Sang Arkana : Para Pemburu Iblis

Sang Arkana : Para Pemburu Iblis
Kliwon Kelabu Surakarta


__ADS_3

Malam ini Mahari dan ketiga pasukannya berangkat dari Jogja menuju Solo menunggangi kuda hitam mereka. Holden Kingswood melaju cepat melibas gelapnya jalur Klaten hingga sampai di tujuan mereka, yaitu Surakarta, atau kota Solo.


Beredarnya kabar tentang kesurupan masal yang menewaskan satu pria dewasa di Stasiun Solo Balapan membuat Tantra bergerak. Mahari mencium aroma ilmu hitam yang pekat dengan instingnya.


"Nanti sampe basecamp kita naro barang, terus pencar ke empat penjuru mata angin," ucap Mahari. "Manta ke Timur, Bowo ke Barat, Yasa ke Selatan, sisanya ke Utara."


"Yasa sendiri?" tanya Bowo.


"Berdua. Nanti ada yang nemenin dia," jawab Mahari.


Mobil klasik berwarna hitam Mahari tiba di sebuah rumah berlantai dua. Rumah itu tidak memiliki halaman besar seperti Tantra, tetapi memiliki garasi yang cukup lebar. Mungkin muat empat mobil. Mahari dan pasukannya turun dari mobil.


Seorang pria berambut gondrong terurai dengan kacamata hitam menyambut mereka. Ia mengenakan kaos hitam lengan buntung yang menampilkan lengan kecilnya yang terlihat perkasa. Di sekujur tubuhnya banyak tato yang menambah kesan ngeri pada ketiga anak Tantra yang datang.


"Motor ada empat di garasi, kuncinya udah nempel. Di dalem jok ada jas hujan sama STNK. Tinggal pilih aja buat transport di sini," ucap suara beratnya.


"Makasih, Tris," balas Mahari. Ia menatap ketiga anggotanya. "Ini namanya Mas Trisna. Dia penanggung jawab semua pemburu di Solo."


Trisna menatap mereka semua. "Jiwatrisna."


"Gua pikir enggak ada kantor pemburu di Solo, Mas Har," balas Bowo.


"Memang," sahut Trisna. "Kantor inti asosiasi hanya ada di Jakarta, Bandung, dan Jogja. Tapi biar pun begitu, bukan artinya daerah lain tidak memiliki markas. Karena kekurangan dana, kami membentuk jaringan di bawah asosiasi. Rumah ini adalah rumahku yang kebetulan rela ku jadikan basecamp untuk perkumpulan para pemburu dan juga rumah singgah."


"O-oke, terimakasih, om," balas Bowo.


Trisna merubah tatap ke arah Yasa. "Yo, bocah. Kau ikut aku. Kita pergi ke Selatan." Pria itu masuk ke dalam untuk mempersiapkan kebutuhannya.


Sejenak Yasa menoleh ke arah Mahari, dan Mahari mengangguk pelan padanya. Yasa hanya bisa menghela napas pasrah, lalu pergi mengikuti Trisna ke dalam rumah.


"Yuk, kita juga harus siap-siap." Mahari pun berjalan masuk ke dalam bersamaan dengan Manta dan Bowo.


Mereka bertiga naik ke lantai atas, lalu masuk ke dalam satu kamar yang pintunya terbuka. Ada dua kasur tingkat untuk beristirahat, cukup untuk empat orang.


Yasa sudah berada di dalam sana, meletakkan barang pribadinya dan membawa beberapa peralatan untuk berburu, seperti senter dan juga pisau untuk berjaga-jaga.


"Duluan, Bos." Yasa berjalan melewati Mahari keluar kamar untuk melakukan ekspansi ke Selatan.


"Hati-hati," balas Mahari.


Bocah itu berjalan sambil melambaikan satu tangannya tanpa menoleh. Ia menuruni tangga menuju garasi untuk menemui Jiwatrisna yang sudah menunggu.

__ADS_1


"Berangkat." Trisna memberikan sebuah helm pada Yasa. Penampilannya seperti seorang rocker, dengan jaket kulit hitam dan sepatu kulit berwarna cokelat gelap.


Yasa mengenakan helm yang diberikan Trisna. Setelah bocah itu naik di jok belakang, Trisna langsung tancap gas melaju meninggalkan markas.


Tak lama berselang Mahari, Manta dan Bowo ikut turun.


"Ini siapa yang jaga rumahnya kalo ditinggal semua?" tanya Bowo.


"Enggak usah banyak tanya. Fokus sama tugas masing-masin aja," balas Mahari.


Manta dan Bowo naik ke atas motor mereka dan menyalakan mesinnya.


"Inget, kalo nemu sesuatu yang mencurigakan jangan langsung disikat. Pantau terus sambil kasih sinyal di grup BBM," ucap Mahari. "Musuh kita kuat."


Manta dan Bowo mengangguk. Mereka mengenakan helm, lalu pergi berpencar. Seperginya mereka berdua, Mahari mengeluarkan buku catatan kecil dari dalam kantongnya dan mencatat sesuatu. Setelah selesai menulis, barulah ia bergegas menuju Utara.


...****************...


Di sisi lain, seorang pria dengan kemeja putih lengan panjang yang digulung di bawah siku sedang menatap kota Surakarta dari atas bangunan tinggi. Di atas sana hanya ada dirinya dan seorang anak kecil berambut abu-abu pucat yang mengenakan hoodie hitam. Bocah itu sedikit lebih dewasa dan lebih tinggi dari Yasa. Mungkin selisih usia mereka sekitar tiga tahun.


"Apa kau yakin?" tanya anak itu.


Pria berkemeja putih hanya tersenyum sambil mengenakan sarung tangan berwarna hitamnya.


Bocah itu menyeringai, lalu terkekeh sambil berjongkok menatap teman bicaranya. "Ya, terserah deh."


Si pria mengambil sebuah pisau dari kantong celananya. Ia genggam pisau itu hingga telapak tangan kirinya berdarah. Pria itu berjalan menuju sebuah meja dengan taplak berwarna putih. Di atas meja ada satu buku hitam yang terbuka. Ia mempersembahkan darahnya pada buku tersebut.


"Melihat mu melakukan ini selalu membuatku merinding," gumam bocah itu. "Kau sangat menjijikan, Darto."


Pria bernama Darto itu hanya tersenyum. Dari bayangannya bermunculan banyak roh jahat yang siap diberikan perintah.


"Teror kota ini sampai dipenuhi riuh jeritan manusia," gumamnya.


Ratusan roh jahat menyebar ke kota dan membuat onar. Mereka merasuki setiap manusia yang ditemuinya.


"Kalau menemukan sesuatu yang menarik beritahu aku," ucap bocah itu, ia terlihat sangat bosan.


Darto memejamkan mata. Samar-samar terdengar riuh dari segala penjuru kota Surakarta. Ia tersenyum sambil menarik napas panjang.


"Aku suka aroma ketakutan!" teriaknya.

__ADS_1


Namun, tiba-tiba raut wajahnya berubah. Ia menatap jauh pada satu titik.


"Kenapa?" tanya bocah yang sedang bersamanya.


"Aku paham para Arkana juga sudah mulai bergerak, tapi dari arah Barat, setan-setan ku menghilang dari radar dengan cepat. Bahkan beberapa yang berlevel tinggi pun ikut lenyap seperti tanpa perlawanan."


"Apa mungkin itu sekelas Kapten? Atau mungkin Komandan dari asosiasi?" tanya si bocah.


"Mungkin saja," jawab Darto. "Yang satu ini kuat."


Si bocah menyeringai, ia bangkit dari jongkoknya. "Oke, karena di sini mulai membosankan, aku akan pergi ke sana. Aku harap dia benar kuat seperti katamu."


Darto hanya diam melirik bocah itu dengan ujung matanya.


Si bocah seperti sedang melakukan pemanasan ringan. Pada satu titik ia kembali berjongkok menghadap ke arah Barat dan menopang seluruh berat tubuh pada kakinya sehingga membuat alasnya berpijak menjadi retak.


Ia menyeringai dan melepaskan aura membunuh yang sangat pekat. "Sengit angin wasiat." Seketika itu gelombang angin yang penuh dengan kebencian berembus ketika sosoknya menghilang dari pandangan Darto. Baru saja bocah itu melesat terbang dengan cepat ke arah barat.


Angin yang berembus karena efek lompatan awalnya berhasil membawakan pesan kengerian kepada para Arkana yang saat ini sedang bertempur melawan roh jahat milik Darto di seluruh penjuru Surakarta.


...****************...


Sementara itu Bowo masih gemetar akibat merasakan angin yang belum lama menyentuh kulitnya.


'Aura mengerikan macam apa ini sialan?!' Pikirnya.


Dari arah Timur ia merasakan ada aura mencekam yang sedang melesat cepat ke arahnya. Bowo menatap tajam ke arah sana dengan keringat bercucuran.


'Monster ini datang.'


Bowo melawan rasa takutnya dan mulai bergerak. Secara refleks ia berguling ke kanan.


DUAAAR!!!


Instingnya kali ini tidak salah. Jika terlambat menghindar, mungkin Bowo sudah menjadi butiran debu sekarang. Tempatnya berpijak tadi hancur karena kejatuhan sesuatu, tetapi Bowo tak tahu apa itu sebab debu yang tebal membuat pandangannya terhalang. Namun, satu hal yang pasti. Di dalam kepulan debu itu, ada sesuatu yang mengerikan sebab saat ini Bowo merinding.


Perlahan kepulan debu itu sirna dikikis angin malam, menampilkan bocah yang sedang berjongkok sambil menyeringai ke arahnya pekat dengan aura membunuh yang tak bisa disembunyikan.


"Yo, Arkana," sapa bocah itu.


Bowo memicing. "Siapa sebenarnya kau ini?"

__ADS_1


"Aku?" Ia tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Bowo. "Aku adalah representasi dari ketakutan, aku adalah simbol kengerian, aku adalah pembawa kehancuran, aku adalah apa yang kalian sebut dengan kematian, aku adalah iblis terkuat yang pernah kau temui. Perkenalkan, Tuan Arkana. Aku adalah Dursasana."


__ADS_2