Sang Arkana : Para Pemburu Iblis

Sang Arkana : Para Pemburu Iblis
Bebasura


__ADS_3

Kematian Kerikala mengubah alur pertempuran. Diamnya Bebasura ternyata lebih mengerikan dari apa yang Yasa dan Bowo pikirkan.


Dengan mata merah menyala, iblis itu menatap ke arah Yasa penuh dendam. Aura di sekitarnya mendadak berubah, kini suasana mulai mencekam.


Bebasura melangkah pelan ke arah Yasa, tiap telapak kakinya berpijak di tanah, jantung Yasa dan Bowo seolah diremuk oleh rasa takut.


"Ku bunuh kalian semua," ucap Bebasura penuh tekanan. Ia seolah lupa pada tugas utamanya untuk membawa Yasa hidup-hidup.


Sosok itu tiba-tiba menghilang dari pandangan Bowo dan Yasa. Hanya saja Bowo memiliki insting yang tajam, ia segera berlari ke arah Yasa dengan kecepatan terbaiknya.


Bebasura melesat cepat ke arah Yasa hendak membunuhnya, tetapi Bowo muncul dan memukul iblis itu.


Bebasura menghentikan langkahnya sambil melirik ke arah Bowo dengan ujung matanya. Pukulan pria itu seolah tak mempan padanya.


"Apa cuma segini kekuatanmu?" tanya Bebasura.


Dengan kekecewaan di mata merahnya, Bebasura menendang Bowo hingga membuat pria itu terpental ke pohon trembesi.


Bebasura, Sang Penguasa Ketakutan, dengan mata merah menyala ia mengganti targetnya. Iblis itu kini mendekat pada Bowo.


"Sambungan awis resa," gumamnya.


Bebasura mampu menanamkan rasa takut pada manusia. Ia terus memberikan vibes negatif pada Bowo.


Di saat Bowo mulai gemetar, iblis itu terlihat merendahkan posisinya seolah siap menerjang.


"Aji loncat malam." Dalam sekejap Bebasura menghilang dari pandangan Bowo.


Iblis kecil itu bergerak dengan cepat seperti bayangan. Ia muncul dari sudut-sudut yang tak terduga, menciptakan ilusi dan membuat Bowo semakin dilanda rasa ngeri.


Cakar-cakarnya yang tajam meninggalkan bekas saat Bebasura bergerak memberikan teror dengan aji loncat malamnya.


Bowo meneguk ludah. Ia kembali memasang kuda-kuda dengan kaki gemetar.


"Jangan takut, sial!" teriak Bowo memukul kedua pahanya.


Perlahan cekikikan Bebasura kembali terdengar, membuat pria botak itu merinding.


Sementara itu, Yasa berusaha bangkit, memanfaatkan waktu yang diberikan oleh Bowo. Ia merapalkan mantra untuk meredam rasa takutnya dan juga rekannya.


"Cakar kagedor!" Bebasura muncul dari belakang dan melesatkan cakarnya yang tajam ke punggung kiri Bowo, iblis itu mengincar jantung Bowo dari belakang.


Namun, bukannya terdesak, Bowo malah menyeringai. "Makasih, Cil," gumamnya.


Cakar Bebasura terpental, tak bisa menyentuh Bowo. Dalam tayangan lambat, ia kembali melirik ke arah Yasa yang sudah bangkit. Bocah itu merapalkan mantra untuk membantu Bowo.


"Jangan memalingkan pandangan dari lawanmu, iblis bodoh!" ucap Bowo membalas perkataan Bebasura sebelumnya.


Dengan keberanian yang sudah terbebas dari jerat ketakutan iblis itu, Bowo melancarkan pukulan terkuat berbalut atmanya ke ulu hati Bebasura.

__ADS_1


"Pukulan iblis geprek!"


Bebasura terpental jauh hingga ke dinding pagar. Ia memuntahkan darah hitam dari mulutnya.


"Kasih nama yang bener gitu lho, Tak," ledek Yasa sambil tersenyum.


"Bener juga. Iblis geprek mana enak, ya," balas Bowo.


Pukulan Bowo telak menghantam iblis itu hingga tak mampu bergerak sementara waktu.


"Seharusnya kalian yang membantuku, bukan aku yang membantu kalian. Dursasana mungkin kuat, tapi sepertinya dia bodoh karena sudah mempekerjakan iblis-iblis kelas teri."


Suara tenor yang Bowo kenali terdengar dari arah depan. Ia menoleh dan melihat Darto yang datang membawa pedangnya dari arah gapura.


Bowo meneguk ludah. Melihat kondisi Yasa, sepertinya tak mungkin bocah itu bisa membantunya lebih dari ini. Di sisi lain, tangan kanannya mulai memberontak kembali. Menghajar tubuh keras Bebasura membuat lukanya yang belum pulih seutuhnya terasa sakit.


Darto meletakkan sebuah buku hitam di tanah dalam kondisi terbuka, lalu mengeluarkan pedangnya dari dalam sarang. Ia genggam pedang itu hingga telapak tangannya berdarah dan menumpahkan darahnya di atas buku tersebut. "Makhuta dara." Seketika itu, pasukan setannya muncul dari setiap bayangan yang ada di Tantra.


Bowo mendekat pada Yasa, mereka berdua tampak letih.


"Seneng kenal sama lu, Tak," ucap Yasa.


"Santai, Cil. Sampe mati pun, gua ada di samping lu," balas Bowo.


Mereka berdua pasrah ketika ratusan setan mengepung Tantra dari berbagai sisi.


"Aku hanya akan membiarkan yang kecil hidup, tapi tidak denganmu," ucap Darto dengan tatapan tajam ke arah Bowo. Pria dengan kemeja putih dibalut setelan jas hitam dan sarung tangan hitam di kedua tangan itu mendekat ke arah Bowo.


Sebuah cahaya yang terang benderang membuat pasukan setan Darto lenyap. Pria itu menoleh ke belakang, menatap pria yang baru saja tiba sepertinya.


Melihat kehadiran orang itu Bowo dan Yasa tersenyum.


"Gua benci sih bilang begini, tapi enggak ada jalan lain," tutur Bowo. "Tebas orang itu, bang ganteng!"


Pedang Bengisura sudah keluar utuh dari sarangnya. "Ya," jawab Manta datar.


...****************...


Di luar pagar batu alam Tantra, seekor anjing hitam berjalan sambil menatap ke arah bangunan di sampingnya. Anjing itu berjalan memutari Tantra, tak menjauhinya, tapi juga tak masuk ke dalam sana.


"Jadi bangunan ini udah diisolasi, ya? Cuma orang-orang yang punya tekanan spiritual yang bisa masuk?"


Anjing hitam itu sontak menoleh ke belakang. Ada seorang pria berjubah biru yang sedang bersandar di dinding pagar Tantra.


"Pantas saja selama beberapa hari ini aku merasa diikuti, ternyata memang ada yang mengikuti, ya. Mata-mata asosiasi, Kapten divisi dua, Arjuna Sadajiwa," ucap Anjing itu.


"Bukannya terbalik? Selama ini kau yang mengikuti ku?" balas Arjuna.


Sosok anjing hitam itu tiba-tiba berdiri dan perlahan tubuhnya berubah menjadi manusia berekspresi datar dengan sorot mata dingin. "Aku mengikuti sesuatu yang tak terlihat. Sebenarnya kau itu manusia atau hantu?"

__ADS_1


"Pertanyaan bodoh dari seseorang yang bahkan tak tahu dirinya manusia atau siluman."


Karna mengerutkan kening, sepertinya ia tak senang dengan ucapan Arjuna. "Di luar tugas menjaga tempat ini agar tidak ada yang masuk ke dalam, aku memang tertarik untuk saling bunuh denganmu."


Arjuna mengeluarkan pisau kecil dari balik jubahnya. "Setelah membunuhmu, aku akan membunuh rekan-rekanmu yang berada di dalam."


Cakar-cakar tajam Karna mencuat keluar. Ia menggeram dan berlari ke arah Arjuna. Di luar Tantra pun terjadi pertarungan antara Karna Rawasura dan Arjuna Sadajiwa.


Dan berkat Arjuna lah, Manta bisa masuk dengan mudah dari luar Tantra.


...****************...


Kembali pada dua pria berpedang di halaman Tantra. Mereka saling berhadapan di tengah hamparan sunyi, hanya diiringi oleh suara angin yang berdesir di antara pepohonan dan pancuran air di kolam. Ketegangan di udara terasa seperti gemuruh yang bisa menyambar kapan saja.


Tanpa kata-kata, ayunan pedang mereka menjadi kalimat yang saling menghujam. Pertarungan di mulai, baik Manta maupun Darto tak ada yang mau mengalah dan terus menyerang dengan tempo cepat.


Darto mengayunkan pedangnya cepat, dengan tingkat akurasi yang tinggi. Serangannya datang bertubi-tubi. Namun, Manta dengan lincah menghindari setiap serangan Darto, seolah-olah mampu memprediksi setiap gerakan yang akan datang.


Pada satu titik, Manta mementahkan serangan Darto, lalu menyerang balik. Pedang Bengisura bergerak dengan lincah memotong udara. Dalam tayangan lambat, pedang itu hampir memenggal kapala Darto, hanya saja pria itu masih sempat menjatuhkan dirinya sendiri sehingga lolos dari kematian.


Waktu kembali bergerak dengan normal. Serangan Manta begitu cepat, membuat Darto kesulitan untuk menghindarinya, tapi Darto adalah lawan yang tangguh, ia mampu bertahan dari serangkaian serangan Manta.


Manta sudah di atas angin, ia kembali menerjang, tak memberikan waktu bagi Darto untuk menyusun rencana.


Ketika Darmanta maju, tiba-tiba pedang Darto sudah berada tepat di depan matanya. Pria itu baru saja melempar pedangnya lurus dan cepat untuk membunuh Manta.


"Wahyu Ajangsana," bisik Manta sembari berkedip.


Begitu mata Manta terbuka setelah berkedip, pedang itu menghilang. Terlihat Darto hendak melempar pedangnya ke arah Manta. Begitu pedang tersebut melesat cepat, Manta sudah mengubah posisinya sehingga ia mampu mengindari lesatan pedang Darto.


"Sudah ku duga kau juga memilikinya," tutur Darto. "Mata yang mampu melihat masa depan."


Rupanya Darto berlari cepat di belakang pedangnya. Posisi pria itu sudah bersiap untuk menyerang Manta dengan tangan kosong. Meskipun Manta mampu menghindari pedangnya, tetapi tidak dengan yang satu ini.


"Tetapi mata itu hanya bisa melihat satu langkah di depan, bukan dua langkah," sambung Darto. Dengan kencang ia menginjak kaki Manta agar tidak bisa kabur, dan melesatkan pukulan telapak tangan tepat ke arah ulu hatinya.


"Gertak nogo," gumam Darto.


Darto menciptakan serangan kuat dengan energi yang mengalir melalui tangannya, mirip dengan naga yang mengamuk.


Manta tersentak, memuntahkan darah dari mulutnya dan tergeletak di tanah. Sementara Darto berjalan mengambil pedangnya kembali.


Satu per satu makhluknya yang tadi berhamburan pergi, kini datang kembali. Darto menumpahkan darah lagi pada empat lembar buku penjara jiwa.


"Makhuta dara, tetra pralaya."


Empat makhluk muncul dari bayangan Darto. Satu bersosok setan yang mengenakan jubah hitam dengan topeng misterius, satunya berukuran besar dengan tubuh yang dilapisi dengan baju besi hitam dan membawa gada besar.


Ada lagi yang berwujud manusia dengan kulit merah dan mata yang menyala seperti bara api, ia di kelilingi oleh api hitam yang membara. Terakhir, setan paling tinggi dalam hierarki pasukan Darto. Ia memiliki penampilan seperti raja iblis dengan mahkota dan jubah. Wajahnya tertutup oleh bayangan, sehingga sulit untuk melihat ekspresinya.

__ADS_1


"Sambutlah empat jendral perangku, tetra pralaya," ucap Darto menatap ke arah Bowo dan Manta bergantian. "Merekalah yang akan membunuh kalian berdua."


__ADS_2