
Bersandar pada pohon trembesi, Manta duduk menunggu Hitta dan Mayang yang sedang bersiap-siap pulang sore ini.
Siang tadi ketika ia sedang mengurus satu pengunjung yang melakukan akupuntur di ruang praktik, Manta menemukan dua buah amplop di atas meja Mahari. Tertulis nama pada masing-masing amplop tersebut, yaitu Hitta dan Mayang. Sepertinya Mahari sudah mempersiapkan segalanya sebelum pergi.
Begitu Mayang dan Hitta bergerak melewati pintu. Pria tampan itu beranjak dari duduknya dan menghampiri kedua gadis tersebut.
Melihat Manta berjalan menghampiri, Mayang langsung salah tingkah dan menatap kaca jendela. Ia ingin penampilannya tidak berantakan di depan mata pria itu.
"Udah cantik kok, selera Manta banget deh pokoknya," ledek Hitta diiringi kekehan kecil.
Mayang menyenggol Hitta. "Ih, apaan sih lu."
"Yang," panggil Manta memandang Mayang.
"A-apa, Yang?" balas Mayang gugup. "Eh, maksudnya, Ta. Sorry, enggak fokus."
Hitta tak tahan. Senyumnya pecah menjadi ledakan tawa menyebalkan untuk Mayang. Namun, di tengah tawanya, tiba-tiba Manta menyodorkan dua buah amplop pada mereka sehingga tawa Hitta perlahan hilang.
"Apa ini, Ta?" tanya Hitta. Ia mengambil amplop tersebut dan menatapnya bingung.
"Mas Mahari ada urusan ke luar kota. Dia pesen buat sementara waktu Tantra tutup dulu. Ini gaji kalian bulan ini. Dalam waktu yang belum bisa ditentukan, kita libur dulu," ucap Manta.
"Kok mendadak banget?" tanya Hitta lagi. "Ada masalah?"
Manta mengangkat bahu sebagai jawaban untuk pertanyaan Hitta. Gadis itu hanya bisa menghela napas, tetapi ia paham situasi yang terjadi mengingat gadis itu tahu pekerjaan lain Tantra.
"Oke, nanti kalau udah aman berkabar ya, Ta." Hitta melanjutkan langkahnya kembali.
"Oke," jawab Manta singkat.
Langkah Hitta kembali terhenti. Ia menoleh. "Ayo, May pulang."
Di sisi lain Mayang terlihat khawatir memandang ke arah Manta. Sejak kejadian pagelaran wayang setan yang menerornya, Mayang pun jadi tahu pekerjaan sampingan Tantra sebagai pemburu iblis.
"Kalo ada apa-apa bilang ya, Ta," ucap Mayang.
Darmanta mengangguk. "Oke."
"Selama libur, kita boleh ketemu?" tanya gadis itu.
Manta mengangguk. "Boleh."
Mayang menggaruk kepalanya dengan wajah kikuk. "Karena kamu sibuk, aku takut ganggu kamu. Makanya, kalo kamu ada waktu senggang dan mau ketemu—kamu bilang ya."
"Oke," jawab Manta singkat.
Mayang tersenyum tipis, lalu memutar arah dan berjalan menyusul Hitta. Lambat laun senyum di wajahnya semakin mekar.
__ADS_1
Hitta terkekeh sambil merangkul Mayang. "Bisa aja trik lu biar diajak jalan! Modal dikit dong, lu yang ngajak enggak apa-apa kali!"
Mayang berusaha melepaskan rangkulan Hitta dengan warna wajah merah merona. "Ih, apaan banget!"
Ketika dua gadis tersebut hilang dari pandangan Manta, giliran pria itu yang masuk ke dalam rumah.
...****************...
Rembulan kembali menunjukkan dominasinya terhadap langit. Di tengah redupnya hari, terdengar ketukan pintu di Tantra.
Dengan cepat pintu dibuka oleh Manta dan menampilkan sosok Bowo yang terlihat letih dengan keringat bercucuran di depan pintu.
"Mandi lu. Abis mandi ngumpul di ruang tengah," titah Manta.
"Hah?" balas Bowo dengan napas terengah-engah, berusaha mencerna ucapan Manta.
"Dengerin Manta, Wo," ucap Yasa yang sedang duduk bermain rubik di sofa. "Belakangan ini dia bawel."
Bowo malas berdebat. Ia berjalan menuju kamarnya tanpa respons. Namun, Manta dan Yasa tetap menunggunya.
Setengah jam berlalu. Bowo datang dan duduk bersandar di dinding dekat meja resepsionis.
"Kenapa?" tanya Bowo.
"Hitta sama Mayang udah enggak akan dateng ke sini untuk sementara waktu. Jadi, paling enggak kita bisa susun rencana buat bertahan," tutur Manta. "Yudha, Karna, Dursasana, dan pengendali arwah. Satu dari mereka aja udah ngerepotin. Belum lagi kita enggak tau seberapa besar kekuatan tempur musuh, berapa banyak orang lagi yang bersembunyi di balik kegelapan."
"Setiap hari dari sejak mereka ke sini, gua selalu ngelapisin Tantra pake mantra perlindungan dan memperbarui mantra-mantra jebakan. Enggak akan gua biarin mereka dengan mudah masuk tanpa perlawanan lagi," balas Yasa.
Tangan kiri pria itu terlihat sudah lebih baik mengingat kerusakannya tak separah yang kanan.
"Gua pastiin sebelum para bajingan itu dateng, tangan kanan gua udah siap ngehajar mereka," ucap Bowo. "Selama pemulihan, gua bakal lebih intens ngelatih power tangan kiri sama kaki gua."
"Lu?" tanya Yasa pada Manta.
"Ada seseorang yang mungkin bisa bantu gua ngembangin teknik berpedang gua." Manta memberikan tiga jarinya. "Dalam waktu tiga hari dari besok, gua enggak tinggal di sini. Seandainya serangan mereka datang lebih cepat dari yang seharusnya, tolong bertahan sampe gua kembali."
"Amit-amit kalo sampe kejadian, tapi kalo bener kejadian, paling waktu lu balik semua udah beres," balas Bowo. "Enggak akan gua biarin mereka ngerebut Yasa. Cuma kita yang dia punya. Bener enggak, Cil?"
"Sotoy lu botak!" Yasa tersenyum. "Tapi makasih."
"Koneksi gua sama asosiasi juga udah mulai kebentuk. Mulai besok kita bergerak masing-masing demi tujuan bersama," kata Bowo. Ia mengulurkan tangan kirinya. "Demi Tantra."
Manta dan Yasa saling bertukar tatap, kemudian melempar senyum dan menyambut tangan Bowo membentuk pola hompimpa alaihim gambreng.
"TANTRA!" seru Bowo dengan penuh semangat.
"Hoi," balas Yasa lemas dan Manta tanpa ucapan.
__ADS_1
...****************...
Keesokan harinya, sama seperti Mahari, Manta menghilang dari radar Tantra tanpa terendus. Pria itu hanya membawa satu tas gemblok dan pedang Bengisura.
Sementara itu, Yasa mulai memperkuat pertahanan astral Tantra dengan menancapkan pasak-pasak yang terbalut kertas bertuliskan bait-bait mantra. Ia juga tempelkan kertas-kertas tersebut di setiap sisi dan sudut Tantra, baik di dalam maupun di luar bangunan.
Di waktu yang bersamaan, Bowo sedang berlari dari Tantra menuju Ratnakusuma. Pagi ini sorot matanya begitu tajam dan terlihat fokus. Sembari berlari, sesekali ia berhenti dan melakukan kombo tinju yang berkomposisi dari jab, cross, dan hook menggunakan tangan kirinya.
Sekitar tiga puluh menit menempuh perjalanan, Bowo akhirnya tiba di Ratnakusuma. Ia segera membersihkan diri, lalu menghadap pada Kapten Bima. Hanya saja ....
"Kapten lagi enggak di Jogja," ucap Anik.
"Oh, oke," balas Bowo. "Kira-kira kapan balik kanan?"
Anik menggeleng. "Intensitas gangguan roh jahat meningkat pesat di banyak daerah Jawa Tengah dan terpaksa bikin pergerakan Ratnakusuma menyebar. Komandan dan tiga Kapten pun terpaksa bergerak buat bantuin daerah yang gangguannya udah tergolong ekstrim kayak kemarin di Surakarta."
"Terus di Jogja ada siapa aja?" tanya Bowo lagi.
"Cuma kita sama mbak Santi. Bahkan dua anggota divisi satu pun bergerak bareng Kapten mereka."
"Makasih infonya." Bowo bergegas mencari Santi ke ruangannya.
Tok ... tok ... tok
"Masuk," ucap Santi dari balik pintu.
Bowo membuka pintu, lalu masuk ke dalam ruangan minimalis tempat Santi bekerja. Ruangan kecil itu tidak mencerminkan ruangan seorang dengan pangkat tertinggi di tempat sebesar dan sebagus Ratnakusuma.
"Sekarang kamu udah tau posisi mbak, Wo?"
Bowo hanya terkekeh sambil menggaruk kepala. "Maaf kalo selama ini agak kurang sopan, Bu."
Santi tersenyum. "Mbak aja kayak biasa. Aku juga masih muda kok, belum nikah."
"Oh, oke mbak."
"Kenapa, Wo?" tanya Santi.
Bowo berdiri di hadapannya. "Saya pikir perilaku roh jahat selama beberapa hari ke belakang ini terlalu aneh. Mereka cenderung lebih aktif dan agresif terutama di luar Jogja, mbak."
"Jadi menurut kamu gimana perilaku yang wajar?" tanya Santi.
"Entah, rasanya seolah alam mengisyaratkan ada sesuatu yang akan datang. Persis Tsunami. Sejenak terlihat tenang, tapi tiba-tiba dengan satu gerakan semua dilibas habis."
Santi mengerutkan kening. "Lanjut."
"Pergerakan mereka seolah udah diatur oleh suatu eksistensi yang lebih kuat. Sosok yang dengan sengaja menyebar Komandan dan para Kapten Ratnakusuma keluar Jogja, memperlemah wilayah dalam," lanjut Bowo.
__ADS_1
"Kenapa kamu berpikir begitu? Ada alasan?" tanya Santi lagi.
"Sebab apa yang mereka cari ada di sini." Bowo menatap tajam pada wanita itu. Ia mendekatkan wajahnya. "Yasa Kanigara."