
Bebasura sudah berada di belakang Bowo, siap membunuh pria botak itu dengan cakarnya.
"Ku bunuh kau!" Ia melesatkan tusukan ke arah punggung kiri Bowo, mengincar jantung pria itu dari belakang.
"Sedang apa kau?"
Bebasura dibuat merinding oleh suara Mahari. Pria bermata kanan hitam dengan iris biru itu sedang menatap tajam ke mata Bebasura sambil mencengkeram lenganya yang melesat ke arah Bowo.
"Jawab?" lanjut Mahari.
Bebasura yang panik, langsung melancarkan serangan ke arah Mahari. Namun, Mahari mampu menghindar dan mencengkeram kepala Bebasura.
Iblis itu menjerit kesakitan sampai pada satu titik, kepalanya pecah menjadi darah.
Tubuh Bebasura tergeletak di lantai Tantra. Wujud dan darahnya berubah menjadi kepulan asap hitam.
Mahari yang terlihat serius, kini memandang ke arah Darto kembali.
"Ah, maaf-maaf. Tadi ada kendala kecil," ucapnya pada Darto.
Darto meneguk ludah. "Orang itu membunuh Bebasura hanya dengan cengkeraman tangan."
...****************...
Di sisi lain, lirih dengungan di telinga Dursasana membuat iblis itu terdiam sejenak dan menoleh, menatap tajam ke arah Tantra.
"Bebasura ...," lirihnya. Tatapan iblis itu kembali terpaku pada Wirocana. Ia berjongkok dengan tatapan fokus.
"Halangi Dursasana!" seru Santi. "Iblis itu mau kabur!"
"Kabur?!" bentak Dursasana marah merasa direndahkan. Namun, ia menurunkan egonya untuk membunuh Santi kali ini, sebab ada tugas yang lebih penting.
Bima berlari ke arah Dursasana dan menghantam iblis itu dengan tinjunya.
Hanya saja, Bima terlambat. Dursasana meloncat dan melesat cepat, tepat sesaat sebelum Bima melancarkan serangan.
"Kejar!" seru Santi.
"Jangan ada yang meninggalkan tempat ini," ucap Wirocana. Pria itu sudah berada di samping Arkanta.
Mendengar ucapan Wirocana, Santi pun menunduk. "Jangan dikejar, Bim. Turutin kata orang itu."
"Orang itu?" tanya Bima heran.
Santi kembali menoleh, sosok Wirocana sudah tak berada di tempatnya.
...****************...
"Mundur, Sugriwa. Sebentar lagi badai datang," gumam Mahari. Pria itu berjalan ke arah Darto dengan satu tangan yang bersembunyi di balik kantong celana. "Biar aku yang urus sisanya."
__ADS_1
"Aku akan habisi yang satu itu dulu," balas Sugriwa membantah. Ia menyeringai ke arah satu Jenderal terakhir Darto.
"Mundur," ucap Mahari singkat, tetapi penuh tekanan.
Seringai di wajah Sugriwa pudar. Ia menunduk, lalu mundur hingga posisinya sejajar dengan Subali dan Hiranyaksa.
Tiba-tiba tekanan mengerikan menyelimuti Tantra. Hawa membunuh yang sangat pekat ini membuat Bowo gemetar. Hanya ada satu nama yang terlintas dalam pikirannya.
"Hawa ini—" bisik Bowo.
Dari atas, sebuah tumit menghantam Mahari dengan sangat cepat dan kuat. Namun, Mahari menangkis tumit itu dengan satu tangannya, menciptakan gelombang angin yang cukup kuat karena benturan tersebut.
"MAHARI!" teriak Sang Pembawa Kehancuran.
Mahari tersenyum ramah menatap iblis yang satu ini. "Lama tidak berjumpa, Dursasana."
"KAU MEMBUNUH BAWAHANKU!"
"Salahnya sendiri menyerang bawahanku," balas Mahari. Ia menangkap kaki Dursasana dan melemparnya beberapa meter.
Kini Mahari menatap ke arah Darto. "Hey! Kalo serius mau membunuhku, sekarang saatnya. Mumpung ada Dursasana, seenggaknya peluang mu naik 1%. Ayo semangat! Semangat!"
"Rajakala, kita maju bersama," ucap Darto pada satu Jenderal terakhirnya.
Rajakala menarik sebuah pedang hitam dari bayangannya. Darto pun memegang pedangnya dengan dua tangan. Di sisi lain, Dursasana bangkit dan bersiap untuk menyerang kembali.
Mahari menyeringai. Ia mengangkat tangannya tinggi ke atas. Saat itu juga, sebuah petir menyambarnya.
Sosok Wirocana muncul dan berdiri di samping Hiranyaksa, menyaksikan pertarungan antara Sang Raja melawan tiga penantangnya.
Bowo terbelalak melihat sebuah keris di tangan Mahari. Petir barusan datang membawakannya pusaka yang terlihat tidak asing.
"Keris itu, kan—keris Kinatah punya mbak Santi!"
"Keris Kinatah merupakan pusaka milik Tuan Mahari yang dimandatkan pada Santi saat memutuskan keluar dari Asosiasi. Saat ini, ia hanya mengambil apa yang memang dari awal adalah miliknya," tutur Wirocana.
Rajakala masuk ke dalam bayangan dan muncul dari bayangan Mahari. Makhluk yang satu ini dijuluki sebagai Penguasa Bayangan, ia mampu memanipulasi bayangan dan berpindah dari satu bayangan ke bayangan lainnya.
Iblis itu mengayunkan tebasan menyamping ke arah leher Mahari.
Mahari mengeluarkan keris Kinatah dari dalam sarangnya dan langsung menangkis pedang bayangan Rajakala. Suara gemuruh terdengar saat Kinatah berbenturan dengan energi spiritual yang jahat.
Darto pun sudah siap melesatkan tusukan dari arah depan. Ia mendorong tangannya untuk membunuh Mahari.
Mahari berputar, menghindari serangan Darto. Namun, kini di depan wajahnya kepalan tangan Dursasama sudah menunggu.
Mahari tampak begitu fokus. Ia menatap kepalan tangan Dursasana yang bergerak lambat. Tak butuh gerakan berlebihan untuk menghindari pukulan tersebut. Mahari hanya sedikit bergeser sambil menunduk untuk menghindar.
Setelah berhasil lolos dari serangan Dursasana, dengan cepat ia tancapkan keris Kinatah ke tanah dan bergumam, "aswarsasjasjahsxnasbsah ahay!"
__ADS_1
Mendengar nama jurus Mahari, Bowo, Manta, dan Yasa langsung berwajah datar. Mereka membuang muka seolah malu.
Namun, di balik nama konyol itu, mata keris Kinatah meledak, memancarkan kilatan bundar yang mengelilingi Mahari dan mementalkan ketiga lawannya disertai efek kejang. Untuk beberapa saat, Darto, Rajakala, dan Dursasana tak bisa bergerak.
Mahari menoleh ke arah Bowo, Yasa, dan Manta. "Kan enggak semua jurus harus punya nama keren. Masa tiap jurus ini keluar, ada namanya, tiap jurus itu keluar, ada namanya juga. Kasian Author-nya dong kelamaan riset bahasa doang. Mikir."
"Iya, Bang. Ampun, bang," jawab Bowo, Yasa, dan Manta serempak.
Sementara itu, ketiga lawan Mahari bangkit kembali. Mereka masih belum menyerah dan berjalan mengitari pria itu, mencari celah untuk membunuhnya. Pada satu titik, seperti hujan deras, Dursasana kembali maju dan menyerang Mahari dengan pukulan bertubi-tubi.
Namun, Mahari dengan santainya menghindari setiap pukulan Dursasana tanpa kesulitan, seolah mampu membaca arah gerak dari serangan iblis itu.
Di saat Mahari sedang fokus menghindari serangan Dursasana, Rajakala muncul dari bayangannya dan langsung melesatkan tusukan mengarah ke dada Mahari.
Mahari menangkap tangan Dursasana dan menariknya, menjadikan tameng untuk bertahan dari pedang Rajakala. Pedang bayangan tersebut patah, tak mampu melukai tangan Dursasana yang keras. Kini pria itu melempar Kinatah ke udara, lalu melompat setengah berguling ke depan, menopang tubuhnya menggunakan dua tangan dengan kepala di bawah hampir menyentuh tanah. Ia tendang gagang Kinatah hingga melesat ke arah Darto, kemudian berputar sambil melebarkan kedua kakinya, menendang kepala Dursasana dan Rajakala. Satu kepala, satu kaki.
Dursasana dan Rajakala terhuyung jatuh ke tanah. Sementara Darto menangkis mata keris itu dengan pedangnya.
Begitu kedua iblis itu terjatuh, Mahari langsung berlari ke arah Darto dengan cepat dan menyerang ahli pedang itu sebelum sempat membuat langkah. Tendangan Mahari membuatnya ikut terjatuh.
Mahari berdiri seorang diri di tengah lawan-lawannya yang terjatuh membentuk segitiga. Sinar bulan menyinari rambutnya yang kusut, menciptakan kilau kebiruan. Pria Itu terlihat tenang, seakan-akan pertarungan ini hanyalah permainan baginya.
"Ayo, ayo, ayo, semangat yok!" ucap Mahari menyemangati ketiga lawannya.
"Cih!" Dursasana berdecak kesal. Iblis itu sudah bangkit dan mulai bergerak dengan berhati-hati.
Mahari tersenyum menatap mereka bertiga bergantian. "Bangun, bangun, bangun!"
Di sebelah kanan Mahari, Dursasana, sang iblis kehancuran berdiri dengan tubuh diselimuti atma hitam dan aura menyeramkan. Di sisi kirinya, Rajakala, penguasa bayangan, meluncur dan menyelinap di antara bayangan pohon trembesi. Darto, sang ahli pedang spiritual, berdiri dengan tegap, pedangnya bersinar dan siap untuk bertarung kembali.
Mahari dengan santainya mengayunkan keris Kinatah, membiarkan cahaya bulan bermain di atas bilah tajamnya.
"Serius dong. Kalo enggak, kalian yang bisa mati loh," gumamnya dengan senyum lebar.
Tiga musuhnya merasa geram oleh sikap Mahari yang santai. Mereka meluncur ke arah pria gondrong itu bersamaan dengan cepat dan ganas. Dursasana melepaskan tinju kegelapan, Rajakala menciptakan ilusi bayangan untuk mengecoh Mahari, dan Darto bergerak dengan kecepatan kilat.
"Kusuma darmaja!" seru Darto.
"Lumutan hitam!" teriak Dursasana.
"Bayang sangka," gumam Rajakala.
Sekilas, Mahari menyeringai. Ia bergerak menghindari serangan Dursasana dengan gerakan gesit, mengabaikan bayangan-bayangan Rajakala dengan mata tajamnya, dan dengan akurasi yang luar biasa, ia membalas serangan Darto dengan mengayunkan pedang Kinatah, megadunya dengan pedang milik Darto.
Suara gemuruh terdengar saat senjata mereka berbenturan dan menciptakan ledakan atma.
Darto pingsan akibat ledakan tersebut. Efeknya adalah, Rajakala ikut menghilang ketika Darto kehilangan sadar. Kini tinggal Dursasana yang tersisa. Iblis itu terlihat kelelahan. Sebelum menghadapi Mahari, ia sudah membuang cukup energi untuk melawan tiga orang dari asosiasi.
Melihat Dursasana yang lemah, Mahari merasa iba. Ia memasukkan kembali Kinatah ke dalam sarangnya, lalu mengambil rokok dan menyalakannya.
__ADS_1
"Yasa, Manta, Bowo. Bangun," titah Mahari sambil membuang kepulan asap dari mulutnya. "Ini ujian terakhir dariku. Habisi Dursasana dengan kemampuan kalian. Mulai dari sini, aku tidak akan membantu." Pria itu duduk bersandar di badan pohon trembesi.