Sang Arkana : Para Pemburu Iblis

Sang Arkana : Para Pemburu Iblis
Sebuah Fakta


__ADS_3

Investigasi Surakarta diserahkan pada unit kepolisian Dharma, dan sisanya dalam kendali asosiasi. Sementara itu Mahari dan pasukannya balik kanan menuju Jogja.


Di perjalanan siang ini rasanya canggung. Bowo terlihat lebih pendiam dari biasanya. Sejak obrolan terakhir mereka bersama di ruang tamu, tak ada lagi kata yang terucap. Efek dari berubahnya Bowo yang saat ini mirip seperti Manta, membuat suasana di mobil begitu hening.


"Wo, kenapa sih?" tanya Mahari berusaha mencairkan suasana. "Diem mulu kayak cewek ngambek ah."


Pria botak dengan tangan kanan di gips itu tak membalas. Tatapannya fokus ke arah pemandangan di luar. Ia terus begitu hingga mobil hitam Mahari tiba di halaman depan Tantra. Karena mereka berempat pergi, hari ini pun Tantra libur.


Begitu mobil berhenti sempurna, Bowo turun dari mobil dan berjalan ke pintu, lalu berusaha membuka pintu dengan tangan kirinya. Setelah pintu terbuka, pria botak itu berjalan menuju kamarnya tanpa kata.


"Dia marah, ya?" tanya Mahari dengan senyum sendu.


"Kayaknya sih gitu," jawab Manta. "Lagian bos nyari alesannya enggak banget sih. Masa ngejar dukun ke hotel."


Mahari terkekeh sambil menggaruk kepalanya. "Emangnya keliatan banget ngada-ngada, ya?"


Manta menepuk pundak Mahari, lalu berjalan melewati pria itu menuju kamarnya. Sama seperti Manta, Yasa pun berjalan pergi menuju kamarnya untuk beristirahat.


Mahari hanya mampu menghela napas sambil menutup pintu, kemudian ia berjalan menuju ruangan pribadinya dan mengurung diri di sana. Suasana yang masing-masing ini berjalan hingga keesokan hari.


...****************...


Malam berganti pagi. Hari ini kembali terlihat normal diawali dengan Hitta dan Mayang yang berjalan bersama dari gapura depan. Sayangnya, hanya itu kejadian normal yang terjadi hari ini. Di antara Mahari dan Bowo masih tak ada perbincangan yang terjadi.


Waktu terus bergulir hingga pada akhirnya Mahari kedatangan seorang pasien yang tidak normal, ia mengeluh mengalami gangguan ghaib. Wajar, tempat ini adalah tempat refleksi dan akupuntur, jadi tak banyak pasien yang mengetahui pekerjaan sampingan Tantra.


Di sisi lain Bowo berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Wajahnya terlihat sangat tidak tenang. Selain tangan kanannya yang terlihat tidak baik-baik saja, mata pria itu pun tampak lelah seperti tak bisa tidur.


"Kenapa sih lu bolak-balik kayak setrikaan?" tanya Hitta.


"Mahari ada pasien, ya?" tanya Bowo.


"Iya, dia lagi megang pasien," jawab Hitta.


Pria botak itu mendekat ke arah ruangan Mahari. Dari dalam sana terdengar samar-samar percakapan.


"Wah, ini harus cepet-cepet dibasmi, pak! Setan itu kayak parasit, kalo dibiarin lama-lama nanti mengganggu syaraf-syaraf tubuh. Saran saya bapak ambil paket akupuntur yang ini ...."


Mendengar perbincangan Mahari di dalam sana, Bowo menghela napas dan kembali ruang tamu. Ia menatap Hitta dengan ekspresi datar. "Hit, nanti kalo udah beres kabarin, ya."


"Oke, nanti gua kabarin."


Bowo berjalan menuju kamarnya kembali dengan ekspresi datar.


...****************...


Waktu bergulir hingga tak terasa satu jam berlalu. Hitta mengetuk pintu kamar Bowo. "Wo, udah kelar tuh."

__ADS_1


"Oke." Bowo yang duduk di depan cermin menatap dirinya sendiri dengan sorot mata yang tajam akhirnya bangkit dan berjalan keluar dari kamar.


Di sisi lain, Mahari duduk di atas ranjang dengan tatapan kosongnya tertuju pada lilin-lilin kecil yang menyala di sudut ruangan.


Pintu ruangannya tiba-tiba saja terbuka perlahan, membawa langkah ringan Bowo masuk ke dalam. Wajah si botak itu penuh dengan ekspresi campuran yang tak mampu dijabarkan oleh kata-kata.


"Wo," ucap Mahari dengan suara yang lemah, "Lu marah ya sama gua."


Bowo mengangguk pelan, matanya tidak meninggalkan wajah Mahari. "Iya, Mas, gua marah. Gua udah kerja hampir dua tahun sama lu sebagai pemburu hantu, dan kalo dipikir-pikir kita itu harusnya tim. Tapi seiring berjalannya waktu, gua ngerasa kayak ... kok cuma gua yang selalu nyelesain masalah sih? Kok cuma Manta sih? Kok cuma Yasa sih? Sementara lu? Lu selalu lari, Mas. Anehnya nih,, kenapa lu yang lari, tapi gua yang capek?"


Mahari mengangkat wajahnya diikuti senyum sendu, matanya terlihat penuh penyesalan. "Gua minta maaf, Wo, kalo lu jadi ngerasa begitu. Gua enggak pernah bermaksud buat lari kayak yang lu bilang."


Bowo merenggangkan bibirnya, mencoba menahan emosi yang mulai menguasainya. "Tapi permintaan maaf lu enggak bakal ngerubah apa-apa, Mas. Gua muak sama semua kelakuan lu. Gua muak ada di sini dengan perasaan bahwa cuma gua yang selalu nyelesain masalah-masalah roh jahat."


Mahari berdiri dan melangkah ke arah Bowo. "Bagi gua, lu itu udah kayak temen, Wo. Sekarang gini aja deh, lu mau apa? Apa yang harus gua lakuin biar lu balik semangat lagi kayak biasa?"


Bowo tersenyum diiringi gelengan kepala. "Enggak ada, Mas Mahari. Cuma emang kayaknya gua mau rehat aja dari sini. Gua mau resign."


"Serius? Sayang potensi lu, Wo kalo keluar. Lu ...."


"Kalo urusan itu enggak usah dipikirin. Kemungkinan besar gua bakalan gabung ke asosiasi. Selain lebih banyak koneksi di sana, mereka pun punya uang buat bayar jasa gua. Toh, gua tau selama di sini ada potongan dari misi yang gua ambil buat dimasukin kantong Tantra. Seenggaknya, mulai sekarang gua mau berjuang demi diri gua sendiri," celetuk Bowo. Ia mengulurkan tangan kirinya pada Mahari. "Seneng kerja di bawah lu selama ini, Mas. Sebagai terapis, bukan pemburu."


Mahari tersenyum. Ia tak memiliki kata-kata, atau kapasitas untuk menahan Bowo untuk tetap di Tantra. Pria itu menjabat tangan Bowo. "Makasih juga atas kerja kerasnya selama ini. Gua doain semoga harapan lu yang belum bisa tercapai di sini, bisa tercapai di mana pun lu berada setelah ini."


"Gua siap-siap dulu, Mas. Nanti malem gua udah enggak di sini lagi." Bowo keluar dari ruangan Mahari dan berjalan menuju kamarnya untuk membungkus barang-barangnya.


Mahari kini sendirian di dalam ruangannya. Ia menghela napas sambil membenturkan kepala ke meja. Pria itu berusaha tersenyum, tetapi rasanya terlalu berat.


...****************...


Tak lama berselang Bowo keluar dari kamarnya menenteng sebuah koper besar dan satu tas carrier di punggung. Di mata Yasa dan Manta, si botak itu seperti ingin pergi kemping ke gunung.


"Mau ke mana lu?" tanya Yasa.


"Pergi," jawab Bowo. "Mas Mahari belum bilang kalo gua resign? Per malam ini gua udah enggak tinggal di sini lagi."


"Serius?" tanya Manta yang tiba-tiba bersuara.


"Tanya aja orangnya."


Manta dan Yasa saling bertatapan, pasalnya Mahari juga belum keluar dari ruangannya. Pria itu belum makan apa-apa dari siang tadi.


Bowo berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu dan hendak melangkah keluar, tapi tiba-tiba langkahnya terhenti. Pria botak itu terbelalak dengan bulu kuduk merinding saat mendapati sosok buronan dalam poster yang sedang ia cari, sedang berdiri di depan pintu.


"Yu-Yudha Kiranata," gumam Bowo.


Manta dan Yasa langsung bergerak. Manta berlari ke kamarnya untuk mengambil Bengisura, sementara Yasa langsung mengarahkan jari telunjuk dan tengahnya yang menempel pada tamunya. "Mau apa kau datang ke sini?!"

__ADS_1


'Enggak ada hal aneh yang ngerusak pelindung astral di sekitar Tantra, tapi kenapa dia bisa masuk tanpa terdeteksi?' Pikir Yasa.


Yudha hanya diam, tetapi pria itu mampu memberikan tekanan tersendiri untuk Bowo dan Yasa. Mereka berdua gemetar dan tak mampu menggerakkan tubuhnya. Bahkan tekanan pria itu lebih berat dari saat menghadapi Dursasana.


"Kalian bukan tandingannya, minggir," ucap Mahari dari balik pintu ruangan. Ia keluar dan berjalan ke arah pintu dengan sorot mata yang tajam. "Ada apa gerangan seorang manusia setengah iblis datang ke tempat ini?" tanya Mahari pada mantan rekannya.


Yudha tersenyum. "Manusia setengah iblis? Kata-katamu semakin tajam, Mahari."


Mahari hanya diam dengan raut wajah marahnya. Ia seolah menunggu jawaban dari pertanyannya barusan. Yudha pun menghela napas dan menunjuk ke arah Yasa.


"Aku datang untuk menjemput anak ini."


"Langkahi dulu mayatku," ucap Mahari.


Yudha tertawa. Pria itu berjalan mundur sambil menatap Mahari. "Yaaa—pikirkan dulu baik-baik. Satu minggu dari sekarang, aku akan kembali lagi. Ingat, Mahari, pilihanmu hanya dua. Menyerahkan bocah itu, atau menyerahkan nyawamu."


"Aku tidak akan membiarkan Mahari mempertaruhkan nyawanya!" seru Yasa dengan wajah tak kalah marah dengan Mahari.


Melihat ekspresi Yasa, Yudha tersenyum. "Bocah, apa kau benar-benar tak ingin Mahari mati?"


"Hanya iblis yang akan mati!" balas Yasa.


Yudha terkekeh. "Oi, oi, Mahari. Jangan-jangan selama ini kau menyembunyikan fakta itu pada anak ini, hah?"


"Tutup mulutmu, bajingan," ucap Mahari dengan nada datar.


Yudha menunduk dari jauh ke arah Yasa dengan senyum meledek. "Oi, bocah. Apa kau masih bisa berkata seperti itu kepada orang yang sudah membantai keluarga Kanigara pada Tragedi Jathilan berdarah, hah?"


Mata Yasa dan Bowo berkedut mendengar ucapan Yudha.


"Iblis selalu penuh dengan tipu daya. Kau pikir aku akan percaya?"


Yudha menggeleng dan menunjuk ke arah Mahari. "Bagaimana kalau kau tanyakan sendiri saja pada bosmu itu."


Yasa merasa terintimidasi. "Tenang saja, Bos. Aku akan tetap percaya padamu."


Yudha tak tahan. Ia tiba-tiba saja tertawa terbahak-bahak. Lambat laun melihat tingkah lakunya membuat ada segelintir keraguan yang terbesit di hati Yasa.


"Mahari! Sampai kapan kau akan membohongi anak ini, hah?!"


"Katakan, Bos, bahwa kau adalah yang menyelamatkan satu-satunya Kanigara yang tersisa dari tragedi Jathilan Berdarah," ucap Yasa.


"Ya, benar," jawab Mahari. Ia menatap tajam ke arah Yudha. "Aku tidak akan lari lagi."


Yasa tersenyum. Ia masih mengarahkan dua jari terkuatnya ke arah Yudha dan siap merapalkan mantra penghancur. Hanya saja tiba-tiba perasaannya tak enak.


"Aku adalah orang yang terlibat dalam pembantaian keluarga Kanigara," ucap Mahari.

__ADS_1


Yasa terbelalak mendengar ucapan Mahari, ia menoleh ke arah satu-satunya pria yang ia percaya. Baru saja pria itu mengatakan hal di luar nalarnya. "Enggak mungkin, kan?" Dengan wajah penuh amarah, Yasa menoleh kembali ke arah Yudha. "Apa yang kau lakukan pada Mahari?! Ini pasti salah satu teknik manipulasi mu, kan?!"


"Tidak," sanggah Mahari. "Yudha benar, Yasa. Bahwa aku adalah salah satu orang yang terlibat malam itu dalam pembantian keluaga Kanigara."


__ADS_2