Sang Arkana : Para Pemburu Iblis

Sang Arkana : Para Pemburu Iblis
Struktur Asosiasi


__ADS_3

Ada yang lebih dingin dari pagi pertama di bulan September, ialah Yasa Kanigara yang telah kehilangan semangat hidupnya. Namun, biarpun begitu, bukan artinya ia ingin mati.


Sejak mengetahui kebenaran tentang tragedi jathilan berdarah, Yasa lebih banyak diam melamun. Apa lagi saat tak ada lagi Mahari di sampingnya. Semua terasa sangat berbeda. Wajar, mengingat Mahari merupakan satu-satunya orang yang merawat Yasa sedari kecil dulu.


Saat ini Yasa sedang duduk bersandar di pohon trembesi. Sejenak ia menghela napas, lalu menatap ke sisi kiri atas.


"Sejak kapan lu peduli sama gua? Bukannya biasanya lu juga suka menyendiri?" tanya Yasa pada Manta yang sedang duduk membaca buku di dahan pohon trembesi.


Manta menutup buku yang ia baca, lalu menatap langit yang tertutup pohon berbentuk payung di atasnya.


"Seandainya lu yang ada di posisi Mahari malam itu, kira-kira apa yang bakal lu lakuin?" tanya Manta balik. "Apa yang sebenarnya terjadi malam itu? Apa yang bikin Mahari ngambil keputusan buat ngebunuh para wadah yang kerasukan itu?"


Yasa mendengus pelan, lalu melanjutkan. "Terserah, gua enggak peduli. Masalahnya adalah kenapa Mahari enggak pernah cerita seolah semua berjalan baik-baik aja kalo gua enggak tau tentang kebenaran malam itu?"


"Entah, gua cuma ngerasa terkadang kita enggak perlu tau tentang suatu kebenaran. Karena, ada kalanya kebenaran itu terasa menyakitkan," ucap Manta.


"Seenggaknya, mending sakit karena tau kebenaran, daripada ketawa tanpa tau apa-apa kayak orang bego," balas Yasa.


Yaaaa, Manta tak bisa menyalahkan anak itu. Setiap jiwa punya perasaan yang berbeda. Pria tampan itu memutuskan untuk diam tanpa kata, seolah dirinya tak pernah ada di sana.


"Tapi makasih, Ta, udah nemenin gua," ucap Yasa.


"Sama-sama," balas Manta sambil membuka bukunya kembali.


...****************...


Gelap kembali merajai bumi, membuat langit terhampar tanpa cahaya, menutup alam dalam kesunyian. Di bawah selimut gelap, Yasa berusaha memejamkan mata, tetapi seberapa pun keras usahanya untuk terpejam, anak laki-laki itu masih belum juga mampu terlelap. Rasanya ada hal yang hilang dari dirinya.


Tok ... tok ... tok


Yasa mengintip ke luar selimut. Pandangannya tajam menyorot pada jendela di pojok kamar. Suara ketukan itu terdengar dari arah sana. Ia pun bangkit dan berjalan pelan ke arah sumber suara.


Tok ... tok ... tok


Jari telunjuk dan tengahnya menempel, ia membidik jarinya ke arah jendela. Yasa masih melangkah dengan hati-hati ke arah jendela tersebut.


Tok ... tok ... tok


Setelah meneguk ludah, ia memberanikan diri menarik tirai yang menutupi jendelanya dan merapalkan mantra pengusir roh jahat.


"Cahya suci, rungokno atimu ...." Ucapan Yasa terhenti.


"Lu ngapain? Mau basmi gua?" tanya Bowo yang sedang mengetuk jendela menggunakan kepala botaknya.


"Lu yang ngapain, sialan?" tanya Yasa datar. "Ngetok-ngetok jendela kamar orang pake pala. Gua pikir lu Raja tuyul."


"Tangan gua enggak bisa dipake," ucap Bowo. "Ini aja pulang jalan kaki gua."

__ADS_1


"Lah, motor lu mana?"


"Ada di markas asosiasi," jawab Bowo. "Bukain pintu, woy."


Yasa menghela napas berat. Dengan wajah malas, ia melangkah keluar kamar hendak membukakan pintu. Namun, sejenak langkahnya terhenti di depan ruangan Mahari yang saat ini kosong menyisakan segelintir aroma khasnya yang perlahan memudar. Yasa berusaha menepis emosinya, ia melanjutkan langkah membukakan pintu untuk Bowo.


"Abis ospek apa gimana lu?" tanya Yasa yang melihat kedua tangan pria botak itu di gips.


"Semacam itu," jawab Bowo.


"Ya, udah sono masuk."


Bowo berjalan masuk ke dalam rumah dan terus melangkah menuju kamarnya. Ia membuka gagang pintu menggunakan kakinya.


Tangan kiri Bowo patah ringan akibat melakukan adu panco dengan Bima seharian dan selalu kalah. Namun, berkat kegigihannya, Bima mengalah dan mengizinkan Bowo bergabung dengan timnya. Hanya saja untuk sementara waktu Bowo tak akan mendapatkan misi, mengingat ia masih sedang dalam masa pemulihan.


Malam ini, baik Yasa, Bowo mau pun Manta tak ada yang bisa tertidur dengan pulas. Mereka semua terjaga di kamar masing-masing dengan tempo resah yang senada.


...****************...


Keesokan harinya, Wibowo meminta tolong Manta untuk mengikat tali sepatu yang sudah terpasang di kakinya. Kedua tangannya tak bisa diandalkan untuk sementata waktu ini.


"Sama-sama," ungkap Bowo dengan ucapan terimakasih khasnya untuk Manta. "Gua pergi dulu." Pria itu melakukan sedikit pemanasan, kemudian berlari menuju Ratnakusuma.


Bima meminta pria botak itu pergi dan pulang berjalan kaki selama tiga hari ini dari Ratnakusuma menuju Tantra, dan Bowo mematuhi perintah atasan barunya. Meskipun tangannya terasa sakit, tetapi ia tak pantang menyerah dan terus melangkah menuju petualangan barunya.


"Pagi," sapa Bowo.


"Dit, kenalin nih anak baru," ucap Santi.


"Wibowo Mahasura, Divisi tiga, di bawah komando Kapten Bima Harimurti," ucap Bowo.


Pria itu hanya melirik sebentar, kemudian berjalan pergi. Sikap dinginnya lebih parah dari Manta. Untungnya Bowo sudah terbiasa hidup di tengah kebekuan seperti itu, jadi ia tak terlalu mempermasalahkannya.


Santi tersenyum. "Sebelum di sini, Bowo ini bawahannya Mahari."


Langkah pria itu terhenti. Sekali lagi ia menoleh ke arah Bowo, tetapi kali ini sambil menunjuknya. "Orang itu?"


"Ya, orang itu," jawab Santi.


Kini pria itu memutar arah, berdiri menghadap Bowo. "Aditya Wirabuana, Wakil Komandan Ratnakusuma, sekaligus Kapten Divisi Satu." Setelah memperkenalkan diri, ia kembali melanjutkan langkahnya.


"Nik, keluar aja. Adit udah pergi," ucap Santi.


Dari balik salah satu pohon di halaman, seorang gadis menampakkan diri. Ia membawa sebuah kotak.


"Lain kali harus lebih berani ya!" ucap Santi. "Kamu udah dateng pagi nyiapin sarapan buat Adit, kan? Kalo gini terus kasian kamu nya sendiri."

__ADS_1


"O-oke, lain kali harus lebih berani," jawab gadis itu.


"Nah, yang ini Anik Widayani, Wo. Dia temen kamu di divisi tiga," ucap Santi. Wanita itu kini menoleh ke arah Anik. "Nik, titip Bowo, ya. Ajak jalan keliling dulu nih, sekalian kenalan. Aku mau pergi dulu."


"Oh, oke, mbak." Anik menghampiri Bowo. "Yuk, jalan."


Bowo masih diam membeku menatap Anik.


'Jalan? Ini kencan pertamaku, ***'. pikir Bowo.


Anik berjalan pergi diikuti Bowo. Pria dungu itu menganggap perjalanan ini merupakan kencan pertamanya, sebab ini pertama kalinya ia berjalan dengan seorang gadis.


"Namaku Anik Widayani, divisi tiga di bawah Kapten Bima. Terus yang tadi itu Kapten Adit. Nah, di sini meskipun markas besar, tapi jumlah orangnya enggak sebanyak yang kamu kira."


"Cuma aku dan kamu?"


"Ya enggak sih. Ada beberapa orang lagi, tapi enggak stay di sini," jawab Anik. "Aku jelasin dari awal deh."


"Untuk sekarang, Ratnakusuma punya tiga divisi di bawah tiga Kapten. Divisi tiga anggotanya cuma kita berdua di bawah komando Kapten Bima Harimurti," jelas Anik.


"Be-berdua doang?" tanya Bowo dengan wajah merahnya.


"Ya, sisa kita berdua." Berbalik dengan wajah senang Bowo, Anik justru terlihat memaksakan senyumnya. "Intensitas roh jahat dan predikat misi yang berubah-ubah bikin asosiasi kehilangan banyak nyawa. Padahal perbandingan orang biasa sama indigo itu ibarat 1000:1, dan perbandingan indigo sama arkana itu 100:1. Enggak gampang nemu orang yang bisa lihat 'mereka' dan bisa nyelesain masalah 'mereka' baik dengan cara halus maupun pembasmian. Divisi tiga banyak kehilangan anggota yang gugur di pertempuran itu."


Wajah Bowo mendadak ikut berubah menjadi sendu. "Divisi lain gimana?"


"Untuk sekarang, divisi satu punya dua anggota, terus divisi dua enggak punya satu pun anggota, yang tersisa tinggal Arjuna Sadajiwa, Kapten divisinya," jawab Anik.


"Berarti total Arkana yang ada di Ratnakusuma cuma ada tujuh orang termasuk para Kapten?" tanya Bowo.


Anik menggeleng. Sejenak ia terdiam menatap ukiran kayu di hadapannya.


"Kapten itu tugasnya ngatur pasukan, tapi ada orang yang bertugas ngatur para Kapten. Masih ada Komandan tempur di Ratnakusuma, dia adalah Komandan Arkanta Dananjaya."


"Oh iya, aku jadi penasaran sama satu hal lagi," ucap Bowo. "Kalo mbak Santi itu apa posisinya? Anggota divisi satu, kah? Salah satu yang dua orang kamu bilang tadi?"


"Hah?" Anik memicingkan mata. "Kamu kan bareng dia terus, tapi enggak tau siapa mbak Santi?"


Bowo menggeleng. "Serius enggak tau."


Tatapan wajah Anik mendadak berubah serius. "Setiap markas besar punya pemimpin."


"Komandan Arkanta yang tertinggi di sini, kan?" tanya Bowo.


Anik menggeleng. "Di atas Komandan masih ada Ketua. Mbak Sari Darmasanti itu ketua di sini. Dia pimpinan utama di Ratnakusuma."


Bowo meneguk ludah. "Oke."

__ADS_1


__ADS_2