira berarti 'pahlawan' atau 'ksatria,' dan Sakti menggambarkan kekuatan atau kehebatan. Jadi, 'Kusuma Wira Sakti' dapat diinterpretasikan sebagai 'Pedang Ksatria yang Penuh dengan Kekuatan.'
"Heeeeh." Seringai di wajah Dursasana makin lebar ketika menatap pedang yang berada dalam genggaman Arkanta. "Jadi itu pedang Mahesageni, ya? Rupanya kau yang namanya Arkanta itu?" Dursasana bertepuk tangan. "Banyak setan yang takut hanya mendengar nama mu saja loh. Keren, keren."
"Pilihanmu cuma ada dua," ucap Arkanta datar. "Lenyap menjadi asap hitam, atau kabur dengan rasa takut."
Dursasana menunjuk ke arah Arkanta, lalu menyuruh pria itu untuk maju. "Sini, sini, kita lihat siapa yang lebih kuat. Aku ini juga ditakuti oleh bangsamu loh."
"Seenggaknya dengan munculnya Dursasana di sini, artinya dia enggak akan ikut nyerang Tantra," tutur Santi. "Enggak ada lagi gengsi, kita bantu Arkanta, Bim."
"Oke," jawab Bima.
...****************...
Kapten Adit ditahan oleh Yudha di perjalanan menuju Ratnakusuma, asosiasi pun dikurung oleh Dursasana di markasnya sendiri. Saat ini Bowo dan Yasa hanya berdua menghadapi badai yang menerpa Tantra. Mereka pun harus berhadapan dengan dua iblis bawahan Dursasana, yaitu Bebasura dan Kerikala.
Bowo merasakan tekanan ketika berhadapan dengan Bebasura, tetapi tak sebesar saat berhadapan dengan Dursasana beberapa waktu lalu. Iblis kecil yang satu ini liar dan memiliki pergerakan yang lincah. Bowo sama sekali tak diberikan waktu menyerang dan hanya fokus menghindari kuku-kuku tajamnya.
Bebasura melompat dengan cepat dan mendarat di depan Bowo dengan seringai di wajahnya. Iblis kecil itu langsung menghunus cakarnya yang tajam ke arah Bowo. Namun, dengan lincah Bowo menghindar dan bergerak menjauhinya, menjaga jarak kembali dan mengatur ulang kuda-kuda.
Pria botak itu mencoba menganalisa kelemahan Bebasura sambil berlari dan menghindar. Makhluk itu terus bergerak dengan cepat mengejar Bowo dengan suara cekikikan yang membuat bulu kuduk merinding. Namun, pada satu titik, Bowo mengambil inisiatif untuk mendekat ke arah iblis itu.
Dengan sebuah pukulan berkecepatan tinggi, Bowo melancarkan serangan ke arah wajah Bebasura. Namun, Bebasura terbukti licin, ia menghindari pukulan Bowo dengan gesit, lalu menyerang balik.
Serangan Bebasura pun tak mampu mengenai Bowo. Mereka berdua sama-sama lihai menghindar.
"Shihihi, manusia yang satu ini lumayan juga," ucap Bebasura. "Pantas saja Tuan Dursasana tertarik."
Di sisi lain Kerikala melirik ke arah Bebasura. "Cepat habisi saja dia, Bebasura! Jangan banyak bersenang-senang."
__ADS_1
Tak seperti pertarungan Bowo dan Bebasura yang memiliki tempo cepat dan bar-bar, Kerikala dan Yasa terjebak dalam pertarungan bertempo lambat.
Kerikala yang sudah menggunakan mata langit angannya, terus menghadirkan ilusi yang mengaduk-aduk pikiran dan perasaan Yasa.
Yasa terjebak dalam dunia yang penuh dengan kesedihan. Hatinya teriris oleh ilusi yang menghancurkan impian-impiannya, termasuk keinginan untuk merasakan kasih sayang orang tua. Perlahan anak itu meneteskan air matanya.
"Yasa, sadar!" seru Bowo yang menyadari bahwa Yasa sedang dalam pengaruh ilusi.
"Jangan memalingkan wajah dari lawanmu, manusia bodoh! Shihihi," ucap Bebasura sambil melesatkan cakarnya.
Bowo menghindari serangan Bebasura lagi, lalu kembali melirik ke arah Yasa. 'Seandainya ada mbak Santi di sini, tapi mustahil, kan?'
"Bocah tolol! Bangun!" teriak Bowo lebih keras.
"Mahari ...," lirih Yasa sambil menangis. Rasa bersalahnya menumpuk menjadi sesal yang membiru. Wajar, ia telah membuat satu-satunya orang yang peduli padanya terlihat sedih dan rela pergi. Mahari bahkan berbohong bahwa rumah itu adalah milik keluarga Yasa agar anak itu tetap di sana dan punya tempat untuk berteduh. Ia rela dibenci agar Yasa tak membenci dirinya sendiri dan keluarga Kanigara.
Kerikala menyeringai melihat semua impian-impian Yasa yang perlahan sirna. Gadis itu melebarkan tangannya sambil berjalan pelan ke arah Yasa seperti anak kecil.
"Wah, wah, kasihan sekali manusia yang satu ini," ucap Kerikala dengan nada meledek. "Aku jadi ingin membunuhnya. Rasa manusia yang hancur impiannya adalah yang terlezat."
Mendengar nama Mahari di telinganya meskipun samar, Yasa berusaha keras untuk melawan efek ilusi dari mata langit angan. Meskipun hatinya terluka oleh impian-impian yang hancur, Yasa terus berusaha untuk mengingat tujuan dan segala hal yang ia miliki saat ini. Setidaknya, meskipun ia telah kehilangan banyak hal, kali ini ia tak boleh kehilangan apa pun lagi.
Meskipun terasa berat untuk sekadar membuka mulut, tetapi perlahan ia rapalkan mantra perlindungan yang memancarkan cahaya terang di sekitarnya. Cahaya tersebut meredakan pengaruh ilusi yang terus menghantui pikirannya. Pada satu titik, Yasa menatap tajam ke arah Kerikala dengan tegas.
"Aku mungkin tidak memiliki orang tua, tetapi aku masih memiliki keluarga yang tidak akan membiarkan impian-impianku dihancurkan oleh iblis jahanam sepertimu," tutur Yasa.
"Jangan besar kepala manusia kerdil!" bentak Kerikala. "Selama kau memiliki mata dan mampu melihat, mata langit angan akan terus menghukum mu!"
Yasa menempelkan jari telunjuk dan tengahnya, lalu ia letakkan di depan wajahnya menghadap ke arah atas.
"Amurwabumi, raksa kula. Damarwulan, ameng kurmati. Wisnumurti, kang anugrahi. Aji amukti, amukti kula," gumam Yasa.
Ia rapalkan mantra tersebut sebanyak tujuh kali. Seketika itu muncul tujuh lapis atma yang menyelimutinya.
"Kau pikir bisa melindungi dirimu dengan perisai atma lemah itu, heh?!" seru Kerikala sambil tertawa.
Bocah itu menutup matanya sambil tangan kirinya mencengkeram siku bagian dalam tangan kanannya. Sementara tangan kanannya terjulur dengan telapak tangan menghadap ke arah Kerikala.
__ADS_1
"Anane sing ora lalilali, kekuatan kang ampirana, yen kasedya ke bali." Lirih suara Yasa terdengar berat seolah menahan sesuatu. Cengkeraman di sikunya pun semakin kencang sehingga menimbulkan bekas luka cakar. "Iblis digludhugi, saklawase keinginan malah, tertutup ing pamrih, kasampurna kasil, lan aman dalan."
Mendengar gumam-gumam Yasa membuat Kerikala merasa berat seolah mantra-mantra yang diudarakan oleh Yasa bergerak untuk meringkusnya.
"Dasar manusia rendah! Kau pikir bisa menyegel ku, hah?!" Dengan kedua telapak tangan yang masih menempel, Kerikala membuka kakinya lebar-lebar. Mata langit angan mengeluarkan darah seolah menangis. Darah itu menggumpal menjadi kristal berwarna merah pekat.
Mata Yasa terpejam untuk mengindari kontak mata dengan mata langit angan untuk menghindari ilusinya. Ia hanya bermodalkan keyakinan bahwa Kerikala sudah berada tepat di hadapan telapak tangannya.
"Neng ing nglumpuk kala, angel-angel langit kedhaton, nyegel kala jahat, wong kang kutha mau maton. Ing panggonane samya, nglempar badan sing bali," gumam Yasa merapalkan bait kedua mantra Ngelumpak Kala, mantra penyegel iblis keluarga Kanigara.
Kristal merah dari darah mata langit angan sudah mencapai titik puncaknya. Kerikala berusaha bertahan dari mantra penyegel yang dirapalkan oleh Yasa.
"Paninggal getih!" seru Kerikala. Kristal merah berujung runcing itu melesat cepat ke arah Yasa.
Kristal darah itu terus melesat hingga melubangi tujuh lapisan atma pelindung milik Yasa. Darah mengalir dari bahu kiri bocah itu saat tertancap serangan lawannya. Jika saja ia tak merapalkan mantra perlindungan, serangan Kerikala tak akan meleset dari jantungnya.
Kedua mata iblis itu tiba-tiba berkedut sembari menatap sekitarnya. Waktu seolah melambat untuk Kerikala.
'Apa yang sebenarnya terjadi?' Batin Kerikala. Ia melirik ke belakang. Mata langit angan pecah menjadi darah.
Ada lubang besar di tubuhnya. Mantra yang diudarakan oleh Yasa menembus tubuh Kerikala, hingga menghancurkan mata langit angan. Yasa paham bahwa saat ini ia belum mampu menyegel iblis sekelas Kerikala. Hanya saja saat Kerikala sibuk menyerang dan bertahan dari mantra Ngelumpak Kala, Yasa mengudarakan mantra lain untuk menghancurkannya.
"Mantra Garjita ke tiga keluarga Kanigara, Getih Iblis Mungsuh," tutur Yasa.
Bebasura terdiam sejenak melihat Kerikala yang perlahan sirna menjadi kepulan asap hitam. Tangan gadis itu berusaha meraih ke arah Bebasura.
"Maaf ... Bebasura ...," lirihnya tepat sebelum wujudnya hancur seutuhnya.
Yasa terduduk lemas sambil memegangi pundaknya yang terluka akibat serangan Kerikala. Kristal merah itu masih menancap di bahunya.
Di sisi lain ...
"KERIKALAAAA!"
Teriakan Bebasura membuat Yasa dan Bowo gemetar diselimuti kengerian. Teriakan iblis itu membuat kedua arkana tersebut diselimuti rasa takut.
Tak ada lagi seringai di wajahnya. Kini iblis itu terlihat marah.
__ADS_1