Sang Arkana : Para Pemburu Iblis

Sang Arkana : Para Pemburu Iblis
Buto Geni


__ADS_3

Sebelumnya ....


Wibowo menatap kepulan asap hitam yang melebur bersama debu-debu reruntuhan. Beberapa saat lalu terjadi pertarungan yang cukup sengit di tempat ini.


Kini pria bertubuh kurus kekar dengan kaos hitam lengan buntung itu mengambil jaket varsity hitam kemerahan yang tergeletak di tanah, lalu membersihkan dan langsung mengenakannya.


Hanya saja, saat hendak berjalan pergi, tiba-tiba pahanya bergetar. Sontak raut wajah Bowo berubah menjadi agak gusar.


"Ini apaan sih?!" Pria botak itu agak kesal karena selama pertempurannya melawan roh jahat tadi ia diganggu oleh getaran ponsel yang berada di kantong celananya.


Sedari tadi ponsel pria itu berdering terus menerus. Bowo yang kesal mengambil benda tersebut dari dalam kantong, lalu menatap layarnya. Rupanya ada lebih dari 20 panggilan tak terjawab dari Mahari. Di antara 20 panggilan itu, ada sebuah pesan dan satu titik lokasi.


"Selesai misi kita makan-makan. Cepetan ke sini sebelum Yasa ngabisin semuanya." ucap Mahari dalam pesan tersebut.


Bowo terkekeh. Ia paling senang dengan acara makan-makan, apa lagi ditraktir. Segera ia pun bergegas menuju lokasi yang Mahari kirimkan dengan menunggangi motor Kawasaki KZ200 berwarna merahnya.


Sialnya, lagi-lagi pria botak itu tertipu. Yang Mahari maksud dengan makan-makan adalah menghabisi roh jahat. Begitu Bowo tiba di lokasi Mahari, ia langsung disuguhkan menu yang mengerikan. Mobil Mahari dikeroyok oleh roh jahat tingkat menengah ke bawah, dan tepat di depan mobil itu ada sesosok makhluk besar yang hendak menumbuk Mahari dengan gada besarnya.


"Terimakasih makanannya, berengsek!" seru Bowo. Ia turun dari motornya dan berlari cepat dari arah belakang sambil mengumpulkan atma di kepalan tinjunya. Pria itu melompat menaiki mobil Mahari dan menerjang untuk menghajar gada besar yang melesat hampir menghabisi bosnya.


...****************...


Kembali ke waktu yang seharusnya.


Mahari mengambil sebatang rokok dan membakar ujungnya. Ia buka kaca jendela, lalu membuang asap dari mulutnya ke luar mobil.


"Mulai dari sini pertempuran yang sesungguhnya baru akan dimulai," gumam pria itu. Ia mengambil termos di kursi belakang dan memberikannya pada Yasa. "Pulihkan dirimu, Yasa. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Mungkin saja nanti Wibowo membutuhkan support darimu."


"Oke, Bos." Yasa mengambil termos itu dan membuka tutupnya. "Air apa ini?"


Tampang Mahari tampak begitu serius menatap Yasa. "Air kehidupan."


Ya, benar. Itu adalah air putih hangat untuk meredakan kering tenggorokan.


"Jangan lupakan ini." Mahari melemparkan kotak berwarna hitam pada Yasa.


Yasa membuka kotak itu dan kembali bertanya perihal apa itu. Bentuknya seperti permen. "Ini apa?"


Mahari tersenyum tanpa jawaban. Pria itu kembali fokus pada pertarungan antara salah satu pegawainya dengan raksasa penguasa hutan.


Perihal jawaban yang dicari oleh Yasa ... oke, betul. Kotak itu berisi permen mint yang Mahari beli di supermarket untuk melegakan tenggorokan. Pria itu hanya mengganti bungkusnya agar terkesan mistis.


Di sisi lain, Bowo masih berdiri menyorot makhluk besar di depannya. Setelah beradu pukul dengan gada besar itu, Wibowo sama sekali tak terlihat kesakitan atau pun takut. Pria botak tersebut justru menyeringai sambil melebarkan kakinya, membuat kuda-kuda bertempur.


Mahari mengeluarkan kepalanya lewat jendela mobil yang terbuka.


"Selamat makan, Wo!" serunya pada Bowo.


"Terimakasih hidangannya!" Bowo maju satu langkah dengan posisi rendah dan kaki kanan di depan, lalu kaki kirinya mengambil langkah kedua seperti seorang petinju. Ia jadikan kaki kirinya sebagai tumpuan, sementara tangan kanannya sudah siap untuk melakukan pukulan lurus pada makhluk besar di depannya. Dengan cepat ia lesatkan pukulan bertenaga penuh atma itu ke kaki raksasa tersebut.


Raksasa itu pun berlutut satu kaki akibat serangan Bowo. Kini pria itu menapaki kaki yang terjatuh sebagai pijakan untuk melompat. Bowo menarik tangannya, lalu melesatkan pukulan kedua di perut lawan besarnya.


Lagi-lagi serangannya berdampak besar. Makhluk itu memuntahkan darah hitam dari mulutnya.

__ADS_1


Bowo yang saat ini kembali menapak di tanah hendak menyerang kembali, tetapi tiba-tiba raksasa di depannya menyeringai, membuat pria itu merinding. Dengan refleks cepat, Bowo menghentikan langkahnya. Ia mundur dua langkah untuk menjaga jarak.


Mengurungkan niat menyerang memang sebuah keputusan yang tepat. Sebab dari tubuh makhluk tersebut muncul api yang membakar apa pun di sekitarnya.


Jika saja instingnya telat merespons, mungkin Bowo sudah menjadi orang goreng saat ini.


"Boleh juga kau, manusia," ucap makhluk itu. Ia menarik tangan yang membawa gada ke belakang, berancang-ancang menyerang dengan kekuatan penuh. "Sekarang giliranku!" Dengan cepat ia lesatkan satu tangannya menargetkan Bowo hingga membuat gadanya terbakar api.


Yasa turun dari mobil dan merapalkan mantra perlindungan di depan Bowo. Tiga perisai atma muncul menjadi benteng.


Namun, perisai atma milik Yasa pecah begitu saja saat terkena serangan itu. Gada besar tersebut terus melesat dan menghempaskan Bowo hingga membentur bemper depan mobil Mahari. Sontak pria botak itu memuntahkan darah dari mulutnya.


"Bowo!" seru Yasa mengalihkan pandangan dari lawannya.


Dalam sekejap raksasa itu menghilang dan muncul di belakang Yasa yang fokusnya terpecah akibat Bowo.


Mata Yasa terbelalak ketika merasakan hawa membunuh dari arah belakang.


"Aku adalah Buto Geni, makhluk perkasa yang merajai wilayah ini!" Buto Geni melibas Yasa dengan tinju besarnya.


Tubuh kecil Yasa terpental ke sebelah Bowo yang masih terduduk mati rasa. Kini mereka berdua hanya bisa bersandar di bemper mobil tanpa mampu bergerak.


Mahari membuang rokoknya, ia menatap makhluk tersebut dari dalam mobil dengan pandangan yang tajam. Sebagai seorang pemimpin, ia tak akan membiarkan bawahannya terluka lebih dari ini.


"Rasakan ini berengsek!" teriak Mahari yang setengah badannya keluar dari jendela, sementara satu tangannya ...


Tin! Tin! Tin!


"Minggir raksasa bodoh!" lanjut Mahari dengan suara klakson penuh amarah.


"Lu masih percaya kalo om-om di belakang kita itu sakti?" tanya Bowo diiringi kekehan kecil. "Dia itu cuma tukang pijet sama akupuntur yang jago ngomong doang. Sakit tuh orang! Bukan sakti, Yas."


Yasa tersenyum tipis. "Sampai akhir, gua percaya kalo Bos punya rencana rahasia."


"Spam klakson?" tanya Bowo.


Yasa tak menjawab. Saat ini ia hanya mampu menatap Buto Geni yang berjalan ke arah mereka. Setiap langkahnya meninggalkan jejak api. Sepertinya suara klakson penuh amarah Mahari tak membuatnya gentar sedikit pun.


Mahari memukul dashboard mobil. "Sial! Klakson astral anti iblisnya rusak!"


Sekali lagi Buto Geni mengangkat gadanya yang berkobar api. Sang Raja hendak menghabisi para manusia ini dari teritorinya.


"Bowo!" Yasa memeluk lengan Bowo. "Gimana ini?!"


Bowo hanya mampu menghela napas. "Ya udahlah. Nice try and see you again on another life. Thanks for everything."


"Ya elah! Ini mobil kenapa dah!" Sementara itu Mahari terkunci di dalam mobil. Ia berusaha mati-matian membuka pintu, tetapi tak bisa. Sejenak ia menoleh ke arah depan. Keringat-keringat sebesar biji jagung menghiasi wajahnya.


"Oi, oi, oi, tunggu bentar!" seru pria itu sembari menatap gada besar yang melesat ke arah mobilnya dalam tayangan lambat.


'Orang bilang, ketika semua yang ada di sekitar kita terlihat bergerak sangat lambat, itu artinya kematian kita sudah dekat, ya?' Batin Mahari, Yasa, dan Bowo bersamaan.


Tiba-tiba sebuah cahaya ilahi menyinari mereka seolah utusan Tuhan sedang datang menjemput. Suasana mendadak hangat.

__ADS_1


'Kami ikhlas, Tuhan.' Batin mereka bersamaan lagi. Perlahan ketiga orang itu menutup mata dihiasi senyum pasrah penuh keikhlasan.


Dentuman keras terdengar nyaring hingga membuat tanah bergetar. Gada besar itu kini menghantam tanah hingga hancur.


"Iro Yudho Wicaksono."


Mereka bertiga sontak membuka mata kembali. Sebuah keajaiban terjadi. Gada besar milik Buto Geni tergeletak di sebelah mobil Mahari beserta tangan kiri makhluk tersebut. Darah hitam mengalir deras dari lengannya yang putus akibat sabetan cahaya. Sinar terang barusan bukanlah cahaya ilahi, melainkan sabetan pedang Bengisura.


"Hohoho semua sesuai dengan rencana yang ku buat," gumam Mahari sambil menatap kaca depan yang memantulkan visual di belakang mobilnya.


Seorang pria tampan berjalan ke arah mereka. Ia adalah Darmanta Kusuma yang baru saja menyelesaikan KKN. Manta membawa pedang di tangan kanan dan menuntun koper besar di tangan kirinya.


Sama halnya seperti Wibowo. Mahari pun menghubungi Darmanta yang kebetulan sedang menjalani KKN di daerah Wates. Berhubung malam ini pria tampan itu pulang ke Jogja dan melintasi jalur yang sama dengan medan pertempuran, sedari pagi tadi Mahari menghubunginya untuk berjaga-jaga.


Melihat kehadiran Manta membuat Bowo berdecak kesal. Ia benci pria tampan.


"Cih! Tanpa lu bantu juga gua bisa selamat!"


Krak ... kraaak ... kraak


Pria botak itu bangkit, lalu meluruskan posisi tulang yang bergeser akibat benturan keras dengan bemper mobil Mahari. Ia hanya tak ingin kalah dari orang yang satu ini.


"Gua pikir lu udah mati," tutur Manta datar. "Kadang gua lupa kalo cuma usia yang bisa bunuh lu."


"Lu buta?! Padahal tadi gua sengaja nunggu dia nyerang buat ngasih counter attack, tapi lu malah dateng dan motong tangan itu makhluk. Cih! Enggak seru! Harusnya udah menang gampang, eh malah jadi susah gara-gara lu."


Melihat persahabatan yang akur itu membuat Yasa tersenyum. Ia memulihkan diri menggunakan salah satu mantranya, lalu berdiri sejajar dengan Manta dan Bowo. Bocah itu menempelkan telunjuk dan jari tengahnya, kemudian mengarahkannya menunjuk ke arah Buto Geni.


"Ayo kita habisi dia," ucap Yasa.


Bowo berpindah fokus dari Manta ke arah Buto Geni yang sedang memulihkan diri. Semangat pria botak itu kembali membara, terlihat dari seringai di wajahnya.


"Kita kudeta istana Sang Raja!" seru Bowo.


Manta tak memiliki kata-kata seperti kedua rekannya. Ia hanya diam sambil menggenggam pedang Bengisura.


Tentu saja melihat mereka bertiga bersatu membuat Mahari tersenyum tipis. Rasanya sudah lama sekali ia tak pernah melihat kombinasi tiga serangkai Tantra.


"Kalahkan raksasa itu!" serunya dari dalam mobil. "Gua enggak akan maju karena ini adalah ujian buat kalian bertiga! Paham?!"


"Paham, Bos!" balas Yasa.


"Bacot!" sahut Bowo.


Sementara Manta hanya diam tak menimpali. Entah apa yang ada di dalam kepalanya.


"Kalian manusia terlalu meremehkan ku!" teriak Buto Geni dengan nada penuh amarah. Ia meraung seperti hewan buas yang kelaparan.


Manta merendahkan posisi tubuh dan melebarkan kuda-kuda untuk siap menerjang dengan Bengisura nya. Bowo pun mengumpulkan atma dengan skala yang besar di tangan kanan untuk menghabisi raksasa di hadapannya. Sementara Yasa masih menunjuk Buto Geni dengan dua jarinya yang menempel, mulut bocah itu bersiap untuk merapalkan mantra penghancur.


Raungan Buto Geni membuat ranting-ranting pohon di sekitarnya terbakar. Raksasa itu berlari kencang ke arah mereka. Rambut-rambutnya berubah menjadi api yang berkobar dan setiap tanah yang ia pijak meleleh karena suhu tinggi.


Namun, tiga pemuda di hadapannya sama sekali tak terintimidasi dengan ketakutan. Sama halnya seperti Buto Geni, mereka siap meladeni.

__ADS_1


Mahari keluar dari mobilnya dengan usaha keras yang membuatnya bermandikan keringat. Ia tapan Buto Geni dengan sorot matanya yang tajam dan napas terengah-engah sambil menunjuk ke arah makhluk tersebut.


"MAJU!" teriaknya pada ketiga punggawanya.


__ADS_2