Sang Panglima Bayangan

Sang Panglima Bayangan
Rahasia yang masih tersembunyi #2


__ADS_3

"Semua nya sudah berlalu kakang". Mada mencoba menghibur Prabu Prayoga, "hhhhmmm sudah cukup lama kejadian itu berlangsung tp kesedihan hati ini selalu menyayat hati disaat ingat hal itu" Raja Prayoga menundukan kepalanya sambil mengepalkan tangan kanannya.


Walaupun waktu itu kerajaan turut serta membinasakan pasukan pemberontak dengan cepat namun ada pikiran yang selalu mengganjal dalam kepala Raja Prayoga "Rai masih ingatkah waktu kejadian itu dikala kita introgasi pemimpin pemberontakan menyebutkan akan lahirnya raja kegelapan tiada tanding yang akan menghancurkan seluruh kerajaan dunia?".


"Benar kakang, Rai masih ingat kata kata itu dan sampai saat ini masih menjadi pertanyaan besar bagiku".


"Apa ada kaitannya dengan wejangan mendiang Ayahanda kita dulu soal seorang petapa sakti aliran hitam yang tubuhnya dirasuki jiwa kegelapan dan beberapa perguruan hitam yang bersekutu dengan iblis sedang mencoba membangkitkannya kembali?", Sambil keduanya terlihat berpikir mencerna dua kalimat dari kejadian masa lalu nya, "Entahlah kakang, sepertinya pernyataan itu saling berkaitan dan alangkah baiknya juga hal ini dijadikan topik pembahasan di pertemuan besok dengan para perwakilan kerajaan dunia" jawab Mada.

__ADS_1


Raja Prayoga dan Mada berajak dari duduknya dan berjalan sambil memastikan kembali semuanya tertata sesuai harapannya, mereka berjalan ke arah ruangan singgasana kerajaan tuk melanjutkan percakapan yang sedang dibicarakan, tak lama kemudian permaisuri datang dengan senyuman ramahnya "Dinda menghadap Kakang Prabu", sambil menundukan kepalanya, duduklah disebelahku dinda", raja berkata sambil menepuk nepuk kursi sebelahnya yang kosong, "Hormat hamba kepada permaisuri", Mada berdiri sambil menundukan tubuhnya sambil mengepalkan tangan di dadanya, "Rai Mada jangan sungkan seperti itu, kita adalah keluarga jadi jangan terlalu resmi seperti itu", sanggah permaisuri Melati, "Terima kasih Dinda", jawab Mada.


"Kakang prabu sepertinya sedang membahas sesuatu yang serius dengan kakang Mada?" tanya melati tersenyum sambil memegang tangan suaminya, prayoga pun tersenyum dan merespon tangannya yang dipegang istrinya dengan sentuhan lembut ke tangan melati, "Entahlah apa ini hal serius atau hanya sebuah kekhawatiran kami dinda", Melati pun terdiam tak melanjutkan pertanyaan karna berpikir itu urusan kerajaan.


"Satu hal yang berkaitan dengan yang tadi, sepertinya tidak lama lagi satu rahasia kita yang selama ini disimpan akan di buka", Prayoga menatap Mada lalu kembali menatap Melati dengan penuh makna beban yang berat.


"Kenapa tatapan kakang prabu terlihat begitu terbebani dengan kata rahasia itu?", Melati bertanya dengan penuh penasaran.

__ADS_1


Sejenak Prayoga meminum air dalam cangkir emasnya lalu memakan beberapa buah anggur hitam yang telah disediakan pelayan istana kerajaan, "Rahasia kita ini adalah hal yang terberat sekaligus paling menyedihkan dalam hidupku yang berkaitan dengan masa lalu kakak kita", Prayoga menghela nafas panjang, Mada dan Melati mengerti apa yang dimaksud dengan itu, "Tidak bisa kah kita rahasiakan itu sampe akhir hayat kita kakang prabu?",,,,,, Sampai saat ini hanya kita bertiga yang tau tentang itu kakang prabu", Melati menjawab dengan mata yang berkaca kaca menahan tangis, Mada hanya mengangguk angguk kepala namun dalam pikirnya terasa serba membingungkan antara tetap merahasiakan atau membuka rahasia tersebut.


"Dinda ada waktunya kita harus mengembalikan sesuatu yang bukan milik kita". Sanggah Prayoga dengan tangan mengusap lembut rambut Melati, "Dinda tak mampu kakang.....hik hik hik". Akhirnya Melati tak mampu membendung tangisannya dan memeluk pundak suaminya.


"Itulah takdir Dinda, sesuatu yang tidak bisa kita minta tuk merubahnya tapi dinda tenang karna hal itu kita akan buka rahasianya tidak dalam waktu dekat ini, mungkin kita akan membahasnya setelah anak anak kita dewasa" Prayoga berkata sambil mengusap air mata di pipi Melati, Melati hanya memejamkan mata sambil kepalanya di anggukan pelan.


Seperti halnya Melati, Mada pun tidak jauh berbeda dengan keadaan kepala tertunduk sambil menganguk anggukkan kepalanya walau terasa berat terpancar kesedihan di wajahnya, Mada sangat mengenal kakaknya itu dengan baik, walaupun kemampuan ilmu tenaga dalamnya sejajar tapi Mada akui bahwa kakaknya sangat cerdas dalam berpikir melangkah tuk masa depan.

__ADS_1


__ADS_2