Sang Panglima Bayangan

Sang Panglima Bayangan
Awal Kebangkitan Raja Kegelapan


__ADS_3

Tama dan Masashi sudah berpindah tempat ke kota Osaka tempat kelahiran Masashi, mereka pun berjalan sampai pada sebuah bangunan yang besar dan menjulang tinggi.


Begitu asing tempat dan orang orang yang di temui Tama, begitu sebaliknya banyak Orang yang melihat Tama pun penuh heran, dengan ciri kulit putih kecoklatan, bola mata berwarna coklat, terlihat belahan di dagu dan rambut merah menyala membuat Tama jadi ikon baru di kota Osaka : )


Masashi terlihat berbincang dengan penjaga gedung, mereka pun di persilahkan masuk ke gedung besar nan tinggi seperti sebuah pagoda.


Di dalam gedung Tama menoleh kanan kiri merasa takjub melihat luasnya halaman terbuka dan beberapa ornamen yang belum pernah di liatnya, mereka di sambut oleh dua orang yang berpakaian aneh (menurut Tama) menghampirinya.


"Selamat datang Tuan Masashi dan Tuan...." Ucap pria yang menghampirinya.


"Nama saya Wiratama, panggil saja Tama." Ucap Tama.


"Selamat datang Tuan Tama."


"Perkenalkan saya Hanzo dari clan Iga dan ini anak saya Hitari." Ucap Hanzo


"Terima Kasih Tuan Hanzo, Salam kenal Nona Hitari." Sahut Tama dengan wajah sedikit merona melihat kecantikan Hitari seperti bidadari khayangan.


Hitari saat ini usianya 17 tahun pun merasakan hal yang sama seperti tatapan mata Tama kepadanya, Wajahnya yang seputih salju memperjelas rona merah saat pandangan itu beradu.


Hanzo pun mempersilahkan masuk ke dalam ruangan yang indah dengan ornamen yang memukau.


Masashi menjelaskan keberadaannya disini, sekaligus memperkenalkan ketua baru kelompok 9 Naga.


Mendengar penjelasan tersebut, Hanzo langsung bersujud di ikuti Hitari dan para tetua perguruan yang Hanzo ketuai di hadapan Tama.


"Maafkan Hamba tidak mengenal ketua baru." Jawab Hanzo.


Tama menoleh ke arah Masashi.


Masashi menjelaskan bahwa Hanzo adalah salah satu anggota 9 Naga berjuluk "Dewa Pedang Malam" dari negri Matahari, Hanzo dan kelompoknya terkenal dengan kemampuan penyusupan, mata mata dan pembunuh berdarah dingin tanpa jejak.


Lalu Hanzo memperlihatkan tanda Tatto/Rajah di pergelangan tangan kanannya kepada Tama, persis seperti yang di punyai Masashi.


####


Kerajaan Cakrabuana


Di Istana terjadi kepanikan, terlihat para pemimpin militer keluar masuk aula pertemuan.


Di aula terlihat beberapa sedang melakukan pertemuan.


"Ada berapa prajurit di kotaraja.?" Tanya Prayoga kepada Patih Mada.

__ADS_1


"Saat ini sekitar dua puluh lima ribu prajurit khusus dan satu hulubalang yang berada di dalam kotaraja paduka." Jawab Patih Mada.


Mada pun menjelaskan, sedang menunggu bergabungnya 2 hulubalang dan pasukan khusus yang berada di luar kota yang di tarik mundur masuk ke kotaraja, selain itu Mada pun menjelaskan, para senopati sedang berfokus mempertahankan kota penyangga kotaraja.


"Cukup baik strategi mu Patih." Prayoga memberi pujian pada Mada, walaupun hal itu hanya sebatas menunda penyerangan musuh ke kotaraja.


"Apakah sudah ada jawaban dari anggota aliansi?." Tanya Prayoga.


"Sudah paduka." Jawab Mada sambil menyodorkan beberapa gulungan kepada Prayoga.


Prayoga pun membaca satu persatu gulungan yang di dapat dari Mada dan sesekali Prayoga mengernyitkan wajahnya.


"Bagaimana.........Bagaimana mungkin anggota aliansi yang bertetangga dengan kita, semuanya di landa pemberontakan besar." Tanya Prayoga penuh heran.


"Maaf beribu ribu maaf paduka, sepertinya kejadian ini ada hubungannya dengan kelompok pemuja iblis." Jawab Inggit pelan dan hati hati.


Prayoga menutup matanya sejenak mendengarkan masukan dari penasehatnya.


"Bagaimana situasi di luar kotaraja." Sambil menatap Mada.


"Mohon maaf paduka, hampir semua kota sudah di kuasai musuh, harapan terbesar kita pada 4 kota penyangga yang masih dipertahankan para senopati." Jawab Mada lesu.


Prayoga terlihat melamun memikirkan strategi tuk bertahan hanya sekedar untuk mengulur waktu.


Prayoga yang menyadari pertahanan kota kota penyangga tak akan bertahan lama, segera memerintahkan Mada untuk mengirimkan pasukan khususnya.


"Laksanakan Paduka." Jawab Mada.


"Aku berharap, kekuatan kecil ini mampu bertahan sampai datangnya bantuan dari pasukan kerajaan Tur." Lanjut Prayoga.


Sekecil apapun kesempatan tuk bertahan di lakukan oleh Prayoga tuk meredam masuknya kekuatan musuh ke dalam kotaraja sampai bantuan datang, (dalam salah satu gulungan menyatakan Ashar raja kerajaan Tur mengirimkan 30% pasukannya ke Tanah Jawadwipa).


"Sesepuh Alam, apakah sudah ada berita dari 3 penasehat yang di kirim untuk mencari informasi tentang hilangnya para pendekar?." Tanya Prayoga.


"Hamba sudah mengirim beberapa murid, untuk mencari keberadaan 3 penasehat, tapi sampai saat ini belum ada kabar." Ki Alam sambil menggelengkan kepalanya.


Saat pertemuan itu berlangsung, tiba tiba prajurit penjaga menghadap, melaporkan keberadaan perwakilan dari 4 senopati ingin menghadap.


Mereka pun menghadap dan satu persatu menjelaskan tentang kondisi kota penyangga kotaraja.


Dari keterangan yang di dapat bahwa 3 dari 4 kota penyangga kotaraja sudah di taklukan musuh, 2 senopati gugur dalam pertempuran, seorang senopati dan pasukannya di tawan dan seorang senopati masih berperang mempertahankan salah satu kota penyangga kotaraja.


Prayoga kembali memejamkan mata nya sekaligus menutup pertemuan dan membubarkan pertemuan itu, kecuali tabib Kuntala dan Mada.

__ADS_1


Terlihat wajah Prayoga memperlihatkan rasa lelah dan murung.


"Rayi pergilah....."


"Tidak Kakang, Aku akan selalu berada di sini seiring runtuhnya kekuatan Cakrabuana." Mada memotong ucapan Prayoga sambil berdiri menatap ke atas.


"Lebih baik Kakang pergilah beserta keluarga istana dan kumpulkan kekuatan baru untuk menancapkan kembali tonggak kejayaan kerajaan kita." Tambah Mada menatap Prayoga sambil kembali duduk.


Prayoga tersenyum melihat adiknya mempunyai jiwa yang hebat, lalu menoleh ke Tabib Kuntala.


"Selain aku dan Rayi Tama, hanya kamu yang tau keberadaan jalan rahasia di istana ini."


Mada dan kuntala menatap bersamaan ke arah Prayoga yang menutup mata.


Lalu.


"Jika pasukan musuh mampu menerobos pertahanan kotaraja, segera kamu bawa keluarga istana dan keluarga mendiang Kusuma ke lorong rahasia istana ini, dan hancurkan dinding serta pintu rahasianya supaya tidak ada yang bisa mengetahui keberadaan kalian." Tambah Prayoga memejamkan mata.


"Tapi paduka...."


"Ini Titahku padamu Tabib Kuntala." Prayoga memotong ucapan Kuntala.


Kuntala hanya menundukan kepala tanpa mampu menjawab apa pun.


####


Gunung Gelap.


Di dalam gua Gunung Gelap, Nyai Endit Sanggul sedang memimpin ritual penyerapan inti energi para pendekar yang di bawa kelompoknya yang ke 600 Jiwa.


Tiba tiba kobaran api hitam sesembahannya semakin pekat dan membesar, mengeluarkan suara.


"Aaaaaahhhh Akhirnya aku terbangun lagi." Ucap suara api itu.


"Hormat Hamba kepada Raja Kegelapan." Jawab Nyai Endit Sanggul bersujud, di ikuti para pengikutnya.


"Ha ha ha ha lama tak bersua Endit Sanggul." Ucap Roh Jiwa Raja Kegelapan.


"Hamba senang melihat kebangkitan Raja Kegelapan, namun mohon maaf hamba belum mendapatkan wadah yang cocok untuk tuan." Ucap Nyai Endit Sanggul.


"Aku tau tidak mudah mendapatkan tubuh tingkat suci untuk rumah kekuatanku, tapi segeralah dapatkan wadah itu, aku ingin merasakan kembali kepanikan dan katakutan manusia manusia dunia fana ini, khususnya sudah lama aku tak merasakan kehangatan tubuh indahmu itu sanggul, Ha ha ha ha." semua yang mendengar itu merasakan merinding tak terkecuali nyai Sanggul yang sudah beratus ratus tahun mengabdikan diri di sampingnya dengan setia.


Tiba tiba dari arah belakang melesat seseorang, mengagetkan nyai Sanggul dan pengikutnya.

__ADS_1


"Maafkan aku Nyai." Sanjaya yang bersujud sambil tangan kiri memegang tubuh kanannya.


Nyai Sanggul yang akan memarahinya pun meredam emosinya, dan menanyakan kondisi Sanjaya.


__ADS_2