Sang Arkana : Para Pemburu Iblis

Sang Arkana : Para Pemburu Iblis
Sang Penggoda Pikiran


__ADS_3

"Wo!" seru Santi dari arah luar kamar.


Bowo keluar dari kamarnya dengan kaos lengan buntung berwarna putih. Ia menatap Santi tajam seolah siap dengan apa yang akan terjadi berikutnya. Wanita berkaos hitam dibalut jaket abu-abu panjang itu berjalan di lorong asrama menuju pintu belakang.


"Jangan ngelamun ya, Wo. Iblis bisa masuk ke dalam pikiran kita," lanjut Santi. "Jangan cuma perkuat tubuh, tapi batin kamu juga."


"Oke, mbak."


Lampu-lampu di lorong mendadak mati, membuat asrama ditelan gulita. Tidak ada kejadian aneh-aneh setelah lampu mati, Bowo dan Santi berhasil keluar dan kini melanjutkan langkah menuju sanggar.


Bowo menatap sekeliling. 'Gila, padahal masih jam segini, tapi hawanya langsung tajem begini seolah makhluk ini mendeklarasikan rasa enggak sukanya sama tamu yang dateng.'


Pintu sanggar tiba-tiba terbuka dengan sendirinya, seolah mengisyaratkan pada kedua orang itu untuk masuk ke dalam, tetapi tak ada siapa pun yang keluar atau terlihat membuka pintu.


"Bukan mas Pairan, kan?" tanya Bowo.


Santi menggeleng. "Kayaknya bukan orang, Wo."


Perlahan, terdengar suara musik gamelan dari dalam sana. Sontak Bowo dan Santi saling bertatapan, tetapi tak ada yang kunjung melanjutkan langkah.


"Maju, Wo. Apa pun yang terjadi mbak di belakang kamu."


"Mbak kan ketua asosiasi. Tunjukkin ke mereka siapa bosnya, mbak," balas Bowo.


"Kamu bilang apa tadi siang, Wo? Mau nemenin mbak kalo takut tidur sendirian?"


Bowo meneguk ludah. Kini ia tak boleh menjilat ludah sendiri. Ia harus terlihat kuat dan berani. Siapa tahu Santi akan luluh dan memintanya untuk menemani tidur sekamar. "Oke." Pria botak itu berjalan pelan menuju sanggar.


Setiap langkah yang terbuang membuat tenggorokan terasa kering. Semakin dekat jarak antara Bowo dan pintu sanggar, tekanan yang berat pun semakin dirasakan olehnya. Namun, pada satu titik Bowo pun sadar bahwa ia tak boleh takut. Sebab ketika ia takut, maka roh jahat akan semakin kuat karena memakan rasa takutnya. Perlahan aura pria itu berubah. Ia terlihat lebih tenang sekarang.


Melihat perubahan aura pada pria itu membuat Santi tersenyum dari belakang. Ia sengaja menguji pria botak di depannya untuk mengasah mental. Selain Bowo itu pria, ia pun adalah seorang pemburu. Tak boleh ada pemburu yang boleh gemetar di depan buruan mereka.


Kini mereka berdua sudah memasuki sanggar. Rupanya tak ada siapa pun di dalam sana. Suara gamelan pun mendadak berhenti, menyisakan keheningan yang ganjil.


BRAAK!!!

__ADS_1


"Astogeh!" pekik Bowo terkejut.


Bowo dan Santi menoleh. Pintu di belakangnya tiba-tiba saja tertutup kencang dan terkunci dengan sendirinya. Bowo berbalik, berusaha membukanya dari dalam dengan satu tangan, tetapi pintu itu tak mau terbuka.


"Kita dipancing ke sini, Wo," ucap SantiSanti yang ikut menoleh.


Gending gamelan kembali terdengar. Sontak Bowo berbalik arah kembali dan Santi pun ikut menoleh ke arah pelataran. Mereka berdua merinding ketika melihat seorang wanita berpenampilan menawan, dengan wajah cantik dan pakaian yang menggoda. Namun, sorot matanya memancarkan aura yang keji.


Bowo meneguk ludah, bukan karena takut atau merasa tertekan. Hanya saja penampilan wanita itu sangat menggoda dengan pakaian seperti itu dan lekuk tubuh yang sempurna. Belum lagi ... dua bongkahan bola besar di dadanya yang naik turun seiring tariannya.


Santi melirik ke arah Bowo. "Wo, hidung kamu berdarah."


Dengan sorot mata yang tegas, Bowo tak memalingkan pandangan dari wanita itu. "Iya, mbak. Wanita itu kuat."


"Kamu yang harus kuat, Wo. Dia itu iblis!"


Ucapan Santi membuat Bowo tersadar. Di tengah hasratnya yang bergejolak bangkit, kini pria itu berusaha melawan dan menekan perasaan tersebut.


"Meleng dikit bisa mati kamu, Wo," lanjut Santi.


Santi menatap tajam pada wanita itu. "Gorimpa, Sang Iblis Penggoda. Salah satu dari tiga bawahan Dursasana."


Mendengar nama Dursasana membuat Bowo sekilas merinding. Namun, setelah itu auranya kembali berubah. Mengingat makhluk berwujud anak laki-laki yang membuatnya hampir mati, membangkitkan bara api dalam dadanya. Rasa tak ingin kalah membuatnya kembali membuang semua pikiran kotor di dalam kepalanya.


"Wo, kamu udah ngelawan Dursasana, tapi yang satu ini beda. Kalo Dursasana cenderung beringas di pertarungan frontal. Iblis yang satu ini lebih terkesan licik. Julukannya sebagai iblis penggoda itu bukan cuma bualan. Hati-hati kamu, jangan dengerin semua ucapan dia," ucap Santi.


Saat Bowo hendak bergerak maju, tiba-tiba terdengar samar-samar dengung lirih yang membuat kepalanya terasa pusing. Sejenak Bowo memejamkan matanya.


"Bowo," panggil Santi dengan suara yang lembut. Bowo pun refleks menoleh ke arah wanita di sampingnya.


"Ya, mbak?"


Mata Bowo membulat utuh saat melihat wajah Santi yang saat ini sedang menggigit bibir bawahnya dengan ekspresi menggoda.


Gorimpa, sang iblis penggoda, dengan liciknya memanfaatkan kelemahan Bowo sebagai pria. Bowo tampak terdistorsi oleh pengaruh ilusinya, dan pandangan pria itu mulai terpesona oleh hasrat semu Gorimpa.

__ADS_1


Bowo mulai mendekati Santi dengan ekspresi seperti orang yang kehausan. Namun, Santi yang berpengalaman segera menyadari apa yang terjadi.


"Ssst, Bowo," bisik Santi tenang, mencoba memulihkan kesadaran Bowo. "Ini cuma ilusi, Wo. Kamu harus bisa ngelawan."


Bowo terlihat bingung dengan dirinya sendiri karena pengaruh ilusi Gorimpa. Hatinya berusaha untuk melawan, tetapi kekuatan ilusi iblis itu masih terlalu kuat. Gorimpa terus memainkan tariannya untuk terus mempengaruhi Bowo.


Santi mendekati Bowo dengan hati-hati. Wanita itu paham bahwa ia harus menyadarkan Bowo sebelum pria itu benar-benar melangkah terlalu jauh.


"Wo, sad—" Ucapan Santi terhenti.


Bowo menerjang dan menangkap kedua tangan mungil Santi dengan satu tangan perkasanya. Ia angkat tangan itu tinggi-tinggi sambil menatap wajah Santi dengan ekspresi yang menjijikan. "Mbak Santi, kamu cantik mbak kalo begini."


Santi masih terlihat tenang. Ia menggumamkan sesuatu seperti sedang berdoa. Wanita itu berusaha meredam ilusi yang mengikat Bowo. Bisikan-bisikan Santi perlahan mulai mempengaruhi Bowo. Walaupun perlawanan dari ilusi Gorimpa masih terlalu kuat.


Bowo mulai melawan hasratnya sendiri, mencoba untuk membebaskan diri dari kendali yang membelenggunya.


Melihat mangsanya yang memberontak, Gorimpa turun dari pelataran dan berjalan pelan ke arah mereka berdua. Ia memperkuat kembali ilusi yang perlahan melemah. Wanita jahanam itu menyentuh tangan kanan Bowo dan mengelus lembut otot-ototnya, lalu membuka gips yang menutupi tangan itu.


"Kalian para Arkana berpikir bahwa kalian itu suci?" tanya Gorimpa. "Akan ku buat kau dinodai oleh bawahan mu sendiri. Setelah itu baru ku bunuh! Kita lihat, apakah kau bisa menahan gempuran pria ini, atau justru ikut menikmatinya? Hihihi. Mungkin jika kau menikmatinya, aku akan mengampuni nyawamu."


Santi mulai berkeringat. Ia benar-benar terlihat seperti seekor kelinci yang diterkam harimau. Genggaman tangan kiri pria di hadapannya terlalu kuat dan tak bisa dilepas meskipun Santi sudah berusaha mencobanya sedari tadi. Perlahan tangan kanan Bowo yang sudah bebas bergerak, terjulur hendak meraih bongkahan dada Santi.


"Kamu bisa ngelawan, Bowo! Kamu lebih kuat dari ilusi ini. Inget siapa kamu. Kamu itu seorang Arkana, Wibowo Mahasura!"


Tangan kanan Bowo langsung terkepal dan berubah arah, menghantam kepala Gorimpa hingga iblis itu terpental ke depan pelataran.


"Maaf, mbak ... saya hampir aja ngelakuin hal yang malu-maluin dan kurang ajar ke mbak Santi," ucap Bowo merasa bersalah. Ia memegangi kepalanya yang masih terasa pusing. "Itu hampir terjadi karena kelemahan saya."


"Cara biar kamu dimaafin cuma ada satu, Wo." Santi menunjuk ke arah Gorimpa. "Bunuh iblis itu."


Gorimpa bangkit kembali dan berniat mengelabuhi Bowo lagi dengan ilusinya, tetapi kali ini serangannya tak mempan pada Bowo. Pria itu melapisi tubuhnya dengan atma, ditambah Santi ikut membuat lingkaran atma di sekitar Bowo untuk memperkuat pertahanannya dari ilusi Gorimpa.


Bowo mengumpulkan atma di kedua tangannya dan berjalan ke arah Gorimpa. "Membiarkanku hidup adalah kesalahan terbesar Dursasana. Sebab aku akan membunuh salah satu rekannya."


Saat sedang fokus untuk menyerang, tiba-tiba pintu sanggar terbuka perlahan. Bowo dan Santi sontak menoleh ke belakang. Ditatapnya seorang pria dengan kemeja putih dibalut setelan jas hitam berjalan masuk. Ia mengenakan sarung tangan hitam di kedua tangannya dan menenteng sebuah pedang panjang di tangan kirinya.

__ADS_1


Pria itu menatap tajam ke arah Bowo, dan menunjuk pria botak di depannya menggunakan gagang pedang. "Apa kau orang yang bernama Mahari Sagara?"


__ADS_2