
Di tempat yang gelap dan tak pernah terjamah oleh cahaya, Dursasana duduk bermeditasi. Pada satu titik ia membuka matanya perlahan.
"Gorimpa telah sirna," tuturnya ketika kehilangan hawa kehadiran salah satu bawahannya. "Kemungkinan besar, orang itu sudah bergerak."
Semua mata terbelalak mendengar ucapan anak laki-laki tersebut. Kini sepasang mata Dursasana yang menyala merah di tengah gelap itu menatap pada dua sosok yang duduk di sisi kiri dan kanannya.
"Bebashura, Kerikala, balaskan dendam ku untuk Gorimpa. Bantu Darto bergerak merebut bocah Kanigara. Anak itu adalah kunci," lanjut Dursasana.
"Dursasana, musuh kita kuat. Kenapa bukan kau saja yang turun tangan?" tanya suara milik Yudha Kiranata. Sosoknya tak terlihat di dalam kegelapan itu.
"Aku punya tugas yang jauh lebih berat daripada menculik bocah," jawab Dursasana.
"Dua hari lagi malam kabisat, jika kita gagal maka tidak akan ada waktu lagi," balas Karna Rawasura.
"Serahkan saja padaku. Semua akan berjalan sesuai rencana kita," sahut Dursasana lagi.
...****************...
Sanggar Matahari sudah terlepas dari aura jahat yang menyelimutinya. Kini Santi dan Bowo membawa Pairan ke rumah sakit terdekat. Untungnya, Santi sangat mahir mengendarai mobil dengan ugal-ugalan, jadi mereka masih sempat menyelamatkan pria itu, meskipun keadaannya kritis.
"Sial!" pekik Bowo marah sembari memukul dinding rumah sakit. Ia tak menduga bahwa Darto kabur dan sempat-sempatnya menyerang Pairan.
"Wo, tenang. Pairan itu kuat kok, dia pasti baik-baik aja," ucap Santi. "Sekarang kita fokus sama kejadian hari ini dan kumpulin semua informasi yang ada."
Bowo berusaha tenang dan meredam amarahnya. Ia atur napas kembali, lalu memejamkan mata.
"Kemungkinan besar, nama kelompok mereka Nidrajahat, kayak yang dibilang sama Gorimpa. Sementara ini, anggota yang kita tahu ada enam orang," lanjut Santi.
__ADS_1
"Enam?" tanya Bowo. "Yudha, Karna, Darti, Dursasana. Dua lagi?"
"Sisanya dua iblis bawahan Dursasana, tapi enggak tau kalo di luar nama-nama itu masih ada lagi," jawab Santi.
Bowo bersandar di dinding. Tiba-tiba ia teringat sesuatu yang sedikit membuatnya penasaran. "Oh, iya. Waktu Darto dateng tadi, dia nyari Mahari. Kira-kira ngapain dia nyari Mahari ke sana?"
Santi menghela napas. "Karena sanggar dan asrama itu didirikan oleh satu-satunya orang bernama Mahari Sagara. Kemungkinan semua kejadian di sana itu terjadi buat mancing dia keluar. Makanya Pairan dateng ke asosiasi, bukan ke Mahari karena takut para penjahat ini punya rencana kelam."
Bowo terbelalak. "Sanggar tadi punya mas Mahari?"
"Banyak hal yang terjadi, dia enggak mau ada anak lain yang ngerasain apa yang dia rasain dulu," Santi tersenyum pilu. "Mahari itu anak yatim piatu yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tua. Kehidupannya berat, tapi Mahari terus hidup dan belajar mandiri. Dia anak yang kuat."
"Jadi Mahari buat sanggar itu buat anak-anak yang emang enggak punya tujuan hidup?" tanya Bowo.
Santi mengangguk pelan. "Ada benernya, tapi lebih dari itu. Mahari mau anak-anak itu merasa punya tempat pulang. Bukan sekadar rumah yang cuma bangunan, tapi keluarga yang sama-sama berjuang buat hidup."
"Dari kapan dia bangun itu semua, mbak?"
Bowo terkekeh. Ia membayangkan wajah Mahari kala itu. "Terus gimana tuh, mbak? Dari Mahari jadi Matahari. Kocak sih yang nulis juga, tapi tepuk tangan lah buat dia, udah bisa bikin mas Mahari kesel."
Santi tersenyum. "Aku pikir dia bakal marah atau kesel, tapi ternyata enggak. Dia malah nyari filosofi yang nyambung-nyambungin antara seni dan cahaya matahari."
"Cahaya adalah kuasa yang memunculkan rahasia seni. Seperti matahari yang menerangi dunia, seni juga memancarkan kejujuran dan keindahan yang tersembunyi di dalam diri kita," sahut Bowo yang masih mengingat kata-kata Santi siang tadi.
"Sampai sekarang dia udah enggak di asosiasi pun, dia masih suka ngemis kerjaan lemparan ke kita biar punya penghasilan tambahan katanya. Selain ngurusin Tantra, dia punya tanggung jawab lain di tempat lain. Semua penghasilan dia sampe saat ini didedikasikan buat para anak-anak di asrama. Di mata anak-anak itu, Mahari udah kayak sosok orang tua mereka."
"Mahari pernah bilang, semua makanan itu sama aja kalo udah lewat tenggorokan. Aku pikir itu cuma alesan karena dia pelit, tapi sekarang aku mulai sedikit ngerti kenapa dia begitu." Bowo teringat betapa pelitnya pria bernama Mahari itu. Meski dapat banyak bonus setiap kali menyelesaikan tugas dari asosiasi, ia selalu saja hidup minimalis dan tak banyak tingkah. Rupanya ada sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya di tempat lain yang Bowo tidak pernah ketahui.
__ADS_1
"Kenapa dia enggak pernah bilang punya semua ini?" tanya Bowo.
"Namanya juga Mahari. Dia itu tipikal manusia aneh dan misterius. Dia terlalu baik sampe enggak mau ngebebanin orang lain di sekitar dia dan cenderung ngalah. Dia selalu mikirin orang lain, tapi enggak mau orang lain mikirin dia. Itu juga yang narik minat asosiasi buat rekrut dia dulu."
Bowo menyimak. "Gimana ceritanya, mbak?"
"Mahari lahir dari keluarga yang spesial, keluarga bernama Sagara yang emang punya spesialisasi di bidang ghaib. Mereka itu jembatan yang menghubungkan antara kehidupan dan kematian," jawab Santi. "Desas desus tentang seorang anak yang suka membantu arwah terdengar di telinga petinggi. Mereka mau anak itu bergabung."
"Dan akhirnya Mahari bergabung?"
Santi mengangguk. "Iya, kita ada di dalam satu divisi yang sama. Mahari, Mbak, Yudha ... di bawah komando Kapten Kanigara."
Di tengah perbincangan tentang Mahari, Dokter keluar dari ruangan Pairan dan menghadap pada Santi. "Lukanya cukup dalam, beruntung masih bisa selamat karena stok kantung darah di sini cukup." Dokter itu hendak bicara lagi, tetapi tiba-tiba Bowo memotong.
"Seandainya telat sedikit, pasti ...," celetuk Bowo melanjutkan ucapan si dokter yang terputus. "Gitu kan, Dok, lanjutannya?"
Sang dokter tersenyum dan mengangguk. "Ya, kamu benar, kamu hebat." Setelah itu ia pergi lagi karena masih banyak urusan.
"Alhamdulillah," ucap Santi dengan wajah lega.
"Mbak, kalo Pairan itu siapa sebenernya?" tanya Bowo.
"Dia anak pertama yang ikut sama Mahari," jawab Santi.
"Bukan Yasa?" tanya Bowo lagi. "Kenapa Yasa enggak ditaro di sana?"
Santi mengangkat bahunya. "Entah, tanya aja sama orangnya nanti."
__ADS_1
Bowo terdiam lagi. Ia belum memberitahu Santi bahwa Mahari sudah keluar dari Tantra dan entah berada di mana orang itu sekarang. Setelah mengetahui sedikit kebenaran tentang Mahari, ada penyesalan karena sempat berkata kasar pada pria baik itu. Namun, nasi telah menjadi ketupat sayur, Bowo hanya mampu menghela napas dan berdoa semoga Mahari baik-baik saja saat ini di mana pun ia berada.
Setelah memastikan Pairan baik-baik saja, Santi mengutus salah satu pengurus asrama yang ikut mengungsi dengan anak-anak untuk menjaga Pairan. Sementara Santi dan Bowo kembali ke asrama untuk beristirahat.