Sang Panglima Bayangan

Sang Panglima Bayangan
Perkembangan Para Pangeran Kerajaan #2


__ADS_3

Keesokan harinya Wira sudah berada di taman belakang istana yang biasa dipakai untuk melatih jurus jurusnya tanpa tenaga dalam dengan gurunya, Wira mencoba pemanasan untuk mengolah tubuh serta memperagakan satu persatu jurus yang telah dikuasainya tanpa memakai tenaga dalam.


Disaat Wira melakukan pemanasan tiba tiba guru nya sudah ada di belakang tanpa diketahui, "hebat nak gerakan jurus jurusmu terlihat makin sempurna tanpa celah", Ucap Ki Alam


Sontak Wira kaget dan berbalik kebelakan secara reflek dengan tangan yang siap menyerang gurunya.


"ha... ha... ha... bagus bagus nak, refleks mu sudah mulai menyatu dengan perasaanmu, pertajam kemampuan itu karna akan sangat bermanfaat dikemudian hari dan jangan lupa pertajam mata dan telingamu supaya tingkat kewaspadaanmu semakin tinggi". Ucap Ki Alam.


"Guru?!!!". Wira terkejut ternyata sang guru yang ada dibelakangnya.


"Bagaimana guru bisa sampai kesini tapi tak diketahui keberadaannya olehku?". Tanya Wira penuh heran.


Ki Alam terkekeh tertawa melihat wajah Wira yang nampak kebingungan, "Itu karena tenaga dalam yang guru punya saat ini jauh diatasmu nak, terlebih guru memakai jurus saefi angin, saefi angin sendiri ilmu meringankan tubuh yang masuk pada jajaran ilmu tingkat legenda", Jawab Ki Alam.


"Sudah pasti kamu tak akan bisa mendeteksi guru dengan tingkat tenaga dalam mu saat ini", Lanjut Ki alam kepada muridnya.


"Menurut guru ada berapa tingkatan jurus dalam dunia persilatan ini?". Tanya Wira penuh dengan semangat.


"Hhhmmm yang guru ketahui sampai saat ini tingkatan jurus hampir sama dengan tingkatan senjata, dimana ke dua tersebut mempunyai 5 tingkatan, yaitu :


Tingkatan Rendah,


Tingkatan Menengah,


Tingkatan Bumi,


Tingkatan Legenda,

__ADS_1


Tingkatan Langka,


Kebanyakan dari para pendekar saat ini memiliki tingkatan rendah sampai legenda". Ucap Ki alam.


"Artinya selain jurus saefi angin ada jurus meringankan tubuh yang lebih hebat lagi guru?". Tanya wira.


"Ada muridku, Salah satunya adalah jurus Kidang Kuning, namun keberadaan jurus tersebut sudah lama menghilang dan sampai saat ini gurumu ini blm pernah mendengar pendekar yang menguasai jurus itu". Ucap Ki Alam.


Sejenak mereka terlihat tanya jawab antara murid dan guru mengenai beberapa tingkatan pada jurus, tenaga dalam, hawa maupun senjata.


"Guru selama ini mengajarkanmu jurus tangan kosong tanpa senjata, setelah kamu menguasai jurus jurus tangan kosong dengam sempurna maka guru akan ajarkan jurus jurus senjata tingkat legenda, jadi segeralah nak sempurnakan jurus tangan kosongmu", Ucap Ki Alam sambil melesat ke arah belakang dekat dekat dengan pohon pohon besar yang berjejer dengan kokoh, tak lama Wira menyusul dengan ilmu meringankan tubuhnya walo tak secepat gurunya.


"Nak, sekarang kamu uji jurusmu dengan dialiri tenaga dalam sekaligus hawa emasmu lalu serang pohon besar yang disana". Pinta Ki Alam kepada Muridnya.


"Baik guru", Sambil Wira memasang kuda kuda tuk bersiap mengeluarkan jurus dengan di aliri tenaga dalamnya.


Tiba tiba tubuh Wira mengeluarkan cahaya emas lalu Wira merapal jurus sambil melompat ke arah pohon besar.


Duuuuaarrrrr pohon besar tumbang ke kiri Wira dalam seketika, melihat kejadian tersebut Wira merasa bahagia dan takjub karna baru kali ini melihat daya hancur yang cukup hebat.


"Horeeeeeee aku bisaaaaaaaaaa". Ucap Wira dengan senangnya.


Tak lama para pengawal istana datang di susul oleh Raja Prayoga, Jendral Mada dan Panglima Kusuma, dan betapa terkejutnya mereka melihat pohon tumbang dengan kondisi Wira masih berposisi kuda kuda.


Melihat itu sang guru melangkah ke arah rombongan dan memberikan penghormatan pada Raja lalu Ki Alam meminta Wira tuk merapal jurus berikutnya, "Sekarang guru ingin melihatmu merapalkan kombinasi jurus tapak harimau dengan jurus brajamusti yang dialiri tenaga dalam ke pohon itu".Pinta gurunya sambil menunjuk pohon di sampingnya yang masih kokoh.


"Baik Guru"Jawab Wira.

__ADS_1


Tak lama berselang tubuh wira kembali memancarkan cahaya emas dan menyerang pohon berikutnya.


"Jurus Tapak Harimau, membelah jiwa".


"Jurus Brajamusti, Tapak api".


Wira melompat sambil melakukan serangan kombinasi.


dan.......


"Booooooommmmm". Suara menggema menghancurkan pohon itu menjadi serpihan debu.


Semua yang melihat tercengang termasuk Gurunya Ki Alam yang tak menyangka efek dari kehancurannya sangat dahsyat.


"Ini sangat luar biasa, seorang tingkatan Awan tahap 1 mampu mengeluarkan kekuatan sekelas tingkat Langit Tahap 7, Hhhhmmm dengan keunikan Hawa emas memang dahsyat tapi mana mungkin tingkat kehancurannya begitu hebat, seperti ada bantuan tenaga dari luar". Ucap Ki Alam dalam hati.


"Nak, Istirahatlah".pinta Ki Alam kepada Wira.


"Maafkan Hamba telah menghancurlan pohon pohon istana paduka". Ucap Ki Alam.


"Tidak jadi masalah sesepuh Alam...... tapi sejak kapan anakku mampu mengeluarkan hawa emas?".Tanya Prayoga.


"Ampun paduka, Hamba mengetahui ananda Wira mampu mengeluarkan hawa emas kemarin saat proses pencapaian tingkat awan tahap 1". Jawab Ki Alam penuh rasa bersalah karna tidak memberitahukan rajanya sebagai orang tua muridnya.


Raja Prayoga tersenyum bahagia mendengar anaknya telah mencapai tingkat awan sekaligus heran melihat dampak dari tenaga dalamnya yang sangat dahsyat.


anaknya mewarisi hawa emas dari mendiang kakeknya sang pendekar tapak suci, tentunya berita bagus untuk raja Prayoga, lalu sambil berbincang mereka semua kembali ke ruang istana membahas kehebatan pangeran ke 2.

__ADS_1


######


Berbeda halnya di tempat lain, dimana Pratama mengalami penurunan stamina setiap latihan jurus yang diajarkan guru ki Joko, bahkan disiang itu ki Joko mesti membopong Pratama karna mengalami pingsan saat melakukan latihan tenaga dalam.


__ADS_2