
Pria yang baru saja muncul itu menghadap ke arah Bowo dengan sorot mata yang tajam. "Sepertinya bukan kau orangnya," lanjut pria itu sembari menurunkan pedangnya.
Kini pandangannya berpindah ke arah Gorimpa yang terlihat frustasi akibat ilusinya tidak lagi mampu mempengaruhi Bowo. Berkat perlindungan Santi, pria botak itu kini kebal terhadap serangan spiritual seperti ilusi.
"Sedang apa kau di sini, Gorimpa?" tanya pria itu. "Dursasana yang mengutus mu? Atau kehendak mu sendiri?"
"Darto ...." Gorimpa terlihat tertekan. Ia terdiam tak menjawab pertanyaan dari pria bernama Darto itu. "Aku punya urusan lain di sini."
"Kau hanya mengganggu," ucap Darto.
"Wo ...," bisik Santi. "Ini enggak tau ada perselisihan apa di antara mereka, tapi kayaknya mereka berdua itu musuh. Mbak mau minta tolong."
"Apa?" bisik Bowo.
"Bagus-bagus kalo mereka musuhan beberan, tapi kalo mereka temenan, kamu lawan yang cowok, mbak lawan yang cewek, ya. Kamu lemah di pertarungan non fisik, Gorimpa terlalu kuat buat kamu, Wo. Sebaliknya, mbak itu cewek. Sekuat-kuatnya fisik mbak, agak berat kalo harus lawan yang cowok itu."
Bowo menatap pedang milik Darto. Memang sejak awal itu tujuannya. Pria itu tak mungkin membiarkan Santi berhadapan dengan sesuatu yang terlihat mengerikan seperti itu. "Oke, mbak."
Darto sepertinya sudah siap bertempur. Ia mengangkat pedangnya dan mengarahkannya ke arah Bowo. Di sisi lain, Gorimpa mencoba menciptakan ilusi baru, tetapi Santi dengan cepat menghalangi dengan kemampuan spiritualnya.
Bowo dan Santi mulai bergerak bersama, menjaga punggung satu sama lain. Mereka membentuk lingkaran atma di sekitar mereka untuk melindungi diri.
"Kau tidak akan bisa lolos dari ini." Darto meluncur maju dengan cepat, mengayunkan pedangnya dengan kecepatan tinggi.
Bowo menghindari serangan itu dengan mengelak ke kanan, sementara Santi mengarahkan energi spiritualnya ke arah Gorimpa yang mencoba menyerang Bowo dengan ilusinya lagi.
Gorimpa yang merasa semakin terdesak, kini mencoba serangan ilusi yang lebih kuat. Ia mencoba menggoda Bowo lagi dengan sihirnya. Namun, atma yang melindungi pria itu membuat pengaruh ilusi tersebut tak bisa menggapai Bowo.
"Dia bukan lawanmu, jahanam!" tutur Santi.
Di sisi lain, Bowo membalas serangan Darto dengan tinjunya. Atma yang dikumpulkannya menghasilkan gelombang energi yang kuat. Namun, Darto menggeser tubuhnya dengan gesit untuk menghindari pukulan mematikan Bowo.
Kembali pada Santi yang semakin di atas angin. Ia berhasil menghantam Gorimpa dengan serangan spiritualnya. Ilusi-ilusi yang diciptakan oleh Gorimpa mulai runtuh.
Pertarungan berlanjut dengan tempo yang semakin cepat. Bowo dan Santi terus bergerak bersama, saling melindungi dan mendukung satu sama lain. Mereka berusaha untuk mengatasi Gorimpa terlebih dahulu yang terlihat putus asa.
__ADS_1
"Dasar beban," ucap Darto. Ia menghela napas dan mengeluarkan sebuah buku hitam dari balik jasnya. Ketika ia buka buku itu, sebelah matanya berubah menjadi hitam pekat dengan iris berwarna biru.
Bowo melihat buku itu dengan perasaan cemas. Ia melirik ke arah Santi. Ekspresi wanita itu menunjukkan sesuatu yang kurang bagus.
"Penjara jiwa ...," lirih Santi.
Darto mengiris telapak tangannya dengan pedangnya sendiri dan meneteskan darahnya pada lembaran buku hitam tersebut. Sebuah aura kegelapan mulai muncul di sekitarnya, dan bayangan makhluk-makhluk berwujud manusia dengan ekspresi datar dan sorot mata yang kosong mulai bermunculan dari kegelapan itu.
"Bunuh mereka berdua, wahai pasukan mayat hidupku," ucap Darto dengan suara beratnya.
Puluhan makhluk yang muncul dari bayangan pria itu berlari menuju Bowo dan Santi dengan gerakan cepat dan tanpa ekspresi. Mereka merupakan pasukan mayat hidup yang tunduk pada perintah Darto.
"Kamu lawan semampunya, Wo. Mbak bantu dari belakang!" seru Santi. Ia memperkuat energi spiritual Bowo.
"Oke," balas Bowo.
Pertempuran pun kembali dimulai. Bowo dan Santi berusaha menahan serangan pasukan mayat hidup milik Darto dengan segala yang mereka bisa. Bowo menghajar satu per satu makhluk itu. Mereka memang lemah, tetapi masalahnya adalah sebanyak apa pun mereka tumbang, mereka akan bangkit dan menyerang kembali.
Santi tak punya pilihan, ia juga ikut memukul mundur beberapa makhluk yang mendekat dan berusaha mencelakainya. Lambat laun wanita itu tak bisa terus menjaga Bowo dengan kekuatannya karena pasukan mayat hidup yang terus menerus berdatangan.
"Fokus, Bowo!" seru Santi.
Ketika bowo dan santi terpojok, di sisi lain Gorimpa malah menyeringai. Iblis itu menatap Bowo sambil terkekeh. Ia kembali menyerang bowo dengan ilusinya. Bowo yang tak fokus dengan pertahanan spiritual pun terkena jeratnya lagi. Kali ini, ilusi yang diciptakan Gorimpa sangat kuat, hingga membuat Bowo kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Ia berlari menuju Santi dan langsung memeluknya dari belakang dengan penuh hasrat.
Santi yang terkejut dengan perubahan mendadak Bowo mencoba untuk membebaskan diri dari pelukan tersebut, tetapi, kekuatan fisik pria itu terlalu kuat. Mereka berdua terjebak dalam situasi yang semakin berbahaya.
"Sadar, Wo!" teriak Santi yang berusaha memberontak.
Mereka berdua dikerubungi oleh mayat hidup Darto. Makhluk-makhluk itu menggerogoti Bowo dan Santi dengan ekspresi datar.
Gorimpa tertawa dengan penuh kepuasan. Ia berjalan mendekati mereka dengan mata yang penuh kegembiraan karena mampu menggoda Bowo dan membalikkan keadaan kembali.
"Sampai kapan pun, kalian tidak akan pernah mengalahkan Nidrajahat!" gumam Gorimpa diiringi tawa.
Di sisi lain Darto memasukkan pedangnya kembali ke sarang. Seharusnya pertempuran sudah berakhir melihat kondisi Santi yang tak bisa bergerak dan Bowo yang terkena efek ilusi Gorimpa. Cepat atau lambat mereka berdua akan mati menjadi makanan para peliharaan Darto.
__ADS_1
Namun, tiba-tiba sebuah benda melesat dengan cepat melewati Darto dari belakang. Benda itu membelah angin dan terus melesat hingga menembus ke dalam pasukan mayat hidup yang sedang menikmati makanan mereka.
"Jangan mati, mbak Santi!" teriak Pairan dari arah belakang Darto. Ia baru saja melempar sesuatu untuk membantu Santi dan Bowo.
Darto menoleh ke arah pria itu dan hendak mengeluarkan pedangnya kembali. Hanya saja niatnya urung ketika sebuah kilatan muncul dan menekan udara di sekitarnya, padahal tak ada mendung.
"Keris Kinatah ...," lirih Santi.
Kedua mata Darto terbelalak ketika pasukan mayat hidupnya berhamburan karena ledakan dari kilatan tersebut. Ia menoleh kembali ke arah lawannya. Santi bangkit dengan menggenggam sebuah keris di tangan kanannya.
Ketika Santi mengeluarkan Keris Kinatah dari sarungnya, sebuah kilat terang akan muncul di sekitarnya. Kilat ini adalah pertanda bahwa kekuatan spiritual Keris Kinatah telah diaktifkan dan berada dalam kendali pemiliknya.
"Sebenarnya ngeluarin Kinatah agak berlebihan, tapi makasih ya, Pairan, udah bawain pusaka ini," ucap Santi.
Bowo pun kembali berdiri masih dengan pengaruh ilusi Gorimpa. Pria itu kembali berjalan mendekati Santi dengan tubuh penuh luka akibat gigitan mayat hidup milik Darto. Namun, langkahnya gemetar, seolah menjadi pertanda bahwa ada pertempuran lain yang terjadi di dalam alam bawah sadar Bowo.
"Kau memang tidak bisa dimaafkan. Tempatmu seharusnya ada di Neraka!" teriak Santi dengan nada marah.
Santi tiba-tiba menghilang dari pandangan semua yang berada di tempat itu, meninggalkan hanya bayangan samar. Gorimpa yang semula yakin bahwa ia telah menang, kini merasa ketakutan. Di dalam ilusinya, ia kehilangan jejak Santi.
"A-apa yang terjadi?!" pekik iblis itu menoleh ke kanan dan kiri.
Saat Santi memegang Keris Kinatah, kekuatan fisiknya meningkat drastis. Pergerakannya menjadi gesit dan kuat, pusaka itu memberinya keunggulan dalam pertempuran fisik.
Tiba-tiba, Santi muncul kembali di hadapan Gorimpa. Sorot mata yang tajam dan rambutnya yang berkelebat di udara memberikan penampilan yang mengerikan. Dengan satu gerakan yang cepat dan akurat, Santi melayangkan Keris Kinatah ke arah Gorimpa.
Ketika Keris Kinatah digunakan untuk memukul atau menusuk entitas jahat, terdengar gemuruh suara yang menggema di sekitarnya. Hal tersebut menciptakan aura ketakutan di antara musuh-musuhnya, membuat mereka merasa terancam oleh kekuatan besar yang sedang mereka hadapi.
"Jangan lukai bawahanku!" Keris Kinatah menembus tubuh iblis itu. Gorimpa berteriak dalam keputusasaan, ilusinya runtuh, dan wadahnya hancur, memunculkan sosok aslinya yang buruk rupa dan menyeramkan.
Santi terus menyerang Gorimpa, tak memberikannya jeda untuk meregenerasi luka yang diterimanya. Wanita itu memotong dan melukai iblis tersebut tanpa ampun. Gorimpa yang tergolong iblis kuat, kini terpojok dan tak berdaya.
"Selamat tinggal, iblis jahanam," gumam Santi sembari mengambil ancang-ancang untuk mengakhiri iblis itu. "Kilat nogo."
Santi melancarkan serangan terakhirnya, menghujam Keris Kinatah langsung ke jantung Gorimpa diiringi efek kilatan petir. Iblis itu mengeluarkan teriakan terakhir sebelum lenyap dalam kobaran api dan sirna menjadi asap hitam.
__ADS_1
Bowo akhirnya terjatuh lemas, ia baru saja terbebas dari jerat ilusi Gorimpa. Masih ada satu musuh lagi, tetapi ketika Santi menoleh ke arah Darto, sosok pria itu sudah tak ada di sana, meninggalkan Pairan yang tergeletak berlumuran darah di depan pintu sanggar.