
Krekk ... krekk
Jari-jari tangan Wibowo berbunyi ketika ia menatap Suratno sambil memberikan seringai meledek. Perlahan ia tertawa renyah.
"Apa yang lucu?" tanya Suratno.
Bowo menunjuk Manta dengan jempolnya tanpa menoleh. "Ngelawan ini orang aja sampe harus berdua. Apa dia emang sekuat itu?"
"Aku sendiri sudah cukup untuk membunuhnya," balas Suratno.
"Biar gua kasih tau, om. Manta itu selalu menang lawan gua. Sekarang kita satu lawan satu, biar temen lu main sama temen kecil gua. Seumpama lu kalah sama gua, berarti lu lebih kalah sama orang yang sekarang cuma duduk di belakang gua."
Suratno melirik ke arah Mahari. Daripada dua pemuda dan satu anak-anak, ia lebih waspada dengan satu orang dewasa. Namun, Mahari terlihat hanya diam dan duduk menonton saja. Jadi saat ini sang dalang masih bisa bernapas lega.
Merasa diperhatikan oleh musuhnya, Mahari pun tersenyum pada sang dalang dan melambaikan tangan.
"Santai, bung. Ini ujian buat mereka bertiga," ucap Mahari. "Aku enggak ikut-ikutan."
Di sisi lain, pergerakan dari sang iblis berkebaya merah membuat Yasa tak henti-hentinya bergumam. Sihir berkedok nada-nada sinden yang dinyanyikan sang iblis berbenturan dengan bait-bait mantra milik Yasa.
"Amurwabumi, raksa kula. Damarwulan, ameng kurmati. Wisnumurti, kang anugrahi. Aji amukti, amukti kula."
Ia lantunkan mantra perlindungan dengan konsentrasi penuh. Perisai atma berwarna putih kebiruan semakin menguat di sekeliling tubuhnya, menjadi benteng yang melawan gelombang sihir berkedok nada-nada sinden dari iblis berkebaya merah.
Kidung iblis itu, meskipun terdengar samar dan mengganggu, tetapi tidak lagi memiliki daya tembus yang sama seperti sebelumnya. Perisai atma Yasa memantulkan sihir tersebut, menghambat penetrasi ke dalam jiwanya. Meskipun getaran aneh di gendang telinga Yasa tetap ada, ia merasa bisa mengontrol dirinya dalam pertarungan ini.
Sang pesinden mempercepat tempo nyanyiannya, berusaha mengurangi kekuatan perisai atma yang melindungi Yasa. Meski durabilitas perisai tersebut mulai terkikis, Yasa tidak panik. Dengan tatapan tajam, ia memusatkan atma pada jari telunjuk dan tengahnya yang menyatu dan mengarahkannya pada iblis itu. Ketika pesinden berkebaya merah menyesuaikan tempo kidungnya dengan perubahan perisai atma, Yasa mengambil napas dalam-dalam dengan mata terpejam.
Dalam keluarga Kanigara, ada istilah untuk mantra penghancur yang diberi nama Garjita. Garjita sendiri memiliki lima tingkatan yang di mana masing-masing mantra memiliki daya hancur dan resiko yang berbeda-beda.
"Roh kelam, titiang ngalahin olih cahya. Kekuatan alam, ngulurangin adharma. Titiang pateh, ngalahin antuk daging. Dados titiang nenten ngalingi dewa malaibang."
Perlahan Yasa membuka mata. Dalam sekejap, ia melepaskan mantra penghancur nomor dua milik keluarga Kanigara.
__ADS_1
Cahaya biru keperakan memancar dari ujung jari Yasa, membentuk garis energi yang menusuk ke arah iblis. Atma yang ditembakkan oleh Yasa memiliki sifat yang berbeda dari perisai yang ia gunakan. Serangan itu mengandung kekuatan positif yang mempertanyakan asal usul kegelapan iblis itu sendiri.
Iblis berkebaya merah itu terpental ke belakang, terjatuh dalam keadaan lemah. Ia hendak bangkit, tetapi sebuah lesatan cahaya menebasnya menjadi dua bagian.
"Eh?" gumamnya lirih dengan wajah heran. Matanya menatap ke arah Manta yang baru saja melepaskan salah satu kemampuan Bengisura.
"Anggap aja impas," ucap Manta dengan nada datar. Gilirannya mengganggu pertarungan makhluk itu.
Sang pesinden sirna menjadi kepulan asap hitam yang melebur bersama angin malam. Suratno hanya mampu melihat kekalahan rekan kerjanya begitu saja. Ia ingin membantu, tetapi tak bisa. Bowo menahan pergerakan si dalang itu.
Dengan iblis berkebaya merah yang telah kalah, fokus pertarungan beralih pada pertarungan yang lebih berat antara Suratno dan Wibowo. Meskipun Suratno memegang keris sakti, Wibowo, dengan kekuatan fisik yang tinggi dan kemampuan menggunakan atma yang mematikan, berhasil menjepitnya ke sudut halaman.
"Ayo, mana rasa percaya dirinya tadi, om?" tanya Bowo.
"Bocah sialan!" Suratno yang marah kembali melancarkan serangan.
Setiap serangan dari Suratno dihindari oleh Wibowo bermodalkan teknik tinju. Ia anggap tusukan keris itu sebagai pukulan straight dari petinju lain. Meskipun keris itu memancarkan aura membunuh yang sangat kelam, atma yang dimiliki Bowo tampaknya memberikan keunggulan dalam pertarungan spiritual. Suratno berjuang untuk mengimbangi kekuatan lawannya, tetapi keterampilannya dengan senjata tampaknya kurang efektif dalam menghadapi kekuatan murni dari seorang Wibowo Mahasura.
Bowo tidak hanya mengandalkan kekuatan fisiknya, tetapi juga menggabungkan atma ke dalam setiap serangannya. Setiap pukulan dan tendangan yang ia daratkan pada Suratno memberikan efek yang mengerikan, mengguncang pria paruh baya itu dan menghancurkan keseimbangannya. Bowo mempersempit peluang bagi dalang wayang setan itu untuk bergerak.
Kepalan tangan berbalut atma hitam itu menghantam Bowo hingga memuntahkan darah. Serangan dari Suratno merusak pertahanan fisik dan atma yang dimiliki oleh lawannya. Wibowo terdesak, dan keunggulannya perlahan terkikis. Dalam satu momen yang menentukan itu, Suratno berhasil mendaratkan serangan pada Bowo dan melancarkan serangan lain secara membabi-buta. Kini ia mengambil momentum dan menyerang balik.
Pada satu titik, Bowo hampir hilang kesadaran, tetapi semangat pantang menyerah yang membara membuat Bowo bangkit kembali dan menangkis satu serangan Suratno.
"Gua punya satu orang yang jadi ambisi gua selama ini. Gua berpikir buat ngejar dia dan berdiri di depan dia. Sekarang orang itu ada di sini, ngeliat pertarungan ini. Jadi gua enggak boleh kalah. Gua tau gua bukan orang yang berbakat kayak dia, tapi gua pun pengen dia sadar bahwa bakat terkuat manusia itu adalah pantang menyerah!" ucap Bowo.
Walaupun lelah, Bowo tidak membiarkan dirinya terhenti. Ia memusatkan pikirannya, mengingat semua yang sudah ia lalui selama ini. Dengan kecepatan, kekuatan fisik, dan keterampilan atma yang dimilikinya, Bowo melancarkan serangan-serangan balasan pada Suratno.
Serangan-serangan Bowo menghantam lawannya dengan daya hancur yang gila, mematahkan pertahanan dan refleks Suratno. Semangat dan pantang menyerah berpadu dalam gerakan yang harmonis, menciptakan rangkaian serangan yang tak terduga. Suratno terpaksa mengubah strategi pertahanannya, tetapi tekanan dari serangan-serangan Bowo terus meningkat.
"Gua enggak akan pernah kalah lagi dari siapa pun!" teriak Bowo.
Keadaan berbalik kembali. Kekuatan dan semangat Bowo semakin menguasai panggung. Meskipun ia lelah dan sempat terjatuh, tekadnya yang sekuat baja memberikan energi tersendiri untuk terus bangkit dan melawan.
__ADS_1
Dengan gerakan yang lincah Bowo berhasil membawa pertarungan ke titik *******. Si botak itu mengecoh Suratno dengan serangan semu, lalu mengumpulkan atma yang menyala dalam tinjunya.
"Tepes api mulud."
Bowo melepaskan pukulan yang bersarang di ulu hati Suratno. Pukulan itu mengirimkan panas yang menyengat pada lawan dan menghantam jiwanya. Suratno memuntahkan darah hitam dari mulutnya, lalu terkapar di tanah tak sadarkan diri.
Suara tepuk tangan membuat senyum Bowo berubah menjadi gelak tawa. Manta yang tertatih merangkul pria botak itu, menopangnya agar tetap berdiri.
"Jangan jatoh, nanti lu
jadi enggak keren," ucap Manta.
"Emangnya gua keren?" tanya Bowo.
Manta tersenyum. "Dikit."
Di tengah kemenangan, tiba-tiba tiga orang berjaket parka berwarna hitam memasuki halaman rumah Suratno. Tampaknya Mahari tidak takut, kemungkinan itu bukanlah musuh. Pikir ketiga pemuda itu.
"Kerja bagus, Mahari," ucap salah satu pria yang merokok.
Mahari tersenyum. "Sisanya aku serahkan padamu, Inspektur Dendi."
"Kau harus mengumpulkan dan juga menjadi saksi untuk kejahatan Suratno. Kita harus menghukum para pelaku ilmu hitam yang merugikan orang lain. Tidak akan ada hukum yang bisa menyentuh mereka jika kita hanya diam."
"Oke, oke."
Inspektur Dendi dan bawahanyna membawa Suratno pergi. Setelah itu Yasa merapalkan mantra pada jiwa para sinden yang ditahan oleh Suratno agar bisa pulang ke raga mereka. Tiga di antaranya berhasil selamat, sementara yang satunya lagi sudah kehilangan raganya, ia adalah istri dari Suratno yang dijadikan tumbal oleh suaminya sendiri.
"Manta!" Mayang berdiri di depan gerbang rumah sang dalang dengan napas terengah-engah.
Bowo tersenyum dan menepuk pundak Manta, kemudian berjalan pergi. Mahari dan Yasa berjalan pergi mengikuti Bowo, meninggalkan Manta bersama Mayang.
Gadis itu berlari ke arah Manta sambil menangis. "Makasih, makasih banyak, Ta. Mirna cerita tentang apa yang terjadi barusan. Makasih udah nolongin Mirna."
__ADS_1
"Dikit aja," balas Manta. Ia menunjuk rekan-rekannya yang berjalan pergi. "Simpen yang banyak buat mereka," sambungnya diiringi senyum.