
Setelah Darto melepaskan pasukan roh jahatnya, samar-samar terdengar dengungan di telinga Bowo. Pria itu menghentikan laju motornya dan menatap ke belakang.
"Holly ****, man," umpatnya saat melihat awan hitam yang pekat dari pusat kota dan perlahan menyebar. Namun, Bowo tahu bahwa itu bukanlah gumpalan awan gelap, melainkan ratusan roh jahat.
Secepat angin, para roh jahat itu menyebar hingga ke seluruh penjuru Surakarta. Bowo segera mengambil ponsel dari kantong jaketnya.
"Utara tidak aman," kata Mahari dalam chat-nya.
"Timur juga," balas Manta.
"Selatan sama," balas Yasa.
Bowo mengetik. "Barat senada."
Pria botak itu menatap ke arah pusat awan hitam. "Siapa yang menduga, ternyata bedebah itu tidak bersembunyi di perbatasan."
Ketika sedang asik mengeluh, dari arah belakang terlihat siluet lima makhluk besar yang sedang berjalan ke arah Bowo.
Setelah jarak di antara mereka mulai terkikis, barulah jelas terlihat wujud lima makhluk itu yang merupakan gerombolan Genderuwo.
Bowo turun dari motor dan mengenakan sarung tangan beladiri berwarna peraknya. Sarung tangan itu dibuat menggunakan perak murni, lalu ditempa bersama bambu kuning dan garam kasar. Cukup efektif digunakan melawan roh jahat.
Bowo memandang tajam ke arah gerombolan itu. Satu Genderuwo terlihat berbeda. Jika yang empat hanya bertubuh besar dengan bulu hitam dan mata merah, maka yang satu lagi memiliki taring panjang dan tanduk. Ia terlihat seperti pemimpinnya.
"Yang boleh lewat cuma orang ganteng," ucap Bowo sambil melangkah ke tengah jalan yang sepi.
"Bunuh yang satu ini," titah pimpinan Genderuwo pada empat bawahannya.
Bowo menyeringai. Dengan luapan semangat ia berlari dan menghajar musuh-musuh di hadapannya.
Tak butuh waktu lama bagi Wibowo untuk menghabisi kelima makhluk tersebut. Ia mengambil napas setelah membuat mereka semua menjadi kepulan asap hitam, lalu mencoba beristirahat sejenak. Sebab, meskipun terkesan menang mudah, tetapi pertarungan tadi cukup menguras tenaga.
Di tengah istirahatnya, dengan cepat Bowo refleks menoleh ke arah Timur. Mata pemuda itu berkedut ketika merasakan hawa membunuh yang kental sedang melesat cepat ke arahnya. Keringat mulai membasahi tubuhnya akibat rasa takut.
'Aura mengerikan macam apa ini sialan?!' Pikirnya.
Bowo melawan rasa takutnya dan mulai bergerak. Dengan refleks cepat ia berguling ke kanan.
DUAAAR!!!
__ADS_1
Instingnya kali ini tidak salah. Jika terlambat menghindar, mungkin Bowo sudah menjadi butiran debu sekarang. Tempatnya berpijak tadi hancur karena kejatuhan sesuatu, tetapi Bowo tak tahu apa itu sebab debu yang tebal membuat pandangannya terhalang. Namun, satu hal yang pasti. Di dalam kepulan debu itu, ada sesuatu yang mengerikan sebab saat ini sekujur tubuh Bowo merinding.
Perlahan kepulan debu itu sirna terkikis angin malam, menampilkan bocah yang sedang berjongkok sambil menyeringai ke arahnya pekat dengan aura membunuh yang tak bisa disembunyikan lagi.
"Yo, Arkana," sapa bocah itu.
Bowo memicing. "Siapa sebenarnya kau ini?"
"Aku?" Ia tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Bowo. "Aku adalah representasi dari ketakutan, aku adalah simbol kengerian, aku adalah pembawa kehancuran, aku adalah apa yang kalian sebut dengan kematian, aku adalah iblis terkuat yang pernah kau temui. Perkenalkan, Tuan Arkana. Aku adalah Dursasana."
Bowo meneguk ludah. Jangankan bergerak, untuk sekadar bernapas pun rasanya sulit.
"A-apa semua roh jahat i-ini adalah u-ulah mu?" tanya Bowo terbata akibat bibirnya gemetar.
"Oh mereka?" Dursasana menatap ke belakang. "Bukan, itu ulah rekanku," jawabnya.
Mendengar kata 'rekan' membuat Bowo berhenti gemetar. Ekspresi wajahnya berubah. Kata-kata Santi terngiang di kepalanya. Untuk sesaat, Bowo mengingat wajah murung Mahari saat melihat poster buronan mantan sahabatnya dulu.
"Apa orang itu bernama Yudha Kiranata?" tanya Bowo dengan suara yang tegas.
Dursasana bersiul. "Sayangnya bukan dia."
"Bukan juga." Dursasana memicing. "Tunggu, bagaimana kau tau nama rekan-rekanku?"
Tak ada jawaban dari Bowo. Pria itu melebarkan kakinya, memasang kuda bertempur.
"Hoooo ... rasa takut mu sudah hilang, ya?" Dursasana ikut berdiri. "Tidak banyak manusia yang bisa berdiri di hadapanku loh. Selamat, kau layak ku bunuh."
Dengan kehadiran Dursasana yang mengancam dan aura yang mematikan, Bowo mempersiapkan diri untuk pertarungan tersulit dalam hidupnya. Ia tahu bahwa kali ini ia akan menghadapi musuh yang jauh lebih kuat dan berbahaya daripada sebelumnya. Tinju berlapis atma yang biasa menjadi senjata andalannya sekarang terasa hampir tidak berguna menghadapi ancaman sebesar Dursasana. Namun, bukan Bowo namanya jika tidak melawan.
Pria botak itu merapatkan kedua tinjunya dan memusatkan atma. Ia maju dan melesatkan pukulan pertama, mencoba mengukur lawannya, mencari celah untuk menghabisi Dursasana secepat mungkin mengingat tidak banyak tenaga yang tersisa akibat pertarungan melawan lima Genderuwo sebelumnya.
Hanya saja, Dursasana bukanlah lawan yang dapat diremehkan seperti itu. Dalam sekejap, iblis berwujud anak kecil tersebut meluncur maju dengan kecepatan yang tak terduga, menghindari pukulan Bowo dan melancarkan serangan balik yang membuat angin berdesing.
Pukulan Dursasana menghantam Bowo dengan kekuatan luar biasa, melepaskan gelombang kejut yang membuat tubuh pria botak itu terangkat dari tanah dan terpental ke belakang cukup jauh.
Bowo melepehkan darah dari mulut. Rasa sakit merambat ke seluruh tubuhnya, tetapi ia tetap berusaha bangkit. Dengan tekad yang kuat, Bowo bangkit dan berlari cepat ke arah iblis berwujud anak kecil itu, melancarkan serangkaian serangan yang cepat dan presisi.
Namun, sambil menyeringai Dursasana mampu menghindari setiap pukulan Bowo dengan gerakan yang lincah dan refleks yang cepat.
__ADS_1
Dursasana tertawa dengan penuh kepuasan, mengejek upaya Bowo yang tampak sia-sia. "Kau sungguh menghibur, Arkana. Berjuanglah sebanyak yang kau mau, tetapi kematian lah yang akan kau temui pada akhirnya."
Tanpa memberi kesempatan kepada Bowo untuk merespon, Dursasana mengayunkan tangannya dengan cepat, mengirimkan pukulan yang mengandung sejumlah kekuatan sihir. Pukulan itu menghantam perut Bowo secara langsung, membuatnya terhuyung mundur dan terjatuh ke tanah dengan keras. Dursasana mendekatinya dengan langkah pasti, seringai jahat masih menghiasi wajahnya.
Bowo memuntahkan darah dari mulutnya. Namun, ia bangkit kembali meskipun tubuhnya terasa berat dan lemas.
"Dursasana ...," bisik Bowo dengan napas tersengal-sengal. "Sebenarnya ... apa tujuanmu?"
"Apa tujuanku?" Dursasana terbahak-bahak. "Aku ingin menunjukkan betapa rapuhnya kalian, manusia. Aku ingin melihat ketakutan terpanjang sebelum kalian manusia menemui akhir yang menyakitkan."
Dalam keadaan yang hampir tak berdaya, Bowo menyadari bahwa ia mungkin tidak dapat mengalahkan Dursasana. Namun, pria botak itu pantang menyerah. Meskipun ia mati, setidaknya lawannya harus ikut bersamanya. Dengan tekad yang kuat, Bowo mencoba mengumpulkan sedikit energi yang tersisa dalam dirinya, bersiap untuk memberikan perlawanan terakhir.
"Ternyata kau memang tidak boleh dibiarkan hidup," ucap Bowo.
Dursasana terkekeh. "Hooo ... serangan terakhir, ya?" Ia melemaskan tubuhnya. "Sebagai penghormatan karena pantang menyerah sampai titik darah penghabisan, ku berikan satu kesempatan untuk mendaratkan serangan terakhir mu."
"Jangan menyesal, iblis jahanam," balas Bowo.
"Sebelum mati, katakan siapa namamu, manusia? Aku mengakui mu."
Bowo menyeringai. Ia mengumpulkan atma di kepalan tinju kanannya. "Wibowo Mahasura, ingat nama itu baik-baik di Neraka Jahanam!"
Pancaran atma membuat Dursasana bersiul. Ia memuji pria dihadapannya karena mampu mengumpulkan atma sebanyak itu. Rupanya memang ia bukan manusia biasa. Dursasana menyeringai dengan tangan terbentang lebar.
"Maju! Berikan aku serangan terbaikmu, manusia yahahahaha!"
Bowo menggabungkan semua energi atma yang ia kumpulkan dan mencampurkan amarah dalam tinjunya, menciptakan gelombang energi api yang berputar-putar dan berdenyut di sekitarnya.
Efek panas dari atma milik Bowo mampu membakar lapisan pertahanan Dursasana dan melukai kulit luarnya. Selain itu, gelombang energi yang terpancar dari kepalan tangan kanan Bowo juga membakar dan menghilangkan kemampuan regenerasi Dursasana untuk sementara waktu.
Dursasana terus tertawa hingga membuat air liurnya menetes-netes. "Aku tarik kata-kataku barusan! Aku akan melawan mu sebagai penghormatan terakhir, Wibowo Mahasura!"
"Nyala Agni!" Bowo melepaskan serangan terkuat sekaligus serangan terakhirnya sebelum tumbang.
"Lumutan Hitam!" Di sisi lain, Dursasana melesatkan pukulan dengan aura kelam dan menciptakan suasana gelap yang mencekam.
Tinju Bowo dan Dursasana saling beradu, membuat api dan kegelapan itu saling melahap satu sama lain. Ketika pukulan Nyala Agni dilepaskan, gelombang energi api tersebut merambat dengan cepat menuju tinju Dursasana. Begitu pukulan ini mengenai iblis itu, gelombang energi api tersebut melepaskan ledakan besar yang menciptakan gejolak panas dan cahaya yang terang benderang.
Jurus milik Dursasana mampu memengaruhi mental lawannya. Ketika terbesit sedikit saja rasa takut di hati Bowo, aura kegelapan yang diciptakan oleh Lumutan Hitam mampu melahap habis atma api dari Nyala Agni. Dampak dari saling adu pukul itu adalah, patahnya tangan terkuat Bowo.
__ADS_1
Di hadapan Dursasana, Wibowo Mahasura hanyalah manusia biasa tanpa kekuatan spesial. Kini pria botak itu terkapar di tanah tak berdaya.