Sang Panglima Bayangan

Sang Panglima Bayangan
Kemenangan Pertama Pasukan Aliansi


__ADS_3

Mereka pun berbincang sambil berjalan menuju gazebo biasa mereka bersantai.


"Lalu pendekar seperti apa yang mampu mempelajari Ajian Nur Muhammad dan dari mana Eyang berasal?." Tanya Tama.


Tubuh Ki Jati Terlihat berbeda dengan warga biasa, Ki Jati terlihat tinggi besar dengan hidung runcing, mata sedikit besar, terlihat gagah dalam pandangan fisik.


"Eyang berasal dari gurun pasir yang luas nun jauh disana Anaking, Butuh perjalanan sekitar 360x Terbit Matahari (1 Tahun) tuk sampai kesana bagi manusia biasa tanpa punya ajian meringankan tubuh".Ki Jati memulai membuka diri.


Ki Jati melanjutkan cerita dan menjawab pertanyaan pertanyaan dari Tama maupun dari Ki Joko.


"Lalu apa tujuan Sesepuh datang ke tanah jawa ini?." Tanya Ki Joko.


"Aku di Titah oleh guruku Syekh Abdul Jabar untuk 3 hal." Ki Jati menjelaskan keberadaannya di tanah jawa ini.


Karena Tama dan Ki Joko sudah di anggap keluarganya, Maka Ki Jati menceritakan misi yang di embannya, yaitu menemukan sosok yang mempunyai pusaran sinar cahaya dalam tubuhnya, menyebarkan kebaikan sesuai dengan keyakinan yang di anutnya dan mencari siluman yang sudah mampu merubah diri menjadi sosok manusia secara fisiknya.


"Siapa yang di maksud dengan siluman itu sesepuh". Tanya Ki Joko.


"Di Tanah Jawa ini di kenal dengan julukan Setan Gober, Dia adalah keturunan dari Dajjal yang akan muncul kelak dengan segala kesaktiannya. "


Melanjutkan ceritanya bahwa Setan Gober sosok sakti yang akan mengembangkan alirannya dengan merekrut manusia manusia penuh nafsu keserakahan, dia akan menurunkan ilmunya kepada para murid yang di tunjuknya dan melakukan kekacauan di mana pun mereka berada.


"Saat ini menurut perhitunganku Setan Gober sedang memperluas kekuasaannya dengan cara mendidik generasi pendekar sakti pemuja Iblis, waktu kita tidak banyak".


"Sesepuh apa yang di maksud semua itu?." Ki Joko sedikit bingung.


"Saat ini sudah waktunya menempa sosok tanding tuk melawan setan gober dan murid muridnya yang akan segera muncul." Ki Jati menoleh Tama.


"Ada hubungannya dengan Nak Tama?." Tanya Ki Joko.


"Hhhhhmmm Anaking adalah sosok yang di cari guruku untuk menandingi Setan Gober kelak, ciri ciri yang guruku ceritakan ada pada tubuh anak ini." Ucap Ki Jati kepada Ki Joko.


"Bersiaplah saat Matahari terbit, kita akan kembali ke istana." Pinta Ki Jati sambil pamit undur diri.


Keesokan hari mereka ber 4 berkumpul di gazebo dan sudah bersiap berangkat.


"Saatnya kita berangkat ke Istana." Ki Jati membuka cerita.

__ADS_1


"Tempelkan tangan kalian pada tubuhku dan pejamkan mata kalian, jangan buka sebelum ku perintahkan, Paham?." Pinta Ki Jati kepada tiga sosok yang ada di hadapannya.


Tak lama mereka menempelkan tangan ke tubuh Ki Jati dan memejamkan mata, segera Ki Jati komat kamit.


Dan....


Wuuuuuuusssssss....


Tiba tiba mereka sudah ada di taman belakang Istana kerajaan Cakrabuana.


"Bukalah mata kalian."


Semua terkaget sekaligus takjub, melihat sudah ada di dalam Istana.


"Bagaimana bisa kita sudah ada di Istana?." Tanya Ki Joko.


"Aku memakai salah satu Teknik dari Ajian Nur Muhammad." Jelas Ki Jati sambil berjalan ke arah ruang temu Istana, di ikuti oleh Tama dan Ki Joko, sedangkan Dayang yang selalu menemaninya berjalan ke arah Ruangan kepala dayang tuk melapor.


Tak lama mereka bertiga sudah di pintu masuk ruang pertemuan istana, pengawal membuka pintu dengan segera, Ternyata sudah di tunggu jendral Mada dan ibunda ratu Melati, Rayi Wira dan Rayi Premeswari.


Terlihat senang Wira dan Premeswari melihat kakangnya sudah terlihat sehat dan Gagah.


Melihat mundurnya pasukan kerajaan Anarki, Segera Prayoga mengumpulkan anggota serta seluruh pasukan aliansi di depan luar gerbang pertahanan.


Melihat pasukan aliansi berbaris rapi di luar gerbang benteng pertahanan, seolah hendak menyerang balik, Pasukan musuh yang mentalnya sudah hancur terlihat panik, hal itu dapat segera di pahami oleh panglima Xerox.


"Semua pasukan dalam posisi siaga bertahaaan." Teriak Xerox


Tak lama terlihat pasukan besar Aliansi berhadapan dengan Pasukan besar musuh di luar benteng pertahanan.


Para pemimpin aliansi terlihat berbaris paling depan dengan tunggangan kuda yang terlihat kokoh.


"Ketua,,, Kita akan menyerang balik?." Tanya Ashar di dukung anggukan para pemimpin aliansi.


"Hanya ada dua pilihan saat ini yang bisa kita lakukan." jawab Prayoga sambil menatap pasukan musuh yang sudah siaga dalam bertahan.


"Pertama : kita serang balik, Dengan mental musuh yang sedang hancur, aku yakin walau pasukan kita kelelahan, kemenangan akan kita dapatkan dengan cepat."

__ADS_1


"Kedua : Sosok panglima Xerox terkenal kejam tapi juga cerdas dalam membaca situasi, melihat pasukannya yang mentalnya hancur, kemungkinan dia akan mengajukan gencatan senjata."


"Kita tunggu beberapa saat tuk melihat reaksi dari musuh." Prayoga mengakhir perbincangannya dengan berbalik ke arah pasukannya, dan berteriak dengan aliran tenaga dalam sehingga terdengar menggema.


"Yaa Tuhanku, Rahmati dan restui setiap tetes darah kami dalam membela kebenaran."


"Wahai Prajuritku yang pemberani, Hidup bersama kalian adalah sebuah anugrah, Mati bersama kalian adalah sebuah kehormatan besar bagiku, Berjuanglah bersamaku untuk melindungi orang orang yang kita sayangi."


"Angkat senjata kalian dengan gagah berani, Jadikan hari ini sebagai kisah cerita para pahlawan hebat untuk pengantar tidur generasi kita berikutnya, Buatlah bangga anak cucu kita mendengar cerita leluhurnya bertempur tak kenal gentar, menghadapi maut tuk melindungi generasi kita di masa depan."


"Buang semua keraguan kalian, percaya akan kekuatan diri kita, Karna manusia yang tidak mempunyai kepercayaan diri akan hancur."


"Ingatlah,,, Seekor harimau tidak akan pernah memperlihatkan bahwa dirinya adalah Pemangsa yang Ganas."


"Prajuritku, Mereka telah membangunkan kumpulan harimau tidur yang sedang lapar, Hari ini kita jadi mereka sebagai mangsa kita." Teriak Prayoga sambil menunjuk ke arah pasukan musuh.


Terdengar serentak suara dari seluruh pasukan aliansi menggema, bagaikan sekumpulan harimau yang melihat mangsanya, membuat mental pasukan musuh yang mendengarnya makin ciut.


Genderang perang dan terompet berbunyi dari kubu aliansi, pertanda penyerangan akan di mulai.


"Bersiaplah kawan kawan, senang bisa bertempur bersama kalian di sini." Kata terakhir dari prayoga dengan wajah beringas.


Pedang Prayoga telah keluar dari sarungnya, Mengangkat ke atas pertanda siap maju menyerang balik.


Namun sebelum pertemputan di mulai, Tiba tiba 3 kuda hitam dengan berjirah hitam membawa bendera putih maju ke tengah arena.


Prayoga yang melihat itu tersenyum lega, dalam hatinya ini hal yang dinantikannya, jika pertempuran berlanjut korban akan semakin bertambah banyak dari kedua kubu, walaupun saat ini kemenangan bisa di raih pihak aliansi.


Tak lama kemudian, Prayoga menyarungkan pedangnya dan bergerak menghampiri musuh menuju tengah arena, di ikuti oleh Ashar dan salah satu anggota aliansi lainnya.


"Salam Raja Prayoga." Xerox memulai pembicaraannya di tengah arena.


"Salam Panglima Xerox." Jawab Prayoga dengan tatapan tajam.


"Ku akui kemampuan strategimu luar biasa, Aku menawarkan gencatan perang." Ucap Xerox.


"Aku pun berharap demikian tapi dengan syarat." Pinta Prayoga.

__ADS_1


"Apa syarat yang kamu minta Panglima Strategi." Jawab Xerox dengan nada tinggi karna merasa terhina.


__ADS_2