Sang Arkana : Para Pemburu Iblis

Sang Arkana : Para Pemburu Iblis
Pagelaran Wayang


__ADS_3

"Bang-bang wis rahina ... bang-bang wis rahina. Srengengene muncul-muncul, muncul sunar sumburat ...."


Mayang terbangun dari tidurnya ketika mendengar lirih kidung sinden yang merdu namun menggigit. Ia membuka mata, tetapi tak mampu bergerak dan hanya mampu menatap kegelapan.


Dari ubun-ubun nya terasa ada embusan angin kencang yang menerobos masuk dan bergerak-gerak di dalam kepalanya. Dalam waktu sepersekian detik, rasanya Mayang sangat pusing seperti mengalami vertigo.


"Na, tolong, Na."


Itu yang ingin Mayang ucapkan, tetapi hanya bisa terucap di dalam hati saja. Orang bilang istilahnya ketindihan. Itulah yang sedang dialami oleh Mayang saat ini.


Hampir satu menit Mayang mengalami ketindihan. Lambat laun matanya mulai terbiasa dengan kegelapan di kamarnya. Samar-samar ia melihat siluet wanita sedang menari di arah pintu, dekat kakinya. Sontak sekujur tubuh gadis itu merinding.


Dalam hati Mayang terus membacakan doa-doa agar terlepas dari ketindihan. Gadis itu berusaha memberontak untuk bergerak. Ia bergumam tajam pada siapa pun yang saat ini mengganggunya, bahwa tak ada siapa pun kecuali Allah dan dirinya sendiri yang memiliki hak atas kuasa tubuhnya. Seketika itu juga, Mayang mampu bergerak dan langsung terduduk dengan napas terengah-engah. Ia langsung bangun dan berlari untuk menyalakan lampu.


Kini ruangan sudah dikerubungi oleh cahaya, tetapi Mayang hanya mampu terpaku memandang Mirna yang berdiri di atas lantai. Tari Jawa yang anggun dilakukannya sambil bersinden dengan suara yang tak manusiawi.


"Na, bangun, Na!" Mayang berusaha menyadarkan Mirna, sebab ia tahu bahwa saat ini yang menari dan bersinden itu bukanlah temannya. "Sadar!"


Segala upaya telah ia lakukan, tetapi tak membuahkan hasil. Dalam pikirannya hanya ada satu nama. Mayang pun langsung meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Darmanta.


Mirna yang menari dengan tatapan kosong, kini sontak menatap ke arah Mayang dengan tatapan yang tajam. Tentu saja dipandang seperti itu membuat Mayang takut dan gemetar sehingga memperlambat ketikannya. Ia berjalan melewati Mirna dan meraih gagang pintu sambil membuka kunci.


Namun ....


Saat Mayang sudah membuka kuncinya, pintu itu tak mau terbuka seolah masih dalam keadaan terkunci. Ia tak menyerah dan masih berusaha membukanya. Hanya saja, di tengah kerja kerasnya, suara Mirna tiba-tiba berhenti. Mayang pun refleks menoleh untuk melihat kondisi Mirna. Siapa tahu makhluk yang merasukinya sudah keluar.


"Astagfirullah!" pekik Mayang yang terkejut.


Ketika ia menoleh, wajah Mirna sudah berada tepat di depan wajahnya. Kini raut wajah gusar itu berganti seringai. Mirna mundur dua langkah, lalu kembali menari dan bersinden sambil menatap Mayang dengan senyum menyeramkannya. Tempo kidung dan gerakan gadis itu semakin cepat.


"Lingsir wengi tan kendhat bebaya memala, tan kinaya apa, bebendu pepeteng tan kena atinira ... bang-bang wetan bang-bang wetan, semburata semburata ...."


Mayang jatuh terduduk lemas. Ia menangis karena ketakutan dan khawatir pada Mirna. Ponselnya pun terpental akibat kaget tadi dan terjatuh di kaki Mirna yang sedang beringas menari.


...****************...


"Manta ...."

__ADS_1


"Manta."


"Darmanta!"


Manta terbangun dari tidurnya dengan napas terengah-engah. Ia tatap pedang Bengisura yang terpajang di dinding kamarnya. Pedang itu seolah memanggil namanya.


Pria itu duduk di tepi dipan, mengambil segelas air di meja kecil sebelah tempat tidur lalu meminumnya. Setelah itu ia atur napas hingga mendapatkan ritme yang tenang.


Merasa tempo pernapasannya sudah kembali normal, Manta menatap ponselnya. Ia ambil ponsel itu dan membuka kuncinya.


Matanya memicing ketika mendapati satu panggilan tak terjawab dari Mayang. Perasaannya mendadak tak enak diselimuti kekhawatiran. Manta pun segera melakukan panggilan balik. Hanya saja, sampai panggilan berakhir, gadis itu tak mengangkatnya.


'Orang yang nelpon jam dua malem itu enggak wajar, kan?' Pikir Manta.


Ia segera bangkit dan berjalan ke arah pintu. Manta mengambil haori modern berwarna hitam kebiruan yang tergantung di pintu untuk membalut kaos putihnya. Setelan atasnya cukup selaras dengan celana jogger berwarna hitam yang ia kenakan.


Begitu pria itu hendak membuka pintu, sejenak Manta terdiam. Ia menoleh kembali dan berjalan ke arah Bengisura yang terpajang di dinding kamar bagian samping, lalu mendekatinya.


Ia tatap pusaka itu dan mengambilnya. Manta membawa Bengisura di pundaknya dengan tali yang menyamping di dada. Begitu persiapan dirasa cukup, Manta berjalan keluar kamar dan melewati ruangan pribadi Mahari.


Pria tampan itu menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar. Mahari sedang duduk sambil menelpon seseorang di dalam sana. Melihat Manta yang tergesa-gesa, pria gondrong berponi belah tengah itu pun mematikan telepon, lalu bangun dan menghampiri Manta.


"Gadis itu lagi berada di tengah kegelapan sekarang. Dia ketakutan," ucap Mahari lagi. "Bebasin dia pake cahaya lu, Ta."


Manta hanya membalas ucapan aneh Mahari dengan senyuman, lalu pergi melanjutkan langkahnya.


Ketika keluar dari Tantra, aura pria tampan itu mendadak dingin. Tak ada lagi senyum di wajahnya.


Secepat angin ia melaju menuju tempat tinggal Mayang mengendarai motornya.


"Good luck, Boy," gumam Mahari.


...****************...


Manta tiba di depan pos ronda sebrang kos Mayang. Ia tatap rumah sang dalang dengan sorot mata yang tajam.


Berbeda saat sore atau waktu awal gelap merajai bumi. Lewat tengah malam rumah itu terdengar riuh. Tentu saja tak ada tetangga yang terganggu, sebab suara riuh tersebut berasal dari pesta para setan.

__ADS_1


Rumah itu gelap seperti rumah lain saat malam hari. Namun, di mata Manta, rumah besar itu sangat terang benderang dihiasi cahaya kemerahan.


Manta turun dari motor dan berjalan menuju rumah itu.


Tak butuh usaha untuk membuka pagarnya, sebab ia sudah disambut hangat oleh sang dalang dan pertunjukannya.


"Aku tau kau ingin belajar, tapi aku tidak menyangka bahwa kau akan datang secepat ini, Arkana," ucap Suratno. "Jangan tanya mengapa aku tahu siapa dirimu. Sama sepertimu yang memiliki insting yang menuntun pada kegelapan. Aku pun memiliki insting yang mampu mendeteksi cahaya."


"Di mana Mayang?" tanya Manta tanpa berbasa-basi.


"Sebentar lagi kedua gadis itu akan menjadi pesinden ku!" jawab Suratno.


Meskipun sang dalang tak memainkan lakonnya. Boneka wayang miliknya masih melayang dan bergerak dengan sendirinya. Musik gamelan pun menjadi pengiring pertunjukan, dimainkan oleh para pengrawit tak kasat mata.


Di sisi kiri Suratno berjajar lima orang pesinden. Salah satunya membuat mata Manta berkedut.


Melihat ekspresi wajah Manta, Suratno tertawa.


"Sebentar lagi pacarmu akan menyusul temannya!"


Manta menunduk tanpa ekspresi. Perlahan tangannya terjulur meraih gagang Bengisura yang berada di pundaknya.


"Tak ada gunanya menunggu kalian para setan memohon ampun. Setiap kalian memang harus dibunuh," gumam Manta.


Mendengar ucapan Manta, pagelaran wayang setan pun berhenti. Para makhluk tak kasat mata itu menatap kosong ke arah Manta.


"Wah, wah. Ucapanmu membuat mereka semua tersinggung loh," ucap Suratno.


Para roh jahat bawahan sang dalang yang gusar pun bangkit dan langsung menerjang ke arah Manta.


"Bunuh segala kegelapan di tempat ini, Bengisuro ...," lirih Manta.


Pria itu menarik Bengisura keluar dari sarangnya. Cahaya silau memancar dari pedang itu menerangi pagelaran wayang setan milik dalang Suratno. Cahaya merahnya hilang dihabisi cahaya putih milik Bengisura.


Suratno memejamkan mata karena pancaran sinar tersebut. Ketika ia membuka matanya perlahan, pasukannya lenyap menjadi kepulan asap hitam yang pekat dan terkikis angin malam.


Manta mengarahkan pedangnya pada Suratno. "Salahmu membunuh belas kasihku. Ampun mu sudah mati."

__ADS_1


__ADS_2