Sang Arkana : Para Pemburu Iblis

Sang Arkana : Para Pemburu Iblis
Punggung Yang Bisa Diandalkan


__ADS_3

"Aku punya satu pertanyaan untukmu, Arkana," ucap Suratno. Ia menampilkan seringainya pada Darmanta. Keadaan langsung hening seketika. "Apa kau pernah membunuh orang?"


"Kau yang pertama," jawab Manta dengan nada datar. Pria itu melangkah maju dengan pedang Bengisura yang berkilauan di tangan kanannya. Ia memandang tajam ke arah Suratno yang diselimuti aura kegelapan di sekelilingnya. Angin malam berdesir menambah kesan dramatis pada situasi ini.


Dengan gerakan yang cepat dan presisi, Suratno mengeluarkan keris sakti dari sarungnya yang berada di pinggang. Cahaya rembulan memantulkan kilauan tajam dari keris itu, menciptakan perpaduan sinar gelap dan terang yang mengerikan. Mata mereka saling tertuju, menyiratkan bahwa ini bukanlah sekadar pertarungan fisik, melainkan juga pertarungan jiwa.


"Maju," ucap Suratno menantang.


Pertarungan sengit pun dimulai. Darmanta berlari ke arahnya dan melancarkan serangan dengan gerakan lincah, mengayunkan Bengisura dengan terarah. Namun, Suratno juga tidak kalah lihai. Ia menghindari setiap serangan Manta dengan gerakan yang efisien, bahkan beberapa kali sempat membalas dengan serangan tiba-tiba yang hampir tidak dapat diantisipasi oleh Manta.


Pertarungan semakin memanas, ketika cahaya dari pedang Bengisura dan kegelapan keris Suratno saling berbenturan. Ledakan cahaya dan bayangan menyilaukan mata, menciptakan suasana yang menegangkan.


Dengan tatapan marah, Manta menatap Suratno. "Bebaskan jiwa mereka semua."


"Satu-satunya cara untuk membebaskan jiwa mereka adalah dengan membunuhku!" Suratno mementahkan Bengisura dan melesatkan tusukan mengarah ke dada kiri Manta.


Manta melesat sedikit ke kiri untuk menghindari serangan tersebut, lalu mundur tiga langkah untuk menjaga jarak. Ia mengatur ulang napas dan langkahnya. Setelah posisinya cukup baik, tanpa basa-basi, ia kembali menerjang dan menyerang membabi-buta.


Darah bersimbah di halaman rumah milik sang dalang. Cahaya bulan menegaskan bahwa darah yang tumpah itu adalah milik Darmanta.


Suratno tersenyum. "Ada apa? Bukankah kau yang ingin membunuhku? Kenapa malah kau yang berdarah?"


Semakin lama Manta berada di dekat Suratno, dadanya terasa berat. Kepalanya pun terasa pusing ketika mendengar lirih-lirih nada sinden di telinganya. Pada satu titik, ia kehilangan keseimbangan, dan di situlah Suratno mengayunkan kerisnya untuk menggorok leher Manta. Beruntungnya Manta tak tumbang akibat rasa pusing yang ia rasakan. Pria dingin itu menahan sabetan keris milik Suratno dengan lengan kirinya.


Dari kegelapan malam, iblis pesinden berkebaya merah muncul dengan senyuman licik. Ia baru saja memberikan dukungan tak terduga pada Suratno. Suaranya yang merdu seolah-olah merasuk ke dalam pikiran Darmanta, mengganggu konsentrasi pria dingin itu.


Untuk sesaat, Manta melirik ke arah wanita jahanam itu. Pesinden berkebaya merah tersebut mulai melakukan tarian dan mempercepat kidungnya. Semakin lama, Manta semakin dimanjakan dengan rasa kantuk.


"Ingatlah orang yang paling kau benci ...." Bisikan lirih itu terngiang-ngiang di kepalanya. "Ingatlah dia dan mendendamlah ...."


Manta berlutut lemas. Pandangannya perlahan menghitam hingga membuat Suratno yang berada tak jauh di depannya memudar. Kekuatan sihir telah membuatnya tergeletak di halaman beralaskan rumput merah. Darmanta kehilangan sadarnya.


...****************...

__ADS_1


"Sebelum pergi, pamit dulu sana sama temen-temen," ucap seorang pria paruh baya pada anak laki-lakinya yang kala itu masih duduk di bangku sekolah dasar.


Anak itu bernama Darmanta Kusuma. Pria berkulit putih bersih dengan sorot mata yang dingin menusuk. Ia tak banyak bicara seperti anak-anak seusianya. Wajar, ia telah hidup dalam kebekuan setelah ibunya meninggal.


Ayah Manta berprofesi sebagai seniman lukis. Ia selalu berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mencari referensi dan ide untuk membuat karya yang apik. Akibatnya adalah, Manta harus ikut berpindah-pindah sekolah dan rumah. Ia selalu beradaptasi lagi dan lagi. Namun, ketika sudah merasa nyaman di tempat barunya, pada satu titik ia harus pergi lagi dan meninggalkan segalanya. Kini Manta tak butuh pamit, sebab ia sudah lama meninggalkan sesuatu yang bernama 'pertemanan'. Hingga pada suatu hari ....


"Manta, sebentar lagi kamu enggak akan pindah-pindah. Ayah dapet pekerjaan tetap di Bogor. Nanti di sana kamu berteman ya."


Hari yang dimaksud pun tiba. Manta tinggal di sebuah kompleks perumahan yang tidak terlalu besar. Ia pun bersekolah di sekolah negeri biasa di dekat rumah. Sama seperti sebelumnya, di mana pun Manta berada ia selalu menjadi yang nomor satu dalam urusan pelajaran dan popularitas. Hanya saja di tempat ini ada sedikit yang berbeda. Di tempat ini ia hanya populer di kalangan gadis-gadis saja, sementara para anak laki-laki ....


"Keren, Wo!"


Seorang anak laki-laki kecil dengan tubuh agak berisi berdiri dengan senyum yang lebar. Di mata para anak laki-laki, apa pun yang dilakukan oleh anak itu keren, sebab anak itu selalu menang dalam permainan apa pun. Ia memang sedikit lebih buruk daripada yang lain jika bicara soal pelarajan, tapi saat sudah menginjak lapangan, tak ada satu pun yang tidak bisa ia menangkan. Anak itu tidak berbakat, ia hanya bocah yang gigih berjuang dan tidak akan pernah berhenti sebelum menang.


Darmanta mengepal tangannya erat-erat. Ia iri, ia cemburu, dan berhasrat untuk menghancurkan anak itu. Manta kalah, Manta benci menatap punggung orang lain di depannya dan lebih memilih menunduk. Pria dingin itu lebih suka berjalan paling depan dan di tatap orang-orang yang tertinggal di belakang.


Tak sulit bagi Manta yang berbakat untuk terlihat lebih baik dari anak itu. Selain pelajaran, rupanya Darmanta juga piawai berbagai jenis olahraga. Ia bersaing dengan si anak keren dan perlahan merebut segalanya. Manta selalu menjadi juara dalam setiap perlombaan di sekolah mengalahkan anak itu, dan secara tak sadar mereka menjadi rival abadi. Anak itu pun menyimpan ambisi pada Manta karena sejak kedatangan anak tampan itu, si keren selalu menjadi yang nomor dua.


Namun, di balik perang dingin itu ada kesamaan yang mempersatukan mereka.


"Oh, lu juga bisa liat?"


Manta menoleh ke arah pintu. Matanya memicing melihat rival abadinya berada di depan pintu membawa plastik berisi buah.


"Lu juga?" tanya Manta datar.


Meskipun banyak yang menganggapnya aneh karena beberapa kali tertangkap sedang berbicara sendiri, setidaknya ... di mata anak itu, Manta bukan orang aneh.


...****************...


Iblis pesinden berkebaya merah itu masih terus memengaruhi Manta dengan sihirnya. Ia memakan kebencian yang bersemayam di dada Manta lewat kenangan pria itu.


"Sebut nama orang yang paling kau benci itu?" tanya sang iblis.

__ADS_1


Manta yang tergeletak tak sadarkan diri mulai membuka mulutnya.


"Wibowo Mahasura ...," gumam Manta lirih.


Di sisi lain Suratno sudah berada di hadapan Manta. Ia mengangkat tangan dan hendak menghabisi pria itu saat ini juga. Namun, sang dalang membiarkan iblisnya bermain-main menikmati hidangan terakhir berupa kebencian seorang Arkana.


Iblis pesinden berkebaya merah itu terkekeh. "Satu pertanyaan terakhir." Ia menyeringai ke arah Manta. "Apa kau ingin orang itu mati?"


Manta terdiam sejenak. Sementara Suratno menahan kerisnya di atas, menunggu kebencian Manta memuncak hingga hasrat ingin mengutuk orang yang ia benci keluar dari mulutnya. Sang dalang paham makanan kesukaan iblisnya. Sebongkah jiwa Arkana yang mendendam adalah makanan terlezat untuk para iblis.


"Tidak," jawab Manta. "Dia tidak boleh mati, sebab Bowo adalah teman yang berharga."


Raut wajah sang iblis berubah murka. "BUNUH DIA SEKARANG JUGA, SURATNO!"


Suratno merubah arah kerisnya dengan ujung menghadap ke bawah. Secepat angin, ia lesatkan pusakanya ke arah punggung sebelah kiri Manta.


Darah kembali mengalir membasahi rerumputan. Keris milik Suratno terpental dan tergeletak di tanah. Tangan pria paruh baya itu terluka akibat menghantam perisai atma yang melindungi Darmanta.


"BANGUN, SIALAN! SAMPE KAPAN MAU REBAHAN DI DEPAN MUSUH LU, HAH?!"


Mendengar suara orang itu, Manta terbangun dari tidurnya. Sihir sang iblis tak mampu membuatnya tak sadar lebih lama lagi. Perlahan Manta menatap ke arah pagar. Ia tersenyum menatap pria botak yang sedang berdiri di atas pagar dengan jaket varsity kebanggaannya. Tepat di sebelah pria itu, seorang anak kecil duduk santai sambil melempar senyum pada sang iblis.


Manta berusaha bangkit dengan tubuh gemetar. Efek dari sihir pesinden berkebaya merah masih bersemayam dalam dirinya, mengalir melalui pembuluh darah. Namun, melihat kehadiran Wibowo membuat Manta berusaha bangkit. Ia tak mau terlihat lemah dan kalah hanya dari orang yang satu itu.


Pria botak di pagar turun dan berjalan ke arah Manta. Ia merangkul pria tampan itu dengan satu tangannya dan berkata.


"Enggak apa-apa sesekali keliatan lemah. Ada waktunya di mana kita butuh orang lain. Jangan dipikirin siapa yang lebih baik di antara kita, karena kita berdua udah jadi yang terbaik."


Manta tersenyum mendengar ucapan Bowo yang terkadang terdengar filosofis, lalu kembali duduk di tanah. Ini pertama kalinya ia melihat punggung Bowo dari belakang.


"Ternyata enggak seburuk yang gua kira," ucap Manta.


Tak ada yang perlu di khawatirkan lagi, sebab punggung itu terlihat sangat bisa diandalkan. Bowo berjalan diikuti Yasa. Mata pria itu menyorot tajam pada Suratno, sementara Yasa lebih tertarik pada iblis berkebaya merah.

__ADS_1


Dari arah pagar, seorang pria berusia kisaran 30 tahun berjalan masuk membawa selembar kertas. "Suratno, atau kita sebut saja Ki Jaga Bayang. Menjadi dalang selama dua puluh tahun. Tiga tahun lalu ditinggal mati oleh istrinya dan tepat tiga tahun lalu awal karirnya sebagai dalang pun naik secara bombastis." Pria itu adalah Mahari. Ia menatap ke arah jiwa para sinden yang duduk ketakutan, lalu beralih pada satu sinden berkebaya merah yang membantu Suratno. Ia menunjuk iblis itu. "Waktunya membuang sampah."


__ADS_2